
"Semuanya adalah peri vampir, Yang Mulia!" Seorang penyidik dan ahli forensik kerajaan melapor pada Kaisar. Kedua pria itu bicara bersamaan sambil membungkuk dengan hormat tentara.
"Lalu bagaimana menurut pihak Ordo Angelos?" tanya Kaisar.
"Kami bekerja sama dengan mereka siang dan malam," jelas ahli forensik kerajaan. "Hasilnya tetap sama."
"Mereka bilang, kemungkinan penyerbuan itu dipicu karena dendam!" Penyidik kerajaan menambahkan.
"Maksudnya… mereka membalas penyerbuan ke Erebos saat kompetisi?" Kaisar menaikkan sebelah alisnya.
"Benar, Yang Mulia!" jawab kedua abdi negara itu sambil membungkuk lagi.
Kaisar duduk melorot di kursi singgasananya, menyandarkan pipinya pada kepalan tangan, dengan sebelah siku bertopang pada lengan kursi. Hati kecilnya tak ingin percaya bahwa penyerangan udara saat konvoi turnamen sesederhana itu. Tapi mengingat dirinya sedang berada di aula singgasana bersama sedikitnya tiga pejabat serakah yang sedang menunggu kesempatan untuk menggulingkan tahtanya, Kaisar menahan dirinya untuk tidak berkata-kata lebih banyak mengenai kecurigaannya.
Lebih tepatnya, suatu pihak dengan sengaja melakukan penyerangan saat konvoi turnamen untuk membuat kesan seolah penyerangan itu dipicu karena dendam, batin Kaisar.
Ia menunggu seseorang mengungkapkan gagasan itu, tapi tidak satu pun bersuara.
Tak mungkin tak ada yang terpikirkan sama sekali, bukan?
Para pejabat dengan ambisi tiada batas seperti Kush Thunder, Agathias Katz dan Neiro Sach tak mungkin tak punya ide.
Tapi mereka semua bungkam. Berpura-pura bodoh dan percaya insiden itu dipicu oleh alasan yang sederhana.
Orion Jace tiba-tiba berdeham, lalu membungkuk memohon izin untuk bicara.
"Bicaralah!" Kaisar mempersilahkan.
"Gagasan ini…" ungkap Orion Jace sedikit ragu. "Bukankah terlalu dangkal? Ordo Angelos tak mungkin berpikir sesederhana ini, kan?"
Seisi ruangan mengerling ke arah sang Duke.
Benar-benar polos! pikir Kaisar. "Menurutmu, Ordo Angelos menyembunyikan sesuatu?" ujinya.
Orion langsung terdiam.
Kush Thunder segera membungkuk, meminta izin untuk bicara juga.
Kaisar menggerakkan tangannya mengisyaratkan adiknya untuk bicara.
"Cari tahu apakah Shangri-La juga mendapat serangan yang sama," usul Kush Thunder.
Cerdik! pikir Kaisar. Sekarang dia sedang mencoba melempar tuduhan pada Shangri-La. "Ide bagus," katanya antusias.
Sirat kepuasan terpancar di wajah Kush Thunder.
Jika Shangri-La terbukti tidak mendapat serangan yang sama, bukankah hal itu hanya akan membuktikan bahwa para penyerang hanya mampu menjangkau Neraida? batin Kaisar.
Aero Thunder bukan hanya seorang kaisar, tapi juga ayah dari seorang Putra Cahaya. Manusia pilihan dewa.
Tidak bisa menduduki tahta di Balai Cahaya bukan berarti level kekuatannya tidak setara dengan Apollo. Hanya saja untuk bisa menduduki tahta Balai Cahaya, kekuatan spiritual seseorang juga harus benar-benar suci tanpa tautan cakra peri monster.
Secara spiritual, kekuatan Aero Thunder juga sudah mencapai level suci atau saint. Setara dengan Apollo dan Mikhail Claus.
Xenephon dan Nazareth adalah orang pertama yang melewati level Apollo. Tapi hanya Nazareth satu-satunya yang tidak pernah menautkan cakra peri monster.
Orang-orang seperti ini bisa melihat ke dalam diri seseorang, menembus ke dalam jiwa dan mengetahui isi hati meski tak bisa membaca pikiran.
Sebagai manusia setengah dewa, Aero Thunder mengetahui tujuan akhir dari segala siasat adiknya yang berbelit-belit. Tapi sebagai seorang kaisar, ia masih memerlukan bukti untuk meringkus para pemberontak yang bercokol di dalam kerajaannya sebagai penjilat, menjadi duri dalam daging.
"Panggil ahli visi kemari!" perintah Kaisar pada para pengawal di depan pintu aula singgasana.
Tak lama berselang, kedua pengawal tadi sudah kembali bersama tujuh orang ahli visi kerajaan.
"Cari tahu apakah Shangri-La diserang vampir hari ini!" perintah Kaisar pada ketujuh ahli visinya.
Ketujuh ahli visi itu membungkuk serempak dengan hormat tentara, lalu mulai membuat formasi di tengah ruangan, mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindung mereka masing-masing.
Tujuh buah bola kristal berlainan warna meluncur keluar dari telapak tangan para ahli visi itu dan melayang berputar-putar di sekeliling mereka.
Semakin lama semakin cepat.
Lalu satu per satu bola-bola kristal itu terkuak seperti kuncup bunga yang mekar dalam seketika. Setiap kelopaknya terlepas dan berhamburan seperti pecahan kaca, lalu berhimpun dan sambung-menyambung menjadi satu bagian yang secara perlahan membentuk layar kaca besar yang mengambang di tengah ruangan.
Beberapa saat kemudian, layar kaca transparan itu berkeredap memunculkan bercak-bercak ungu tua yang melayang-layang.
Lambat laun bercak-bercak ungu itu memudar, berganti abu-abu.
Kabut menipis, dan muncul siluet menara Balai Mulia Shangri-La.
Mula-mula terlihat jauh sekali. Lalu semakin dekat.
Semakin dekat…
Semakin bercahaya.
Lalu mulai terlihat detail.
Wajah geram Kaisar Shangri-La muncul tak lama kemudian. Pria itu mengepalkan tangannya pada pagar balkon sementara tatapannya lurus ke arah layar yang menampilkan euforia spektakuler di Balai Mulia Neraida. Ia menggumamkan sesuatu dengan rahang mengetat, kemudian seorang pejabat membungkuk di sampingnya, membisikkan sesuatu dan tersenyum miring. Kaisar itu tercenung dengan dahi berkerut-kerut.
Kush Thunder tersenyum samar, kemudian mengerling ke arah Agathias Katz dengan tatapan penuh arti.
Tayangan pada layar berlanjut ke luar Balai Mulia.
Kaisar Shangri-La memasuki keretanya dengan wajah cemberut sementara orang banyak di sana-sini mengulurkan tangan mereka, mencoba menggapai kereta Kaisar.
Sejumlah kereta lain berderet di belakangnya, melewati kerumunan orang-orang yang berderet di sepanjang jalan sambil menggapai-gapai ke arah kereta-kereta itu.
Tayangan berakhir ketika kereta Kaisar dan para pejabat berlalu dari area Balai Mulia dan kereta lainnya berpencar ke arah yang berbeda-beda, hingga kerumunan semua orang semakin berkurang.
Tidak ada yang terjadi.
Tidak ada penyerangan peri vampir di Shangri-La.
"Just enough!" instruksi Kaisar. Itu sudah cukup membuktikan bahwa siapa pun dalang di balik gerakan kawanan peri vampir itu adalah orang Neraida sendiri, ia menambahkan dalam hatinya.
"Shangri-La jelas tidak terima kekalahan," komentar seorang pejabat di barisan kelas dua yang—Kaisar yakin---berada di pihak para pembelot.
"Dan jelas mereka baru keluar dari Balai Mulia saat penyerangan itu terjadi," timpal sang Duke. Lalu ia mengerling ke arah Kush Thunder. "Kecurigaan kita tidak terbukti jika itu maksudmu!" ia menambahkan.
Kush Thunder langsung terdiam. Meski ia adik kaisar, kedudukannya tak lebih tinggi dari sang Duke. Ditambah sanggahan Duke yang masuk akal, ia merasa tak berdaya.
Kaisar tertawa dalam hatinya. Entah siapa menyikut siapa, katanya dalam hati. Tapi kedua-duanya tergelincir!
"Meski begitu, kemungkinan penyerbuan yang diperkirakan dipicu karena dendam juga meragukan," seorang pejabat lain dari barisan kelas dua angkat bicara.
Semua mata sekarang berpaling ke arah pria itu.
"Jika serangan itu terkait pembantaian di Erebos, lalu kenapa mereka hanya menyerang Neraida?" pejabat kelas dua itu menambahkan. "Kenapa mereka tidak menyerang Shangri-La juga?"
"Pertanyaan bagus!" timpal Kaisar sambil tertawa dalam hatinya. Diskusi ini mulai menarik, pikirnya.