
"Dua segelnya sudah terbuka, sisa satu segel dengan simbol angkara murka." Bibi Gavriil duduk bersila di bawah pohon oak berdaun lebat yang menyala seperti lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip, kedua matanya terpejam, kedua pergelangan tangannya bertautan di depan dada dengan ujung jemari berlawanan.
Migi Vox melayang di depan wajahnya dalam bola kristal cahaya berwarna biru laut, meringkuk seperti embrio.
Begitu juga dengan Nazareth, pemuda itu juga meringkuk dalam bola kristal lebih besar yang mengambang di atas kolam pemandian obat seperti bayi dalam kandungan.
Mikhail duduk bersila di tepi kolam dengan sikap yang sama dengan istrinya di seberang kolam.
Bibi Gavriil menarik napas pelan dan dalam, kemudian membuka matanya perlahan. "Ambisi dan kecemasan," gumamnya dengan alis bertautan. "Mike… menurutmu, kejahatan apa yang bisa dilakukan oleh kecemasan?" ia bertanya pada suaminya yang masih berkonsentrasi menyalurkan energi cahaya ke bola kristal yang membungkus tubuh Nazareth.
Mikhail menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, lalu membuka matanya. "Paranoid bisa melakukan apa saja," jawabnya tanpa ekspresi.
"Paranoid," ulang istrinya dalam gumaman pelan. Dahinya berkerut-kerut, mencoba berpikir keras. "Kalau begitu… kewaspadaan Migi Vox akan menjadi tumpul," katanya masih dalam gumaman pelan.
"Peri pelindung memang tidak seharusnya memiliki kewaspadaan," sahut Mikhail sambil beranjak dari tempatnya, kemudian berjalan memutari kolam menghampiri istrinya. Ia membungkuk mengulurkan sebelah tangannya ke arah Gavriil dan membantu wanita itu berdiri. "Pada dasarnya insting peri pelindung hanya bereaksi pada kendali pemiliknya."
Gavriil Claus memandangi bola kristal Nazareth dengan tatapan prihatin.
.
.
.
Morfeous Academy, Kota Ilusi…
Hari keempat, babak pertarungan sepuluh besar, Evelyn benar-benar dihadapkan dengan Cleon Jace.
Altair bertukar pandang dengan Xena Moz yang memilih bergabung di tempat duduknya setelah ia kehilangan banyak anggota kelompoknya. Hanya tinggal Xena Moz yang tersisa dari anak aset Lady Die.
Cleon Jace bertubuh tinggi langsing namun berotot. Mengingatkan Evelyn pada lawan pertamanya di Arena Debut. Ditambah peri pelindung senjata paling kuat dengan level dua puluh enam.
"Benar-benar ancaman bagi si rumput liar," gumam beberapa orang.
"Aku bertaruh hari ini Si Rumput Liar akhirnya akan mengeluarkan cakra spiritualnya," kata yang lainnya di bangku penonton.
"Memangnya cakra macam apa yang bisa dimiliki tanaman tak berguna?" cemooh yang lainnya lagi.
Cleon Jace menghentakkan kakinya di lantai arena hingga meninggalkan suara berdebam nyaring yang mengintimidasi sebelum akhirnya mengeluarkan cakra dan peri pelindungnya.
Evelyn memundurkan kakinya dan menekuknya sedikit dengan waspada. Kedua tangannya terkepal di depan wajahnya.
Cleon Jace menggeram sambil mengayunkan palunya ke arah Evelyn. "Berani meremehkanku!"
Evelyn melompat ke samping dan memantul-mantul menghindari serangan bertubi-tubi yang dilontarkan Cleon dengan membabi-buta.
Dia adalah tipe kekuatan dan pertahanan, Evelyn mengingatkan dirinya. Pertahanannya sangat kuat, tapi serangan lemah. Keunggulannya adalah mengintimidasi dan menggertak.
"Peri pelindung palu memang peri pelindung terkuat di muka bumi. Tapi juga menguras energi cahaya paling banyak!"
Kata-kata ayahnya terngiang di benak Evelyn. Itu dikatakannya ketika mereka pergi berburu saat Evelyn masih kecil.
"Peri pelindung palu dengan karunia cahaya penuh alami bisa berhasil. Tapi peri pelindung palu dengan karunia cahaya lemah hanya bisa mencapai lima teknik pertahanan dan tiga teknik serangan."
Aku hanya perlu menghindar beberapa saat sampai energi cahayanya semakin habis, kata Evelyn dalam hati.
Cleon mengaum seperti singa ketika mencoba mengeluarkan teknik kedua.
BUUUUMMMM!
Cleon memukulkan palunya di lantai dan seketika ukuran palu itu membengkak dua kali lipat.
Evelyn melompat ke belakang tanpa mengurangi kewaspadaannya. Lalu kembali memasang kuda-kuda.
"Keluarkan teknik cahayamu, Little Girl!" Cleon berteriak lantang sambil melemparkan palu raksasanya ke arah Evelyn dengan teknik tertentu hingga palu itu berputar-putar di udara mengejar Evelyn.
Evelyn melentingkan tubuhnya ke belakang dalam posisi kayang, namun bersamaan dengan itu, palu Cleon tiba-tiba menukik dan memutar balik, kemudian menghantam lututnya.
BUGH!
Evelyn terpental ke sisi panggung arena.
Xenephon menegang dan memucat. Nyx Cornus menelan ludah dan tergagap.
Evelyn terjerembab di lantai dengan posisi meringkuk.
"Tampaknya keangkuhan Evelyn Katz akan berakhir di babak sepuluh besar," dengus beberapa peserta yang masih bertahan.
Wasit melesat turun menghampiri Evelyn, "Evelyn Katz, apakah kau ingin menyerah?"
Evelyn menarik bangkit tubuhnya dari lantai dengan lutut gemetar. Kedua lutut itu terasa kebas, lalu berangsur-angsur berganti rasa sakit yang spesifik. Ia menggeleng dan melangkah ke tengah dengan gemetar.
"Keluarkan saja cakramu, Eve!" harap Altair dalam bisikan lirih.
Seolah-olah bisa mendengar bisikan Altair, Evelyn tiba-tiba menoleh pada Altair.
Pria itu mengangguk mengisyaratkan Evelyn untuk menyerah pada janjinya. Aku tidak keberatan, tatapan Altair meyakinkannya.
Evelyn memaksakan senyum dan kembali memasang kuda-kuda. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa ia akan segera mengeluarkan cakra maupun peri pelindungnya.
"LANCANG!" Cleon menggeram seraya mengempaskan palunya ke lantai sekali lagi. Ukuran palu itu sekarang membengkak tiga kali lipat.
Para penonton menahan napas.
Xenephon menatap Evelyn dengan cemas. Keluarkan saja! harapnya dalam hati. Kekuatan peri pelindung senjata bisa meremukkanmu.
Cleon membungkuk memegangi gagang palunya dan menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berkonsentrasi mempersiapkan teknik ketiga. Kedua lututnya sudah cidera, pikirnya. Dia takkan mampu bertahan kali ini. "Masih tidak mau mengeluarkan cakramu?" geramnya dengan suara yang menggelegar, suara yang dihasilkan dari dasar perut.
Evelyn kembali memasang kuda-kuda yang sama seperti semula.
Cleon tersenyum miring. Gadis bodoh, katanya dalam hati. Kau akan berakhir kali ini. Aku sudah bisa membaca gerakanmu dengan kuda-kuda yang sama. Kuda-kuda pertama, menghasilkan lompatan-lompatan gesit hingga memutar tubuhnya di udara. Kuda-kuda yang sama kedua menghasilkan lompatan salto.
Melalui pertimbangan-pertimbangan itu, Cleon akhirnya mengerti apa yang harus dilakukan. Ia menyalurkan tenaga dalamnya melalui tangannya ke ujung palunya.
Evelyn menekuk lututnya sedikit dan menghela napas dalam-dalam, kemudian mulai berkonsentrasi pada ketiga jantungnya. Kuharap kau berhasil, sisi dirinya yang pesimis memperingatkan. Ini adalah cara terakhir untuk mempertahankan janjinya pada Altair.
Lantai di bawah kakinya mulai bergetar. Pertama-tama hanya di sekeliling kakinya, pelan dan tidak kentara, lalu berangsur-angsur mulai merambat semakin lebar, namun getarannya masih terasa lemah.
Para juri mengerutkan dahi.
"Apa yang dia lakukan?" Orang banyak mulai bertanya-tanya.
"Kurasa dia cidera," bisik para wanita.
"Dia mungkin sudah tak sanggup!" para guardian menyimpulkan.
"Tidak---tunggu!" salah satu guardian menginterupsi.
Guardian lainnya spontan menoleh pada guardian itu dan membeku. Mereka juga merasakannya.
Aula itu berguncang, awalnya pelan, lalu dalam sekejap berubah menjadi guncangan besar yang membuat seluruh tempat terdengar berkeretak.
"Apa yang terjadi?" semua orang mengedar pandang.
"Gempa!" pekik semua orang, lalu tercengang begitu menyadari lantai arena mulai retak.
Cleon terperanjat dan menunduk melihat retakan di bawah kakinya, lalu terkesiap mendapati Evelyn sedang memejamkan matanya dengan alis tertaut penuh konsentrasi. Ternyata dia yang melakukannya! pikirnya terkejut.
Dan sebelum ia dapat mengayunkan palunya ke arah Evelyn, lantai di bawah kakinya terkuak membentuk lubang besar yang membuatnya terperosok.
BRUAK!
Detik berikutnya, Evelyn menjentikkan jarinya dan dalam sekejap sulur tanaman merambat dari telapak tangannya ke arah Cleon dalam kecepatan luar biasa yang secara otomatis memenuhi lubang dan mengubur palu dan seluruh tubuh Cleon.
Para penonton spontan menahan napas.
"Mustahil!" salah satu juri terperangah menatap Evelyn.
Xenephon dan Nyx Cornus mengerjap bersamaan.