Poison Eve

Poison Eve
Chapter-89



Damon? pikir Evelyn.


"Penyihir tua itu adalah musuh bebuyutan kakekmu. Salah satu dari mereka telah membunuh ayahmu demi tulang cakra Apollo!"


Pesan goliath itu melintas dalam benaknya. Dan seketika itu juga ia melompat keluar dari kereta.


"Eve—" Nyx Cornus memekik seraya mengulurkan sebelah tangannya, mencoba menahan gadis itu dan terluput.


Evelyn sudah bergabung dengan Nazareth dengan sikap kuda-kuda.


Sepasang mata di bawah tudung jubah gelap itu berkilat-kilat menatap Evelyn. Kemudian tersenyum miring. "So…" desisnya dalam bisikan kering yang mendirikan bulu roma. "Kaukah yang meracuni muridku?"


"Muridmu?" Evelyn balas berdesis. Sebelah alis rampingnya terangkat tinggi. "Siapa muridmu?"


"Kau baru saja melukai seseorang di Hutan Berburu Peri Monster beberapa saat lalu, dan kau sudah lupa?" dengus pria berjubah gelap yang disebut-sebut Nazareth sebagai Kefas itu di antara senyum tipisnya yang jahat.


"Kau datang untuk putra gubernur?" Evelyn pura-pura terkejut. Kemudian menambahkan, "Baiklah! Aku layani! Tipe pengendali paling tak takut dalam perang tim!"


Nazareth terperanjat dan menyentakkan kepalanya ke samping, menatap Evelyn dengan terkejut. Dengan spontan mengulurkan sebelah tangannya di depan gadis itu untuk menghalanginya.


"Nice!" Pria berjubah gelap itu terkekeh tanpa selera humor. Lalu menyentakkan kedua tangannya dalam posisi kuda-kuda dengan jemari membentuk cakar, yang dalam sekejap mengeluarkan lingkaran cakram berwarna gelap menyerupai gelang di kedua pergelangan tangannya.


Gawat! Nazareth spontan menarik Evelyn ke belakang punggungnya dan memasang kuda-kuda juga.


Evelyn juga memasang kuda-kuda. Matanya tak kalah berkilat-kilat.


Migi Vox bergabung dengan mereka, melayang di sisi mereka dengan sikap kuda-kuda yang sama dengan Nazareth.


Pria berjubah gelap itu menyeringai semakin lebar. Matanya semakin berkilat-kilat. Menarik! pikirnya merasa tertantang. Tampaknya makhluk kecil inilah yang menghabisi anak buahku waktu itu.


Xenephon melompat dari kotak pengemudi dan bergabung di sisi Nazareth dengan sikap waspada.


Melihat hal itu, Nyx Cornus tak tinggal diam, ia juga segera melompat keluar diikuti Electra di belakangnya, lalu keduanya bergabung dengan Evelyn dengan sikap kuda-kuda juga.


"Menghindar selagi bisa, Eve!" Nazareth menginstruksikan. "Jangan boroskan energi cahaya!"


"Menghindar?" geram Evelyn tak sabar, matanya berkilat-kilat penuh amarah. "Bajingan ini perlu dihajar supaya tahu diri!"


Nazareth mengernyit ngeri melihat tekad Evelyn. "Masalahnya tidak sesederhana itu, Eve!" katanya dalam bujukan tegas.


"Hah!" Evelyn mendengus dengan ekspresi dingin. "Tentu saja," tukasnya tajam. "Membunuh ayahku bukanlah masalah yang sederhana!"


"Kau sudah tahu?" Nazareth terkejut.


"Like I said!" sergah Evelyn bernada sinis. "Bajingan ini perlu dihajar!"


"Ada apa di sana?" terdengar suara Lady Die di kereta belakang.


"Semuanya, berhati-hatilah!" Nyx Cornus memperingatkan. "Kita sedang diserang!"


"Diserang?" Lady Die dan Xena tersentak bersamaan.


"Kereta bisa menjadi target besar. Kita harus keluar!" kata Arsen Heart seraya melompat dari kotak pengemudi, diikuti Salazar di sisi lainnya.


Lady Die melompat keluar bersama Xena, diikuti Cleon dan Altair, lalu bergabung dengan Arsen Heart dan Salazar Lotz.


Detik berikutnya, suara-suara berdebuk ribut terdengar di belakang kereta Nazareth, disusul suara-suara berderak dan melecut-lecut.


SLASH!


SLASH!


Berondongan anak panah melesat ke arah mereka dari berbagai penjuru.


"Anak-anak! Keluarkan peri pelindung!" Arsen Heart menginstruksikan sambil melontarkan energi cahaya berbentuk kubah ke atas kepala mereka sebagai perisai.


GLAAAAARRR!


Serbuan anak panah itu terpelanting secara serentak.


"Dan jangan pernah berpencar!" Lady Die menambahkan saat mendarat kembali di depan anak-anak aset mereka. "Harus tetap bersama!"


"Hmh!" Ketiga remaja di belakangnya mengangguk serempak.


"Sepertinya jumlah penyerang tidak sedikit," Salazar Lotz menggumam setelah mendarat di sisi Arsen Heart.


"Huh! Taktik bergerombol!" dengus Lady Die bernada arogan. "Aku tak takut!" tantangnya sambil berkacak pinggang.


"Kenapa sebagian besar dari mereka tidak mengeluarkan peri pelindung?" tanya Xena sambil mendongak mengawasi puncak-puncak tebing, di mana sejumlah ninja berderet meregangkan busur panah mereka, dan terkejut menyadari jangkauan penglihatannya meningkat tiga kali lipat dari biasanya.


"Untuk menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya," jawab Arsen Heart. "Itu cara terbaik!"


"Gunakan energi cahaya sehemat mungkin!" Lady Die menginstruksikan. "Kalahkan mereka dengan cepat!"


"Hmh!" Ketiga remaja itu kembali mengangguk, lalu menerjang dengan masing-masing mengeluarkan cakra mereka, melambung ke udara dan melontarkan energi cahaya berbentuk bola dari telapak tangan mereka.


Serbuan anak panah kembali menerjang dari berbagai arah.


GRAAAAKKK!


Tiba-tiba sepasang sayap keluar dari punggung Xena.


"Whoa—" Cleon dan Altair terkesiap bersamaan.


Bahkan Xena sendiri.


Tenyata cakra peri vampir ratusan ribu tahun lumayan juga! pikirnya takjub. Lalu menukik tajam ke arah barisan para ninja yang berderet di sepanjang tebing sambil berkaok nyaring dengan suara peri pelindung elangnya.


Lady Die terperangah menatap anak asetnya. Elang bersayap kelelawar… pikirnya. Tidak buruk!


"Ingin segera menyelesaikan pertarungan?" Bedros Damon melesat keluar dari persembunyiannya di puncak tebing. "Tidak semudah itu," geramnya sambil melambungkan tubuhnya ke langit malam, mengatasi semua orang sambil mengeluarkan cakra spiritualnya dan menyapukan tongkat emasnya dengan gerakan memutar.


Lingkaran cahaya tercipta dari kibasan tongkatanya dan meledak ke seluruh tempat.


Bersamaan dengan itu, Nazareth menjejakkan sebelah kakinya dan melambungkan tubuhnya ke arah Bedros, semburat cahaya keemasan berkeredap di belakang tubuhnya, mengeluarkan teknik kekuatan inti peri pelindung lelulur yang dalam sekejap memunculkan sosok ilusi kaisar.


Migi Vox spontan berubah bentuk dan membelah diri menjadi beratus-ratus tentara abadi berbaju zirah, lengkap dengan helm baja tertutup dengan tanduk mencuat di bagian dahi. Beberapa membawa kuda dengan senjata berbeda-beda.


Evelyn tersenyum dan mengangkat sebelah tangannya di atas kepala, mengeluarkan teknik kekuatan inti peri pelindung leluhur untuk mendukung kekuatan inti peri pelindung leluhur Nazareth, dan muncullah sosok ilusi Rodrigo Knight lengkap dengan kuda, pedang dan baju zirah yang secara otomatis memimpin pasukan tentara abadi yang tercipta dari teknik bayangan mutasi Migi Vox.


"What the—" Kefas memekik terkejut melihat teknik cahaya itu. Begitu pun dengan saudara kembarnya. Dalam dunia master spiritual, teknik kedua lawannya itu merupakan hal yang baru.


"Kekuatan inti peri pelindung ternyata bisa seperti ini!" komentar Arsen Heart seraya memandang takjub barikade militer di atas kepala mereka.


"Arcer!" Evelyn berteriak nyaring sambil mengayunkan tangannya ke arah Kefas, dan seketika ratusan anak panah melesat ke arah pria itu.


Kefas spontan mendorong kedua tangannya ke atas, melontarkan ilusi cakram yang berputar cepat melingkari tubuhnya dan menghalau semua serangan.


"Horsemen!" teriak Evelyn lagi sambil mengayunkan tangannya sekali lagi. Sosok ilusi Rodrigo Knight di belakangnya otomatis mengayunkan pedangnya ke arah Kefas yang secara otomatis membuat sejumlah ilusi pasukan berkuda yang tercipta dari teknik bayangan Migi Vox menyeruak cepat sambil menjujukan tombaknya masing-masing.


GRAAKKK!


Ledakan logam yang berbenturan antara senjata para ninja melawan tentara ilusi membahana ke langit malam.