Poison Eve

Poison Eve
Chapter-147



Tujuh hari menjelang Babak Enam Besar Turnamen Elit Master Spiritual…


Perjalanan dari Kota Ilusi ke Kota Cahaya membutuhkan waktu tiga hari dengan kereta kuda. Begitu juga dari Ibukota Shangri-La.


Para peserta dikumpulkan di Balai Mulia masing-masing negara sebelum berangkat untuk diberkati raja mereka.


Seluruh rakyat Shangri-La pun Neraida berdatangan dari berbagai daerah ke ibukota negara mereka masing-masing untuk menghantar keberangkatan para peserta dan memberi mereka dukungan.


Tidak terkecuali keluarga kecil Evelyn. Beberapa hari sebelumnya, mereka semua sudah berada di ibukota. Mrs. Morgenstein menjemput mereka dan menampung mereka di rumahnya.


Sekarang janda bangsawan itu sedang mengupayakan supaya keluarga Evelyn bisa mendapat tempat di Balai Mulia. Sejumlah penjaga mempersulit mereka di beberapa tempat. Namun, berkat uluran tangan sang Duke, keluarga Evelyn akhirnya diterima di Balai Mulia, kemudian sampai di depan Kaisar.


"Keluarga Evelyn Katz, Yang Mulia!" Orion Jace memperkenalkan, sambil membungkuk ke arah Kaisar dan melayangkan sebelah tangannya ke arah ibu Evelyn.


Agathias Katz dan kedua putranya serentak membeku menatap ibu Evelyn, mencoba untuk tidak tergagap bertemu wanita itu.


"Senang kau sampai di sini dengan selamat," sambut Kaisar dengan raut wajah datar. "Aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh tak tahu kau akan berkunjung. Kalau tahu sejak awal, mungkin beberapa pengawal abadi bisa menjemputmu."


"Yang penting kami sudah di sini, Yang Mulia!" ibu Evelyn membungkuk dengan sopan diikuti kakak ipar dan keponakannya.


"Begini saja," kata Kaisar. "Untuk menebus kelalaianku, aku akan menyediakan tempat ekslusif bagimu di kelas satu!"


Seisi ruang kehormatan terkesiap mendengar keputusan Kaisar.


Terutama Kush Thunder dan Agathias Katz. Ruang kelas satu adalah tempat ekslusif untuk para petinggi kerajaan sekelas mereka.


"My Lord!" Kush Thunder membungkuk menginterupsi, mengajukan protes dengan cara halus.


"Mereka adalah bangsawan Katz!" tukas Kaisar tanpa ekspresi.


Agathias Katz dan keluarganya serentak memucat.


Orion Jace segera membungkuk untuk menyela, "Jika Yang Mulia tidak keberatan, aku ingin mengundang mereka ke ruanganku dengan senang hati."


"Tuan Duke sungguh murah hati!" Mrs. Morgenstein membungkuk cepat-cepat untuk mendukung sang Duke. "Ruangan Tuan Duke tentunya akan terasa seperti rumah sendiri bagi Lady Chaterine. Bagaimanapun mereka akan berbesan."


"Berbesan?" Kaisar memicingkan matanya.


Begitu juga dengan sang Duke dan para bangsawan yang terhormat dari baris kelas satu.


"Apa maksudmu berbesan?" bisik Orion Jace pada Mrs. Morgenstein.


"Masih ingat ketika kubilang ingin memperkenalkan seorang gadis pada salah satu putramu?" Mrs. Morgenstein balas berbisik. "Gadis itulah yang kumaksud!" Mrs. Morgenstein mengerling ke arah layar yang khusus menampilkan Evelyn.


"Evelyn Katz?" Orion Jace terpekik kecil.


Sloan Jace mengerjap dan terperangah. Lalu mengerling ke arah layar Evelyn.


Kaisar berdeham dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Jika yang kau maksud adalah… dia!" ia menunjuk layar Evelyn dengan dagunya. "Maka Lady Chaterine lebih tepat mendapat tempat di ruang President Suite!"


Seisi ruangan serentak menahan napas.


"Lihat itu!" Kaisar mengerling ke arah barisan para peserta.


Evelyn berdiri rapat dengan Nazareth di antara kerumunan para peserta yang sedang bersiap memasuki lantai arena di tengah aula. Nazareth melingkarkan lengannya di bahu gadis itu dengan posesif.


"Nona Katz adalah kekasih Pangeran!" Kaisar memberitahu. "Kalau bicara akan berbesan, bukankah aku yang lebih tepat?"


Mrs. Morgenstein mengerjap dan menatap sang Duke dengan syok.


Orion Jace tertunduk dengan ekspresi tak berdaya.


Ibu Evelyn dan Bibi Madeleine juga sepupunya terkesiap. Uh-oh! pikir mereka terkejut. Kekasih Pangeran?


Sloan Jace menelan ludah dengan raut wajah muram. Kekasih Pangeran? batinnya getir. Merasa tertohok di ulu hatinya.


Nadine menatap sepupunya dengan tatapan haru. Kau sungguh beruntung, Eve! katanya dalam hati.


Kekuatan spiritual penuh…


Peri pelindung tak berguna?


Kau Enam Besar Turnamen Elit Master Spiritual sekarang.


Dan kau kekasih Pangeran!


Aku bangga padamu, Eve…


Tapi juga iri.


Omong-omong aku merindukannya, batin Nadine. Tak bisa melepaskan pandangannya dari Evelyn.


"Aku sungguh mohon maaf, Yang Mulia! Aku sungguh tak tahu!" Mrs. Morgenstein membungkuk pada Kaisar dengan ekspresi gugup. Kenapa jadi begini? pikirnya gusar. Aku sudah berjanji! "Aku sungguh menyesal, Tuan Duke!" bisiknya pada Orion Jace.


Orion Jace tetap bergeming.


"Baiklah, sudah diputuskan!" pungkas Kaisar. "Lady Chaterine dan keluarganya akan ditempatkan di ruang President Suite!"


Seisi ruangan kembali tergagap.


Dua pengawal abadi kerajaan kemudian mendekat dan membungkuk dengan hormat tentara, lalu membimbing ibu Evelyn dan keluarganya menuju ruangan khusus untuk keluarga Kaisar.


Lady Chaterine mengerling sekilas ke arah Mrs. Morgenstein dengan perasaan tak enak.


Janda gemuk itu mengangguk samar. Sikapnya masih sedikit kikuk. Tapi tatapannya berseri-seri. Peduli setan! pikirnya. Kekasih Pangeran. Bukankah Evelyn-ku sangat beruntung? Apa yang kucemaskan? Tuan Duke takkan bisa mempersulitku!


Orion Jace masih membeku dengan wajah kencang ketika Mrs. Morgenstein akhirnya membungkuk dan kembali ke tempatnya di ruang kelas tiga.


Sloan Jace melirik Evelyn dengan ekspresi menyesal.


Antrean para peserta dan para guardian itu sekarang sudah memasuki arena, portal teleportasi yang dapat ditutup untuk acara khusus.


Kaisar melangkah ke depan, kemudian berhenti di tepi balkon di lantai dua, diapit Kush Thunder dan Orion Jace. Ia mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai, dan seketika, seisi Balai Mulia serentak berlutut, kecuali Nazareth.


Nazareth hanya membungkuk sedikit dengan sikap elegan seorang pangeran.


Nadine mengerjap dan terkesiap menatap wajah Nazareth tanpa dapat menutupi perasaan kagumnya. Lebih dari itu ia juga terkejut mengingat pria itu pernah menemui mereka di Balai Budaya.


"Anak-anakku," Kaisar mengawali sambutannya, "Kalian semua adalah kebanggaan Neraida. Bahkan jika kalian tak berhasil membawa pulang kemenangan," tuturnya dengan santun. "Tapi sebaiknya kalian menang!" ia menambahkan dengan berkelakar.


Seisi aula meledak oleh tepuk tangan dan tawa riang.


"Berangkatlah dengan semangat juang!" lanjut Kaisar. "Jangan pikirkan hasilnya. Doa Neraida menyertai kalian!"


Aula kembali menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler.


Para peserta membungkuk dengan hormat tentara, kemudian mulai berjalan keluar, menuju pekarangan Balai Mulia, di mana sejumlah kereta kuda sudah menunggu mereka dalam pengawalan ketat legiun tentara.


Orang banyak berjubal di sana-sini.


Pesta rakyat itu akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.


Turnamen Elit Master Spiritual akan ditayangkan secara langsung di alun-alun ibukota masing-masing negara melalui kaca sihir, mulai dari sekarang hingga mereka pulang.


Kedua Kaisar dan para bangsawan kehormatan akan tetap menyaksikan pertarungan di Balai Mulia masing-masing negara.


Semua Master Spiritual kerajaan akan kerja lembur, begitu pun para tentara.


Wajah-wajah para peserta mendominasi layar kaca raksasa yang terpampang di puncak menara di alun-alun ibukota kedua negara. Perjalanan mereka sudah ditayangkan mulai sejak pemberkatan kaisar hingga detail perjalanan mereka menyusuri koridor panjang Balai Mulia, kemudian melangkah keluar dan memasuki kereta masing-masing.


Ribuan tentara berkuda berderet di kiri-kanan barisan kereta para peserta, di depan dan di belakang.


Kerumunan para pendukung berderet memanjang mulai dari pintu gerbang Balai Mulia hingga ke alun-alun ibukota.


Kuntum-kuntum bunga Alamanda bertebaran dan beterbangan seperti dandelion memenuhi udara Kota Ilusi.


Di Shangri-La, bunga kembang sepatu.


Langit ibukota kedua negara terlihat meriah dan spektakuler.


Seruan-seruan semangat semua orang menggemuruh memenuhi udara.