Poison Eve

Poison Eve
Chapter-86



"Di antara kalian, adakah tipe pengamatan yang membutuhkan cakra?" seorang peri vampir berusia puluhan ribu tahun membungkuk pada Evelyn dengan hormat.


Evelyn masih terkulai lemas dalam pangkuan goliath. "Xena!" pekiknya sedikit terlalu antusias, lalu terbatuk-batuk.


Mendengar namanya disebutkan, Xena spontan berpaling pada Evelyn dengan alis bertautan.


Goliath itu kembali mengusap-usap kepala Evelyn dengan ujung telunjuknya. Barangkali itulah caranya memulihkan.


Peri vampir tadi menoleh pada Xena dan seketika gadis itu langsung memucat.


"Xena adalah tipe pengamatan," Evelyn memberitahu peri vampir itu. Lalu terbatuk-batuk lagi. Kemudian melanjutkan dengan terengah-engah. "Levelnya sudah tiga puluh satu. Dia belum mendapatkan cakra ketiganya."


"Baiklah," kata peri vampir itu seraya menoleh kembali pada Evelyn dan tersenyum. "Apakah Tuan Putri bisa menjamin dia berada di pihak Anda?"


"Sure," jawab Evelyn dalam gumaman lemah. Lalu menatap peri vampir itu dengan alis bertautan. "Kami adalah rekan tim."


Xena memandangi Evelyn dan peri vampir itu dengan dahi berkerut-kerut. Menunggu.


"Saudaraku… usianya sudah dua ratus tahun, dan dia sekarat," tutur peri vampir itu dengan raut wajah sedih. Lalu melirik Xena sekali lagi. "Dia bilang… dia ingin memberikan cakranya."


"Xena! Kau sangat beruntung!" kata Evelyn, berusaha terdengar gembira. Tapi kemudian ia terbatuk-batuk lagi.


Lady Die spontan menoleh pada Evelyn dengan terkejut, kemudian melirik anak asetnya.


"Salah satu dari mereka ingin memberikan cakra spiritualnya," Evelyn memberitahu.


"Benarkah?" Xena memekik gembira.


Ketiga teman lainnya serempak menoleh pada Evelyn dengan mata berbinar-binar.


Lady Die mengerutkan keningnya. "Mereka… yang mengatakannya?" ia bertanya tergagap seraya menatap peri vampir yang berdiri di depan goliath yang memangku Evelyn.


"Ya," jawab Evelyn dalam gumaman lemah. Tak yakin apakah Lady Die mempercayainya.


Lady Die mengerjap dan menelan ludah. Lalu mengerling ke arah Nyx Cornus. Ternyata dia benar-benar bisa berkomunikasi dengan peri monster! matanya bicara pada Nyx Cornus.


Evelyn menatap kedua wanita itu, menunggu persetujuan.


"Berapa usianya?" Lady Die menoleh lagi pada Evelyn.


"Dua ratus ribu tahun," jawab Evelyn. Lalu terbatuk-batuk lagi.


"Saudaraku memiliki penglihatan super, kecepatan super dan teleportasi," peri vampir itu memberitahu. "Dan sebagai klan penghisap darah, tentunya kami semua memiliki kemampuan menghisap energi lawan."


"Nice," desis Evelyn terengah-engah. Lalu tersenyum dan kembali menoleh pada Xena. "Dia bilang, kelebihannya adalah penglihatan super, kecepatan super, teleportasi dan memiliki kemampuan untuk menghisap energi lawan!" Evelyn memberitahu.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" seru Lady Die penuh semangat. "Pergilah, Xena!"


"Hmh!" Xena mengangguk tak kalah bersemangat. Lalu bergegas ke arah Evelyn.


"Follow me!" peri vampir itu mengisyaratkan dengan gerakan tangannya.


Xena melirik pada Evelyn.


Evelyn mengangguk lemah dengan posisi masih terlentang lemas di pangkuan goliath.


Xena mengikuti peri vampir itu ke dalam gua, dan menghilang dalam waktu yang lama.


Sejumlah peri vampir remaja bermunculan entah dari mana, terbang memutar di atas kepala mereka, kemudian mendarat sambil mengepak-ngepakkan sayap mereka di lubang besar yang tercipta dari palu Apollo. Pada tangan mereka masing-masing, ada setumpuk buah-buahan, tanaman menyala berwarna-warni.


Victoria melayang turun tak lama kemudian. Lalu memerintahkan para peri vampir remaja itu untuk menghampiri rombongan manusia.


Teman-teman Evelyn dan para guardian mereka menatap kawanan peri vampir itu dengan waswas, kemudian saling melirik satu sama lain.


"Tidak apa-apa!" kata Evelyn dengan suara lemah. "Mereka datang membawakan kita makanan dan tanaman obat."


Peri-peri vampir itu membungkuk di depan semua orang, menaruh barang-barang bawaan mereka, kemudian berbalik dan beterbangan lagi.


"Ada bagusnya juga dilayani seperti ini," gumam Lady Die, kemudian mengangguk ke arah Victoria.


"Jangan khawatir, Sayangku!" Victoria menoleh pada Evelyn seraya tersenyum. "Aku bisa mendengar pikiran manusia," ia memberitahu.


Oh, gawat! pikir Evelyn.


Victoria menanggapinya dengan tersenyum.


"Ah—aku tahu tanaman itu!" Xenephon menunjuk salah satu tanaman yang dibawa oleh kawanan peri vampir tadi. "Nyx, maukah kau mengambilnya untukku?" ia bertanya dengan suara tercekat.


"Sure," jawab Nyx Cornus, kemudian mengambil setangkai bunga mirip mawar berwarna biru dengan ukuran sedikit lebih besar.


Xenephon menarik punggungnya dari dinding tebing, kemudian duduk bersila. Lalu mengambil napas dalam-dalam. Bersiap menghirup Manna pemulihan yang terkandung dalam putik bunga mawar biru itu. "Ulurkan itu!" instruksi Xenephon pada Nyx Cornus.


Gadis guardian itu mengulurkannya dan dalam sekejap, bunga itu melayang dari tangannya, kemudian berputar-putar mengelilingi Xenephon, menebarkan serbuk cahaya berwarna-warni seperti pelangi.


Semua orang terperangah takjub menyaksikan fenomena itu.


"Aku baru tahu Damask biru bisa menjadi obat," komentar Lady Die.


"Hanya untuk kasus khusus," timpal Salazar.


Semua orang spontan menoleh pada Salazar.


"Apa sekarang kau juga tertarik dengan teori?" seloroh Lady Die tanpa beban sedikit pun.


Arsen Heart terkekeh menanggapi mereka. Lalu berjalan pelan ke arah tumpukan buah dan membungkuk untuk mengambil beberapa.


Anak-anak aset mereka mengikutinya.


Hidung Migi Vox tiba-tiba mengendus-endus, lalu membuka mata dan menyeringai. Sedetik kemudian, ia sudah melesat ke arah kerumunan dan menjatuhkan dirinya di atas tumpukan buah-buahan itu, seperti di wahana mandi bola.


"Vox!"


Teman-teman Evelyn memekik terkejut ketika boneka itu mulai menggasak buah-buahan mereka.


"Kau kan sedang berlatih!" sembur Electra sambil merebut buah apel dari tangan Migi Vox. "Bisa-bisanya kau meninggalkan meditasi karena makanan!"


Migi Vox melompat-lompat di sekeliling tumpukan buah-buahan itu dengan kedua tangan mengepak-ngepak seperti kelelawar. Melesat ke sana kemari untuk berebut makanan dengan teman-teman Evelyn.


Teman-teman Evelyn meladeninya dengan sikap kekanak-kanakan yang sama sambil tertawa-tawa.


Evelyn terkekeh lemah melihat tingkah laku mereka.


Nyx Cornus dan Lady Die mengerang bersamaan sembari memutar-mutar bola matanya, sementara Arsen Heart dan Salazar Lotz hanya menyeringai dan menggeleng-geleng.


Begitulah pada akhirnya, mereka menemukan keseruan setelah sehari penuh dilindas badai, berebut makanan seperti yang biasa mereka lakukan di estat Nazareth. Suasana itu membuat mereka merasa berada di rumah.


Di tengah keseruan itu, seseorang tiba-tiba menyeruak ke arah mereka dengan tergopoh-gopoh, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun dengan hanya mengenakan cawat dan sepatu bot selutut dari kulit rusa, yang secara spontan membuat semua orang waspada dan memasang kuda-kuda.


"Werewolf!" Victoria berteriak lantang, dan seketika sejumlah peri vampir serentak menerjang ke arah pria asing itu.


"Wait!" pria itu menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya untuk membentengi diri. "Aku sudah sekarat! Percayalah!"


Kawanan peri vampir itu serentak berhenti, namun tetap waspada.


"Aku datang untuk Tuan Putri!" pria asing itu memberitahu.


Semua orang membeku mendengar perkataannya.


"Tuan Putri?" Lady Die memekik dengan dahi berkerut-kerut.


Pria asing itu mendesah dan menjatuhkan dirinya dalam posisi berlutut, lalu membungkuk menekuk perutnya yang sudah terkoyak. Kemudian menoleh pada Evelyn sembari mengernyit. "Benar," katanya terengah-engah.


Evelyn menoleh dengan posisi tetap terlentang di pangkuan goliath.


Migi Vox menatap pria asing itu dengan ekspresi polos dan penasaran seorang anak kecil.