
Evelyn duduk bersila dan menarik napas dalam-dalam, melemaskan otot-ototnya dan mulai berkonsentrasi. Ia menadahkan tangannya di depan dada, mengeluarkan peri pelindungnya. Sebelah tangan lainnya bergerak-gerak di seputar peri pelindungnya, memutar dan menarik lingkaran cahaya yang memancar keluar dari mata naga pengeluh menggunakan kekuatan tenaga dalam.
Kemarilah cakra pertamaku, bisik Evelyn dalam hatinya. Kau adalah hal pertama yang akan membuktikan harapan Nazareth.
Lingkaran cahaya berwarna kuning di mata naga itu menyelinap keluar dengan perlahan, kemudian merangkak naik dan semakin membesar. Lalu berangsur-angsur mendekat dan akhirnya mengendap di sekeliling tubuh Evelyn.
Nazareth tersenyum tipis. "Dengar," ia menginstruksikan. "Tak peduli bagaimana kekuatan cakra menyerang tubuhmu, pertahankan kesadaranmu!"
Evelyn memejamkan matanya ketika lingkaran cahaya berbentuk cakram itu mengendap semakin turun melewati kepalanya.
Sengatan hawa panas menyergap Evelyn dan mencekiknya.
Panas sekali, pekik Evelyn dalam hatinya. Kekuatan yang begitu ganas!
Nazareth mengawasi gadis itu dengan dahi berkerut-kerut karena gelisah.
Rumput liar di telapak tangan Evelyn menyala keemasan.
Nazareth mengerjap dan mengedikkan kepalanya. Tubuhnya terhuyung dan penglihatannya memburam. Gawat! pikirnya. Racunnya mulai menjalar. Ia membungkuk menekuk perutnya dan menyisi. Lalu jatuh berlutut di bawah pohon kering.
Tubuh Evelyn bergetar dan cahaya di sekeliling tubuhnya berpendar-pendar, semakin lama semakin terang.
Tunas Ivy berdaun tiga di telapak tangan gadis itu mendadak tumbuh dan memanjang dalam sekejap, menjalar dengan cepat dan melilit sekujur tubuhnya, kemudian mengetat dan mencekiknya seperti ketika ia dililit naga pengeluh.
Evelyn terhenyak ketika sulur-sulur tanaman rambat itu mendadak membengkak seratus kali lipat hingga sebesar ular raksasa.
"Kau sungguh keras kepala, Eve!"
"Menyerahlah, Eve!"
"Jangan angkuh seperti ibumu atau keras kepala seperti kakekmu!"
"Terima kenyataannya!"
"Peri pelindung tidak berguna tetap saja tidak berguna!"
"Kenapa kau tidak menikah saja?"
"Oh, lupakan saja!"
"Miss Evelyn memang cantik. Tapi dia terlalu kasar. Pria bangsawan takkan menyukai perilakunya yang seperti pria!"
Suara-suara itu mendengking dalam kepalanya. Terdengar seperti datang dari berbagai arah. Membuat kepalanya berdenyut-denyut. Menyiksanya!
Inikah yang dimaksud alam bawah sadar? batin Evelyn hampir tak bisa menahan dirinya.
Lingkaran cahaya berbentuk cakram itu menyusut dan mencekiknya juga.
Nazareth mendudukkan dirinya di bawah pohon dan bersandar pada batangnya. Bibir tipisnya mulai membiru, wajahnya semakin pucat dan keringat membanjir di sekujur tubuhnya. Migi Vox terkulai dalam pangkuannya dan tersungkur di pangkal pahanya.
Tubuh Evelyn bergetar semakin hebat. Sekujur tubuhnya serasa ditusuk-tusuk benda tajam yang sangat panas.
Seluruh emosi negatif menguasai Evelyn. Kesedihan, kekecewaan, kemarahan hingga keputusasaan menekan dirinya tanpa bisa dikendalikan.
Ia menggemeretakkan giginya. Tubuhnya sekarang mengentak-entak.
Sakiiit… pekik Evelyn dalam hatinya. Rasanya sakit sekali!
Tak bisa kubayangkan bagaimana Nazareth melewati cakra berusia dua juta tahun, katanya dalam hati.
"Kau menyesal jadi muridku?"
Suara Nazareth menggema dalam benaknya.
Tidak! bantah Evelyn dalam hatinya. Kau begitu tampan, bisa berada di sisimu sepanjang waktu sudah menjadi keberuntungan bagiku. Lagi pula kau penyelamatku. Kalau aku tidak menjadi muridmu aku harus menikahi pria kaya yang bodoh.
Ini hanya peri monster empat ratus tahun! Evelyn menyemangati dirinya. Kau pasti bisa menaklukkannya.
"Mengingat kekuatan spiritualmu penuh, kukira menyerap ini tak akan ada masalah."
Benar, kata Evelyn pada dirinya. Bertahanlah! Kau harus membuktikan harapan Nazareth.
"Kukira inilah saatnya Lord Vox membuktikan teori-teorinya."
"Eve… apa kau bersedia mencoba?"
"Yang benar saja, kau berguru padanya? Kemampuannya tak seberapa!"
"Lord Vox memang ahli, tapi hanya dalam teori."
Hentikan! pekik Evelyn dalam hatinya.
Sekarang sulur tanaman rambat yang melilitnya mulai mengeras, sekeras kulit naga pengeluh. Evelyn tak dapat bergerak, bahkan tak dapat bernapas. Bersamaan dengan itu ia mulai merasakan kantuk yang teramat berat. Kesadarannya mulai timbul-tenggelam.
"Putri kecilku. Putri Evelyn! Suatu saat kau akan menjadi master spiritual termasyhur di seluruh negeri…"
Lalu kenapa Ayah tak datang di hari kebangkitan peri pelindungku? batin Evelyn sedih.
"Dengan sangat menyesal, aku harus mengabarkan… Ayahmu telah mengembuskan napas terakhir dalam perjalanannya menuju ke sini!"
Tidak! Evelyn terhenyak oleh kesedihannya, terseret kembali ke dalam kesadaran.
Seluruh tempat di sekelilingnya terlihat putih. Sekujur tubuhnya terasa kebas. Tapi ia mulai merasakan sulur tanaman yang melilitnya mulai menguap seperti asap.
Seseorang membungkuk di atas kepalanya. Sangat tampan. Seperti peri---mungkin juga malaikat jatuh. Wajahnya begitu bercahaya.
"Aku Nazareth!" Pria berparas malaikat itu tersenyum tipis. "Sejujurnya aku tak punya persiapan apa pun untuk menemuimu. Tapi…" ia menarik sebelah tangannya dan mengulurkan setangkai bunga Alamanda ke arah Evelyn.
Tanaman liar! pikir Evelyn.
Peri pelindung tidak berguna!
"Apa rumput liar benar-benar tak bisa dilatih?"
"Bukannya tak bisa dilatih sama sekali. Hanya saja… menurutmu, seiring peningkatannya, rumput liar bisa menjadi apa?"
"Berdasarkan penelitianku selama ini, rumput liar, terutama tanaman rambat memiliki kelebihan juga. Yang pertama, menggunakan rumput liar hanya membutuhkan sedikit energi spiritual. Kedua, bisa dijumpai di mana saja, mudah membingungkan lawan. Ketiga, arah perkembangannya sangat luas, tidak akan menolak cakra spiritual! Masih ada lagi kelebihan peri pelindung rumput liar. Namun hal itu hanya ada di dalam dirimu saja!"
"Nona! Kondisimu sangat spesial. Kekuatan cahaya penuh adalah bakat yang belum pernah ditemukan selama seratus tahun."
"Ya. Rata-rata Master Spiritual yang memiliki peri pelindung rumput liar, saat dibangkitkan, kekuatan spiritualnya terlalu kecil. Kultivasinya juga akan meningkat dengan lambat. Di dunia spiritual, belum ada master spiritual yang kuat dengan peri pelindung rumput liar. Tapi kau berbeda. Kau terlahir dengan kekuatan spiritual penuh. Ini adalah kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain!"
Evelyn mengerjap dan membuka mata.
Sulur-sulur tanaman dan lingkaran cahaya berbentuk cakram sudah sepenuhnya menghilang.
Tapi Evelyn masih bisa melihat bayangan samar Nazareth yang membungkuk di depannya sambil tersenyum, mengulurkan setangkai bunga liar berwarna kuning.
"Selamat!" kata Nazareth. Suaranya terdengar seperti bisikan angin. "Kau sudah mendapatkan cakra pertamamu!"
Evelyn mengulurkan sebelah tangannya untuk meraih bunga itu.
SLASH!
Sosok itu menghilang dan berkeredap meninggalkan ledakan cahaya putih terang yang menyilaukan.
Bunga Alamanda itu melayang ringan seperti dandelion, berputar-putar seperti baling-baling dan mengelilingi Evelyn meninggalkan taburan cahaya berwarna-warni.
Evelyn memejamkan matanya lagi dan menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Sekujur tubuhnya terasa ringan dan bugar seakan baru terbangun dari tidur yang berkualitas.
Ia membuka matanya dan tertunduk mengamati dirinya, membolak-balik telapak tangannya yang terasa aneh dan memeriksa setiap sisinya.
Aku berhasil! pikir Evelyn hampir tak percaya. Lalu mengedar pandang untuk mencari keberadaan guardiannya.
Hutan itu masih tetap segelap malam.
Nazareth duduk tertunduk bersandar pada batang pohon kering tak jauh dari tempatnya.
Evelyn menghela tubuhnya berdiri dan mendekat ke arah Nazareth dengan ekspresi cemas.
Wajah Nazareth begitu pucat dengan sudut bibir tampak membiru. Matanya terpejam tidak sadarkan diri.
Apa yang terjadi? pikir Evelyn terkejut.