Poison Eve

Poison Eve
Chapter-138



Altair masih beradu kekuatan dengan Mo Rhino, dan ia mulai terdesak hingga terpaksa mengeluarkan teknik penyatuan tiga jantung untuk mempertahankan kedua kakinya tetap berdiri.


Lantai arena berkeretak dan mulai retak.


Tapi kekuatan Mo Rhino tampaknya tak bisa diremehkan.


Kedua lutut Altair mulai tertekuk, salah satunya hampir menyentuh lantai.


Lalu entah bagaimana ledakan energi tiba-tiba meluap dari dalam tubuh Altair, dan…


DUAAAAARRRR!


Mo Rhino terdorong ke belakang hingga terlempar dan terpelanting membentur dinding di tepi arena.


Altair terperangah, kemudian menatap telapak tangannya sendiri. "Apa aku sehebat itu?" gumamnya takjub.


"Of course not!" terdengar suara Evelyn di belakangnya. Nadanya agak mengejek.


Altair menyentakkan kepalanya ke samping dan menoleh ke belakang.


Evelyn menelengkan kepalanya sedikit dan menyeringai menirukan gaya Migi Vox, kemudian menurunkan telapak tangannya dari punggung Altair.


"Ternyata kau!" gumam Altair sambil memutar-mutar bola matanya. Lalu kembali memasang kuda-kuda, berdampingan dengan Evelyn.


Kedua putra Viscount menerjang ke arah mereka.


Altair menyiapkan teknik ketiga, mengeluarkan sayap gargoyle dan melesat ke arah mereka, mendorong perut keduanya dengan telapak tangan.


BLAAAAASSSHHH!


Kedua putra Viscount itu terpelanting.


Di sisi lain, Xena dan Electra sedang gencar mengepung Voz Panther. Ketiganya menggunakan teknik teleportasi sehingga tubuh mereka terlihat mengerjap-ngerjap sambil berpindah-pindah tempat.


Mo Rhino menghela bangkit tubuhnya dan menyiapkan kembali kuda-kuda.


Bersamaan dengan itu, kedua putra Viscount juga sudah menyiapkan teknik ketiga dan menerjang ke arah Evelyn.


Cleon masih terfokus pada kakaknya tanpa mempedulikan sekitar. Begitu juga sebaliknya, Sloan terus mengincar adiknya seakan di arena itu hanya ada mereka.


Pertarungan kakak-beradik itu sekarang sudah mencapai teknik ketiga masing-masing kekuatan. Namun sampai sejauh ini, teknik mereka selalu sama. Bahkan ketika Cleon akhirnya mengeluarkan tulang cakra tangan yang baru didapatkannya, Sloan juga ternyata memilikinya, bahkan di kedua tangannya.


Apa yang masih kumiliki? pikir Cleon mulai gusar.


Tentu saja ia masih memiliki teknik penyatuan tiga jantung. Hanya saja ia berniat menggunakannya sebagai pamungkas.


Pertarungan nyata berbeda dengan pertarungan alam bawah sadar.


Di alam bawah sadarnya, Cleon mungkin bisa mengalahkan kakaknya, bahkan ayahnya. Di alam bawah sadar, baik kekuatan kakaknya maupun kekuatan ayahnya, dibentuk berdasarkan ingatan terakhirnya mengenai mereka. Pada kenyataannya, kakaknya telah banyak berubah dan terus berkembang.


Ternyata aku masih saja menjadi seorang adik, batinnya getir.


"Apa perlu kuingatkan bahwa ia lahir lebih dulu? Atau kau ingin menunggu sampai dia sendiri yang mengingatkanmu? Seorang adik, selamanya akan tetap menjadi seorang adik!"


Kata-kata Nazareth terngiang dalam benaknya.


Takdir seorang adik selamanya tetap menjadi adik!


Lalu suara geram Evelyn menyentakkannya.


Gadis itu sedang mengeluarkan teknik pertama kekuatan inti peri pelindung leluhur yang didukung teknik penyatuan tiga jantung, sosok ilusi Rodrigo Knight muncul di belakangnya menghunus sebilah pedang yang menyala-nyala.


Itu dia! pikir Cleon merasa terinspirasi. Akademi kami masih memiliki sepuluh teori kekuatan inti peri pelindung. Itu adalah keunggulan yang tidak dimiliki akademi lain.


Cleon mencengkeram gagang palunya dengan kedua tangan sambil menggertakkan gigi. "I'm not your f u c k i n g brother!" geramnya dipenuhi tekad. Kemudian menghela palunya dengan empat teknik gabungan—energi goliath, aura pembunuh, kekuatan inti peri pelindung leluhur dan teknik penyatuan tiga jantung.


Arena berguncang ketika Cleon mengangkat palunya ke atas kepala. Sosok ilusi Orion Jace muncul di belakang tubuhnya.


Seisi aula di Balai Mulia Neraida menggemuruh oleh gumaman semua orang.


"Bagaimana dia melakukannya?" pekik Helios.


Kaisar Aero mengerling ke arah sang Duke.


Duke itu membeku menatap layar putra bungsunya. Itu baru putraku! batinnya dengan campuran rasa haru dan takjub.


Evelyn melayang naik di belakang Cleon dan mengambang di atas kepala pemuda itu, ia mengibaskan pedangnya ke samping dan seketika sejumlah ilusi sosok ksatria bermunculan dari semburat cahaya keemasan akibat lecutan pedangnya.


Sloan dan kedua putra Viscount terperangah di depan mereka.


Sekarang Evelyn mengayunkan pedangnya ke depan dan menudingkan ujungnya ke arah tim lawan, "Serang!" perintah Evelyn dengan kuasa seorang pemimpin pasukan abadi kerajaan.


GRAAAAAK!


Ilusi pasukan tentara abadi serentak menyeruak ke arah tim Sloan seperti pasukan tentara di medan perang.


Bersamaan dengan itu…


DUAAAAARRRR!


Cleon mengayunkan palunya ke lantai, dan seluruh arena serentak berguncang sebelum palunya menyentuh lantai.


Sloan dan teman-temannya serentak terseret ke belakang hingga jatuh berlutut. Sebuah tekanan tak kasatmata menindas mereka, menekuk lutut dan perut mereka, memaksa mereka untuk merunduk. Bersamaan dengan itu, sosok ilusi pasukan Ksatria Ordo Angelos menyergap mereka dengan menghunuskan pedang ke leher mereka.


"Aura apa ini?" komentar kedua pemandu acara bersamaan. "Aura yang sangat mengerikan!"


Kedua pemandu acara itu juga terdorong hingga membungkuk, begitu pun para ksatria di sekeliling ruangan.


Agathias Katz mengerjap gelisah dan memucat.


"Kami mengaku kalah!" pekik Sloan dengan suara tercekik.


Nazareth dan Migi Vox tersenyum miring dengan gerakan seragam.


"Pe---pertarungan berakhir!" salah satu pemandu acara mengumumkan, suaranya tercekik dan terengah-engah.


"Pertarungan…" pemandu acara satunya mencoba membantu mengambil alih, tapi suaranya juga tercekat di tenggorokan.


"Pertarungan dimenangkan oleh tim Akademi Militer Dewa Mimpi!" keduanya berteriak sekuat tenaga.


Aula Balai Mulia kedua negara menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler.


Para peserta menarik cakra spiritual mereka masing-masing dan menyimpan tenaga dalam dan peri pelindungnya.


Sedetik kemudian, pintu arena berderak membuka dan menghisap tim Dua Akademi Kekaisaran.


Duke dan Viscount Neraida masih membeku. Belum berkedip.


Orion Jace berusaha keras untuk tidak menangis. Dia berhasil! batinnya sangat terharu. Ia mengerling ke arah Nazareth dan Arsen Heart dengan penuh terima kasih.


Kedua pria itu balas meliriknya dengan raut wajah datar. Tapi sorot mata mereka menyiratkan sebuah kebanggaan yang lebih layak dimiliki seorang ayah.


Dan Orion Jace merasa tertampar oleh tatapan itu, sehingga ia berpaling dan mengerjap dengan gelisah.


Nazareth dan keempat guardian bertukar pandang. Migi Vox bertepuk tangan di pangkuannya, menampakkan ekspresi gembira seorang balita.


Beberapa saat kemudian, layar besar itu berpendar oleh bias cahaya ketika para ksatria---lagi-lagi---memulihkan lantai arena yang porak-poranda.


Lima remaja terlempar ke arena tak lama kemudian, dan kedua pemandu acara mengumumkan, "Selanjutnya… tim Akademi Martial Art Shangri-La, Hermes Academy!"


Aula Balai Mulia kedua negara kembali bergemuruh oleh tepuk tangan dan sorakan semangat.


Kelima remaja dari tim Akademi Martial Art Hermes itu menarik bangkit tubuh mereka dari lantai dan membungkuk dengan hormat tentara, masih sedikit terhuyung.


Evelyn dan teman-temannya balas membungkuk dengan hormat tentara yang sama.


"Lagi-lagi aliran martial art!" kelakar salah satu pemandu acara seakan menggemakan pikiran Evelyn dan teman-temannya.


Seisi aula di kedua negara tergelak.


"Well---yeah," pemandu acara yang satunya menimpali. "Kita semua tahu ronde kedua tadi lumayan menguras tenaga mereka. Akankah tim Akademi Militer Dewa Mimpi Neraida tetap bertahan?"