Poison Eve

Poison Eve
Chapter-75



"Aku tak percaya pergi berburu peri monster saja terasa seperti pergi tamasya bagiku," cerocos Lady Die ketika mereka baru saja turun dari kereta kuda.


Pagi itu, setelah sarapan, Morfeus Five berangkat ke Hutan Berburu Peri Monster Kekaisaran bersama guardian mereka dengan dua kereta.


Xenephon sendiri yang menjadi sais kereta yang di dalamnya berisi, Nazareth dan tentu saja Migi Vox, Evelyn, Electra dan Nyx Cornus. Sementara kereta satunya dikendarai Arsen Heart dan Salazar Lotz yang di dalamnya berisi Lady Die, Xena, Cleon dan Altair.


Para penjaga gerbang membukakan pintu dengan gerakan seragam yang kaku, setelah Xenephon memperlihatkan pelat dari Ordo Angelos pada mereka.


Evelyn melirik sekilas pelat di tangan Xenephon melalui sudut matanya, kemudian melirik kedua penjaga itu dengan mata terpicing. Mereka tidak membungkuk? pikir Evelyn. Kemudian melirik guardiannya.


Pembicaraannya dengan Nazareth ketika pertama kali ia berkunjung ke tempat ini melintas dalam benaknya.


"Master, kenapa mereka membungkuk? Apakah karena pelat dari Ordo Angelos, atau… lencana khusus?"


"Tentu saja karena pelat Ordo Angelos! Pelat Ordo Angelos sudah menjadi… semacam dekret kaisar."


Lencana kekaisaran! Evelyn menyimpulkan. Apa ada kaitannya dengan… Catlyn Thunder?


Lalu bayang-bayang peristiwa ketika Catlyn Thunder memeluk Nazareth melintas di pelupuk matanya, membuat hatinya tersengat.


Catlyn Thunder adalah putri kaisar, batinnya getir. Dan dia memeluk Nazareth. Pasti ada hubungannya dengan lencana kekaisaran yang diperlihatkan Nazareth kepada para penjaga itu. Jangan-jangan…


Seperti bisa merasakan perubahan pada Evelyn, Nazareth tiba-tiba menoleh ke arah gadis itu dan mengamatinya dengan mata terpicing. Migi Vox mengikuti lirikan matanya dengan raut wajah penasaran seorang anak.


Rombongan mereka sudah berjalan cukup jauh di depan.


"Eve! Kau mau ikut atau tidak?" goda Electra sambil menoleh pada Evelyn.


Evelyn mengerjap dan tergagap, baru menyadari dirinya tertinggal jauh. Lalu melirik sekilas pada Nazareth yang setia menjejeri langkahnya dan bergegas menyusul teman-temannya dengan wajah cemberut.


Nazareth mengerutkan keningnya. Kenapa wajahnya terlihat kesal? pikirnya.


Mencapai zona bahaya, rombongan itu berhenti serempak dan para guardian menoleh pada Nazareth.


Nazareth berdeham dan memalingkan sekilas wajahnya menutupi perasaan gugup karena kedapatan sedang melamun. "Target kita adalah Hutan Kegelapan!" ia menginstruksikan.


"Are you kidding?" Lady Die terperangah.


"Masih terasa seperti tamasya?" tanya Nazareth bernada cemooh, sebelah alisnya terangkat tinggi.


Lady Die langsung terdiam.


"Hutan Kegelapan bukanlah area pemeliharaan peri monster biasa," Nazareth memberitahu anak-anak aset mereka. "Setiap saat, bisa saja ditemukan peri monster ribuan dan puluhan ribu tahun. Nanti setelah memasuki Hutan Kegelapan, jangan menjauh lebih dari dua puluh meter dari kami. Kalian semua harus berhati-hati. Tanpa perintahku, siapa pun tak boleh menyerampang peri monster. Kalian mengerti?"


"Mengerti!"


Kelima remaja itu membungkuk serempak dengan hormat tentara.


"Eve, pimpinlah jalan!" perintah Nazareth pada Evelyn.


Evelyn membungkuk sekali lagi, lalu bergegas mendahului semua orang.


Para guardian menyisi untuk memberi jalan pada anak-anak aset mereka.


Migi Vox melesat mendahului mereka dan mendarat di punggung Evelyn, lalu merayap naik ke bahu gadis itu.


Evelyn tersentak dan mengerling melewati bahunya.


Migi Vox menelengkan kepalanya dan tersenyum miring.


Evelyn terkekeh tipis dan menggeleng-geleng, kemudian memalingkan kembali wajahnya ke depan. Migi Vox duduk bertengger di bahunya dengan kedua kaki menggantung ke dalam, menoleh ke sana kemari dengan tatapan polos seorang anak kecil.


Mencapai perbatasan Hutan Kegelapan, Evelyn berhenti dan menoleh ke belakang.


Nazareth dan para guardian tak jauh dari mereka.


Evelyn menarik napas dalam-dalam dan melangkah menembus tirai kabut diikuti teman-temannya.


BLAAAASH!


Jalan setapak di belakang mereka menghilang. Kabut gelap itu seakan melecut tertutup seperti tirai.


Kelima remaja itu berhenti beberapa meter dari tirai kabut itu sambil menoleh ke belakang, menunggu Nazareth dan para guardian mereka dengan gelisah.


Para remaja itu mendesah lega dan memalingkan kembali wajah mereka ke depan. Melanjutkan langkah dengan waspada.


Evelyn mendongak menatap gua di atas tebing batu, tempat di mana ia mendapatkan cakra spiritual pertamanya. Gua itu terlihat gelap sekarang.


Gelap dan hampa.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan di atas sana, pikirnya.


Migi Vox mengikuti arah pandangnya dengan tetap memasang ekspresi polos, lalu mengedar pandang ke sekeliling mengikuti arah pandang Evelyn dengan ekspresi sama.


Peri-peri vampir mulai bermunculan dan menyebar di udara, terbang berputar-putar di atas kepala mereka.


"Kau kembali?" suara-suara itu terdengar bergemuruh di udara terbuka di atas kepala mereka. Suara-suara yang hanya terdengar berupa cicitan kelelawar di telinga semua orang kecuali Evelyn.


Cleon dan Electra serentak memasang kuda-kuda.


Evelyn mengangkat tangannya, memperingatkan mereka untuk tidak menyerang. "Mereka hanya peri monster tingkat rendah," ia memberitahu. "Ayo kita memutar!"


Nazareth tersenyum samar di belakang mereka.


Xenephon dan Nyx Cornus saling melirik penuh arti.


"Pertumbuhan peri monster sangat lambat," tutur Evelyn pada teman-temannya. "Hindari mereka sebisa mungkin. Jika salah serang, dikhawatirkan dalam waktu dekat persediaan peri monster di sini akan habis."


"Masuk akal!" Electra menanggapi. Lalu menarik kuda-kudanya. "Mari kita menyingkir!" katanya pada Cleon.


Cleon akhirnya menurunkan kedua tangannya yang sudah terkepal di depan wajah dan menarik kuda-kudanya.


"Ada lagi," Evelyn menambahkan. "Kalau terjadi pertempuran, bau darah dan suara gaduh bisa menarik perhatian peri monster yang lebih kuat. Sebaiknya kita berhati-hati!"


"Pengetahuanmu luas juga!" komentar Lady Die pada Evelyn. Senyumnya melebar mendengar penuturan Evelyn pada teman-temannya.


"Jangan lupa guardianku seorang ahli teori," sahut Evelyn setengah menyindir. Lalu melirik sekilas pada Nazareth.


Pria itu tersenyum tipis dengan masih bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang salah? Kenapa hari ini dia terlihat marah padaku?


Bersamaan dengan itu, Xenephon menyikut pangkal lengannya dengan diam-diam. "Tampaknya kau sudah bisa tenang sekarang," bisiknya bernada mengejek. "Pekerjaanmu sudah ada yang menggantikan. "Beristirahatlah, Pak Tua…"


Nazareth menginjak kakinya sebagai tanggapan.


"Dengan tenang!" Xenephon menambahkan dalam erangan tertahan sambil mengernyit kesakitan.


Nyx Cornus melirik mereka sambil menahan senyumnya.


Evelyn memimpin teman-teman semakin jauh ke dalam hutan, berusaha mengabaikan suara-suara ribut yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


"Gadis baik!" kata salah satu peri vampir disertai lengkingan tawa keringnya yang khas.


"Gadis pintar!" timpal yang lainnya.


"Kalau begitu kami tak akan menggangu kalian," timpal yang lainnya lagi.


"Berhati-hatilah, Eve!" peri vampir yang pertama memperingatkan. "Di sisi sebelah kiri gunung jalannya sedikit terjal dan berbahaya. Beberapa monster di sana agak pemarah. Kami tidak berteman dengan mereka."


Evelyn menghentikan langkahnya.


Teman-temannya ikut berhenti, kemudian mengerutkan kening mereka ketika Evelyn tiba-tiba berbalik dan berputar arah.


"Eve, apa kau yakin mau ke mana?" Electra bertanya cemas.


"Di sisi sebelah kiri gunung jalannya sedikit terjal dan berbahaya," Evelyn memberitahu, sesuai dengan yang dikatakan peri vampir yang masih berputar-putar di atas kepala mereka. "Kita cari jalan lain saja! Beberapa monster di sana agak pemarah."


Nazareth dan Xenephon spontan bertukar pandang dengan alis bertautan.


Keempat guardian menatap Evelyn dengan mata terpicing.


Semua orang menatap Evelyn dengan ekspresi bingung dan takjub.


Aku tak pernah mengajarinya ini! batin Nazareth.