
Morfeus Academy, Kota Ilusi…
"Tibalah saatnya untuk memilih bibit terbaik Morfeus Academy!" Wakil Akademi mengumumkan dari balkon tempat di mana lima guardian terpilih duduk berjejer di bangku juri.
Di bawah mereka, di sisi panggung arena seluas lapangan bola, para peserta turnamen berbaris rapi, menunggu keputusan.
Ada sembilan kelompok peserta mewakili sembilan guardian dengan masing-masing kelompok terdiri dari sepuluh orang.
Evelyn berdiri sendirian sebagai satu-satunya Anak Aset Nazareth Vox.
Xenephon berdiri di sisi lain balkon di tempat khusus para guardian yang tidak menjadi juri, menatap Evelyn dengan sedih.
Tidak ada tim penyemangat untuk anak aset Nazareth Vox, pikir Xenephon muram. Tidak ada tim kerja sama untuk berbagi pertarungan!
Tentu saja Xenephon tidak khawatir Evelyn akan kalah sebagai satu-satunya anak aset Nazareth, bagaimanapun gadis itu sudah memiliki lencana level emas meski level spiritualnya baru mencapai lima belas. Ditambah cakra ratusan tahun dan kekuatan inti peri pelindung peniru, rasanya dia sangat yakin Evelyn tak akan kalah. Ia hanya prihatin semua orang mencemooh gadis itu karena dia sebatang kara. Bahkan guardiannya meninggalkannya!
Itu bisa menjadi tekanan yang cukup besar bagi Evelyn.
Dan itulah yang membuat Xenephon khawatir.
Evelyn kalah dari dirinya sendiri!
"Apa dia akan baik-baik saja?" Seorang guardian wanita di sisi Xenephon menatap Evelyn dengan prihatin. Namanya Nyx Cornus, lebih dikenal dengan sebutan Lady Corn. Usianya dua puluh tiga tahun, namun penampilannya terlihat seumuran dengan murid-murid akademi. Wajahnya lembut dan mungil meski tubuhnya dibungkus serangan armor.
"Dia murid Earth Thunder," bisik Xenephon pada gadis guardian itu.
Nyx Cornus terdiam.
Nyx Cornus adalah anggota Ordo Angelos. Salah satu guardian di Akademi Morfeus yang mengetahui rahasia jati diri Nazareth yang lain. Tak heran masih muda sudah menjadi guardian.
Dan sebagai anggota Ordo, gadis itu tahu persis seperti apa Earth Thunder di sisi lain kehidupannya. Tentu saja ia tak meragukan didikan Nazareth.
Tapi sendiri menanggung beban sepuluh orang, melawan sembilan kelompok, apakah Evelyn sanggup bertahan sampai babak final? pikir Nyx. Ia menatap ke arah salah satu gadis dari kelompok anak asetnya.
Gadis itu adalah kaptennya. Namanya Electra Dan. Master Spiritual tipe penyerang samping level dua puluh. Salah satu dari yang terbaik di Morfeus Academy. Seseorang yang perlu diwaspadai oleh Evelyn menurut Nyx.
Setelah Wakil Akademi membacakan sederet ketentuan yang harus dipatuhi selama turnamen berlangsung, pria paruh baya itu akhirnya mengumumkan, "Dengan ini, saya umumkan… Turnamen Morfeus Academy resmi dibuka!"
Aula menggelegar oleh tepuk tangan meriah dan sorak-sorai para pelajar yang duduk di bangku penonton.
"Sekarang bersiaplah!" Pemandu acara mengambil alih pengeras suara dan memberi instruksi. "Cakra undian akan segera di bagikan!"
Seorang guardian pemanggil cahaya bersiap-siap, memasang kuda-kuda, mengeluarkan cakra spiritualnya, kemudian menyerap cahaya dari berbagai penjuru yang kemudian berubah menjadi dua lingkaran cahaya putih berbentuk cakram dan menyebarkannya ke tengah arena.
Kedua cakram itu berputar-putar di sekeliling peserta dan salah satunya berhenti di atas kepala Evelyn, kemudian mengendap turun melingkari gadis itu dan mengetat di pinggangnya.
Sejurus kemudian, cakra itu menyeret Evelyn ke panggung arena.
Evelyn memekik terkejut dan terhenyak ketika cakra itu akhirnya mengendur dan menjatuhkannya.
Xenephon mengerjap dan menelan ludah.
Altair terperangah di barisan para peserta.
Detik berikutnya, cakra lainnya menyeret seorang murid laki-laki untuk dihadapkan dengan Evelyn.
"Pertarungan pertama satu lawan satu!" Pemandu acara mengumumkan. "Evelyn Katz, Anak Aset Nazareth Vox, melawan Gigas Knot, Anak Aset Arsen Heart."
Aula kembali menggelegar oleh tepuk tangan meriah dan sorakan para penonton, beberapa di antaranya bernada meremehkan.
Arsen Heart adalah guardian yang khusus mendidik para pemilik peri pelindung monster.
"Sungguh sial, Si Rumput Liar!" cemooh salah satu murid wanita yang biasa bergosip setiap jam pemanasan. "Tampil pertama melawan musuh yang kuat!"
Gerombolannya menanggapi dengan cekikikan.
Evelyn melirik Xenephon di lantai dua. Pria itu mengangguk menyemangatinya.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara memberikan aba-aba.
Gigas Knot menyentakkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan jemari membentuk cakar, dan seketika keredap cahaya berwarna putih berpendar di lantai mengelilingi kakinya yang dengan cepat melayang naik ke pinggangnya, lalu muncul peri pelindungnya, seekor serigala mengangkat kepala, mengangakan mulutnya dan melolong di atas kepala anak laki-laki itu dalam bentuk gambar cahaya seperti hologram.
Evelyn masih bergeming dengan pose favoritnya. Berdiri dengan satu kaki tertaut di tumit kaki yang lainnya. Namun berbeda dengan gayanya yang genit ketika ia memakai topeng, di sini dia memasang wajah serius.
Kota Cahaya…
Matahari bersinar cerah tepat di atas kepala. Angin tipis berembus menebarkan hawa panas yang kian menambah enggan untuk melakukan aktivitas.
Keringat membanjir di pelipis Nazareth yang sedang berjibaku di bawah terik matahari di tengah lapangan terbuka di lembah landai di pekarangan belakang Claus Manor, dihadapkan dengan dirinya sendiri untuk saling mengalahkan.
Mikhail Claus memang tak masuk akal!
SLASH!
Migi Vox melesat dengan sebelah kaki terangkat setinggi lutut sementara kaki lainnya terjulur ke belakang. Sebelah tangannya terentang di sisi tubuhnya, sementara tangan lainnya terlipat di depan wajahnya. Sepasang alisnya bertaut, dan senyuman miring tersungging di sudut bibirnya.
Nazareth melayangkan tinjunya ke arah boneka itu yang dalam sekejap hanya menembus udara kosong.
Migi Vox terbang meliuk melewati bahunya dan menghujamkan tendangan di tengkuk Nazareth.
SLASH!
Cahaya keemasan berkeredap dari benturan itu yang secara otomatis membuat Nazareth terhuyung ke depan dan nyaris tersungkur.
Nazareth melayangkan kakinya ke atas kemudian melambungkan tubuhnya dan bersalto di udara.
SLASH!
Nazareth menyapukan tendangan ke arah Vox dan seketika boneka itu berhasil menangkisnya dengan kedua tangan.
BUGH!
Nazareth terpental ke belakang dan mendarat dalam posisi jongkok. Dia semakin kuat, pikirnya.
Ini adalah hari kedua Nazareth berlatih dengan Migi Vox. Dan kekuatan Migi Vox meningkat dua kali lipat. Semakin sering berlatih, Migi Vox semakin sulit dikendalikan. Tali cahaya bahkan tak bisa lagi menjerat boneka itu.
Sudah terlambat untuk menyerah, pikir Nazareth sambil memfokuskan pandangannya pada Migi Vox. Aku harus mencari cara untuk mengendalikannya lagi.
Boneka itu menyeringai dengan posisi mengambang di udara setinggi bahunya.
Nazareth masih berjongkok dalam sikap kuda-kuda sambil mendongak mempelajari boneka itu.
Mikhail dan istrinya mengawasi mereka dari puncak bukit di tepi lapangan dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya.
Gavriil Claus mendesah berkali-kali dan menggeleng-geleng. "Metode ini malah semakin memperkuat Migi Vox," katanya.
Mikhail tidak bereaksi. Tetap bergeming dengan raut wajah keras.
Gavriil Claus kembali menggeleng-geleng. Tidak boleh menggunakan teknik cahaya, pikirnya. Yang benar saja?
Mikhail memberi syarat yang lagi-lagi tak masuk akal. Selama latihan, Nazareth dilarang menggunakan teknik cahaya sementara Migi Vox sendiri pada dasarnya adalah makhluk cahaya. Ini jelas menjadi pertarungan fisik melawan kekuatan spiritual.
Bukankah itu berat sebelah?
Terutama karena Migi Vox juga sudah semakin kuat!
Gavriil Claus mendesah dan menyerah. Kemudian beranjak pergi.
Mikhail tetap bergeming.
Nazareth menerjang ke arah Migi Vox dengan tendangan memutar di udara.
SLASH!
Lagi-lagi Migi Vox meliukkan arah terbangnya dan memutari Nazareth dengan cepat.
BUGH!
Boneka itu mendorong punggung Nazareth dengan kedua tangannya hingga pria itu terlontar cukup jauh.