
Evelyn membaringkan Migi Vox di meja racik obat-obatan, sementara dirinya menyiapkan bak mandi dan air panas yang mengalir alami dari gunung di belakang estat Nazareth, yang mengalir ke bilik pemandian melalui pancuran yang entah dirancang oleh siapa. Mungkin beberapa pekerja atau bisa jadi Nazareth sendiri yang membuatnya.
Apa yang tidak bisa dilakukan pria itu, baik dengan tangannya sendiri atau para kaki-tangannya?
Earth Thunder adalah putra mahkota sekaligus seorang raja di Ordo Angelos dengan ribuan kaki-tangan, di samping itu dia juga seorang pelarian yang pernah hidup mandiri.
Yang mana pun dirinya, tidak mustahil untuk mendirikan sebuah akademi, apalagi sekadar merancang pancuran air panas di kaki gunung.
Migi Vox menggelinding dan menarik duduk tubuhnya ketika Evelyn mulai sibuk bolak-balik ke sana kemari dan menggeliat-geliut di sana-sini untuk menyiapkan semua kebutuhan pemulihannya. Boneka itu memperhatikannya dengan tatapan penasaran seorang balita.
Lalu ketika Evelyn mulai melucuti kancing bajunya satu per satu, Migi Vox tertunduk memperhatikan tangan Evelyn dengan dahi berkerut-kerut.
Dan ketika Evelyn mencoba membuka celananya, boneka itu meronta-ronta dan menendang-nendang dengan kedua tangan tertangkup di bagian depan celananya.
Evelyn membekap mulutnya menahan tawa. Jangan bilang kalau boneka juga merasa malu! pikirnya geli.
Migi Vox beringsut menjauhinya.
"Ayolah, Vox!" bujuk Evelyn sambil terkekeh dan berkacak pinggang.
Migi Vox beringsut lagi.
Lalu ketika Evelyn mencoba merenggut celananya lagi, boneka itu melompat menjauhinya. Evelyn berhasil merenggut bagian belakang celananya, dan boneka itu meronta-ronta lagi. Menendang-nendang udara kosong.
"Baiklah! Baiklah!" kata Evelyn sambil tertawa. "Kau tak perlu membuka celana. Tapi kau harus berendam, oke?"
Kedua tangan dan kaki boneka itu mengepak-ngepak mengais udara kosong, ketika Evelyn menjinjingnya menuju bak mandi.
"Jangan bilang kau juga takut air!" ejek Evelyn di antara gelak tawanya. Lalu mencelupkan boneka itu ke dalam air dan mendudukkannya. "Sekarang diamlah!" katanya sambil menepuk-nepuk lembut bahu Migi Vox.
Boneka itu tertunduk menatap air di sekelilingnya dengan tatapan bingung.
Evelyn menarik salah satu bangku ke sisi bak mandi itu dan duduk bertopang dagu dengan siku tangan bertumpu di tepian bak.
Migi Vox mendongak menatap Evelyn dengan tatapan memelas dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Evelyn seperti anak kecil minta digendong.
Evelyn tertawa lagi. "Kau bahkan belum sampai semenit berendam di sana!" protesnya. "Aku pernah direndam sampai semalam suntuk," katanya.
Migi Vox berdiri dan melompat-lompat dengan kedua tangan terulur ke arah Evelyn, mencoba menggapai gadis itu.
Evelyn akhirnya mengulurkan sebelah tangannya untuk mendorong duduk Migi Vox.
Boneka itu terbelalak dengan ekspresi senang dan menyergap tangan Evelyn dengan kedua tangan mungilnya, lalu menarik gadis itu ke dalam bak mandi.
"Voooox!" Evelyn berteriak panik dan…
BRUUUUSH!
Evelyn tersungkur ke dalam bak itu dengan wajah tercelup ke dalam air. Ia menarik wajahnya dari air dan mengusap wajahnya dengan gelagapan. Lalu mencoba menarik keluar dirinya dari bak mandi, tapi tangan Migi Vox merenggut kerah bajunya sembari menyeringai. Evelyn tertunduk dan terbelalak. Jadi begitu? pikirnya baru mengerti.
Migi Vox sedang berusaha mengerjainya atau meminta Evelyn menemaninya dalam bak mandi. Mungkin Nazareth biasa berendam sambil memangku boneka itu.
"Tapi aku mengisi airnya hanya sedikit!" tukas Evelyn sambil menarik tangan Migi Vox dari kerah bajunya. "Airnya tak cukup untuk kita berdua!"
Migi Vox mengetatkan cengkeramannya di kerah baju Evelyn.
"Paling tidak biarkan aku menambahkan airnya!" pinta Evelyn.
Migi Vox tetap tak mau melepaskannya.
Bersamaan dengan itu…
"Eve?"
Evelyn mendengar suara teman-temannya. Ia memekik tertahan dan menyentakkan kepalanya, menoleh ke arah pintu. Posisi tubuhnya masih menelungkup dengan setengah tubuhnya berada di dalam bak mandi.
Keempat temannya menatap Evelyn dengan alis bertautan.
"Kau… sedang bercumbu dengan Vox?" Xena bertanya tergagap-gagap.
"What?" Evelyn memelototinya.
Cleon dan Altair bahkan tidak berkedip.
"Oh, s h i t!" pekik Evelyn begitu menyadari arah pandang teman-temannya. Lalu buru-buru merenggut kerah bajunya untuk menutupi belahan dadanya yang terekspos.
Migi Vox melongok melalui bahu Evelyn dan menyeringai ke arah Cleon.
Cleon mengerjap dan menelan ludah. Apa boneka itu benar-benar menggerayangi Evelyn? pikirnya kesal. Boneka mesum sialan!
"Vox!" Evelyn mendesis tajam sambil memelototi Migi Vox. "Lepaskan!" tegasnya.
Migi Vox menanggapinya dengan senyuman miring.
"Kubilang lepaskan!" Evelyn meninggikan suaranya sambil menudingkan ujung telunjuknya di depan hidung Migi Vox.
Boneka itu menatap ujung telunjuk itu dengan mata dan mulut membulat, menampakkan ekspresi bingung seorang anak kecil.
Evelyn menyentakkan tangan Migi Vox dan menarik tubuhnya keluar dari bak mandi.
Migi Vox mendongak memandanginya dengan wajah memelas.
"Dan jangan lakukan itu lagi!" hardik Evelyn sambil mengacungkan telunjuknya sekali lagi.
Migi Vox menjatuhkan dirinya ke dalam air, duduk bersila dengan kedua tangan bersilangan di depan dada.
Teman-teman Evelyn mengendap-endap ke arah mereka dan melongok ke dalam bak mandi, lalu mendesis menahan tawa.
"Dia sedang merajuk!" desis Electra sambil terkekeh.
"Kau benar-benar pacaran dengan Vox!" seloroh Xena dengan nada merajuknya yang khas.
Evelyn mendengus seraya memutar-mutar bola matanya, sementara ia merapikan kancing bajunya, membelakangi teman-temannya. "Dia mengira bak pemandian obat itu wahana mandi bola atau apalah," katanya setengah menggerutu.
"Mau kutemani, Vox?" Electra menggoda boneka itu.
Boneka itu memalingkan wajahnya dengan tampang cemberut.
Evelyn dan teman-temannya tergelak dan terbahak-bahak.
Cleon tidak tertawa. Ia menatap boneka itu dengan ekspresi serius. Isi kepalanya dipenuhi dugaan-dugaan buruk mengenai berbagai hal yang sulit dicerna oleh akal sehatnya yang kemudian ia simpulkan dalam satu pertanyaan konyol, makhluk apa kau sebenarnya?
"Mungkin tak seharusnya dia direndam di bilik pemandian wanita," cerocos Xena dengan ekspresi gadis kecil manja arogan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa kau tidak membuka celananya?" timpal Electra yang masih membungkuk di atas bak mandi meneliti Migi Vox.
"Coba saja kalau kau bisa!" tukas Evelyn.
Electra spontan menoleh pada Evelyn dengan alis bertautan. "Dia menolak celananya dibuka?" tanyanya tak yakin.
"Dia mencoba kabur saat aku melakukannya!" timpal Evelyn sambil terkekeh.
Altair mendekat ke arah bak mandi dengan raut wajah penasaran. "Biar kulihat apa yang kau sembunyikan di balik celana mungil sialan itu," godanya sambil mengulurkan tangannya ke dalam bak, mencoba meraih celana Migi Vox.
Boneka itu kembali meronta-ronta dan menendang-nendang tangan Altair dengan ekspresi gusar.
Xena dan Electra tergelak melihat tingkah lakunya.
Evelyn hanya tersenyum geli sambil menggeleng-geleng.
"Oh, ayolah, Vox!" bujuk Altair sambil mengulurkan tangannya lagi.
Migi Vox menepiskan tangan Altair dengan telapak tangannya.
"Hei—dia benar-benar malu!" kata Altair sambil terkekeh. "Memangnya kau punya… itu?" tanyanya sambil memicingkan matanya ke arah Migi Vox.
Boneka itu mencipratkan air ke wajah Altair dengan ekspresi kesal.
Seisi ruangan terbahak-bahak, kecuali Cleon.
Pemuda itu masih memperhatikan Migi Vox dengan dahi berkerut-kerut.