
Manusia-manusia peri itu begitu cantik. Wajahnya lancip dan putih mulus seperti patung marmer. Dan mereka terlihat bercahaya. Bibir mereka tipis berwarna darah. Hidung mungil mancung mendongak. Dan… telinganya berbentuk lancip.
"Ini Mairera!" Nazareth memperkenalkan gadis berambut emas sebetis dengan sepasang mata biru terang yang berdiri rapat di depannya. "Dia putri kepala suku."
Evelyn mengangguk singkat seraya memaksakan senyum. Tatapan gadis itu membuatnya tak nyaman.
"Semuanya! Perkenalkan, ini Evelyn!" Nazareth memperkenalkan Evelyn pada semua orang. "Kekasihku!"
Mairera spontan tertunduk, mengangguk sekilas pada Evelyn dengan raut wajah muram.
Apa hanya perasaanku saja? pikir Evelyn. Kenapa rasanya Mairera terlihat kesal?
"Dan dia… permaisuri kalian!" Nazareth menambahkan.
Semua orang serentak berlutut ke arah Evelyn, kecuali Mairera. "Aku akan memberitahu ayahku!" katanya pura-pura tidak mendengar kata-kata terakhir Nazareth. Ia berbalik dengan cepat, kemudian melesat dan menghilang entah ke mana.
Evelyn mengerling pada Nazareth.
Pria itu mendesah pendek, kemudian melingkarkan sebelah tangannya di bahu Evelyn seraya tersenyum tipis tanpa menoleh. "Ayo kita temui kepala suku!" katanya sambil menghela langkah Evelyn dengan bujukan tegas.
Para wanita dan anak-anak tadi menggiring mereka dengan riang.
Tak berapa lama, seorang pria yang juga sangat cantik menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh, diikuti sejumlah pria lainnya yang tak kalah cantik.
Tidak ada orang tua!
Semua manusia peri berhenti tumbuh di usia tiga puluh tahun, kecuali kultivasi mereka.
Dikatakan yang terjelek dari ras peri adalah yang tercantik di ras manusia…
Semua orang di sana berambut panjang, mengenakan jubah panjang semata kaki berlengan panjang yang dilapisi kain selubung sewarna yang biasa dililitkan di bahu atau dijadikan selubung wajah dan tudung kepala.
Beberapa mengenakan ikat pinggang dan ikat kepala dari logam mulia dengan batu permata. Beberapa mengenakan hiasan kepala berbentuk sayap di belakang telinga dan hiasan tangan berupa gelang yang membungkus setengah lengan mereka.
Setiap warna mewakili klan, hiasan kepala, hiasan tangan dan ikat pinggang mewakili kasta.
Namun berbeda dengan standar kasta manusia, tinggi-rendahnya kasta peri tidak ditentukan oleh jumlah kekayaan mereka, tapi ditentukan oleh tingkatan ilmu. Semakin tinggi ilmu mereka, semakin tinggi pula kasta mereka.
"Tuan Putri!" Kepala suku itu berlutut di depan Evelyn.
Tinggi, langsing dengan rambut putih metah selurus penggaris yang panjangnya sampai ke pinggang.
Jubah dan kain selubungnya berwarna hitam, mewakili tanah dan angin.
Ikat kepala, ikat pinggang dan hiasan tangannya dari rhodium---logam mulia berwarna hitam, mewakili hikmat—kasta bangsawan kelas dua. Setara dengan ahli tafsir di negeri manusia. Sebut saja cendekiawan.
Pria lainnya turut berlutut.
Mairera mengikutinya dengan terpaksa.
"Kami sungguh tidak tahu Yang Mulia akan berkunjung!" ungkap si kepala suku.
"Berdirilah!" titah Evelyn bernada ketus. Merasa tersengat oleh sikap Mairera.
Nazareth mengerling padanya dengan mata terpicing. Kenapa sampai di sini suasana hatinya begitu jelek? pikirnya terkejut. "Ah—begini saja!" kata Nazareth pada kepala suku. "Kami tak akan berlama-lama di sini. Kalau boleh jujur sebenarnya kami sedang berkencan."
Mairera tertunduk semakin dalam. Raut wajahnya semakin tidak sedap dipandang.
"Tapi, karena aku terlanjur berada di sini. Aku ingin sekalian bicara denganmu," Nazareth menambahkan.
Kepala suku dan para pria serempak berdiri.
Mairera segera menyingkir dengan langkah-langkah lebar.
Evelyn memperhatikan punggungnya dengan perasaan kesal. Peri level dua puluh saja berani bersikap lancang! batinnya geram.
Seakan bisa membaca pikiran Evelyn, Nazareth tiba-tiba meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
Evelyn mendongak dengan wajah kencang.
Kepala suku dan para pria memimpin jalan menuju Balai Desa.
"Singkirkan semua orang!" perintah Nazareth mulai tak sabar. "Aku hanya ingin bicara denganmu."
"Baik, Yang Mulia!" para pria serentak membungkuk dan berpencar meninggalkan beranda setelah mereka membukakan pintu.
"Dan kau!" potong Nazareth sambil menunjuk salah satu pria lainnya. Lalu menunjuk dua pria lainnya. "Dan kalian!"
Ketiga pria itu kembali membungkuk sementara pria lainnya menggiring para wanita dan anak-anak menjauh.
Sesampainya di dalam, Nazareth menuntun Evelyn ke sofa di ruang tamu di depan perapian.
Para pria dari ras peri itu duduk di seberang meja.
"Sekarang katakan!" kata Nazareth tak ingin berbasa-basi. "Apakah di antara kalian ada yang menjual virus vampir pada manusia?"
"Virus vampir?" Seisi ruangan serentak melengak.
Tidak terkecuali Evelyn.
"Banyak manusia berubah menjadi vampir akhir-akhir ini, dan mereka menyerang manusia!" jelas Nazareth. "Aku tahu beberapa dari kalian membuat ramuan seperti itu."
"Tapi…" kepala suku tergagap. "Kami membuat ramuan itu untuk mengubah manusia peri yang mati menjadi vampir. Karena hanya dengan begitu ras kami bisa bertahan. Ras kami tak dapat berkembang secepat manusia. Wanita peri hanya sekali melahirkan dalam seratus tahun."
"Aku tahu itu!" tukas Nazareth. "Apa aku melarang kalian? Aku hanya ingin tahu apakah kalian menjualnya pada manusia?"
"Tidak, Yang Mulia! Tentu saja tidak!" jawab kepala suku menyakinkan Nazareth.
"Aku akan menggiring kalian ke Erebos kalau sampai ketahuan ada yang menjualnya pada manusia," ancam Nazareth dengan ekspresi dingin. Lalu beranjak dari sofa.
"Kami tidak berani, Yang Mulia!" para pria itu serentak beranjak dari sofa, menyelinap keluar dan berlutut ke arah Nazareth.
Nazareth membungkuk ke arah Evelyn sambil mengulurkan sebelah tangannya dengan elegan seperti sikap pria bangsawan yang mengundang gadis untuk berdansa. Raut wajahnya berubah dengan cepat. "Saatnya pergi, Manisku!" katanya dengan dramatis.
Evelyn mengerjap dan terkesiap. Tapi lalu menyambut uluran tangannya meski ragu-ragu, kemudian menghela bangkit tubuhnya.
Nazareth menuntunnya keluar.
Para pria itu menggiring mereka dengan tergopoh-gopoh. Lalu membungkuk mengantarkan kepergian mereka sampai ke pekarangan.
Nazareth kembali membawa Evelyn terbang ke langit malam, melanglang buana di udara, mengunjungi sejumlah tempat yang menurutnya bisa membuat Evelyn kembali bersemangat.
Tapi Evelyn terus-terusan cemberut.
Nazareth akhirnya menyerah dan membawanya kembali ke balkon menara.
Gadis itu melepaskan rengkuhannya dan melangkah turun dari punggung kakinya tanpa bicara. Tanpa senyuman. Ia berpaling menghindari tatapan mata Nazareth, kemudian berbalik memunggunginya.
"Eve, apa aku lupa bilang I love you hari ini?" Nazareth mencoba menggodanya.
"Kau melupakannya setiap hari," tukas Evelyn bernada sinis.
Nazareth mengulum senyumnya. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di perut Evelyn. Memeluknya dari belakang. "Apa aku membuatmu kesal?" bisiknya bersungguh-sungguh.
"Putri kepala suku itu dekat denganmu, kan?" sembur Evelyn sambil menoleh ke samping, menghujamkan tatapan tajam melalui sudut matanya.
"Dia sudah seperti adikku," jawab Nazareth berterus terang.
"Sayangnya dia tak pernah menganggapnya begitu!" sergah Evelyn.
Nazareth memutar tubuh Evelyn, menghadapkan gadis itu ke arahnya. "Dia hanya peri, Evelyn!" bisiknya bernada tajam.
"Tetap saja punya libido!" dengus Evelyn.
Nazareth terkekeh tipis. "Sayangnya hanya kau yang membuatku bergairah," godanya.
"Forget it!" sembur Evelyn sambil mendorong dada Nazareth. "Kau merusak kencan kita," katanya ketus. Lalu berbalik dan bergegas ke arah pintu keluar. "Mungkin seharusnya aku berkencan saja dengan Mikhael tadi!" gerutunya.