
"Ini semua salahku," gumam Xenephon dengan raut wajah muram. Ia menatap lepas keluar jendela dengan tertunduk. "Tidak seharusnya aku menempatkan Naomi di sisimu."
Nazareth duduk tertunduk di sisi tempat tidur Evelyn dengan mulut terkatup. Sebelah tangannya mengelus-elus lembut kepala Migi Vox, sementara tatapannya terpaku pada wajah polos Evelyn yang tidak sadarkan diri.
Migi Vox sudah terlihat jauh lebih tenang dan kembali memasang wajah polos anak balita. Maksudnya bayi setan!
"Aku terlambat menyadarinya," sesal Xenephon. "Tak heran selama ini Migi Vox selalu waspada melihat Naomi. Kau tak nyaman berada di sisinya."
Nazareth tetap bergeming. Tatapannya tidak berpaling dari Evelyn.
"Lain kali katakan kalau kau merasa tak nyaman dengan orang-orangku," imbuh Xenephon seraya berbalik dari jendela dan menoleh pada Nazareth.
"Bukan salahmu," gumam Nazareth tanpa ekspresi. "Aku tidak mengendalikannya dengan baik."
Xenephon mendesah berat. Lalu tersenyum masam. "Sejujurnya aku lebih suka Vox dibanding dirimu," gumamnya.
Nazareth mengerjap dan berpaling pada Xenephon.
"Kalau aku jadi kau, aku juga akan membunuh Naomi!" kata Xenephon.
Naomi adalah pengawal bayangan yang ditempatkan Xenephon di sisi Nazareth. Lulusan terbaik Akademi Mata-mata milik Xenephon di bawah naungan Ordo Angelos.
Tapi gadis itu diam-diam jatuh cinta pada Nazareth, dan dibutakan oleh cemburu sejak kedatangan Evelyn di estat Nazareth.
Bagaimana tidak? Selama ini, hanya Naomi satu-satunya wanita yang selalu berada di tempat itu dan mendampingi Nazareth dari waktu ke waktu.
Sejak kedatangan Evelyn, Naomi merasa dirinya tidak lagi dibutuhkan kecuali hanya menjaga estat, sementara Nazareth selalu bepergian dengan Evelyn dengan didampingi langsung oleh Xenephon.
Sebelum ada Evelyn, Xenephon tidak terlalu sering keluar dari Balai Ordo Mulia kecuali dalam rangka pencarian bakat tahunan dari kota ke kota di seluruh negeri.
Sekembalinya mereka dari Kota Fortress, Xenephon mengundurkan diri dari kelompok pemantau pencarian bakat tahunan dan menghilang. Lalu kembali dengan Evelyn.
Sejak saat itulah dunia Naomi serasa ditunggang-balikkan dan kebencian menguasainya. Lalu diam-diam mengikuti mereka ke kota ini untuk melenyapkan Evelyn karena ia tahu jika ia menghabisi gadis itu di estat Nazareth, ia akan menjadi satu-satunya tersangka.
Tapi di Kota Gerimis…
Pengawal bayangan dengan metode pembunuhan yang sama berkeliaran di mana-mana.
Kota Gerimis adalah tempat yang tepat untuk mendapat alibi, pikirnya.
Tapi siapa sangka Migi Vox yang ia kira hanya boneka marionette yang dikendalikan dengan benang, yang disebut-sebut sebagai peri pelindung mutasi itu menyadari keberadaannya di tengah-tengah orang banyak meskipun ia telah berbaur dan mengubah penampilannya seperti pengunjung lain dari kalangan bangsawan.
Nazareth tidak menyadarinya. Migi Vox selalu haus darah di tengah orang banyak. Jadi ia mengira Migi Vox sedang mengincar mangsa ketika boneka itu tiba-tiba menoleh ke satu titik dengan tatapan tajam. Itulah sebabnya ia terus-terusan memuntir kepala boneka itu untuk tetap menatap lurus ke depan.
Xenephon menyandarkan punggungnya pada bendul jendela, menatap Nazareth dari seberang ruangan. Ia bisa merasakan kelembutan terpancar dari tatapan pria itu selama ia memandang Evelyn.
Entah kenapa hal itu membuat Nazareth Vox terlihat begitu rapuh sekaligus mempesona.
Tapi pada saat yang sama sisi jahatnya yang disegel di tubuh Migi Vox semakin menguat seiring perasaannya yang kian mendalam.
Kekhawatiran Nazareth pada Evelyn memperkuat kewaspadaan Migi Vox yang hanya mengerti cara membunuh saat mengendus bahaya.
Tapi akhirnya Xenephon tahu perasaan Nazareth pada Evelyn tidak tanggung-tanggung meski pria itu tak mau mengakuinya.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat Nazareth begitu cemas, begitu peduli pada makhluk yang disebut perempuan.
Pada dasarnya Nazareth adalah orang yang sangat peduli pada apa pun sejak semula.
Ya, apa pun!
Kecuali perempuan.
Evelyn adalah satu-satunya perempuan terkuat yang bisa meruntuhkan gunung es tertinggi di muka bumi. Entah karena bakat lahirnya yang istimewa atau karena pesonanya yang luar biasa.
Kenapa anugerah selalu datang bersama kutukan? pikir Xenephon. Ia menarik tubuhnya dari jendela dan bergegas ke arah pintu. "Aku akan mengikuti para pengawal bayangan itu untuk memastikan apakah mereka melakukanya dengan baik," katanya pada Nazareth.
Nazareth tersenyum samar menanggapinya. "Aku percaya pada mereka," katanya setengah menggumam.
Xenephon tidak menggubrisnya, hanya melambaikan tangannya sekilas tanpa menoleh lagi.
Nazareth tahu wacana membuntuti para pengawal bayangan itu hanya alasan Xenephon untuk meninggalkannya bersama Evelyn. Dan ia tahu persis dirinya tak bisa menyembunyikan apa pun dari ahli visi yang satu itu.
Nazareth mendesah bosan. Kesunyian yang menyiksa menyergap dirinya setelah kepergian Xenephon. Ia kembali tertunduk memandangi wajah Evelyn yang tetap bersinar meski sedikit pucat. Kejenuhannya langsung menguap melihat wajah Evelyn.
Rasanya ia rela duduk berjam-jam di sana asalkan bisa terus memandangi wajah mungil bersinar itu tanpa harus berpura-pura.
Migi Vox mendongak menatap Nazareth dengan seringai khas yang menjengkelkan.
Tiba-tiba kelopak mata Evelyn bergetar.
Migi Vox tersentak dan melompat dari pangkuan Nazareth, lalu membungkuk di atas kepala Evelyn dengan mata dan mulut membulat.
Evelyn mengerang lemah dan menggumam tak jelas, kemudian secara perlahan membuka matanya.
Migi Vox menoleh pada Nazareth dengan ekspresi senang seorang anak kecil.
Nazareth tersenyum tipis.
Evelyn mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengernyit. Lalu tersentak menyadari guardiannya berada di kamarnya. "Master?" pekiknya terkejut.
Nazareth tetap bergeming memandangi Evelyn dengan raut wajah datar.
Migi Vox merangkak naik ke pangkuan Evelyn setelah gadis itu duduk.
Evelyn tertunduk dan terkesiap, tapi lalu tersenyum dan mengusap kepala boneka itu. "Apa yang terjadi?" ia bertanya sambil mengangkat wajahnya lagi, menatap guardiannya.
"Penyusup," jawab Nazareth. "Seseorang menyelinap ke dalam kamarmu dan membiusmu."
Evelyn membelalakkan matanya, menempelkan ujung jemari di mulutnya. "Bola asap itu…" desisnya.
"Beristirahatlah!" pangkas Nazareth tidak peduli.
Evelyn spontan terperangah. Bukankah aku baru saja bangun? pikirnya.
"Aku akan menjagamu," kata Nazareth lagi.
Migi Vox mendongak dan menyeringai lebar.
Nazareth memelototinya dengan ekspresi datar.
Evelyn tersenyum gugup dan mengusap bagian belakang kepalanya dengan salah tingkah.
"Tidurlah," desak Nazareth dengan bujukan tegas. Mata rubahnya menatap ke dalam mata Evelyn. "Pengaruh obat bius hanya dapat dinetralisir dengan tidur yang berkualitas. Tidak perlu memikirkan pertarungan untuk sementara waktu."
Evelyn mengulum senyumnya dan mengangguk tipis untuk meyakinkan guardiannya bahwa ia sudah mengerti.
Nazareth merenggut tengkuk Migi Vox dengan satu tangan seperti menjinjing seekor kucing dan mengangkatnya dari pangkuan Evelyn, sementara gadis itu kembali membaringkan tubuhnya.
Migi Vox meronta-ronta dengan kedua tangan mengepak-ngepak di sisi tubuhnya mengais udara kosong, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Nazareth.
"Biarkan dia beristirahat, Vox!" bujuk Nazareth dalam gumaman rendah.
Migi Vox tak mau menyerah dan terus memberontak, hingga, Nazareth mengacungkan telunjuk di depan wajahnya dan seketika boneka itu terdiam, menatap ujung jari telunjuk itu dengan ekspresi bingung seorang anak kecil.