Poison Eve

Poison Eve
Chapter-164



Pada akhirnya…


Kedudukan wakil akademi itu jatuh ke tangan Dea Proka.


Bagaimana bisa?


Pertarungan terakhir dimenangkan oleh Dea Proka.


Tentu saja, mereka sama-sama terbelenggu peri pelindung satu sama lain, sementara kedua tangan Nyx Cornus sepenuhnya mengendalikan peri pelindung. Tangan Lady Die yang bebas melontarkan energi cahaya ke arah Nyx Cornus.


Begitu saja pertarungan itu berakhir!


Di luar harapan semua orang mengingat reputasi Nyx Cornus.


Tapi level kekuatan saja tak cukup untuk menjamin seseorang bisa memenangkan pertarungan. Apalagi reputasi!


Nazareth benar bahwa ketika seseorang tidak dapat mengalahkan kesombongannya sendiri, selamanya dia tidak bisa menang dari lawan.


Nyx Cornus memiliki kesombongan di dalam dirinya. Meski Lady Die terlihat jauh lebih angkuh dan terang-terangan, Lady Die masih memiliki keterbukaan.


Lady Die tak pernah malu mengakui keunggulan orang lain yang pernah diremehkannya.


Dia tak malu mengakui kekalahan!


Nyx Cornus tidak pernah meremehkan orang lain dengan sikapnya, tapi memandang tinggi dirinya sendiri. Tentu saja, masih muda sudah menjadi guardian. Siapa pun akan memandang tinggi dirinya jika berada di posisi itu.


Hari itu adalah adalah hari pelulusan.


Dan Dea Proka sudah resmi menjabat sebagai wakil akademi.


Acara pelulusan itu dilakukan dengan cara pengujian level kekuatan spiritual.


Setiap murid yang akan lulus harus mengikuti tes kekuatan spiritual.


Meski di atas level dua puluh setiap murid bisa merasakan kekuatan spiritualnya sendiri, pengujian itu tetap diperlukan untuk diperlihatkan kepada semua penghuni akademi sebagai prosedur.


Jadi setiap akademi memiliki alat pengukur kekuatan spiritual seperti bola kristal di Balai Cabang Ordo Angelos.


Di Morfeus Academy, alat pengukur itu terdapat di tangan Morfeus Statue dalam bentuk bola kristal yang diangkat di sisi wajahnya. Setiap murid yang akan lulus diminta melontarkan energi cahaya berbentuk bola ke kaki patung itu dan semua orang bisa melihat sampai setinggi mana energi cahaya itu akan naik.


Jika energi cahaya itu naik sampai ke pinggang, bola kristal di tangan Morfeus Statue akan menunjukkan angka lima puluh, di bawahnya empat puluh ke bawah, di atasnya enam puluh ke atas. Begitu seterusnya jika energi cahaya merayap lebih tinggi, bola kristal akan menunjukkan angka yang lebih tinggi.


"Hanya jika level kekuatan melewati lima puluh baru bisa dinyatakan lulus," Lady Die memberitahu. "Jika tidak, kalian akan tinggal setahun lagi di akademi!" ia menegaskan.


Wakil akademi yang baru itu berdiri di depan barisan murid semester tiga yang akan lulus sambil melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya. Nazareth dan para guardian lain berdiri di belakangnya.


"Dimulai dari anak aset Arsen Heart!" Lady Die menginstruksikan.


Lalu satu per satu para murid melontarkan energi cahaya berbentuk bola yang berlainan warna sesuai masing-masing cakra spiritual mereka.


Hingga tibalah giliran Cleon.


Pemuda itu melangkah ke tepi kolam dan memasang kuda-kuda, kemudian melontarkan bola cahaya berwarna ungu.


SLASH!


Kaki patung emas Dewa Mimpi itu menyala ungu yang kemudian merayap naik hingga melewati pinggang.


Angka di bola kristal menunjukkan lima puluh sembilan.


Para guardian bertepuk tangan. Level kekuatan Cleon adalah yang paling tinggi di antara semua anak aset Arsen Heart.


Semua anak aset Arsen Heart lulus dengan rata-rata tingkat spiritual di atas lima puluh. Paling rendah lima puluh satu.


"Anak aset Salazar Lotz!" Lady Die beralih ke barisan kedua.


Anak-anak yang sudah lulus berkerumun di belakang para guardian.


Altair maju lebih dulu. Gerak-geriknya ketika memasang kuda-kuda memukau semua murid.


"Tipe penyerang depan memang berbeda!" komentar beberapa murid perempuan bernada kagum.


Xena melirik mereka dengan gaya ketus Lady Die.


Sebuah bola cahaya berwarna hitam terlontar dari telapak tangan Altair, kemudian merambat sampai ke pinggang lewat sedikit.


Bola kristal menunjukkan angka lima puluh lima.


"Sudah kuduga dia menjadi hebat berkat kerja sama tim!" timpal yang lainnya.


Salazar Lotz mendesah pelan. Raut wajahnya terlihat agak kecewa.


"Nice!" seru Arsen Heart menyemangati, lalu bertepuk tangan, diikuti guardian lainnya.


Murid-murid mengikutinya.


"Berikutnya!" instruksi Lady Die lagi.


Altair menyisi ke dekat Cleon dengan raut wajah muram. Cleon menepuk bahunya untuk memberi dukungan.


Xena, Electra dan Evelyn menatap Altair sambil tersenyum menguatkannya.


Anak aset Salazar Lotz lulus separuh dengan rata-rata level lima puluh satu. Yang tidak lulus rata-rata lima puluh.


Betul-betul mengecewakan! batin Salazar. Kelasnya adalah yang paling mengecewakan.


Anak-anak aset Nyx Cornus lulus semua dengan memukau. Rata-rata level mereka di atas lima puluh lima. Terutama Electra sudah mencapai level lima puluh tujuh dengan energi cahaya berwarna hitam.


Anak aset Lady Die hanya satu orang yang tidak lulus, levelnya sudah mencapai lima puluh. Yang lulus rata-rata level lima puluh lima. Xena yang paling tinggi, level lima puluh enam dengan energi cahaya berwarna hitam.


Anak aset Nazareth tiada tanding!


Pertama karena hanya satu-satunya, ditambah titisan Apollo.


Evelyn Katz, lulus memukau dengan level angelos. Level tujuh puluh satu, energi cahaya berwarna emas.


Setelah menyelesaikan semua prosedur kelulusan itu, Morfeus Five berkumpul di pekarangan depan akademi bersama guardian mereka.


Itu adalah acara perpisahan mereka.


"Kita akan berkumpul di sini setiap akhir tahun ajaran!" Altair mengusulkan. Kemudian mengerling ke arah Nazareth seraya tersenyum penuh arti. "Aku akan mengajar di sini!" katanya.


Semua orang mengikuti lirikan matanya.


Nazareth mengangguk singkat seraya tersenyum samar.


"Baguslah!" Electra berlanting dengan gembira.


"My Lord…" Xena menggumam dan tertunduk dengan wajah memelas. "Apa aku juga boleh mengajar di sini?" pintanya dengan gaya merajuk kekanak-kanakannya yang khas.


"Of course!" jawab Nazareth. "Morfeus Five adalah aset berharga Morfeus Academy. Jika kalian mau, kalian semua bisa mengajar di sini!"


"Benarkah?" Xena membelalakkan matanya dengan ekspresi senang seorang anak kecil. Lalu bertepuk tangan setengah berjingkrak-jingkrak.


Cleon tersenyum, "Aku sangat ingin mengajar di sini," katanya pada Altair. "Tapi aku punya takdir lain yang harus kujalani!"


"Aku dan Cleon akan bergabung di Aliansi Ksatria Ordo Angelos," Electra memberitahu.


Evelyn dan teman-temannya kembali memekik.


"Hebat!" seru mereka bersamaan.


Cleon dan Electra mengangguk ke arah Nazareth sambil tersenyum dengan tatapan penuh terima kasih.


Evelyn mengerling ke arah kekasihnya.


Pria itu tersenyum samar sekali lagi.


"Bagaimana denganmu?" tanya Lady Die pada Evelyn. "Apa rencanamu? Prestasimu paling memukau. Jangan bilang kau hanya akan berakhir sebagai Mempelai Pangeran!" selorohnya sambil mendelik pada Nazareth.


Nazareth tersenyum miring. Migi Vox melengak di pangkuannya.


Evelyn tertunduk seraya mengulum senyumnya. "Aku juga akan bergabung di Aliansi Ksatria Ordo Angelos," katanya tersipu.


"Yes!" Cleon dan Electra bersorak gembira sambil melompat dan mengacungkan tinju mereka di udara.


Xena dan Altair bertukar pandang dan bertukar senyuman. Turut bahagia untuk teman-temannya.


"Kalau begitu sudah diputuskan!" kata Altair. "Setiap akhir tahun ajaran, kita akan bertemu di sini!"


"Hmh!" Evelyn dan ketiga teman lainnya mengangguk serempak.