Poison Eve

Poison Eve
Chapter-128



"Bagaimana bisa?"


Para hadirin di Balai Mulia Shangri-La menggumam dengan suara tercekat.


Para hadirin di Balai Mulia Neraida belum berkedip.


Semua mata terpaku pada layar tim Morfeus Academy. Keempat remaja di dalamnya menarik cakra spiritual dan peri pelindung mereka masing-masing. Peri vampir puluhan ribu tahun yang menyerang keempat remaja itu terpuruk di tengah kepungan mereka.


"Peri vampir itu hanya berusia puluhan ribu tahun!" pekik Bedros. "Bagaimana bisa mereka mendapatkan satu juta poin?"


Seorang ahli visi dari pihak panitia memindai peri vampir yang berhasil ditaklukkan tim Morfeus Academy.


Sederet informasi mengenai data identitas dan kekuatan peri vampir itu bermunculan di layar. Usia tepatnya enam puluh ribu tahun.


"Dari mana mereka mendapatkan tambahan sembilan ratus empat puluh ribu poin?" orang banyak mulai bertanya-tanya.


Bersamaan dengan itu, layar Evelyn kembali berpendar dan menyala.


Wajah Evelyn muncul di layar berselubung cahaya keemasan, mahkota peri bertengger di kedua pelipisnya. Sebilah pedang menyala dengan lidah-lidah api terhunus di tangannya. Seorang peri vampir laki-laki berusia ratusan ribu tahun tergolek di bawah kakinya yang melayang beberapa meter dari permukaan tanah.


"Peri vampir ratusan ribu tahun!" pekik semua orang.


Kush Thunder dan Agathias Katz mengerjap dan terbelalak menatap mahkota di pelipis Evelyn. Keserakahan seketika merasuki keduanya. Tulang cakra kepala! batin mereka tidak peduli sekitar.


Migi Vox terperanjat. Jemari kedua tangannya menancap di bahu Nazareth.


Nazareth mengerjap dan mengerling ke arah pamannya.


Migi Vox kembali terkulai.


"Pindai informasi peri vampir itu!" perintah Kaisar Aero.


Ahli visi dari pihak panitia tadi memindai tubuh peri vampir yang berhasil ditaklukkan Evelyn seorang diri. Usia tepatnya sembilan ratus empat puluh ribu tahun.


"Apa gadis ini benar-benar manusia?" gumam Kaisar Shangri-La.


Nazareth tercengang dengan mata terbelalak.


"Ini meragukan!" protes Neiro Sach.


Seisi aula spontan berpaling ke arah pria itu.


Nazareth hampir tak bisa menahan dirinya untuk tidak menerjang ke bangku para pejabat kehormatan itu dan mencekik leher sang Baron.


"Layarnya mendadak gelap saat dia bertarung," teriak Neiro menggebu-gebu. "Siapa yang tahu dia tidak mendapat bantuan?"


Nyx Cornus dan Lady Die menggeram dan menggertakkan gigi mereka, bersiap untuk menyemburkan kata-kata hujatan.


"Dengan segala hormat, Sir!" Seorang ahli visi dari pihak panitia menginterupsi. "Tak ada yang bisa kami lakukan untuk membuktikan hal itu. Peri vampir sembilan ratus tahun memang memiliki aura yang sangat gelap."


"Sembilan ratus empat puluh ribu poin itu tidak sah!" Neiro bersikeras.


"Meski demikian, poin mereka tetap unggul!" sela Kaisar. "Tim Akademi Sihir Azrael akan tereliminasi!"


Neiro Sach membeku dengan rahang mengetat.


Bedros Damon tertunduk tanpa daya.


"Enam puluh ribu poin mereka sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan tim yang lain," tutur Kaisar. "Bahkan jika poin keempat tim dari Shangri-La digabungkan, poin tim Morfeus Academy masih jauh lebih tinggi. Neraida memenangkan pertandingan!"


Aula Balai Mulia Neraida menggelegar oleh euforia spektakuler.


Kaisar mengangguk singkat pada Nazareth sebagai ucapan terima kasih.


Nazareth menanggapinya dengan hormat tentara. Keempat guardian di belakangnya turut membungkuk.


Salah satu Master Penggali Bakat yang memiliki peri pelindung bola kristal tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan membungkuk pada Kaisar, "Mohon izin bicara, Yang Mulia!"


"Masih ada cara lain untuk membuktikan apakah Evelyn Katz mendapatkan poinnya dengan adil," tutur si Penggali Bakat.


"Benarkah?" seisi aula serentak menoleh ke arah si pemilik bola kristal.


Kaisar ikut menoleh. Sebelah alisnya terangkat tinggi, "Jelaskan!" titahnya, sedikit terlalu antusias hingga membuat Neiro Sach mengerling ke arah Kush Thunder.


Kedua pria itu bertukar pandang dengan mata saling bicara.


"Kami bisa memeriksa Evelyn Katz setelah dia kembali," jelas si pemilik bola kristal. "Memutar ulang peristiwa pertarungannya dengan peri vampir ratusan ribu tahun itu berdasarkan ingatannya. Sementara kami menggali ingatannya, para ahli visi Balai Mulia akan membantu untuk menayangkannya secara langsung. Dengan begitu, pihak Neraida juga bisa menyaksikan melalui cermin sihir di Balai Mulia mereka."


"Ide bagus!" seru beberapa orang penuh semangat.


"Akan ada pertunjukan bagus!" timpal yang lainnya.


Kaisar mengerling ke arah Nazareth dengan isyarat bertanya.


Nazareth mengangguk singkat.


"Baiklah!" pungkas Kaisar. "Gagasanmu diterima!"


Seisi aula kembali meledak oleh tepuk tangan.


Sementara itu di Balai Mulia Shangri-La…


"Masih ada waktu setengah hari!" Kaisar Shangri-La menyemangati. "Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam enam jam?"


Aula Balai Mulia Shangri-La menggema oleh tepuk tangan.


Layar tim Morfeus Academy tiba-tiba kembali memancarkan cahaya terang benderang.


Seisi aula di Balai Mulia kedua negara kembali terkesiap.


"What the—" Catlyn Thunder tergagap dan terperangah.


Peri vampir berusia enam puluh ribu tahun yang berhasil ditaklukkan oleh tim Morfeus Academy tiba-tiba menyala.


Evelyn melihat semburat cahaya itu melalui celah-celah dedaunan. Ia segera menarik cakra spiritual dan peri pelindungnya juga mahkota perinya, kemudian menghambur ke arah sumber cahaya itu.


Tubuh peri vampir berusia enam puluh ribu tahun itu berangsur-angsur melebur menjadi serpihan debu hitam seperti sisa-sisa pembakaran, kemudian bertebaran ke langit malam dan menyisakan sekeping logam yang bercahaya berbentuk sayap seukuran lengan orang dewasa.


Bilah poin di bawah layar tim Morfeus Academy bertambah seribu poin bonus.


"Apa lagi sekarang?" pekik seseorang di bangku pejabat.


"Tulang cakra!" Helios terlonjak dan menunjuk layar tim Morfeus Academy.


Semua mata dalam aula serentak terbelalak. Bahkan di Shangri-La.


"Mereka benar-benar beruntung!" gumam salah satu anggota tim peringkat atas Shangri-La. "Hanya membunuh satu-dua peri monster sudah mendapatkan lebih dari satu juta poin!"


Sang ketua akhirnya berpaling, meski wajahnya tetap dingin dan sulit ditebak, "Lalu apa kau sanggup membunuh peri monster sembilan ratus ribu tahun seorang diri?"


"Apa—" anggota itu spontan tergagap.


Sang ketua menoleh pada yang lain, "Jika kau dihadapkan dengan peri monster ratusan ribu tahun, apakah kau merasa beruntung?" ia bertanya pada anggota lain.


Tiga yang lainnya hanya terdiam.


Satu orang berani membantah. "Gadis itu tidak bisa dibandingkan dengan kita! Peri vampir ratusan ribu tahun saja berlutut padanya! Bukankah lebih mudah baginya untuk membunuh peri vampir sesuai keinginannya. Bisa saja peri vampir itu mengalah, mengorbankan dirinya untuk dibunuh."


"Benar…" guardian mereka tiba-tiba menggumam sambil mengerutkan keningnya, "Layarnya mati selama gadis itu bertarung, apa tidak menutup kemungkinan gadis itu mendapat bantuan?"


Sang Kaisar menoleh pada mereka, "Jika dia menerima bantuan, atau jika peri vampir itu sengaja mengalah, tulang cakra kepala itu tak mungkin sampai keluar! Tulang cakra kepala hanya akan keluar jika sudah tak ada lagi yang bisa dilakukan," tukasnya sambil menunjuk layar yang khusus menampilkan Evelyn. "Lihat itu!"


Evelyn baru saja sampai di tempat teman-temannya ketika tubuhnya tiba-tiba terhuyung dan terpuruk.