Poison Eve

Poison Eve
Chapter-161



Tiga hari kemudian…


Ada sukacita di Neraida!


Kemeriahan di udara…


Di kota-kota besar…


Di kota-kota kecil…


Di seluruh daerah!


Para wanita tertawa riang…


Para pria tertawa lepas.


Anak-anak bermain dengan gembira.


Anak-anak bermain peran sebagai Morfeus Five di mana-mana.


Di sebuah kota kecil…


"Aku Evelyn Katz!" kata seorang anak perempuan berambut cokelat sambil melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya. Berdiri dengan satu kaki tertaut di tumit kaki lainnya. Berpose seperti Evelyn.


"Aku Electra Dan!" kata anak yang lainnya sambil mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan jemari membentuk cakar.


"Aku Cleon Jace!" timpal salah satu anak laki-laki sambil mengayun-ayunkan palu mainan berbahan kayu yang dibuatnya sendiri.


Di tempat lain…


Di sebuah desa terpencil…


"Aku mau jadi Xena Moz!" jerit anak perempuan berusia lima tahun dengan histeris saking semangat. Ia mengepak-ngepakkan kedua tangannya seperti sepasang sayap di atas kepala ayahnya. Ayahnya memanggul tubuh mungilnya di pundak sambil memegangi kedua kakinya di depan dada sementara ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju balai desa.


"Kalau begitu Ibu mau jadi Evelyn Katz!" Ibunya menanggapi dengan riang.


Di belakang mereka, sejumlah pria dan wanita juga anak-anak, berbondong-bondong menuju tempat yang sama dengan keceriaan yang sama.


Semua orang membicarakan Morfeus Five!


"Penggalian bakat tahunan berikutnya, aku harus membangkitkan peri pelindungku dan bersekolah di Morfeus Academy!" kata seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun.


"Ayah dan Ibu hanya petani," kata ayahnya. "Menurutmu peri pelindung seperti apa yang mungkin kau miliki?"


"Rumput liar!" sahut sang anak bernada optimis.


Pada saat yang sama…


Semua toko buku diserbu Master Spiritual dari berbagai daerah di semua daerah.


Buku Sepuluh Teori Kekuatan Inti Peri Pelindung terjual habis dalam sekejap, dan orang-orang masih berjubal di tiap-tiap toko buku. Beberapa bahkan mencoba mendapatkannya dengan kekerasan, menggasak toko buku dan mengobrak-abrik setiap rak untuk memastikan pemilik toko tidak menyembunyikannya.


Di ibukota…


Para wanita menjerit histeris begitu iring-iringan kereta Morfeus Five memasuki alun-alun.


Orang-orang berebut untuk menyentuh kereta mereka.


Para tentara kekaisaran kewalahan menertibkan mereka, hingga ksatria Ordo Angelos terpaksa turun tangan.


Evelyn dan teman-temannya melongokkan kepala mereka sambil melambai-lambaikan tangan untuk mengobati kerinduan mereka, sehingga mereka berhenti berebut menyentuh kereta.


"Oh, Tuhan! Lihat dia!" seru para wanita sambil menautkan tangan mereka di depan dada.


Beberapa membekap mulutnya dengan jemari tangan sambil menatap Evelyn dengan mata terbelalak.


"Ternyata dia sangat cantik!" puji mereka.


"Benar-benar sempurna untuk Pangeran!" gumam yang lainnya dengan ekspresi kagum.


Para pria bersorak sambil melantunkan yel-yel dan mengibar-ngibarkan bendera kecil negara mereka.


"Morfeus Five pahlawan kami!"


Para remaja wanita menaburkan bunga-bunga Alamanda, sementara para remaja pria menyalakan kembang api di sana-sini.


"Evelyn Katz! Aku mencintaimu!" teriak para gadis sambil menebarkan ciuman jauh ke arah Evelyn.


Evelyn balas menebarkan ciuman jauh sambil melambai-lambai dan tersenyum lebar.


Mencapai pekarangan Balai Mulia, para wanita bangsawan berebut untuk memberikan karangan bunga.


Meriah…


Sekaligus kisruh!


Demikian gambaran Neraida pada hari kepulangan para pahlawan mereka.


Memasuki Balai Mulia, Evelyn dikejutkan oleh keberadaan keluarga kecilnya.


Para wanita itu mengerubunginya sambil menangis tersedu-sedu. Perasaan sedih, bahagia, tidak percaya, semuanya menjadi satu.


Evelyn tak bisa membendung air matanya kali ini. Ia memeluk keluarganya satu per satu, berbagi kebahagiaan dengan meneteskan air mata.


"Kau putra ibu baptisku?" Evelyn terpekik ketika Mrs. Morgenstein memperkenalkan mereka.


"Well---yeah!" Mo Rhino mengangkat bahunya dengan ekspresi tak berdaya. "Aku juga baru tahu kau putri baptis ibuku. Dan…" ia mengerling ke belakang melewati bahunya.


Sloan Jace berdiri di belakang Mo Rhino dengan ekspresi campuran antara tersipu dan terluka.


"Pemuda yang ingin diperkenalkan ibuku di musim perjodohan!" Mo Rhino memperkenalkan.


Evelyn dan Sloan tergagap bersamaan. Tidak mengira Mo Rhino akan mengatakan hal itu dengan gamblang.


Cleon terperangah di belakang Evelyn.


Nazareth dan Migi Vox mengetatkan rahangnya.


"Ah—am…" Sloan tertunduk sekilas dan memalingkan wajahnya dengan kikuk, lalu kembali mengangkat wajahnya, mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah Evelyn. "Selamat!"


Pada akhirnya Sloan hanya mampu mengatakan satu kata dan mengulurkan tangannya untuk menjabat Evelyn.


"Thanks!" Evelyn menyahut singkat sambil menjabat tangan Sloan.


Cleon mengerjap di belakangnya ketika kakaknya mengerling ke arahnya.


Sloan mendekat pada adiknya dengan ragu-ragu. Lalu menjilat bibir bawahnya dan membuka mulut. Tapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


Orion Jace mengawasi kedua putranya dengan raut wajah prihatin.


Pada akhirnya Sloan menyerah dan melupakan harga dirinya, ia menepuk pundak adiknya dan menariknya ke dalam dekapannya. "Kau menang!" katanya.


Kaisar dan Ratu bergerak ke arah mereka dikawal sejumlah pengawal dan para pejabat kehormatan.


Catlyn menghambur ke arah mereka. Kaisar dan Ratu memeluknya bersamaan. Lalu sang ratu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Nazareth dengan tatapan memelas, "Earth!" panggilnya lirih.


Nazareth mendesah tipis dan mendekat pada ibunya. Kemudian membungkuk untuk memeluk wanita itu.


"Aku selalu merindukanmu," bisik sang ratu.


Nazareth hanya mengusap lembut punggung ibunya dengan satu tangan sementara tangan lainnya memeluk Migi Vox. Raut wajahnya tetap datar, sementara wajah Migi Vox terlihat bosan.


Ratu akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Migi Vox dengan mata terpicing. "Dia…"


"Vox!" potong Nazareth. "Aku menamainya Nazareth Vox."


Dahi ibunya berkerut-kerut.


"Peri pelindungku yang cacat mutasi," bisik Nazareth.


Ratu membekap mulutnya dengan jemari tangannya.


Catlyn yang mendengar bisikan itu melengak ke arah Migi Vox. Tongkat itu? pikirnya tak yakin. Bagaimana bisa tongkat kayu…


Kaisar juga mendengar bisikan itu, ia hanya mengerling sekilas melalui sudut matanya, kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Morfeus Five seraya mengembangkan senyuman hangat. "Selamat!" sambutnya dengan santun.


Evelyn dan teman-temannya serentak berlutut dalam hormat tentara.


Para guardian membungkuk di belakang mereka.


"Bangunlah!" perintah Kaisar. "Saatnya menyapa seluruh Neraida."


Evelyn dan teman-temannya beranjak berdiri dan sejumlah pengawal khusus Kaisar membimbing mereka ke podium di mana sejumlah kaca sihir monitor sudah menunggu untuk menyiarkan kedatangan mereka ke seluruh Neraida.


Kaisar bergabung di tengah mereka, sementara sang ratu dan para pejabat menyisi ke seberang balkon bersama Catlyn dan Nazareth.


Sekali lagi, Neraida menggemuruh oleh tepuk tangan meriah dan euforia spektakuler, begitu wajah kelima remaja itu tersiar ke seluruh Neraida.


Kuntum-kuntum bunga Alamanda bertebaran di mana-mana, memenuhi udara bersama kemilau kembang api yang dinyalakan di mana-mana.


Setelah menyampaikan sederet pujian untuk pahlawan mereka, Kaisar mengumumkan, "Hari ini, aku menganugerahi gelar Baron untuk Morfeus Five!"


Aula kembali menggelegar di tiap-tiap balai di seluruh negeri.


Musik mengalun dan seluruh rakyat menyanyikan lagu kebangsaan Neraida sambil mengangkat bendera-bendera kecil negara mereka.


Usai pesta rakyat yang melelahkan, para guardian Morfeus Academy masih harus disibukkan dengan urusan pemilihan pejabat akademi yang akan berlanjut ke acara kelulusan setelah itu.


Belum lagi mengurus penerimaan murid baru di musim ajaran baru nanti.


Akhir tahun ajaran yang panjang!


Sekarang mereka berkumpul di balai guardian, sementara Evelyn dan teman-temannya kembali ke estat Nazareth.


Keluarga kecil Evelyn masih akan tinggal di ibukota sampai selesai acara kelulusan Evelyn. Sekarang mereka tinggal di kekaisaran, di mana sang ratu menawarkan resepsi khusus untuk keluarga kaisar.


Setelah menghabiskan setengah jam diskusi bersama semua guardian, nama keempat guardian Morfeus Five akhirnya muncul sebagai kandidat untuk menggantikan posisi kosong wakil akademi dan antek-anteknya.


Namun siapa yang akan menjadi wakil akademi belum diketahui.


Karena ini merupakan akademi master spiritual, maka untuk menentukan siapa yang akan menjadi wakil akademi dan siapa yang akan menjadi antek-anteknya dibutuhkan pertarungan antar guardian.


Poin tertinggi akan menempati posisi wakil akademi.