
"Sekarang kau sudah tahu kenapa aku menempatkan urutan level Kekuatan Inti Peri Pelindung Pemusat Bayangan di atas Kekuatan Inti Peri Pelindung Ganda," kata Nazareth bersiap mengakhiri penjelasan teorinya. "Karena Peri Pelindung Ganda sama artinya dengan memiliki kepribadian ganda."
Evelyn mengangguk sendu tanda mengerti.
"Sekarang lihat ini," kata Nazareth seraya beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke tengah ruangan.
Migi Vox melompat turun dari pangkuannya, kemudian merayap ke pangkuan Evelyn.
Evelyn memeluk boneka itu sementara perhatiannya terfokus pada Nazareth.
Pria itu menautkan kedua pergelangan tangannya di depan dada membentuk jurus-jurus dasar pembangkit cakra spiritual yang dalam sekejap sudah membuat lantai di bawah kakinya berkeredap memunculkan lingkaran cahaya berbentuk cakram berwarna emas.
SLASH!
Lingkaran cahaya itu berkeredap naik ke pinggangnya.
"Perhatikan!" instruksi Nazareth sambil memundurkan satu kakinya dan menekuk kedua lututnya, mengeluarkan Teknik Penyatuan Tiga Jantung. Dan seketika lantai kamarnya bergetar dan lingkaran cahaya berwarna emas di pinggangnya kembali berkeredap dan menjatuhkan delapan lingkaran cahaya lainnya. Satu berwarna biru, dua berwarna merah, tiga berwarna hitam, satu berwarna ungu, dan satu lagi berwarna kuning.
Evelyn spontan terkesiap. Level sembilan puluh? pekiknya dalam hati.
"Lihat lagi!" instruksi Nazareth lagi. Ia menarik kakinya sebentar dan meluruskannya, kemudian menekuknya lagi dan mengeluarkan Teknik Penyatuan Tiga Jantung sekali lagi.
Cakra kedua dari bawah yang berwarna ungu menghisap cakra paling bawah yang berwarna kuning, lalu secara perlahan gabungan dari kedua cakra itu berubah warna menjadi cokelat.
Evelyn terperangah dengan ekspresi takjub.
Migi Vox hanya melongo dengan ekspresi polos.
Nazareth masih mempertahankan posisinya dan menambahkan lagi tenaga dalamnya ke kedua betisnya, lantai kamarnya berguncang semakin hebat dan makin lama makin bertambah hebat hingga pondoknya seolah akan ambruk, bersamaan dengan itu setiap lingkaran cahaya di sekeliling tubuhnya berangsur-angsur saling menghisap hingga tersisa dua, hitam dan emas.
Terakhir cakra emasnya menghisap cakra terakhir dan guncangan di bawah kakinya hampir meledakkan seluruh pondoknya.
GLAAAAAAAAAR!
Ledakan cahaya membuncah ketika akhirnya cakra hitamnya terhisap oleh cakra emasnya. Ledakan cahaya berbentuk lingkaran berwarna emas itu berpendar hingga beberapa ratus meter disertai hempasan angin kencang.
Evelyn dan Migi Vox mengerjap dibutakan cahaya yang menyilaukan yang membuat seluruh tempat hanya terlihat putih.
Dari kejauhan ledakan cahaya itu terlihat seperti pertanda malaikat jatuh dari langit.
Xenephon dan Nyx Cornus yang sedang bercumbu di atas pohon serentak terusik dan terkesiap melihat fenomena itu.
"What the—" Xenephon tergagap seraya menatap pondok Nazareth dengan mata terbelalak.
"Aku belum pernah melihat yang seperti ini!" desis Nyx Cornus tak kalah gagap.
Keempat teman Evelyn yang sedang mengendap-endap di lereng tebing—sedang mengintip kedua guardian itu, spontan terpeleset dan terperosok bersama ke kaki bukit, kemudian jatuh bertumpuk-tumpuk dengan posisi Altair berada paling bawah.
Xenephon dan Nyx Cornus menyentakkan kepala mereka serempak dan meneliti lereng bukit dengan mata terpicing.
Altair mengernyit merasakan dadanya hampir meledak.
Ketiga temannya menggelinding turun sembari mengerang.
"Siapa di sana?"
Hardikan Nyx Cornus membuat keempat remaja itu melompat dari tempatnya masing-masing dan berhamburan menuju pondok.
"Keparat-keparat kecil!" geram Nyx Cornus langsung bertanduk. Kemudian melompat turun dari dahan pohon dan bersiap melesat ke arah mereka.
Tapi Xenephon segera melesat dan menyergapnya.
"Jangan halangi aku!" geramnya tak sabar, lalu menyentakkan tubuhnya dari rengkuhan Xenephon.
"Kau tidak bisa pergi dengan pakaian seperti itu!" Xenephon mengingatkan.
Nyx Cornus spontan tergagap dan tersipu sambil merenggut kerah bajunya yang terbelalak. Beberapa kancingnya terbuka akibat ulah kekasihnya.
Di kamar Nazareth, situasinya kembali normal.
Evelyn beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Nazareth yang masih berdiri di tengah ruangan, sambil menggendong Migi Vox.
Pria itu meluruskan tubuhnya dan berpaling ke arah Evelyn.
"Aku sudah mengerti," kata Evelyn. "Aku akan mencoba bermeditasi."
Migi Vox merayap ke dada Evelyn dan menggelayut di leher gadis itu seakan mencoba menahannya supaya tak pergi.
Nazareth merenggut tengkuk boneka itu dan melepaskannya dari Evelyn.
Boneka itu meronta-ronta.
Nazareth tersenyum pada Evelyn, "Terkadang, tindakannya berasal dari keinginanku yang paling rahasia," katanya mengaku.
Evelyn spontan menelan ludah. Bayang-bayang peristiwa ketika Migi Vox melucuti kancing bajunya di Hutan Berburu Peri Monster melintas di kepalanya dan menyebabkan sejumlah titik pada tubuhnya berdenyut-denyut.
Nazareth menangkupkan Migi Vox di bahunya kemudian menepuk-nepuk lembut punggungnya seperti menenangkan bayi.
"Kau masih ingin aku di sini?" tanya Evelyn sedikit malu-malu.
"Aku akan selalu menginginkannya kalau tidak mengendalikan diri," tukas Nazareth. "Pergilah," bujuknya. "Kultivasimu lebih penting."
Evelyn mengulum senyumnya sambil mengangguk, lalu berbalik dan bergegas ke arah pintu.
"Apa hari ini aku lupa bilang I love you?" tanya Nazareth tiba-tiba yang secara spontan membuat Evelyn menghentikan langkahnya dan menoleh dengan mata terpicing. "Kenapa kau tak menciumiku?" rutuknya.
Evelyn membekap mulutnya menahan tawa, lalu berbalik dan menghambur ke dalam pelukan pria itu dan mengecup kedua pipinya yang licin, kemudian mengecup bibirnya.
"Itu baru gadisku!" kata Nazareth tanpa ekspresi. Lalu mengecup puncak kepala Evelyn seraya mengusap-usap bagian belakang kepala gadis itu. "Begini lebih baik daripada Migi Vox mencuri ciuman selagi kau bermeditasi," katanya menggoda. Lalu melepaskan pelukannya.
Evelyn tersenyum lagi, kemudian mengusap-usap punggung Migi Vox yang tentu saja terasa di tubuh Nazareth. Lalu bergegas keluar, menghambur ke arah kamarnya dan berhenti.
Keempat temannya sedang push-up di beranda kamar mereka, sementara Nyx Cornus berdiri di koridor memunggungi Evelyn dengan kedua tangan bersilangan di depan dada, mengawasi teman-temannya yang sedang push-up itu.
Evelyn menatap teman-temannya dengan alis bertautan.
Keempat temannya balas meliriknya dengan isyarat: "Don't ask!"
Nyx Cornus menoleh pada Evelyn dan seketika gadis itu mengerjap dan tergagap-gagap.
"Aku—"
"Apa mau bergabung dengan teman-temanmu?" potong Nyx Cornus dengan ekspresi dingin.
Evelyn membeku sesaat sebelum akhirnya menjawab, "Sure!"
Nyx Cornus spontan mengerjap dan mengerutkan dahi.
Teman-teman Evelyn spontan melotot.
Evelyn tidak peduli. Ketika kami dihukum, Electra ikut mengambil hukuman demi kebersamaan, katanya dalam hati. Bagaimana bisa aku berdiam diri selagi teman-temanku dihukum. Tak peduli apa kesalahan mereka, kami adalah satu tim. Hukuman mereka adalah hukumanku juga!
"Just enough!" Nyx Cornus akhirnya menyerah karena tak tega. "Lanjutkan saja meditasi kalian," katanya sambil berbalik dengan rahang mendongak. Kemudian berlalu tanpa menoleh lagi.
Kelima remaja itu saling bertukar pandang dan berhenti. Lalu menghela bangkit tubuh mereka sambil menatap punggung Nyx Cornus.
"Kenapa kau ikut mengambil hukuman kami?" tanya Electra tak habis pikir. "Apa kau tahu apa yang kami lakukan?"
"Kita teman tim, ingat?" sergah Evelyn sambil berbalik dan bergegas meninggalkan teman-temannya. "Aku harus memulai meditasi!" katanya sambil melambaikan tangannya sekilas dan menghilang di sudut koridor.
Keempat temannya bertukar pandang dengan raut wajah bersalah.