
Nazareth mendarat di depan mulut gua di sisi Migi Vox yang masih melayang seperti obor. Rambut dan jubah keduanya berkibar-kibar seperti sedang tenggelam di dalam air. Permata di ikat kepala mereka menyala biru terang seperti laser.
Setiap pijakan kaki Nazareth meninggalkan berkas cahaya putih berbentuk cakram bercorak simbol-simbol astrologi di permukaan tanah.
Bola-bola cahaya berwarna-warni seperti kelereng bermunculan dari berbagai penjuru tempat, beterbangan ke arah Nazareth dan menyelubunginya seperti miliaran bintang mengitari matahari.
"Putra Cahaya!" Victoria dan semua peri vampir serentak berlutut ke arah Nazareth.
Di sisi lain pegunungan, Salazar Lotz baru saja berhasil menemukan tanaman obat yang disebut-sebut sebagai jamur pemulih, bentuknya sama seperti jamur amanita—jamur beracun berwarna merah bertotol putih namun bercahaya. Namanya juga jamur peri!
Di dunia peri apa yang tidak bercahaya?
Itulah sebabnya negeri peri juga disebut kota cahaya.
Salazar Lotz baru saja selesai memetik jamur itu beberapa butir ketika tiba-tiba cahayanya menguap dan padam. Lalu sebutir bola cahaya sebesar biji kacang hijau melompat keluar dari jamur itu dan melayang menjauh.
Apa yang terjadi? pikirnya bingung. Lalu tersentak dan mengedar pandang.
Rupanya bukan hanya jamur yang baru dipetiknya, seluruh tanaman bercahaya di sekelilingnya juga meredup. Serpihan cahaya berbentuk lingkaran berwarna-warni dari yang paling halus hingga seukuran kelereng, beterbangan seperti dandelion, menuju satu titik yang sama entah di mana.
Salazar mendongak menatap langit yang mendadak terang, bahkan tabir batas Hutan Kegelapan seakan tersibak.
Apa yang menyebabkan seluruh elemen cahaya itu terhisap seluruhnya? ia bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu bergegas kembali ke Hutan Kegelapan.
Hutan Kegelapan itu sudah terlihat terang benderang sekarang, semburat cahaya terbersit dari balik gunung.
Nyx Cornus dan Lady Die terperangah.
Di sisi lainnya, Arsen Heart dan anak-anak aset mereka juga melihatnya. Bahkan Cleon yang baru saja membuka mata seusai meditasinya.
"Di mana Evelyn?" suara Nazareth terdengar seperti desau air bah di kejauhan.
Pria itu menghujamkan tatapan tajam ke arah Victoria, dengan mata menyala-nyala.
Dia datang untuk Evelyn? pikir Victoria terkejut.
"I'm here!" teriak Evelyn sambil menghambur menyongsong Nazareth.
Tapi di luar dugaannya, Nazareth tiba-tiba melontarkan energi cahaya berbentuk kubah dari telapak tangannya ke arah Evelyn, dengan tatapan tetap terpaku pada Victoria.
GLAAAAAAARRR!
Ledakan cahaya itu melemparkan Evelyn sekali lagi dan mengempaskan gadis itu ke dinding tebing, lebih keras dari serangan Migi Vox tadi.
Evelyn menjerit dan seketika Nazareth tersentak, lalu mengedar pandang. Tapi tatapannya masih terlihat nanar tanpa cahaya kesadaran.
"Nazareth!" pekik Evelyn dengan suara tercekat, "Ini aku!"
Seorang peri vampir membantu Evelyn berdiri dan menopangnya.
"Nazareth!" ulang Evelyn terengah-engah, lalu berjalan terseok-seok ke arah Nazareth. Sebelah tangannya terulur ke arah pria itu sambil terus memanggil namanya, mencoba menyadarkannya.
Tatapan Nazareth akhirnya bergulir ke arah Evelyn. Lalu berhenti. Tapi bukan Evelyn yang sedang berjalan sempoyongan setengah membungkuk menekuk perutnya yang dilihat Nazareth. Melainkan Evelyn yang terkapar—entah mati atau sekarat, yang jelas gadis itu tidak bergerak di dekat salah satu dari kuda-kuda kereta pengangkut. Sejumlah pria membungkuk di sekelilingnya.
Mantel armor gadis itu basah oleh keringat bercampur darah, sementara sebelah bahunya terkoyak seperti habis dimangsa binatang buas.
Nazareth menatap luka itu dengan tatapan suram. Wajahnya menegang. Lalu meraung seperti bintang buas. Dan seketika itu juga ia menyerang membabi-buta, melontarkan semburan api ke seluruh tempat seperti gunung meletus.
Para peri vampir, bahkan seluruh penghuni Hutan Kegelapan tersentak dan berpencaran.
Tapi Evelyn menyentakkan tangannya, melepaskan diri dari rengkuhan Victoria dan memasang kuda-kuda.
"Eve!" Victoria memekik cemas. Tapi salah satu pengawalnya menyergap pinggangnya, sementara pengawal lainnya merangsek ke depan untuk membentenginya. "Eve---menyingkir dari sini!" Victoria berteriak lagi. Bersamaan dengan itu dua pengawalnya menyeret Victoria dengan sedikit paksaan dan membawanya terbang ke tempat yang aman.
"Nazareth! Sadarlah!" teriak Evelyn seraya menjejakkan sebelah kakinya ke permukaan tanah dengan teknik penyatuan tiga jantung yang dalam sekejap menyebabkan seluruh tempat kembali bergetar. Lingkaran-lingkaran cahaya berbentuk cakram berwarna-warni berkeredap seperti kilat di sekeliling tubuh Evelyn.
Hutan Kegelapan itu kembali bergemuruh, berguncang dan berkeretak di samping juga menyala-nyala, hingga tempat itu tak pantas lagi disebut Hutan Kegelapan.
Kedua mata Nazareth serentak menyipit, menghujamkan tatapan tajam pada Evelyn seraya mengetatkan rahang. Lalu menggeram dan melontarkan energi cahaya berbentuk bola api sebesar batu gunung sekali lagi ke arah Evelyn.
DUAAAAARRRR!
Bola api itu meledakkan salah satu bukit batu di belakang Evelyn sementara gadis itu melejit menghindari serangan Nazareth.
Bersamaan dengan itu, sejumlah serigala level seratus bermunculan dari sudut-sudut hutan, sementara sekelompok peri vampir bersayap gelap mengepung dari udara. Beberapa peri monster bersayap lainnya membantu mereka, membentuk pusaran gelap di atas kepala Nazareth.
Terdengar auman keras dan lolongan nyaring di mana-mana.
Monster-monster raksasa bermunculan seperti parade militer. Goliath, kingkong, beruang besar, hingga panda raksasa, bahkan gajah dan jerapah, juga sejumlah dinosaurus, berduyun-duyun menyerbu Nazareth dari berbagai penjuru hutan.
Monster-monster raksasa air mencuat dalam berbagai bentuk dari dalam laut di sudut jauh Hutan Berburu Peri Monster, berkeriap dan berhamburan menuju pantai.
Para pengawal kekaisaran yang ditempatkan di sekitar Hutan Berburu Peri Monster merasa terusik oleh kegaduhan itu. Beberapa dari mereka mulai bertindak dan melesat ke dalam hutan.
Bersamaan dengan itu, Lady Die melesat ke arah pusat kegaduhan itu bersama Arsen Heart dan Salazar Lotz. Anak-anak aset mereka mengikuti di belakang mereka, disusul Nyx Cornus dan Xenephon yang masih cidera.
Nazareth mengedar pandang dengan raut wajah murka.
Evelyn menyentakkan telapak tangannya di sisi tubuhnya, kemudian menerjang ke arah Nazareth sembari melontarkan peri pelindungnya.
Migi Vox menerjang gadis itu dengan tendangan memutar yang memancarkan cahaya terang keemasan yang menyilaukan.
Evelyn terhempas ke belakang, namun bersamaan dengan itu, sulur tanamannya menyergap pinggang Migi Vox dan melilitnya.
Nazareth menggerak-gerakkan kedua tangannya seakan sedang menari, kemudian melejit ke udara, energi cahaya berbentuk cakram berkeredap keluar dari pinggangnya kemudian membesar dengan sentakan keras, menyapu seluruh tempat, menerjang semua gerakan yang coba mendekatinya.
Evelyn turut tersapu bersama mereka.
Begitu juga dengan teman-temannya dan para guardian mereka.
"Oh, s h i t!" gerutu Lady Die sambil menarik bangkit tubuhnya. "Tidak guardiannya, tidak anak asetnya… tidak ada bagus-bagusnya. Benar-benar merepotkan!"
Lady Die baru saja bersiap untuk memasang kuda-kuda, tapi Arsen Heart kemudian merenggut bahunya, mengisyaratkan Lady Die untuk berhenti. "Lihat!" katanya seraya menunjuk ke puncak gunung di seberang mereka.
Sesosok makhluk seperti laba-laba melayang keluar dengan sulur-sulur raksasa berkepala ular—seperti rambut Medusa.
"Eve!" Electra dan teman-temannya memekik bersamaan.
Evelyn mengangkat lurus sebelah tangannya di atas kepalanya dengan jemari membentuk cakar menghadap ke atas. Tangan lainnya masih menahan sulur tanaman yang melilit Migi Vox di sisi tubuhnya. Awan di atas kepalanya seakan terkuak dan menyemburkan cahaya putih terang berkilat-kilat.
Seluruh penghuni Hutan Kegelapan, bahkan para penjaga berbaju zirah yang baru tiba di tempat itu terkesiap. Begitu pun teman-teman Evelyn dan para guardian mereka.
Detik berikutnya, sesosok pria paruh baya berbaju zirah muncul di belakang Evelyn dalam bentuk gambar transparan yang bercahaya seperti hologram sebesar gunung, sebelah tangannya menggenggam pedang berwarna api transparan yang berkilat-kilat seperti halilintar.
Rodrigo Knight!