Poison Eve

Poison Eve
Chapter-88



Kedua mata Evelyn masih terpejam ketika kedua kakinya berpijak di permukaan tanah. Lalu mengerjap dan membuka.


Semua orang terkesiap menatap Evelyn.


"Kau sudah kembali?" pekik Nazareth sambil menghambur ke arah Evelyn dengan mata berbinar-binar.


Migi Vox melesat mendahului Nazareth, kemudian menyambar Evelyn dan menggelayut di leher gadis itu.


Evelyn terperangah dan mengedar pandang dengan raut wajah kebingungan. Apa yang terjadi? pikirnya. Kenapa mereka semua seperti habis melihat hantu?


"Kau berhasil?" seru Victoria dengan gembira seraya melompat turun dari tebing rendah di dekat tempat Evelyn berdiri sekarang. Sayapnya terkembang seakan sedang berjingkrak.


Evelyn berpaling pada wanita bersayap kelelawar itu dengan tatapan bertanya.


"Kau sudah mendapatkan cakra spiritualmu, Eve!" Victoria memberitahu.


"Benarkah?" Evelyn dan Nazareth memekik bersamaan. Lalu terdiam bersamaan dengan saling menatap satu sama lain.


"Kau bisa berkomunikasi dengan peri monster?" desis Evelyn.


"Ah—" Nazareth tergagap dan tersenyum kikuk.


"Ya, kau bisa!" Evelyn menyimpulkan sembari mendelik sebal.


Nazareth memalingkan wajahnya sedikit seraya mengusap bagian belakang kepalanya dengan sikap salah tingkah.


Goliath di belakang Evelyn tiba-tiba mendesah dan memutar tubuhnya membelakangi Evelyn, kemudian berlalu pergi dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya.


Semua orang mengerling ke arah goliath itu, dan memandangi punggungnya dengan tatapan bingung.


"Hey---wait!" Evelyn memekik seraya mengulurkan sebelah tangannya, mencoba menahan raksasa itu, tapi hanya menggapai udara kosong.


Raksasa itu berhenti dan menoleh pada Evelyn.


"Hector!" raksasa itu memberitahu, "Itu namaku," katanya sambil meneruskan langkahnya.


"Baiklah," kata Evelyn sambil tersenyum. "Thanks, Hector!"


Raksasa itu hanya mengibaskan tangannya sekilas tanpa menoleh lagi.


Nazareth mengulurkan sebelah tangannya ke arah Evelyn dengan ragu-ragu, lalu berhenti beberapa inci dari wajah gadis itu. Sorot matanya memancarkan kerinduan yang tak tertahankan. Tapi di sisi lain ia juga merasa bersalah yang membuatnya semakin salah tingkah.


Evelyn mengerjap dan memandang wajah tampan kekasihnya yang juga guardiannya. Untuk sesaat ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi lalu tertunduk seraya mengusap-usap punggung Migi Vox.


Nazareth tersenyum samar dan menarik tangannya cepat-cepat. Sentuhan lembut gadis itu di punggung Migi Vox memperingatkan dirinya secara halus bahwa sebaiknya ia menjaga sikap. Semua orang sedang menatap mereka!


"Baiklah," kata Nazareth seraya mengedar pandang. "Karena aku yang membuat kekacauan ini," ia mengaku. "Maka aku sendiri yang akan membereskannya!" katanya, lalu melompat ke arah tebing dan mendarat di puncaknya dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya. "Sekarang bersiaplah!" ia menginstruksikan pada semua penghuni hutan.


Lalu semua makhluk di sekelilingnya serentak berlutut pada Nazareth.


Semua orang terperangah dan mengedar pandang, menatap semua peri monster yang berlutut ke arah Nazareth, bahkan binatang kecil sekelas kelinci ikut membungkuk dengan sikap hormat.


Evelyn terkikik geli melihat kelinci itu.


Teman-temannya menoleh dan mengerutkan dahi.


Electra bertukar pandang dengan teman-temannya, lalu melirik Xenephon dan Nyx Cornus.


Kedua guardian itu mendongak menatap Nazareth dengan ekspresi yang sama bingungnya.


Semua orang akhirnya mendongak untuk melihat apa yang akan dilakukan pemilik akademi mereka.


Pria itu mengangkat sebelah tangannya di sisi wajahnya dan memutar jari tengah dan telunjuknya yang dalam sekejap memunculkan lingkaran cahaya keemasan berbentuk cakram di ujung jarinya. Ia menjentikkan jarinya, dan seketika lingkaran cahaya itu melayang berputar-putar, kemudian mulai membesar, dan terus membesar hingga menggapai seluruh tempat sampai ke sudut-sudut Hutan Berburu Peri Monster, lalu mengendap dan meresap ke dalam tanah.


Hutan Berburu Peri Monster itu kembali pulih seperti semula, bercahaya dan berkelap-kelip. Serbuk cahaya berwarna-warni kembali berkeriapan di sekitar hutan. Bunga-bunga peri kembali menyala dan bermekaran.


"Mereka memenuhi janjinya!" bisik salah satu dari mereka dengan ekspresi lega.


"Ternyata orang-orang Ordo Angelos sehebat ini!" gumam penjaga yang lainnya dengan ekspresi takjub.


Beberapa saat kemudian, rombongan itu akhirnya keluar dari hutan disambut bungkukan hormat semua penjaga.


Dari sudut hutan, seseorang mengawasi Evelyn seraya tersenyum miring. Wajahnya tersembunyi di bawah tudung jubahnya yang berwarna gelap.


Begitu gerbang ditutup, sosok itu berpusar seperti tornado, kemudian menguap seperti debu yang disapu angin.


Rombongan itu kembali ke akademi dengan perasaan campur aduk. Beberapa mulai memandang hormat Nazareth meski lebih banyak bingungnya. Beberapa mulai penasaran mengenai jati diri pemilik akademi itu. Lebih penasaran lagi dengan skandalnya, meski sudah cukup jelas.


Nyx Cornus dan Xenephon sudah tidak terkejut dengan tingkah Nazareth meski baru pertama kali melihat pria itu menggunakan teknik kekuatan inti peri pelindung yang ditulisnya sendiri. Seperti kata Nyx Cornus, Nazareth bisa menjadi siapa saja di Neraida, terutama di dunia master spiritual. Mereka bahkan tidak terkejut mengetahui fakta bahwa Evelyn bisa berkomunikasi dengan peri monster dan disebut-sebut sebagai Tuan Putri, mengingat leluhur gadis itu pernah berjaya sebagai raja di negeri peri. Lebih tidak terkejut lagi dengan skandal mereka.


Tapi menyerap cakra spiritual tanpa membunuh peri monster…


Bagaimana Evelyn melakukannya? Nyx Cornus bertanya-tanya dalam hatinya.


Ini jelas hal baru dalam dunia master spiritual!


Selain Sepuluh Teori Kekuatan Inti Peri Pelindung, Nazareth juga pernah menerbitkan Teori Sembilan Cakra Manusia. Tapi lagi-lagi hanya teori tanpa bukti.


Dan lagi-lagi, Evelyn berhasil merealisasikan teori Nazareth.


Waktu menjelang siang ketika kereta kuda mereka melintas di kaki gunung memasuki jurang sempit di antara tembok-tembok tinggi, seakan-akan gunung itu terbelah oleh sebilah pisau, memberi jalan untuk mereka lewat.


Perjalanan pulang terasa jauh lebih lambat dibanding saat berangkat. Sepanjang sisa perjalanan itu, kereta mereka dicekam keheningan panjang yang membingungkan. Masing-masing orang tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri.


Migi Vox masih menggelayut di leher Evelyn, menyusupkan wajahnya di ceruk bahu gadis itu, menempel rapat padanya seakan sudah ratusan purnama tidak bertemu.


Nazareth membeku di sisi mereka, seakan mendadak bodoh!


Nyx Cornus mengawasi mereka dengan diam-diam dari seberang tempat duduk.


Electra terkantuk-kantuk di sisi Nyx Cornus.


Sekonyong-konyong kereta mereka tersentak.


Electra terperanjat dan seketika kantuknya lenyap.


Migi Vox tersentak dan melesat keluar jendela.


Pada saat itulah mereka mendengar suara berderak nyaring yang membahana.


Kereta berhenti mendadak, disusul suara ledakan logam yang berbenturan di sisi kereta.


"Xen, are you okay?" Nyx Cornus berteriak panik sambil menyentakkan tirai kereta hingga terbuka.


Electra melihat sekilas pakaian serba hitam lengkap dengan tudung kepala dan selubung wajah. Pria itu! ia menyadari. Pria misterius yang menghadangnya di tempat pembuangan sampah kota.


Pria itu sekarang berdiri di tengah jalan menghadang kereta mereka bersama sejumlah pria berseragam ninja, lengkap dengan sepasang pedang yang bersilangan di punggung mereka, memakai selubung wajah dan tudung kepala.


"Kefas!" geram Nazareth sambil menggebrak lantai kereta dengan kakinya.


Seisi kereta tersentak dan terperangah menatap Nazareth—tidak terkecuali Evelyn.


Pria itu mengetatkan rahang dan melompat keluar dari kereta. Lalu berdiri di depan barisan pria berseragam ninja itu dengan ekspresi geram.


"Kefas?" Electra mendesis dan mengerutkan keningnya. Lalu menatap guardiannya, "Damon?"


Evelyn menatap keduanya dengan mata terpicing.