
"Jadi itu bukan hukuman?" tanya Evelyn tak yakin.
"Hukuman?" Nazareth menaikkan sebelah alisnya. "Apakah berdiri di bawah tiang bendera itu terasa sangat menyiksa?"
"Ti---tidak! Bukan begitu!" sergah Evelyn terbata-bata. "Maksudku…"
"Memangnya kesalahan apa yang telah kau buat yang kau pikir bisa membuat aku menghukummu?"
"Aku—" Evelyn tergagap-gagap. Aku memanggil namamu, katanya dalam hati. Dan aku juga menerobos ke kamarmu sambil teriak-teriak.
Nazareth tersenyum diam-diam sambil melontarkan tatapan geli. Migi Vox menyeringai di pangkuannya.
Evelyn tertunduk semakin dalam.
"Katakan padaku, mana bagian tubuh yang paling vital selain otak?" tanya Nazareth setelah sejenak terdiam.
"Jantung dan paru-paru," jawab Evelyn.
"Berapa banyak jantung yang dimiliki manusia?" Nazareth bertanya lagi.
Evelyn serentak terperangah.
"Just answer!" desak Nazareth.
"Satu," jawab Evelyn setengah berbisik. Tak yakin dengan jawabannya. Tentu saja ia yakin setiap orang hanya memiliki satu jantung di dalam tubuhnya. Hanya saja pertanyaan Nazareth tampaknya mengandung retorika.
"Salah," tukas Nazareth tanpa ekspresi.
Evelyn spontan mengangkat wajah, menatap guardiannya dengan ekspresi bingung.
"Berdasarkan penelitianku, manusia memiliki tiga jantung," jelas Nazareth. "Otot di kedua betis manusia adalah jantung kedua dan ketiga."
Evelyn menelan ludah dan tergagap.
"Metode pelatihanku memang terlihat sepele," ungkap Nazareth. "Tapi jika kau ingin mengerahkan seluruh tenagamu, ketiga jantung harus berkerja sejalan."
Evelyn tertunduk dengan dahi berkerut-kerut. Ternyata begitu, katanya dalam hati. Jadi, dia tidak marah aku memanggil namanya? Menerobos kamarnya?
"Saat mengeluarkan tenaga, bukan dimulai dari gerakan." Nazareth melanjutkan. "Ketiga jantunglah titik mulanya."
Evelyn menyimak penjelasan guardiannya dengan ketertarikan baru. Ini teori yang jarang diketahui banyak orang, pikirnya.
"Jantung mengeluarkan tenaga, pinggang sebagai sumbunya," Nazareth menambahkan. "Lihat ini!" Nazareth menginstruksikan. Lalu berdiri membungkuk dengan kedua kaki tertekuk karena atap kereta yang rendah.
Migi Vox melompat ke pangkuan Evelyn.
Evelyn memperhatikan guardiannya dengan alis bertautan.
Nazareth mulai berkonsentrasi, tak lama kemudian, kereta kuda itu bergetar di bawah kakinya.
Evelyn terperangah dengan ekspresi takjub.
Xenephon mengerutkan keningnya di kotak pengemudi, lalu mengerling melewati bahunya. Kereta itu bergoyang-goyang di belakangnya. Tiba-tiba ia menyeringai dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Entah apa yang dipikirkannya!
Nazareth menghela napas dalam-dalam dan menarik kembali tenaga dalamnya. Lalu kembali ke tempat duduknya dan melontarkan tali energi ke arah Migi Vox dan merenggutnya dari Evelyn.
Boneka itu meronta-ronta di pangkuan Nazareth. Nazareth menjepit dagunya hingga ia terdiam.
"Kembali ke pelatihan tahap kedua," Nazareth melanjutkan. "Kau pernah dengar Arena Debut?"
Evelyn mengangguk.
Arena Debut adalah arena pertarungan para Master Spiritual tingkat pengawal, satu tingkat di atas pejuang—gelar terendah.
"Di sanalah tempat kau akan berlatih selanjutnya," Nazareth memberitahu.
Evelyn mengangakan mulutnya.
"Waktu latihan kali ini tidak dibatasi," kata Nazareth. "Saat kau meraih Lencana Master Spiritual Level Perak, latihan akan berakhir."
Evelyn tercenung dengan raut wajah tak yakin. Lebih kepada tidak percaya diri sebenarnya.
Tapi Nazareth berusaha menyemangatinya. "Mengikuti pertarungan debutan, tidak terlalu buruk dibanding berburu monster," katanya. "Selain itu, kau juga bisa mendapatkan banyak uang dari Arena Debut!" ia menambahkan sambil tersenyum menantang.
"Tapi ada syaratnya," kata Nazareth lagi. "Pertama, jangan pernah tunjukkan wajah atau memberitahu nama aslimu, terutama kepada lawan. Gunakan topeng atau julukan untuk bertarung. Kedua, jangan gunakan senjata rahasia. Ketiga, baik menang atau kalah, minimal kau harus bertarung sebanyak dua kali sehari. Tentu saja kau bisa bertarung lebih dari dua kali, tapi kau juga harus memperhatikan kondisimu."
Evelyn mengangguk lagi.
Lalu Nazareth melemparkan sebuah topeng satin setengah wajah berwarna hijau bercorak ivy berdaun tiga. "Gunakan itu saat bertarung!"
"Terima kasih, Master!" Evelyn membungkuk dengan antusias.
"Dan jangan memakai seragam itu!" Nazareth menambahkan.
Evelyn tertunduk mengamati dirinya sendiri.
"Kita akan membeli pakaian baru setelah tiba di Kota Gerimis. Dan untuk nama julukan…" Nazareth menggantung kalimatnya dengan dramatis. "Karena peri pelindungmu poison ivy, maka julukanmu… Poison Eve!"
"Julukan yang bagus!" tanggap Evelyn penuh semangat.
"Baiklah," pungkas Nazareth. "Selamat berjuang!" katanya menyemangati.
Evelyn membungkuk dengan hormat tentara---mengepalkan sebelah tangannya di dada.
Migi Vox menyeringai lebar.
.
.
.
Kota Gerimis…
Meski namanya Kota Gerimis, kota tua misterius itu tidak selalu dilanda hujan. Namun terkesan selalu mendung dengan sentuhan nuansa mistis dari bangunan-bangunan pencakar langit yang berwarna gelap.
Lebih tepat disebut Kota Kematian dibanding Kota Gerimis.
Kota itu terlihat mencekam.
Jelas sekali terlihat bahwa mereka memasuki dunia yang lepas batas dengan kegilaan yang jauh lebih hebat daripada apa pun yang pernah dibayangkan Evelyn dulu ketika masih berada di dalam rumah di kota kecilnya.
Yang pertama-tama harus ia lakukan adalah mengumpulkan perlengkapan yang disarankan Nazareth untuk menyembunyikan identitasnya.
Yang lebih buruk lagi, ia merasa yakin tak ada siapa pun yang mengendalikan situasi.
Evelyn hampir dapat merasakannya seperti anjing yang mengendus ketakutan pada orang-orang di sekelilingnya.
Setiap orang harus selalu siap menghadapi kejadian apa pun.
Tak ada perdamaian di jalan-jalan Kota Gerimis di mata Evelyn.
"Kontribusi untuk lima orang sepuluh koin emas!" Seseorang berteriak di tengah kerumunan. "Masih kurang dua orang, tipe kekuatan dan tipe kegesitan!"
Evelyn memperhatikan kerumunan itu dengan alis bertautan. "Master, kenapa tempat ini begitu ramai?"
"Semua karena keuntungan," jawab Nazareth.
Migi Vox mengedar pandang ke sana kemari seperti anak balita yang penasaran.
"Master Spiritual adalah kumpulan orang-orang kaya. Mereka merekrut orang untuk pertarungan tim di Arena Guardian." lanjut Nazareth. "Orang-orang ini datang untuk mendapat uang dari Master Spiritual."
"Kenapa harus teriak-teriak untuk membentuk tim?" tanya Evelyn tak habis pikir.
"Untuk mendapatkan lencana tanpa berbagi, dibutuhkan orang luar yang tidak terdaftar di Ordo Angelos," jelas Nazareth.
Evelyn menoleh sekali lagi ke arah kerumunan.
"Namun, pembentukan tim yang tiba-tiba seperti ini, tidak termasuk tim yang sesungguhnya," Nazareth menasihati. "Tim yang benar-benar berbakat setidaknya harus dibentuk oleh lima bagian."
Evelyn mengalihkan kembali perhatiannya pada Nazareth. Menyimak.
"Tipe makanan untuk memulihkan kondisi fisik, tipe pemulih untuk memulihkan tenaga dalam, tipe kegesitan untuk mengawasi, tipe kekuatan untuk menahan dan tipe petarung untuk menyerang. Tim yang dibentuk dari lima bagian ini baru termasuk tim yang solid. Selain itu, kerja sama satu sama lain tidak bisa dibentuk dalam satu-dua hari. Dan yang paling penting, anggota dalam satu tim harus saling mempercayai. Jika tidak, saat bertemu bahaya, sangat mudah untuk dikalahkan dalam waktu singkat."
"Saling mempercayai?" ulang Evelyn dalam bentuk pertanyaan.
Nazareth menoleh sambil tersenyum. "Suatu saat, kau juga mungkin ada kesempatan untuk bergabung dalam tim seperti ini," katanya. "Jadi, kusarankan, saat memilih tim, kau tak harus memikirkan bagaimana kekuatan anggota lain, tapi satu hal yang harus kau ingat, tim yang kau pilih harus orang yang bisa kau percayakan dengan tenang."