Poison Eve

Poison Eve
Chapter-51



Morfeus Academy, Kota Ilusi…


Hari kelima, babak pertarungan lima besar…


"Anak Aset Nazareth Vox melawan Anak Aset Salazar Lotz…" pemandu acara sekaligus wasit itu mengumumkan. "Evelyn Katz melawan Altair Nano!"


"Yeaaaay!" Xena Moz melompat-lompat sambil mengacung-acungkan tinjunya di udara.


Aula menggemuruh, lebih meriah dari sebelumnya.


"Sulit dipercaya dia lolos ke lima besar tanpa menggunakan cakra spiritual," komentar seorang juri sambil memandangi Evelyn di panggung arena.


Gadis itu menoleh ke arah Xenephon.


Pria itu mengangguk singkat dan tersenyum tipis.


Nyx Cornus mengacungkan tinjunya di depan wajah, menyemangati Evelyn.


Evelyn membungkuk ke arah mereka. Tatapannya sekarang beralih pada Xena Moz yang berjingkrak-jingkrak seperti orang gila di bangku peserta, terlihat tak sabar dan bersemangat untuk melihat penampilan perdana cakra Evelyn.


Cleon Jace mengacungkan tinjunya ke arah Evelyn seraya tersenyum lebar.


Xenephon melirik sekilas ke arah Cleon dan tersenyum samar. Lima babak pertarungan untuk empat orang teman, batinnya getir. Harga persahabatan yang sangat mahal!


Sebenarnya tak hanya Cleon dan tiga pemenang babak lima besar lainnya, beberapa murid lain juga mulai tertarik untuk berteman dengan Evelyn, tapi tak banyak yang berani melakukan pendekatan lebih dulu. Entah karena segan atau karena harga diri mereka terlalu tinggi.


Lima guardian yang anak asetnya tak lolos ke lima besar, sekarang mendukung Evelyn secara terang-terangan.


Baguslah, batin Altair. Pendukung Evelyn sekarang mulai bertambah.


Beberapa petinggi akademi bahkan memberi perhatian khusus pada Evelyn secara diam-diam. Ini adalah rekor baru di Morfeus Academy, pikir mereka. Semoga tidak mengecewakan setelah rahasia cakranya terkuak.


Beberapa petinggi dan sejumlah guardian sudah mendengar desas-desus mengenai rencana Evelyn yang akan mengeluarkan cakra spiritualnya untuk pertama kali jika ia melawan Altair.


Dimulai dari mulut Xena Moz yang tak bisa menahan dirinya untuk tidak bercerita kepada Lady Die, kemudian diteruskan oleh Lady Die yang mulutnya memang tidak bisa diam, dan sampai kepada para guardian lainnya, lalu akhirnya menyebar ke seluruh akademi.


Jadi semua orang sedikit bersemangat begitu undian pemilihan peserta babak pertama di hari kelima itu akhirnya berpihak pada harapan mereka.


Sebaiknya jangan kecewakan kami, Evelyn Katz! Wakil akademi berharap dalam hatinya.


Show time, Eve! kata Xenephon di dalam hatinya.


"Lima detik dihitung mundur!" Pemandu acara menginstruksikan, yang secara otomatis ditanggapi dengan antusias para penonton.


"Lima!"


"Empat!"


"Tiga!"


"Dua!"


Evelyn sedikit terkejut menyadari reaksi itu. Lalu melirik ke arah Xena Moz dengan curiga.


"MULAI!"


Altair bersiap memasang kuda-kuda, mengetatkan kedua lengan di sisi tubuhnya dengan jemari membentuk cakar dan dalam sekejap sudah memunculkan cakra spiritual dan peri pelindungnya hanya dengan satu hentakan.


Evelyn tersenyum melihat peri pelindung Altair. Ini adalah tantangan baru baginya.


Dua cakra spiritual, putih dan kuning. Peri pelindung beruang kutub berbulu putih dengan simbol berbentuk garis petir berwarna biru pada dahinya.


Evelyn mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dan memutar hanya dengan bertumpu pada ujung sepatu seperti penari balet. Satu kakinya tertaut di tumit kaki lainnya.


GLAAARRRR!!!


Cakra Evelyn akhirnya muncul.


Para penonton terperangah dengan ekspresi takjub.


Bahkan kelima juri dan para guardian.


"Cakra ratusan tahun?" Para juri memekik bersamaan.


Lady Die membeku dengan mata dan mulut membulat.


"Jangan kecewakan aku, Altair!" kata Evelyn.


BLAAAARRRRR!!!


Sulur tanaman berbentuk naga melesat keluar dari balik punggung Evelyn.


Seisi aula kembali gaduh.


"Yang benar saja?" pekik sejumlah guardian. "Peri tanaman bisa seperti itu?"


Para juri membeku dengan ekspresi takjub.


"Peri pelindung peniru!" gumam salah satu juri.


Wakil akademi tersenyum samar. Menarik! pikirnya puas.


"Dari peri monster apa dia mendapatkan cakra pertamanya?" Nyx Cornus bertanya pada Xenephon.


"Naga pengeluh empat ratus tahun," jawab Xenephon.


"APAAA…?!"


Para guardian di belakang mereka memekik bersamaan.


Xenephon dan Nyx Cornus terlonjak karena terkejut, lalu menoleh ke belakang dengan alis bertautan.


Mereka menguping pembicaraan kami, pikir Nyx Cornus terkejut.


"Menautkan cakra peri monster jenis hewan ke peri pelindung jenis tanaman? Satu dari sepuluh teori kekuatan inti peri pelindung," gumam Arsen Heart. "Teori itu…"


Xenephon bertukar pandang dengan Nyx Cornus, lalu memutar kembali kepala mereka ke depan, memfokuskan perhatian pada jalannya pertarungan tanpa bicara lagi.


Kekuatan inti peri pelindung? pikir Lady Die merasa terpukul.


Salazar Lotz melirik wanita itu seraya tersenyum miring.


Lady Die tidak menyadarinya. Wanita itu membeku dengan raut wajah tegang, memperhatikan Evelyn dengan dahi berkerut-kerut. Teori kekuatan inti peri pelindung ternyata bukan omong kosong, katanya dalam hati.


Pertarungan berlangsung seri. Baik Evelyn maupun Altair belum berhasil menyerang. Keduanya sama-sama gesit sekaligus agresif. Dan selama itu keduanya belum mengeluarkan teknik kedua.


Masih kejar-kejaran dengan teknik pertama.


"Aku jadi tak sabar untuk melihat ketangguhannya," komentar Arsen Heart sambil menunjuk ke arah Evelyn.


"Kalau aku tidak salah tebak… pasti ada unsur racun dari naga pengeluh," Salazar, atau lebih dikenal dengan sebutan Master Lotz menanggapi. Tatapannya tak bisa berpaling dari Evelyn.


"Racun naga pengeluh tidak mematikan!" Guardian lainnya menimpali.


"Naga pengeluh memiliki kulit yang sangat keras sekaligus lentur," sanggah Master Lotz. "Kurasa untuk Master Spiritual tipe pengendali lebih dari cukup."


Just enough! erang Lady Die dalam hatinya. Lalu terpuruk di tempat duduknya. Anak asetku takkan lolos ke babak final!


Xena Moz masih berjingkrak-jingkrak penuh semangat di bangku peserta.


Anak ini… pikir Lady Die dengan raut wajah sebal.


Menyadari pertarungan tetap statis, Evelyn akhirnya memutuskan untuk menggunakan teknik kedua.


Senyum pemahaman Altair melebar di sudut bibirnya. Thanks, Eve! katanya dalam hati. Aku akan berusaha untuk tidak terlihat payah.


Bagi sebagian besar ahli seni beladiri spiritual, membuat lawan melakukan lebih dari satu teknik serangan merupakan kehormatan, terutama ketika level dan kemampuan lawan sedikit lebih tinggi.


Evelyn memutar tubuhnya lagi seperti penari balet, kali ini bergerak seperti gangsing dan memutari Altair. Setiap putarannya meninggalkan jejak berupa sulur tanaman yang secara perlahan membentuk pola lingkaran.


Para penonton kembali memekik dan menahan napas.


Mata para juri berkilat-kilat puas melihat performa Evelyn lebih dari yang diharapkan.


Altair menghentakkan kakinya di lantai, beruang kutubnya melesat keluar lingkaran dengan melompatinya.


Evelyn melontarkan sulur tanaman dari telapak tangannya ke arah beruang itu dan menjerat salah satu kakinya, kemudian menarik binatang itu ke dalam formasi lingkaran yang dibuatnya, sementara ia sendiri melambungkan tubuhnya ke atas, kemudian melejit keluar dengan bersalto.


Dan sebelum Altair sempat bereaksi, sebelum para penonton menyadari apa yang terjadi, sulur tanaman itu sudah menyergap Altair dan meringkusnya.


Altair memekik dan terhenyak. Ia menyentakkan tangannya, mencoba memecah sulur tanaman itu. Tapi lalu berhenti dan menggeleng-geleng seraya tersenyum puas. Ia bisa merasakan sulur tanaman itu sekeras batu gunung, ia tak yakin bisa memecahkannya. Kekuatan inti peri pelindung peniru ternyata bisa seperti ini, pikirnya kagum.