Poison Eve

Poison Eve
Chapter-98



"Musim kompetisi sudah di depan mata," kata Xenephon dengan tatapan prihatin. "Dan kau masih tak bisa mengontrol diri sendiri," sesalnya. Ia berdiri bersilang tangan di depan dada, berdiri miring menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai jendela. Pandangannya menerawang lepas ke pekarangan samping kamar Nazareth.


Nazareth duduk bersila di depan meja tulisnya yang bergaya oriental. Memandangi kertas kosong yang disediakannya untuk mencatat hasil penelitian barunya.


Migi Vox duduk bersila di depan kertas itu sambil menoleh ke sana kemari menatap Nazareth dan Xenephon secara bergantian dengan wajah mendongak.


"Kita tak pernah tahu apa yang menunggunya di ajang kompetisi," gumam Xenephon sambil menoleh pada Nazareth.


Pria itu tidak menanggapinya.


Tapi Migi Vox mengerjap dan mendongak lagi ke arah Xenephon. Sebuah pertanda bahwa Nazareth sedang menunggu penjelasan selanjutnya.


"Kau memiliki segalanya, Earth!" desis Xenephon seraya memalingkan wajahnya lagi keluar jendela. "Tampan, kaya, berbakat. Apa yang kurang?" ia menambahkan sambil tersenyum miring. Lalu menoleh lagi pada Nazareth. "Dan kau tak terkalahkan!"


Migi Vox mengerjap dan menoleh pada Nazareth. Sebuah pertanda bahwa Nazareth tidak percaya diri.


Tak ada yang lebih mengerti Migi Vox selain Xenephon.


Bahkan Nazareth sendiri!


"Sayangnya… kau mudah dihancurkan oleh diri sendiri!" Xenephon menandaskan dengan ekspresi dingin.


Nazareth mengerjap dan mendesah tipis.


Keheningan menyergap mereka dalam waktu yang lama.


"Siap tak siap, Evelyn akan menjadi sorotan selama kompetisi," lanjut Xenephon setelah sejenak terdiam. "Sebagian besar pihak yang mengincar tulang cakra Apollo akan berada di sana."


Nazareth tetap bergeming. Tapi Migi Vox terlihat bingung seperti balita yang dititipkan pada orang asing.


Suara-suara berdebum dan berkeretak terdengar dari pekarangan belakang, disertai suara-suara menghardik, memekik dan menggeram para anak aset yang sedang berlatih. Sesekali tanah di bawah mereka bergetar.


"Performa Cleon Jace terus menurun seiring ambisi dan obsesinya," lanjut Xenephon. "Awalnya aku mengira karena cakra ketiga yang diserapnya dari goliath. Posesif, pesimis, tidak percaya diri, suka menggerutu, suka sembunyi dan… pencemburu," gumamnya seraya tersenyum masam, lalu mengerling ke arah Migi Vox. "Itu sifat goliath, Earth!"


Nazareth akhirnya mengerjap dan menatap Xenephon. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


Xenephon terkekeh tipis. "Kau mungkin bisa menutupinya dari semua orang," katanya bernada sinis. "Tapi Vox tak bisa membohongiku!"


Nazareth kembali tertunduk menatap kertasnya yang tidak bergerak dan tetap kosong.


"Kusarankan sebaiknya kau selesaikan urusanmu dengan Cleon Jace sebelum kompetisi!" Xenephon menasihati.


Nazareth mendesah lagi. Tapi lalu beranjak dari tempatnya. "Baiklah," katanya bernada dingin. Kemudian bergegas keluar kamar diikuti Migi Vox dan Xenephon di belakangnya.


Mencapai pekarangan belakang, latihan pertempuran antara anak-anak aset melawan keempat guardian serentak terhenti seiring kemunculannya. Semua orang membungkuk padanya dengan hormat tentara.


"Latihan berikutnya, satu lawan satu!" instruksi Nazareth. "Masing-masing kalian akan melawan salah satu dari kami."


Para guardian yang sedang membimbing latihan itu spontan menoleh pada Nazareth.


Evelyn dan teman-temannya saling bertukar pandang.


"Cleon!" panggil Nazareth bernada datar, tidak mempedulikan pandangan semua orang. "Kau akan melawanku!"


Migi Vox melongok dari balik bahu Nazareth dengan raut wajah bersemangat, lalu menelengkan kepalanya dan tersenyum miring.


Lady Die bertukar pandang dengan Salazar.


Arsen Heart menoleh pada anak asetnya dengan tak yakin.


"Baik, Sir!" Cleon membungkuk pada Nazareth dengan hormat tentara.


Xenephon tersenyum tipis. Nyx Cornus meliriknya dengan curiga.


Evelyn menatap Nazareth dengan alis bertautan.


Nazareth juga tidak mempedulikannya. Tanpa basa-basi pria itu melemparkan Migi Vox ke arah Cleon dan melontarkan tali cahaya dari ujung jemari di kedua tangannya, bersiap mengendalikan Migi Vox sepenuhnya.


Migi Vox melayang di depan Cleon dengan sikap kuda-kuda.


Cleon meregangkan kakinya, berdiri sedikit membungkuk dalam sikap kuda-kuda, dan mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindungnya.


GLAAAARRR!


Aura pembunuh menebar dari keduanya. Mereka saling menatap dengan sorot dingin namun tajam. Dan itu terasa seperti bukan permulaan sebuah latihan.


Nazareth menarik sebelah kakinya ke belakang, menekuk sedikit lututnya. Kedua tangannya terulur ke depan dengan jemari membentuk cakar. "Serang!" hardiknya.


Cleon melesat ke arah Nazareth dengan tendangan harimau yang secara otomatis segera dihalau oleh Migi Vox dengan tendangan memutar di udara.


SLASH!


Cleon mengayunkan peri pelindung palunya sambil menerjang sekali lagi ke arah Nazareth dengan gerakan memutar di udara.


Tapi lagi-lagi Migi Vox berhasil menangkisnya, juga dengan gerakan memutar di udara.


BLAAAASSSSH!


Semburat cahaya emas berpendar dari setiap gerakan Migi Vox. Boneka itu berhasil mendaratkan siku tangannya di pinggang Cleon.


Cleon terseret ke belakang dan terhuyung, tapi tak sampai jatuh. Ia meluruskan kembali tubuhnya dan memasang kuda-kuda lagi. Lalu memukulkan palunya ke permukaan tanah.


GLAAARRRR!


Palu itu membengkak dua kali lipat lebih besar.


Nazareth tersenyum tipis, lalu mengayunkan kedua cakarnya dalam gerakan-gerakan luwes yang secara otomatis membuat tangan dan kaki Migi Vox bergerak-gerak membentuk jurus-jurus yang tampak memukau.


Boneka itu menyeringai pada Cleon, mengisyaratkan sebuah tantangan.


"HIAAAAAAAT!" Cleon melambungkan dirinya ke udara dan mengangkat palunya di atas kepala dengan kedua tangannya, lalu mengayunkannya ke arah Migi Vox.


SLASH!


Migi Vox meliukkan arah terbangnya dan melejit ke belakang kepala Clean seraya menyentakkan telapak tangannya ke tengkuk pemuda itu.


BUGH!


Cleon tersungkur di udara dan meluncur ke bawah dengan wajah lebih dulu.


Nazareth melontarkan tali cahaya dari salah satu tangannya ke arah Cleon dan menjerat pemuda itu, kemudian menariknya mendekat.


GREPP!


Nazareth mencekik lehernya dengan satu tangan dan tersenyum dingin. Ia merunduk sedikit dan mendekatkan mulutnya ke telinga Cleon, kemudian berbisik, "Kau sudah melihatnya, kan?"


Cleon mengerjap dan terengah-engah, kelopak matanya bergetar.


Semua orang mengerjap menatap Nazareth dan Cleon dengan raut wajah ngeri.


Apa ini benar-benar latihan? pikir semua orang.


"Ya," desis Nazareth bernada intimidasi. "Dia milikku. Dan kau tahu apa artinya? Kau tidak punya kesempatan, Cleon Jace! Sejak awal dia adalah milikku. Itulah sebabnya kenapa dia ada di sini."


Cleon menelan ludah dengan susah payah. Peri pelindung palunya serasa menghantam ulu hatinya sendiri.


Nazareth menarik wajahnya dan tersenyum.


Migi Vox melejit ke atas kepala Cleon, lalu tertunduk melongokkan wajahnya dan menyeringai.


Cleon menggertakkan giginya, diam-diam mengeluarkan peri pelindungnya, lalu melontarkannya dengan teknik memutar. Peri pelindung palunya melesat ke udara dengan gerakan meliuk. "F u c k you!" geramnya pada Nazareth melalui gerakan mulut tanpa suara.


Nazareth mengetatkan rahangnya dan mencekiknya semakin keras.


Bersamaan dengan itu, palu Cleon berbalik arah dan berputar-putar seperti gangsing, yang dalam sekejap melesat ke tengkuk Nazareth.


Semua orang memekik dan terperangah.


Nazareth mengembangkan sebelah telapak tangannya di sisi wajahnya dengan jemari membentuk cakar menghadap ke belakang, dan seketika Migi Vox melesat ke belakang melewati bahunya, menerjang ke arah palu Cleon dengan tendangan lurus ke depan.


Dan…


GRLAAAAAAARRR!


Palu Cleon terhempas dan berkeredap menghilang. Detik berikutnya, Cleon terbatuk dan memuntahkan darah.


"Dan jangan pernah berpikir untuk menikamku dari belakang!" Nazareth menambahkan sambil melepaskan cengkeramannya di leher Cleon dan mendorong pemuda itu menjauh.


Cleon terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk dengan perut tertekuk.


Evelyn dan teman-temannya membeku, menatap Cleon dengan mata dan mulut membulat.


Xenephon membantu Cleon berdiri dan menuntunnya ke bilik pemandian obat.


"Selanjutnya!" Nazareth mengumumkan dengan raut wajah dingin. "Evelyn melawan Lady Die, Xena melawan Master Heart, Altair melawan Lady Corn dan Electra melawan Master Lotz."


Semua orang serempak membungkuk dengan hormat tentara.