Poison Eve

Poison Eve
Chapter-27



"Baiklah!" kata Helios. "Kita mulai saja!" Ia menautkan kedua pergelangan tangannya dan memutar telapak tangannya ke arah yang berlawanan, jemarinya bergerak-gerak membentuk sekitar delapan jurus sebelum akhirnya mengeluarkan energi cahaya berwarna hitam dari telapak tangannya. Lalu muncullah lingkaran cahaya berbentuk cakram berwarna hitam di sekeliling kakinya yang kemudian melayang naik sampai ke pinggang.


Cakra puluhan ribu tahun, pikir Evelyn takjub.


Helios mengayunkan telapak tangannya ke arah bola kristal dan mengeluarkan cahaya berbentuk serat yang kemudian menjerat bola kristal berukuran normal dari dalam bola kristal raksasa itu dan menariknya keluar. Ia menoleh pada Evelyn dan mengangguk mengisyaratkan Evelyn untuk mengeluarkan peri pelindungnya.


Evelyn melakukan gerakan yang sama seperti yang dilakukan pria itu dan muncullah peri pelindungnya. Setangkai ivy yang sudah tidak berbentuk tunas, namun telah tumbuh setinggi tiga belas senti dengan warna putih mengkilat.


Helios menatap tanaman itu dengan alis bertautan. "Ini rumput liar?" ia bertanya tak yakin.


"Ada masalah?" Evelyn balas bertanya.


"Rumput liar jenis apa tepatnya?" tanya Helios.


"Ivy berdaun tiga," jawab Evelyn tanpa beban.


Helios semakin terperangah.


Tak lama kemudian, muncullah lingkaran cahaya berbentuk cakram yang sama berwarna kuning di lantai di sekeliling kaki Evelyn yang kemudian naik sampai ke dada.


"Ternyata cakra ratusan tahun," seru Helios takjub. "Pantas saja terjadi perubahan besar pada rumput liarmu. Sepertinya kau punya guru yang hebat di Akademi Dewa Mimpi!"


Evelyn mengulum senyumnya, menutupi rasa bangganya. Bukan guru yang hebat, katanya dalam hati. Tapi guru yang sangat hebat!


"Ah—sayang sekali!" Helios mendesah dan menggeleng-geleng. "Potensi perkembangan tanaman rambat sangat payah!"


Senyum pemahaman Evelyn melebar di sudut bibirnya.


"Masukkan kekuatan cahaya ke dalam!" Helios menginstruksikan. "Aku ingin melihat kau sudah level berapa," ia menambahkan sambil mengulurkan bola kristal di tangannya ke arah Evelyn.


Evelyn menaruh telapak tangannya di permukaan bola kristal itu dan ledakan cahaya membuncah ke seluruh ruangan.


Untuk sesaat ruangan itu hanya terlihat putih. Lalu berangsur-angsur cahaya itu mulai meredup dan seisi ruangan kembali normal.


"Secara teori, seharusnya kau di level sebelas," kata Helios sesaat sebelum ia tergagap dan terperangah. "Ini…"


Evelyn mendongak untuk melihat reaksi Helios.


Pria itu terbelalak dengan raut wajah syok. "Mustahil!" pekiknya sambil menoleh ke arah bola kristal raksasa di atas kepala mereka.


Evelyn mengikuti arah pandangnya dan mengerutkan dahi. Tidak mengerti cara menafsirkan pola cahaya di dalamnya.


Ada rangkaian titik-titik cahaya berwarna putih seperti rasi bintang di tengah lingkaran cahaya biru laut dalam bola kristal itu.


Dan Helios menerjemahkannya, "Level tiga belas!" pekiknya. "Bagaimana mungkin melonjak dua level?"


Evelyn menoleh pada Helios menunggu instruksi selanjutnya.


Pria itu balas menoleh dan menatapnya dengan tergagap-gagap. "Boleh aku tahu cakramu didapat dari monster apa?" Ia bertanya dengan ekspresi panik.


Evelyn melayangkan telapak tangan lainnya di atas peri pelindung yang masih mengambang di atas telapak tangannya. "Naga pengeluh," katanya sambil menarik keluar energi dari peri pelindungnya dan melemparnya keluar.


GROAAAAAAARRR…


Kelebat cahaya putih meledak membentuk gambar seekor naga raksasa yang menyemburkan api dari mulutnya ke arah Helios.


Helios memundurkan wajahnya dengan terkejut. "Bagaimana bisa peri monster tipe tumbuhan menggunakan cakra monster tipe hewan?"


"Bisa saja terjadi dalam kondisi tertentu," tukas Evelyn mengutip teori Nazareth. "Guardianku menyebutnya Teori Peri Pelindung Peniru!"


Helios kembali tersentak. "Siapa guardianmu?"


"Nazareth?" desis Helios seperti orang tertikam di titik tubuhnya yang paling mematikan. "Orang yang pernah menerbitkan Sepuluh Kekuatan Inti Peri Pelindung?"


Evelyn mengangguk dengan antusias, tak bisa menyembunyikan perasaan bangganya.


"Nak!" Helios tiba-tiba membungkuk sambil menekankan telapak tangannya di bahu Evelyn. "Apa kau bersedia bergabung dengan Ordo Angelos?" tanyanya menggebu-gebu.


Evelyn serentak mengerutkan keningnya. "Bukankah aku datang untuk mendaftar?" ia balas bertanya.


"Tidak, tidak!" tukas Helios. "Ini berbeda," katanya tanpa mengurangi antusiasnya. "Bergabung dengan Ordo Angelos artinya menjadi Master Spiritual khusus Ordo Angelos dengan pelatihan khusus oleh sekolah khusus yang didirikan oleh Ordo Angelos."


Evelyn langsung tertunduk dan membeku. Bukankah Nazareth ketua ordo? Apakah Akademi Dewa Mimpi tidak didirikan oleh Ordo Angelos?


Helios menaikkan sebelah alisnya ke arah Evelyn, menuntut jawaban.


"Aku khawatir aku tak bisa," jawab Evelyn dengan sopan sambil mencoba mencari tahu. "Aku sudah belajar di Akademi Dewa Mimpi."


"Memang telat selangkah," erang Helios sambil mendesah pendek dan melemaskan bahunya. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa ia mengenal Nazareth. "Ordo Angelos juga tak berhak merebut murid akademi lain." Ia menaruh kembali bola kristal di tangannya ke dalam bola kristal raksasa di tengah altar itu, kemudian menyimpan cakra spiritual dan tenaga dalamnya.


Evelyn membuka mulutnya dan tergagap, hampir bertanya mengenai identitas ketua ordo, tapi teringat pesan Nazareth.


"Mengenai jati diriku yang lain… jangan pernah katakan pada siapa pun."


Evelyn akhirnya tertunduk tak jadi bicara. Ia menarik tenaga dalamnya dan menyimpan kembali cakra dan peri pelindungnya.


Apakah identitas ketua ordo ini begitu dirahasiakan sampai-sampai anggotanya sendiri tidak tahu nama ketua mereka? batin Evelyn tak habis pikir.


Seakan, Nazareth tidak berasal dari Ordo Angelos dan orang-orang Ordo Angelos tidak mengenal Nazareth kecuali sebagai penulis Teori Sepuluh Kekuatan Inti Peri Pelindung.


Apakah anggota ordo yang merahasiakannya, atau identitas ketua ordo sendiri yang sangat rahasia?


Sudahlah! pikir Evelyn. Sama sekali bukan urusanku.


"Ini semua salah Gravediggers," sesal Helios.


Gravediggers---penggali kubur adalah istilah untuk menyebutkan Para Master Penggali Bakat.


"Seandainya mereka langsung membawamu ke Balai Ordo…" Helios masih menggerutu sambil memimpin jalan keluar ruangan.


"Tidak bisa dikatakan begitu juga," tukas Evelyn. "Kalau aku datang ke Balai Ordo, belum tentu aku bisa mendapatkan cakra sebaik ini. Lagi pula tugas Gravediggers hanya menggali bakat dan bukan mencari bakat," bantah Evelyn.


Helios langsung terdiam. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Evelyn.


Keheningan menyergap mereka dalam waktu yang lama.


Begitu sampai di pintu keluar aula pendaftaran, Helios berhenti dan mendesah berat. Lalu menoleh pada Evelyn dan memaksakan senyum. "Baiklah," katanya berbasa-basi. "Selamat bergabung dengan kelompok Master Spiritual!"


Evelyn membalas senyum Helios dan membungkuk dengan sopan.


"Mulai sekarang, kau adalah Master Spiritual resmi di Neraida!" Helios menambahkan seraya menepuk bahu Evelyn dan menyalaminya.


Evelyn pun berpamitan dan kembali ke kota Ilusi.


Hari sudah menjelang malam ketika ia sampai di pintu gerbang akademi.


Kusir Nazareth melompat lebih dulu untuk membantu Evelyn turun. Kemudian membungkuk pada gadis itu sebelum kembali ke kotak pengemudi.


Evelyn mengucapkan terima kasih dengan membungkuk sekilas dan berbalik. Lalu menghambur melewati gerbang, melintasi taman di sepanjang jalan masuk, berbelok ke bagian belakang asrama dan bergegas ke estat Nazareth sementara sejumlah murid yang dilewatinya mengawasi dengan ekspresi dingin.