
"What the—" Nazareth memandangi telapak tangan dan jemarinya dengan alis bertautan. Ia sedang menulis di ruang baca pribadinya ketika tiba-tiba merasakan tangannya mendadak ringan seperti sedang mengambang di dalam air.
Lalu tiba-tiba saja ujung jari tengahnya meneteskan darah. Nazareth spontan tersentak.
"Vox!" teriakan Evelyn menggema di tebing belakang.
Nazareth segera melompat dari tempat duduknya dan menghambur keluar pondok.
Di jalan setapak yang mengarah ke pekarangan belakang estat Nazareth, Migi Vox yang tak puas dengan pertarungan singkat tiba-tiba menyerang Cleon.
"Calm down, Vox! It's just Cleon!" Evelyn berteriak-teriak sambil melompat-lompat ke sana kemari, mencoba menangkap Migi Vox.
Boneka itu melayang-layang di seputar Cleon, melesat dan memantul-mantul dalam tarian maut yang membuat Cleon tak bisa berbuat banyak kecuali hanya menghindar.
Tapi cakaran boneka itu berhasil menyayat lehernya.
Cleon mengernyit seraya membekap lukanya, menatap Migi Vox dengan raut wajah syok.
Boneka itu sekarang bersiap melontarkan energi cahaya berbentuk cakram berwarna gelap yang mirip dengan senjata Kefas ke arah Cleon.
"Noooooo!" Evelyn menghambur ke arah Cleon dan merentangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya untuk membentengi pemuda itu.
SLASH!
Energi cahaya berbentuk kubah berpendar dari telapak tangan Evelyn.
GLAAARRR!
Benturan energi pun tak terelakkan.
Evelyn terpelanting dan jatuh terjerembab bersama Cleon.
Bersamaan dengan itu, Nazareth baru saja tiba di tempat mereka. Ia terkesiap dan spontan melontarkan tali cahaya dari ujung jemarinya dan menyergap Migi Vox. Kemudian mencengkeram boneka itu dalam genggamannya sambil mengetatkan rahang. "How dare you!" geramnya dipenuhi amarah.
"Master—" Evelyn memekik tertahan seraya mengulurkan tangannya ke arah Nazareth, mencoba mencegah pria itu menyakiti dirinya sendiri. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan bersama napasnya.
Boneka itu menyala berkedut-kedut dalam genggaman Nazareth, seperti akan meledak.
Cleon terperangah menatap keduanya dengan ekspresi ngeri.
Evelyn menghela bangkit tubuhnya, kemudian menghambur ke arah Nazareth dengan sebelah tangan menekuk perutnya.
"Nazareth! Stop it!" cegah Evelyn sambil merenggut pergelangan tangan Nazareth. Napasnya tersengal-sengal dan suaranya hanya berupa bisikan lemah. "Dia tidak sengaja menyerangku. Percayalah!" jelasnya terbata-bata.
Nazareth mengerjap, menoleh pada Evelyn.
"Stop! Please!" Evelyn memohon.
Nazareth mengendurkan cengkeramannya dan Migi Vox melemas dalam genggamannya.
Evelyn meraup boneka itu dan memeluknya, mengusap-usap punggungnya dengan khawatir.
Tubuh Migi Vox masih gemetaran, tapi bukan karena tak puas dengan pertarungan singkat seperti sebelumnya, kali ini karena menggigil.
Nazareth mendesah pendek dan mengalihkan pandangannya ke arah Cleon yang berjalan terhuyung-huyung sambil membekap luka di lehernya. "Apa sebenarnya yang terjadi?" desisnya dengan mata terpicing.
"Aku kembali ke pondok, dan… tak menemukan siapa pun," cerita Evelyn sambil tertunduk dan masih mengusap-usap punggung Migi Vox. "Aku mendengar aktivitas di sini. Dan menemukan Cleon berlatih sendiri. Cleon berniat mencari yang lain ketika dia datang."
"Dia?" Nazareth menoleh pada Evelyn dengan dahi berkerut-kerut. "Siapa?"
"Kefas Damon!" jawab Evelyn.
Nazareth tersentak. Dahinya berkerut-kerut semakin dalam. "Dia datang kemari?"
"Benar," timpal Cleon setelah sesaat bergabung dengan mereka. "Dia menyerang Eve dan Vox," jelasnya. "Aku berusaha menyerangnya, tapi…" Cleon menggantung kalimatnya dan tertunduk dengan raut wajah muram. Merasa gagal melindungi Evelyn.
"Kami tak bisa menggunakan kekuatan cahaya!" Evelyn melanjutkan. "Cleon dan Vox terjerat dalam cakranya. Dan dia mencekikku. Lalu entah bagaimana Vox bisa melepaskan diri dan… lagi-lagi penyihir itu melarikan diri. Vox tak puas dan…"
"Dia menyerangku!" Cleon mengambil alih jawaban. "Dan Eve mencoba menghalanginya."
Nazareth mengerling ke arah Migi Vox dengan raut wajah menyesal. Lalu menatap Evelyn dengan tatapan sedih. "I'm sorry!" sesalnya.
"It's not your fault, Sir!" tukas Cleon cepat-cepat. "Aku hanya kurang waspada. Seharusnya aku memanfaatkannya untuk berlatih."
Nazareth menatap Cleon dengan sorot menilai.
Cleon langsung tertunduk.
Nazareth mengerjap dan memalingkan wajahnya, "Just... go home!" instruksinya sambil berbalik dan berjalan mendahului. Kefas! geramnya dalam hati dengan rahang mengetat dan tangan terkepal.
Migi Vox terbatuk di pangkuan Evelyn dan memuntahkan segumpal darah.
"Vox!" Evelyn memekik terkejut ketika sesuatu yang hangat merembes di bahu armornya. Ia menurunkan boneka itu dari bahunya dan menelengkannya di pangkuannya.
Wajah boneka itu terlihat pucat.
"Sir!" Evelyn mendesis pada Nazareth. Tatapannya terlihat cemas.
Nazareth tidak berpaling. Wajahnya juga memucat. Darah kental menetes dari lubang hidungnya. Lalu merasakan nyeri di ulu hatinya. Dadanya terasa sesak.
"Master!" Evelyn meninggikan suaranya dan mengulurkan sebelah tangannya, mencoba meraih pundak Nazareth.
Tapi pria itu tiba-tiba melesat menjauh dan menghilang entah kemana.
Cleon tergagap dan terperangah. "Apa dia marah?"
"Kukira ya!" jawab Evelyn. "Tapi bukan pada kita."
"Are you sure?" Cleon bertanya tak yakin.
"Dia pasti kesal pada Kefas!" Evelyn meyakinkannya. "Kemarilah!" ajaknya sambil merenggut pergelangan tangan Cleon dan menarik pemuda itu ke kamar wanita. Ia membaringkan Migi Vox di tempat tidurnya dan bergegas sebentar ke dapur, lalu kembali lagi dengan sebaskom air dan sehelai handuk. Lalu mulai membersihkan luka Cleon.
Migi Vox terbatuk lagi, lalu memaksa dirinya bangkit dan tiba-tiba saja melesat ke arah Cleon.
"Vox!" Evelyn memekik terkejut dan menangkap kaki boneka itu dengan sebelah tangan.
Cleon menatap boneka itu dengan mata terpicing. "Kurasa ada yang salah dengan Migi Vox!" desisnya dengan serius.
Evelyn menurunkan handuk dari leher Cleon, kemudian meraup Migi Vox ke dalam dekapannya. Lalu mengusap-usap punggungnya lagi. "Tidak apa-apa," katanya pada Cleon. "Kurasa dia sudah sangat kesakitan. Aku akan membawanya ke pemandian obat!" ia menambahkan sambil beranjak dari tempat duduknya dan bergegas keluar kamar.
Cleon mengerjap dan tergagap. Kesakitan? batinnya tak yakin. Vox terlihat kesal padaku, pikirnya. Bahkan sebelum penyihir itu datang. Apa sebenarnya yang terjadi?
Cleon mendesah pendek dan beranjak dari kamar teman-teman perempuannya. Lalu berhenti di teras dan memijat kedua pelipisnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya berpegangan di pagar beranda.
Tak tahu yang mana yang lebih mengerikan, pikirnya. Nazareth Vox atau Migi Vox?
Kelihatannya mulai sekarang keduanya perlu diwaspadai!
"Cleon!" terdengar suara teman-temannya.
"Are you okay?" Electra sampai lebih dulu di teras dan menghampirinya.
Cleon menurunkan tangannya dan tersenyum pada mereka.
"Kau terluka!" pekik Xena setelah semakin dekat. Ia menelengkan kepalanya sedikit menatap luka di leher Cleon dengan dahi berkerut-kerut.
"It's ok!" tukas Cleon. "Hanya cakaran Vox."
"Vox?" Ketiga temannya memekik bersamaan.
"Eve sudah siuman," jelas Cleon.
"Benarkah?" Teman-temannya memekik lagi secara bersamaan.
"Ya," jawab Cleon cepat-cepat. "Dia mencari kita di tebing belakang. Aku sedang berlatih di sana. Dan dia bersama dengan Migi Vox saat menemukanku."
Teman-temannya serempak mengerutkan dahi.
"Kefas Damon tiba-tiba muncul dan menyerang kami, tapi hanya sesaat. Dan Vox tak puas dengan pertarungan singkat. So…" Cleon menggantung kalimatnya dan mengedikkan bahunya sekilas.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Xena.
"Di pemandian obat," jawab Cleon sambil mengerling ke bilik pemandian obat di sudut pekarangan belakang.
"Dia terluka?" Electra membelalakkan matanya dengan ekspresi cemas.
"Vox!" jawab Cleon.
Teman-temannya mengerutkan keningnya lagi.
"Eve mencoba melerai sewaktu Vox menyerangku," jelas Cleon.
Teman-temannya terlihat semakin bingung.
"Lord Vox datang, tepat pada saat Eve membentengiku dan mengira Vox sedang menyerang Eve!" Cleon menambahkan. "Dia... sangat marah, dan mencekik Vox."
Teman-temannya hanya mengerjap dengan raut wajah syok.