Poison Eve

Poison Eve
Chapter-97



Altarus…


Altarus adalah kota tua paling misterius di wilayah timur Neraida, tempat persembunyian sebagian besar Master Spiritual aliran sihir. Kota benteng yang dibangun para raksasa dan dihancurkan oleh para dewa pada masa awal peradaban, puluhan ribu tahun silam. Sekarang hanya berupa reruntuhan yang terlihat seperti temuan arkeologi.


Bagi beberapa penyihir dengan bakat tertentu, tempat itu semacam kota metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit dan segala kecanggihannya, di mana segala keperluan sains dan sihir terpenuhi secara praktis.


Kota impian para penyihir!


Namun berbeda dengan Kota Cahaya yang bisa diakses oleh semua Master Spiritual dari berbagai aliran dan dapat ditinggali selamanya setelah mencapai level tertentu, Kota Altarus hanya dapat diakses oleh penyihir dengan kemampuan time travel atau alat khusus. Dan itu bersifat sementara. Semacam ruang dimensi dengan waktu terbatas.


Di sanalah sekarang Kefas Demon bersembunyi untuk memulihkan kekuatan spiritualnya yang telah berkurang sepuluh level setelah salah satu cakra spiritualnya diserap oleh Migi Vox.


Retakan bagus sialan! rutuknya dalam hati.


Ia tahu tak akan mudah mengembalikan sepuluh level kekuatan spiritual di luar Kota Cahaya, terutama di Kota Altarus.


Kota Altarus semacam sisi negatif dari Kota Cahaya, di mana sumber kekuatan spiritual tidak bekerja sebagaimana mestinya. Ibarat Kota Cahaya adalah ruang pembekuan, Kota Altarus adalah ruang pemuaian. Segala sesuatu berjalan cepat di Kota Altarus. Di Kota Cahaya waktu berjalan lambat seperti keabadian.


Meski segala keperluan sihir bisa diakses dengan cara praktis di Kota Altarus, sumber energi spiritual jarang ditemukan.


Awalnya Kefas berniat memulihkan kekuatan spiritualnya di Kota Cahaya, tapi dalam perjalanannya ke sana, ia mendapatkan penglihatan bahwa Bedros, saudara kembarnya, akan berusaha membunuhnya tak lama lagi. Dan ia masih belum tahu apa sebabnya.


Setelah berhasil meraup segenggam tanah dari Kota Cahaya, Kefas bergegas ke Kota Altarus untuk menghindari saudara kembarnya sampai ia berhasil melewati level enam puluh.


Tanah Kota Cahaya itu dibutuhkan untuk kultivasinnya karena di Kota Altarus minim sumber energi spiritual.


Tapi ketika ia memulai meditasinya, bayangan wajah Evelyn tak mau lenyap dari benaknya.


"Kau… sebenarnya… lumayan tampan…"


Kata-kata Evelyn terngiang di telinganya, mengganggu konsentrasinya. Rasa bersalah menggelayutinya.


Tidak! pikirnya. Aku tak bisa membunuhnya!


"Bunuh dia, Kefas!"


Suara Bedros menggema dalam benaknya.


Kefas mencengkeram kedua pelipisnya dengan satu tangan. Mengatupkan kedua matanya rapat-rapat.


Suara tadi ternyata datang dari visinya. Penglihatan supernatural yang dimiliki beberapa Master Spiritual aliran sihir seperti dirinya. Melihat masa depan adalah salah satu dari bakatnya.


Wajah Evelyn yang sedang terdesak berkelebat dalam visinya.


"Bunuh dia, Kefas!" ulang suara Bedros. "Apa kau lupa cara membunuh? Biar kutunjukkan!"


Sedetik kemudian…


SLASH!


Bedros mengayunkan tongkatnya ke leher Evelyn dan seketika kepala gadis itu terkulai dan menggelinding.


"TIDAAAAAKKK!" Kefas mendengar lolongannya sendiri. Lalu melihat dirinya jatuh terpuruk dan tersungkur di sisi tubuh Evelyn.


"Aku menyuruhmu memburu p e l a c u r kecil ini untuk dibunuh!" wajah Bedros berkelebat sambil menudingkan telunjuk ke arahnya. "Dan kau malah tergoda rasa iba? Sifat cengeng macam apa yang merasukimu? Kau mencintainya, Kefas!" tudingnya.


"Tidak!" teriak Kefas. Tidak mungkin! ratapnya dalam hati. Aku tak mungkin mencintai musuh!


"Musuh?" ia mendengar suaranya sendiri dalam kepalanya. Begitu jelas namun terdengar lirih. "Musuh siapa? Apa yang pernah dia lakukan pada kita?"


"Jangan lupa, Kefas! Dia adalah seorang Katz!" Berdros memelototinya.


"Apa yang pernah dilakukan seorang Katz pada kita?" ia mendengar dirinya membantah Bedros.


"Apa kau lupa tujuan utama kita?" wajah Bedros terlihat syok.


"Tujuan kita?" bantah suaranya sendiri. "Atau tujuan dia?"


Seraut wajah lain berkelebat dalam visinya. Seorang pria paruh baya berpakaian glamor seorang petinggi.


"Lancang!" pria lainnya menerjang ke arah Kefas dan semuanya menjadi gelap.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mengatupkan kedua matanya lekat-lekat.


Wajah Evelyn berkelebat sekali lagi.


"Kau… sebenarnya… lumayan tampan…"


Kefas membuka matanya, lalu tertunduk dan menelan ludah. Kelopak matanya bergetar.


Kata-kata Bedros dalam visinya kembali terngiang.


"Kau mencintainya, Kefas!"


Perasaan lembut namun menyayat menyelinap di sela-sela hatinya. Hangat, sekaligus perih. Perasaan sialan macam apa ini? pikirnya tak sabar. Lebih jengkel pada dirinya sendiri dibanding pada tuduhan Bedros.


Ia duduk bersimpuh dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya. Ia tertunduk menatap lantai batu berlapis tanah yang dibawanya dari Kota Cahaya.


Entah mana yang lebih mengerikan, pikirnya. Mencintai musuh atau diburu saudara sendiri. Tapi aku harus jauh lebih kuat mulai sekarang, tekadnya dalam hati.


Bedros…


Neiro Sach…


Nazareth Vox…


"Hmmm…" Kefas mengerutkan keningnya. Boneka itu… pikirnya. Tampaknya tak bisa diremehkan!


Aku harus melampaui level Apollo…


Meski tak harus duduk di singgasana.


Tapi untuk bisa melewati level Apollo dibutuhkan waktu puluhan tahun jika ia tetap berada di sini.


Lagi pula ia tak ingin menua seperti Bedros.


"Kau sebenarnya lumayan tampan."


Kata-kata Evelyn kembali terngiang di telinganya.


Apa tepatnya yang coba ia katakan seandainya ia tidak keburu pingsan? ia bertanya-tanya dalam hatinya.


Lalu ia membayangkan dirinya menua dalam sekejap seperti Bedros.


Kota Altarus adalah ruang dimensi dengan waktu terbatas.


Di sinilah saudara kembarnya menua dalam hitungan detik. Hanya terlambat beberapa detik saat menembus portal, Bedros harus merelakan dua puluh tahun usianya.


Itulah sebabnya ia memilih Kota Altarus sebagai tempat persembunyian. Ia tahu Bedros takkan kembali lagi ke tempat ini.


Bedros sangat membenci Kota Altarus setelah insiden itu.


Aku harus keluar dari sini! pikirnya. Ia meraup tanah Kota Cahaya yang telah ia taburkan di sekitarnya, lalu menggenggamnya dengan tatapan menerawang. Di mana tempat yang sama dengan Kota Cahaya yang tak bisa terjangkau oleh Bedros?


Kefas memaksa dirinya berpikir cepat.


Lalu sebuah gagasan melintas dalam benaknya.


"Erebos!" desisnya menyerupai bisikan angin. Seulas senyuman miring tersungging di sudut bibirnya.


Erebos adalah hutan keramat yang hanya dihuni oleh ras vampir. Di sana tak pernah terang seperti Hutan Kegelapan di Hutan Berburu Peri Monster Kekaisaran. Namun jauh lebih liar. Letaknya di perbatasan Neraida.


Dari tempat itulah dia mendapatkan semua cakra spiritualnya yang seperti gelang.


Sumber energi spiritual di sana tak terkendali. Begitu juga dengan potensi serangan ganas. Peri vampir di sana tak ada yang lemah. Apalagi ramah!


Kefas menguatkan hatinya untuk bergegas. Ia beranjak dari tempatnya dan melesat keluar portal dengan cakra spiritualnya yang berbentuk seperti gelang. Cakra spiritualnya juga sejenis ruang dimensi sekaligus portal gaib yang bisa membawa dirinya ke mana pun dalam sekejap. Lebih dikenal dengan istilah cakra teleportasi.



...Kefas Damon...