
"Master!" pekik Evelyn sambil menepuk-nepuk pipi guardiannya yang terasa dingin di telapak tangannya. "Master!"
Oh, tidak! pikirnya gamang.
Ia memeriksa denyut nadi guardiannya dan meneliti bibir tipisnya yang selalu menggoda. Bibir tipis menggoda itu sekarang terlihat segelap malam. Degup jantungnya terdengar lemah dan sekujur tubuhnya terlihat beku.
"Apa pun yang menimpanya akan menimpaku juga. Sebagai contoh, jika dia terkena racun, maka racunnya akan menyebar ke tubuhku."
Kata-kata Nazareth terngiang dalam benaknya.
Evelyn mengangkat Migi Vox dari pangkuan Nazareth dan memindahkannya ke pangkuannya sendiri. Kemudian melucuti pakaian boneka itu untuk memeriksanya, dan terkejut mendapati tubuh Migi Vox.
Tubuh boneka itu benar-benar seperti bayi manusia. Ia bahkan memiliki kulit dan daging.
Apakah lama kelamaan boneka ini akan menjadi manusia? Evelyn bertanya-tanya.
Wajah Migi Vox sama pucatnya dengan Nazareth. Sekujur tubuhnya juga terasa dingin. Di kedua sisi lehernya terdapat dua lubang seukuran lubang semut. Cukup besar untuk Migi Vox.
Racun! Evelyn menyimpulkan. Nazareth terkena racun. Benar, katanya dalam hati. Migi Vox terjebak cukup lama di mulut naga pengeluh.
Tapi tidak! pikirnya kemudian.
Lubang di leher Migi Vox memang lumayan besar. Tapi itu terlalu kecil untuk ukuran taring naga pengeluh.
Naga pengeluh bisa mengoyak Migi Vox kalau dia benar-benar mengeluarkan taringnya.
Bukan naga pengeluh, pikir Evelyn. Migi Vox hanya terjebak dalam mulutnya. Tak mungkin terkena racun. Naga pengeluh menyimpan racun hanya pada taringnya.
Evelyn mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat apa saja yang terjadi sebelum naga pengeluh itu muncul.
Peri vampir! pikir Evelyn.
...-Flashback On-...
Seekor peri vampir—bentuknya sama persis dengan kelelawar, menukik ke arah Evelyn yang secara spontan membuat Migi Vox melesat untuk menghalau kelelawar itu.
SLASH!
Cahaya keemasan berkeredap dari benturan sikut Migi Vox yang mendarat telak di leher kelelawar itu.
Kelelawar itu terpental dan pada saat yang sama, kelelawar lainnya menukik ke arah Migi Vox.
Bersamaan dengan itu pula, seekor serigala menerjang ke arah Evelyn.
BLAAAASH!
Evelyn berhasil menghalau serigala itu, sementara si peri vampir berhasil mematuk leher Migi Vox.
"Vox!" pekik Nazareth sambil merenggut bonekanya dari cengkeraman si peri vampir.
...-Flashback Off-...
Peri vampir itu menggigit Migi Vox!
Evelyn meletakkan kembali Migi Vox di pangkuan Nazareth, sementara ia mulai mengumpulkan ranting untuk membuat perapian.
Ia memeriksa ke dalam batu permata yang diberikan Nazareth untuk mencari apa saja yang mungkin bisa berguna.
Aku harus mengeluarkan racun dari tubuh mereka! pikirnya.
Hanya ada sekantung air.
Bagaimana aku bisa membuat perapian? Evelyn berpikir keras.
Tunggu dulu! katanya dalam hati. Naga pengeluh memiliki kemampuan menyemburkan api dari mulutnya, apakah kemampuan itu juga sekarang jadi milikku?
Evelyn menarik napas dalam-dalam dan menahannya di perutnya, lalu mengembuskannya ke arah tumpukan ranting yang tadi dikumpulkannya.
Semburan api keluar dari mulutnya.
Ternyata benar! batinnya takjub. Rasanya hampir tak percaya ia memiliki kemampuan seperti itu.
Dengan bersemangat, Evelyn bergegas ke arah bangkai naga pengeluh yang teronggok tak jauh dari tempat mereka dan mencabut belati dari matanya.
Ia membersihkan belati itu dengan air, kemudian mengeringkannya dengan lengan bajunya. Lalu membakarnya di perapian untuk mensterilkan belati itu.
Yang mana dulu yang harus kuselamatkan? ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Hanya ada satu cara untuk memastikannya.
Evelyn mendesah pendek dan mencoba menahan dirinya untuk tidak berdebar-debar ketika ia mencoba melucuti kancing baju guardiannya untuk melihat sejauh mana racunnya telah menyebar. Tapi itu tak mudah mengingat daya tarik guardiannya bahkan dalam keadaan pingsan.
Separuh urat di dada pria itu sudah membiru.
Evelyn melirik Migi Vox yang tak kalah pucat dengan alis bertautan.
Aneh sekali, pikirnya. Kenapa penyebarannya lebih cepat di tubuh Nazareth?
"Hah!" Evelyn mendesah kasar. Lalu dengan terpaksa harus mengerat pergelangan tangan guardiannya yang putih mulus dengan belati yang telah disterilkan.
Darah kental berwarna gelap merembes keluar dari pergelangan tangan yang putih mulus itu.
Evelyn duduk bersila setelah membaringkan tubuh guardiannya di tanah. Lalu mulai berkonsentrasi untuk mengumpulkan tenaga dalam ke telapak tangannya dan menyalurkannya ke tubuh Nazareth melalui pusat dadanya.
Asap tipis berwarna hitam mengepul dari sela-sela jemari tangannya yang menekan dada Nazareth.
Darah kental mengucur deras dari luka Nazareth yang dibuat Evelyn di pergelangan tangannya.
Migi Vox terbatuk dan memuntahkan segumpal darah berwarna gelap.
Evelyn menarik telapak tangannya dari dada Nazareth dan menotok sejumlah titik saraf.
Jemari mungil Migi Vox bergerak-gerak. Tapi tubuhnya masih tergolek di perut Nazareth yang terlihat seperti patung marmer.
Evelyn menotok beberapa titik saraf lagi di sepanjang lengan Nazareth dan terakhir menotok sejumlah titik saraf di punggung Migi Vox.
Ia mengangkat boneka itu dan menaruhnya di pangkuannya dan menekankan telapak tangannya di dada boneka itu.
Darah segar merembes dari pergelangan tangan Nazareth.
Cukup! batin Evelyn menegur dirinya. Darahnya sudah steril.
Evelyn menarik telapak tangannya dan menarik kembali tenaga dalamnya.
Ia memakaikan kembali kemeja putih Migi Vox dan mantel armornya. Kemudian melakukan hal yang sama pada guardiannya, setelah sebelumnya membebat pergelangan tangan pria itu dengan saputangannya.
Ia menyandarkan pria itu kembali ke batang pohon dan meletakkan Migi Vox di pangkuannya.
Lalu menunggu.
Tiba-tiba sekelebat bayangan gelap melintas di atas perapian, disusul suara kepakan.
Oh, tidak! pikir Evelyn. Jangan lagi! harapnya dalam hati.
Evelyn memandang ke atas saat bayangan gelap itu melayang mendekat dan berseru kaget.
Tak lama kemudian bayangan gelap itu melayang turun, terbang rendah ke arah api unggun dan berputar-putar. Matanya yang merah kecil bersinar memperhatikan Evelyn, mengintai seperti radar setan.
Seekor kelelawar meluncur dan melayang turun ke tempat pertemuan antara kabut dan awan, berputar cepat di permukaan tanah sambil melipat sayapnya, berpusing dalam tarian yang seram dan tanpa irama, kemudian mendarat tanpa suara.
Ia muncul dari tarian itu dalam wujud manusia, berubah bentuk menjadi seorang pria dengan mata berkilat-kilat merah.
Pada saat yang sama, kabut tebal mengendap turun di bawah kakinya, menyelimuti seluruh tempat di sekeliling Evelyn.
Evelyn menatap pria itu dengan tatapan gelisah.
Pria itu balas menatapnya. Sepasang mata merahnya berkilat-kilat. Seulas senyuman tersungging di sudut bibirnya yang gelap. Lalu tatapannya beralih pada Migi Vox. "Retakan yang bagus," katanya bernada sinis. Suaranya terdengar seperti hembusan angin.
Evelyn mengerjap dan menelan ludah, "Retakan?" ulangnya dalam bentuk pertanyaan. Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Itu adalah Ilmu Pemusat Bayangan," pria itu memberitahu. Wajahnya terlihat dingin. Namun matanya masih berkilat-kilat. "Dia memecahkan dirinya sendiri secara paksa dan menyegel setengah kejahatannya ke dalam boneka itu," tuturnya.
Evelyn menoleh pada Migi Vox dan kembali mengawasi pria itu dengan ekspresi gusar. "Apakah ada buruknya?"
"Yang pasti itu adalah teknik terlarang," tukas pria itu dengan raut wajah datar.
Evelyn menelan ludah sekali lagi.
"Dua jiwa yang berlawanan memperebutkan satu kesadaran." Pria itu menoleh pada Evelyn. "Menurutmu, apakah ada baiknya?"