Poison Eve

Poison Eve
Chapter-139



Tim Akademi Martial Art Hermes itu terdiri dari para Master Spiritual tipe penyerang. Rata-rata mereka memiliki peri pelindung senjata. Sabit, panah, tombak, tongkat bambu dan garpu penggaru.


Formasi mereka berderet sejajar dengan sikap kuda-kuda yang siap menerjang.


Benar-benar ancaman bagi tim Evelyn, mengingat jenis peri pelindung sabit dan garpu penggaru itu merupakan pembasmi tanaman liar. Dan peri pelindung panah, sangat tepat untuk memburu elang, ceetah dan beruang.


Tampaknya kali ini tim Morfeus Academy hanya bisa mengandalkan pemilik peri pelindung palu, pikir beberapa orang di Balai Mulia Shangri-La.


Evelyn menyentakkan telapak tangannya di sisi tubuhnya dan seketika peri pelindungnya terlontar keluar dalam bentuk cambuk.


"Kau yakin ingin menggunakan itu?" cemooh anggota tim lawan dengan peri pelindung sabit.


Evelyn mengayunkan cambuknya ke samping, dan seketika cambuk itu berubah menjadi pedang.


Pemilik peri pelindung sabit itu menyeringai, "Begitu lebih baik!" katanya sambil menerjang ke arah Evelyn. Rekan-rekannya turut menerjang kecuali pemilik peri pelindung panah.


Pemilik peri pelindung panah itu mulai melontarkan anak panahnya ke arah Xena.


Xena melesat dengan teknik teleportasi dan dalam sekejap sudah berpindah tempat ke belakang pemilik peri pelindung panah itu sambil menyapukan tendangan memutar di udara.


BUGH!


Tumit sepatu armornya mendarat di tengkuk si pemilik peri pelindung panah.


Pada saat bersamaan, Evelyn mengayunkan pedangnya ke arah pemilik peri pelindung sabit dan seketika pedang itu berubah lagi menjadi cambuk yang secara spontan menyergap pinggang pemuda itu, kemudian mencampakkannya ke lantai.


BRUK!


"Mana yang lebih baik?" tanya Evelyn dengan ekspresi mencemooh.


Pemilik peri pelindung sabit itu menggeram seraya menarik bangkit tubuhnya dan kembali menerjang dengan gerakan memutar di udara.


Electra melesat dan terbang meliuk, kemudian mendaratkan tendangan di pinggang pemilik peri pelindung sabit itu setelah sebelumnya berhasil melempar pemilik peri pelindung tongkat bambu dengan tendangan yang sama.


Dari sisi lain, Cleon sedang bertarung sengit dengan pemilik peri pelindung garpu penggaru, sementara Altair bertarung dengan pemilik peri pelindung tombak.


Pertarungan memasuki adu teknik kedua.


Evelyn kembali mengubah peri pelindungnya menjadi cambuk. Masih bertahan dengan teknik pertama.


Electra bersiap di sampingnya dalam sikap kuda-kuda. Sosok ilusi ceetah di belakangnya dalam posisi siap menerkam.


Detik berikutnya pemilik peri pelindung sabit dan tongkat bambu melontarkan peri pelindung mereka bersamaan. Kedua peri pelindung itu terbang memutar seperti gangsing ke arah Evelyn dan Electra.


Kedua gadis itu melejit ke udara dengan gerakan salto, kemudian mendarat di atas kedua peri pelindung senjata itu dan ikut berputar-putar.


Evelyn melontarkan peri pelindungnya selama ia berputar-putar di udara dan menebarkan sulur tanaman ke segala penjuru arena, sementara Electra menjejakkan kakinya pada peri pelindung tongkat bambu untuk melambungkan tubuhnya lebih tinggi, lalu kembali melakukan salto di udara.


Bersamaan dengan itu, sulur tanaman Evelyn berubah bentuk menjadi tiruan dirinya dalam jumlah banyak, kemudian melontarkan sulur tanaman dari telapak tangannya masing-masing ke arah para peserta dari tim lawan.


Dan dalam sekejap kelima pemuda di tengah arena itu sudah terikat di sana-sini.


Electra terbang menukik ke arah mereka sambil mengayunkan cakar peri pelindungnya.


Xena melesat ke arah yang sama dengan tendangan memutar.


Cleon dan Altair menerjang bersamaan dari arah depan.


Dan…


GLAAAAAAAARRRRR!


Arena meledak oleh benturan energi gabungan mereka.


Para hadirin di Balai Mulia Shangri-La melengak.


Entah kenapa pertarungan yang diprediksi para hadirin akan lebih sengit dibanding pertarungan sebelumnya, antara Tim Morfeus Academy melawan Tim Dua Akademi Kekaisaran Neraida, nyatanya tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.


Tak butuh waktu lama bagi tim Morfeus Academy untuk membuat para pemilik peri pelindung senjata itu berkata, "Kami mengaku kalah!"


Para hadirin di Balai Mulia Shangri-La melemas sambil berharap dalam hati semoga tim terakhir mereka mendapat giliran terakhir.


Meski jika tim Morfeus Academy masih bertahan, paling tidak mereka mungkin sudah kelelahan.


Dan harapan mereka pun terkabul.


Portal teleportasi menghisap Tim Akademi Sihir Dewa Musik Sandalphon setelah itu.


Evelyn balas tersenyum, lalu mengangguk pada Anastasia Gelsi dengan penuh rasa hormat, kemudian melayangkan sebelah tangannya mempersilahkan.


Ia tahu tim Akademi Sihir Dewa Musik membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyiapkan teknik cahaya mereka.


Tim Akademi Sihir Dewa Musik itu mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindung mereka masing-masing.


TING!


Alunan musik mulai berdenting.


Para hadirin di Balai Mulia Shangri-La terlihat penasaran.


Negeri mereka tidak memiliki aliansi master spiritual aliran sihir musik, dan ini adalah pertama kalinya mereka akan melihat metode pertarungan Master Spiritual aliran sihir musik.


Benar-benar pilihan yang sulit! pikir Kaisar Shangri-La. Baik tim Akademi Militer Dewa Mimpi maupun tim Akademi Sihir Dewa Musik, keduanya bukan lawan yang sederhana. Satunya ahli ilusi, satunya ahli strategi.


Evelyn melangkah mundur dan menginstruksikan Xena untuk maju ke depan, "Gelombang sonar!" bisiknya.


Xena mengangguk.


"Semuanya berbaris di belakang Xena!" instruksi Evelyn pada yang lain. Lalu ia sendiri berdiri di bagian paling belakang.


"Dalam hitungan ketiga," pemandu acara menginstruksikan. "Satu… dua… mulai!"


"Formasi gabungan paralel!" instruksi Evelyn.


Electra menempelkan telapak tangannya di punggung Xena, Cleon menempelkan telapak tangannya di punggung Electra, Altair menempelkan telapak tangannya di punggung Cleon dan terakhir Evelyn menempelkan telapak tangannya di punggung Altair.


Musik orkestra mulai dimainkan. Tapi Evelyn dan teman-temannya tidak mendengar.


Suatu tabir transparan tercipta dari kedua tangan Xena yang bersilangan di depan wajahnya. Bentuknya seperti permukaan air yang beriak terkena tetesan embun. Dan kelima remaja Morfeus Academy itu terlihat seperti sedang tenggelam di dalam air.


Dan ketika energi cahaya berbentuk titinada menebar dan menjalar seperti sulur tanaman, mereka memantul kembali ke pemiliknya. Suara orkestra itu terdengar storing.


"A minor!" Alice menginstruksikan.


Musik berubah ke nuansa gelap seperti backsound dalam film-film horor.


"Atur aliran energi cahaya sepelan mungkin!" instruksi Evelyn.


Teman-temannya menarik sedikit aliran energi tenaga dalam mereka.


"G mayor!" teriak Alice. "Ketukan satu per empat!"


Tempo musik mulai meningkat.


"Teknik penyatuan tiga jantung!" instruksi Evelyn.


Lantai arena mulai bergetar.


"E mayor!" instruksi Alice bernada panik.


"Kekuatan cahaya penuh!" instruksi Evelyn.


DUAAAAARRRR!


Arena meledak menyemburkan cahaya menyilaukan dan angin kencang disertai gelegar halilintar.


Alice Morgan dan teman-temannya terpelanting ke arah yang berlawanan, lalu terpuruk dan bergelimpangan di lantai arena.


Para hadirin di Balai Mulia kedua negara menahan napas.


Nazareth bertukar pandang dengan Xenephon.


Catlyn Thunder mengerjap dan menelan ludah.


"Pertarungan berakhir!" Salah satu pemandu acara mengumumkan dengan ekspresi tegang. Matanya terbelalak menatap kelima gadis dari tim Akademi Sihir Dewa Musik yang berserak di lantai. Lalu menatap Evelyn dan teman-temannya dengan ekspresi ngeri. Mereka bahkan tak menyentuhnya, pikirnya.


"Pertarungan… dimenangkan oleh tim Morfeus Academy!" Rekannya mengambil alih.


Balai Mulia Neraida meledak oleh tepuk tangan spektakuler.


Para hadirin di Balai Mulia Shangri-La masih membeku antara tak yakin dan tak mengerti.


"Begitu saja?" pekik seorang pejabat bernada sangsi.