Poison Eve

Poison Eve
Chapter-94



"Karunia cahaya penuh alami… peri pelindung tak berguna…" pria berjubah misterius yang tak lain adalah Kefas Damon itu menggumam dalam bisikan kering yang terdengar seperti datang dari berbagai arah. "Apakah Apollo Katz sedang bercanda?"


Evelyn mengatupkan kedua matanya dan mengetatkan rahang, napasnya tercekat di tenggorokan. Paru-parunya serasa akan meledak. Kedua kakinya mengais-ngais udara kosong.


"Jadi… apa yang kau sembunyikan?" tanya Kefas dengan nada mendesak.


Di belakangnya, Cleon meronta-ronta di udara, mencoba mengeluarkan kekuatan spiritualnya, tapi energi cahaya dalam dirinya seakan tak pernah ada.


Sebagai Master Spiritual aliran penyihir tingkat kaisar dengan kekuatan spiritual level enam puluh, Kefas Damon bisa menekan kekuatan spiritual di bawah levelnya, di mana seseorang tak bisa menggunakan energi cahaya dalam jarak jangkauannya.


Di sisi lainnya, hidung Migi Vox mendadak berkerut-kerut, seperti marmut sedang mengendus-endus, kemudian tertunduk mengamati lingkaran cakra yang melilit di dadanya dengan ekspresi bingung seorang anak kecil.


"Ambisimu… sungguh tiada batas…" desis Evelyn di antara rahangnya yang mengetat. "Pak Tua!" ia menambahkan dengan nada mencela. Lalu mengerling ke arah Migi Vox.


Kefas menggemeretakkan giginya dan mengetatkan cengkeramannya di leher Evelyn. "Pak Tua?" geramnya tak senang. Lalu merenggut penutup kepalanya dengan tangan lainnya, kemudian menurunkannya.


Seraut wajah putih bak topeng marmer dengan struktur tulang yang kuat dan mengagumkan terpampang di depan mata Evelyn. Dari tampangnya bisa dipastikan usianya baru sekitar tiga puluh tahun.


Evelyn mengerjap dan menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana bisa? batinnya terkejut. Bukankah dia saudara kembar Bedros Damon?


Bedros Damon sudah berusia setengah abad dalam ingatan Evelyn. Setidaknya itulah yang dapat ia simpulkan ketika mereka bertemu di Hutan Berburu Peri Monster Kekaisaran.


Bagaimana bisa saudara kembar berlainan usia?


Benar-benar tak masuk akal!


"Kau terkejut?" tanya Kefas sambil tersenyum miring. "Atau terpesona?"


Evelyn mengetatkan rahangnya sekali lagi, menekan dengan kuat perasaan nyeri di tenggorokannya.


Paras penyihir itu memang luar biasa memukau, mungkin hampir setara dengan Nazareth. Pesonanya bahkan lebih mengerikan karena selain terkesan lebih misterius, Kefas Damon juga seorang penyihir. Dia bisa saja membuat takluk semua wanita hanya dalam satu jentikan jari. Sayangnya dia tidak peduli dengan wanita. Yang dipedulikannya hanya ambisi.


Di belakangnya, Migi Vox tiba-tiba melipat kedua kakinya, duduk bersila di udara. Kedua tangannya yang terikat sebatas perut di bagian atas sikut, bertumpu di atas kedua lututnya dengan telapak tangan menghadap ke atas. Jari tengah dan ibu jarinya tertaut membentuk huruf O.


Cleon melirik boneka itu dengan dahi berkerut-kerut.


Evelyn meliriknya juga, tapi segera mengalihkan perhatiannya pada Kefas sebelum pria itu menyadari apa yang dilakukan Migi Vox. "Berapa usiamu?" tanya Evelyn dengan suara tercekik, berusaha mengalihkan perhatian Kefas.


"Kenapa?" Kefas tersenyum miring. "Apakah akhirnya kau mulai tertarik untuk mengenalku lebih dekat?'


"Hanya bertanya," tukas Evelyn tersendat-sendat. "Bedros… saudara kembarmu, kan?"


"Jangan khawatir, Sayangku!" seloroh Kefas, sama sekali tidak manis. "Kami tidak setua itu."


"Apa maksudnya… kami tidak setua itu?" Evelyn mendesis lagi, semakin lirih dan tak berdaya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang!" sergah Kefas bernada datar. "So… maukah kau jadi kekasihku? Dengan begitu, kita tak perlu lagi saling menyimpan rahasia."


Cleon menggeram di belakangnya, kemudian meronta-ronta dengan gigi bergemeretak.


Migi Vox telah mencapai kedamaian batin. Kedua matanya tertutup. Tidak bergerak, tidak terusik oleh apa pun yang ada di sekitarnya. Bergeming sebagaimana layaknya boneka sungguhan.


"Kau…" suara Evelyn terdengar semakin lemah. Kelopak matanya bergetar dan mulai meredup. "Sebenarnya… lumayan tampan…"


Cleon tergagap dan menelan ludah.


Penyihir itu mengerjap dan memicingkan matanya, lalu membeku menatap Evelyn yang sudah terkulai dalam cengkeramannya.


"Eve!" Cleon memekik gusar dan kembali meronta-ronta. Jemari tangannya bergerak-gerak ketika ia berusaha mengulurkan tangannya ke arah Evelyn namun hanya meraih udara kosong. Cakra spiritual milik penyihir itu mengetat di pangkal lengannya, membuat kedua tangannya melekat semakin rapat di sisi tubuhnya, kedua sikutnya menekan diafragmanya, membuat napasnya semakin sesak.


Penyihir itu tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari leher Evelyn dan gadis itu jatuh terpuruk di tanah.


Bersamaan dengan itu, Migi Vox telah berhasil menyerap cakra spiritual milik Kefas.


Itulah yang sedang coba ia lakukan sejak tadi!


Sebagai peri pelindung parasit, menyerap daya hidup individu lain adalah keahlian Migi Vox. Ditambah sebagian kekuatan Nazareth disegel dalam dirinya, tentunya sebagian kecerdasan pemilik kekuatan itu juga ikut tersegel.


Lagi pula kekuatan spiritual Migi Vox di atas level Kefas!


Jadi, meski tingkat kewaspadaannya telah berkurang sejak dua segel di tubuhnya terbuka, kecerdasannya tetap tak bisa diremehkan.


Menyadari sesuatu terhisap keluar dari dalam dirinya, Kefas menyentakkan kepalanya ke samping dan menoleh ke belakang. Lalu menggeram murka seraya berbalik dan menerjang ke arah Migi Vox.


Tapi terlambat!


Migi Vox sudah berhasil menyerap sepuluh level dari kekuatan spiritualnya.


Dan…


SLASH!


Migi Vox melesat ke arah Kefas dengan tendangan memutar dan mendaratkannya di bawah telinga penyihir itu.


BUGH!


Kefas terhuyung ke samping. Bersamaan dengan itu, ia juga melontarkan cakra dari pergelangan tangannya seukuran gelang yang langsung membesar seiring dia melesat.


Begitu cakra itu mendekat ke arah Vox, Kefas mengayunkan sebelah tangannya dan seketika sosok ilusi tangan raksasa berbalut sarung tangan ketat berwarna hitam mengkilat menyembul keluar dari lingkaran cakra itu dan mencoba menyergap boneka itu.


GLAAAARR!


Benturan energi meledakkan suara menggelegar bersama badai cahaya.


Evelyn mengerjap dan membuka mata, tapi pandangannya masih berkunang-kunang. Kesadarannya masih timbul-tenggelam di tengah suara bising dan cahaya putih yang menyilaukan.


"Eve!"


Ia mendengar suara Cleon.


Lalu suara ledakan.


BUUUMMM!


Evelyn menarik duduk tubuhnya sambil mengernyit, lalu mengedar pandang dengan mata terpicing.


Migi Vox memantul-mantul di sekeliling bahu Kefas dengan tarian kematian. Memukul, menendang, mencakar. Sesekali melontarkan energi cahaya berbentuk kubah berwarna emas. Setiap gerakannya meninggalkan berkas cahaya berkilauan.


Evelyn menghela bangkit tubuhnya dan terhuyung, lalu terbatuk-batuk.


Kefas menoleh sekilas padanya seraya melontarkan energi cahaya berbentuk cakram seukuran roda kereta kuda ke arah Migi Vox, kemudian melejit ke arah Evelyn.


Migi Vox menghalau cakram itu dengan tendangan memutar di udara dan memantulkannya ke arah Kefas.


SLASH!


Kefas berhasil mengelak dengan lompatan salto. Lalu mendarat di permukaan cakram itu sambil mengayunkan tangannya ke arah Cleon, menarik cakra spiritualnya dan melejit tinggi meninggalkan pertempuran—melarikan diri seperti biasa.


Cleon jatuh terpuruk dan terbatuk-batuk.


Migi Vox melesat ke arah Kefas, tapi jeritan Evelyn kemudian membuat boneka itu menyentakkan kepalanya.


"Just enough!" pekik Evelyn sambil mengulurkan sebelah tangannya ke arah Migi Vox.


Migi Vox memutar tubuhnya dan berhenti di awang-awang, menelengkan sedikit kepalanya dengan ekspresi bingung seorang balita, lalu menghambur ke arah Evelyn dan menggelayut di leher gadis itu.


Evelyn mengusap-usap punggung Migi Vox untuk menenangkannya.


Tubuh mungil Migi Vox bergetar dan detak jantungnya menggebu-gebu. Pertempuran selalu membuatnya terlalu bersemangat.


Evelyn menoleh pada Cleon dan menghampirinya. "Are you okay?" ia bertanya cemas.


Cleon menarik bangkit tubuhnya dan memaksakan senyum. "It's ok!" jawabnya cepat-cepat.


Tubuh Migi Vox masih bergetar dalam dekapan Evelyn, jari-jari tangannya mencakar-cakar bahu Evelyn dengan gemas sambil menggemeretakkan gigi.



...Migi Vox...