
GROAAAAAAARRR…
Angin berembus kencang ketika Orion Katz mengangkat palunya.
Evelyn terdorong ke belakang oleh kekuatan besar tak kasatmata yang memaksanya merunduk.
Aura seorang raja! Evelyn menyimpulkan.
Aura seperti ini dimiliki oleh Apollo, Kaisar dan Putra Cahaya.
Tidak disangka kakeknya juga memilikinya.
Sulur-sulur tanaman yang keluar dari punggung Evelyn melecut ke belakang dan tidak bisa bergerak. Kedua lututnya tertekuk dengan gemetar hingga nyaris menyentuh permukaan tanah.
Evelyn berusaha berkonsentrasi untuk menarik masuk sulur tanaman itu kembali ke punggungnya, kemudian mengarahkannya ke bawah, menembus tanah, dengan didukung teknik kedua dari cakra naga pengeluh, keras seperti batu gunung. Dan ia berhasil sejauh ini.
Tanaman itu merambat di dalam tanah seperti akar, kemudian mencuat keluar di belakang kakeknya.
Dan ketika kakeknya bersiap mengayunkan palunya, sulur tanaman itu sudah merambat ke kakinya, merambat ke pinggangnya, lalu tangannya dan akhirnya mengikat gagang palunya.
Pria tua itu membeku, sementara tubuh Evelyn semakin gemetar. Sebulir keringat menggelinding di pelipisnya.
Aku hampir tak bisa menahannya! Evelyn membatin gusar. Tidak ada cara lain! pikirnya.
Ini adalah pertama kalinya ia menggunakan teknik keempat dari cakra naga pengeluh.
Racun!
Lalu secara perlahan, dengan dukungan teknik gabungan dari kekuatan inti peri pelindung---peri pelindung peniru, peri pelindung parasit dan peri pelindung mutasi, ia mengubah sulur tanaman menjadi kepala ular dan mematuk tengkuk kakeknya.
Tak lama kemudian, energi yang menekannya mulai melemah, lalu menghilang.
Detik berikutnya…
BRUK!
Kakeknya terpuruk dengan posisi tertelungkup.
Dengan cepat, Evelyn mengubah kembali kepala ular menjadi sulur tanaman berujung lancip, lalu menghujam punggung kakeknya.
Tubuh kakeknya menghentak lalu tidak bergerak lagi.
Semburat cahaya berwarna hitam berbentuk cakram terpancar keluar dari luka kakeknya, mula-mula sebesar cincin, lalu mulai membesar seiring dia melayang.
Evelyn menarik kembali peri pelindungnya dan menyisakan kecambah di telapak tangannya, ia mengangkat tangan lainnya di sisi wajahnya, menggerak-gerakkan jari tengah dan telunjuknya untuk menarik cakra kakeknya.
Lingkaran hitam berbentuk cakram itu sekarang melayang ke atas kepalanya, lalu mengendap ke pinggangnya.
Evelyn duduk bersila dan mulai bermeditasi untuk menyerap cakra kakeknya.
Langit menggelap di luar pondok, bintang-bintang mulai bermunculan dari balik gumpalan awan yang berarak laksana kawanan domba.
Nazareth berdiri gelisah di beranda kamarnya.
Migi Vox berjalan mondar-mandir di pagar beranda dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya.
Mereka tahu Evelyn sedang berlatih di Balai Keterampilan.
Tapi entah kenapa rasanya seperti ditinggal mudik!
Keempat guardian sedang mendampingi anak-anak aset mereka di pondok pemandian obat.
Membosankan sekali! erang Nazareth dalam hatinya.
Dua pengawal bayangan mengendap turun dari kegelapan, kemudian mendarat di pekarangan, berlutut dengan gerakan seragam.
Nazareth mengerling pada Migi Vox.
Boneka itu berhenti mondar-mandir, lalu mendongak menatap Nazareth.
Nazareth hanya mengedikkan sedikit kepalanya ke arah para pengawal bayangan itu, dan seketika Migi Vox menundukkan kepalanya dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya.
Sejurus kemudian, boneka itu sudah menghilang bersama kedua pengawal bayangan tadi.
Nazareth mendesah pendek dan mengerang semakin bosan. Lalu memutuskan untuk menunggu di Balai Keterampilan.
Sementara Evelyn bermeditasi, ia duduk melorot di kursi baca di sudut ruangan sampai jatuh tertidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Evelyn akhirnya selesai menyerap cakra kakeknya. Begitu ia membuka mata, ia terkejut mendapati Nazareth sedang tertidur di kursi baca. Ia mengira itu Migi Vox.
Ia beranjak dari lantai dan mengendap-endap mendekati Nazareth sambil mengulum senyumnya.
Kelopak mata Nazareth bergetar dan membuka. Lalu mengerjap menatap Evelyn. Ketika ia mencoba menyergap pergelangan tangan Evelyn, gadis itu menudingkan telunjuk di depan hidungnya, karena masih mengira ia Migi Vox.
"Hei—" Evelyn memekik dan memberontak.
Nazareth mendesis menahan tawa, kemudian menyusupkan wajahnya di bahu Evelyn. Berusaha untuk tidak tertawa atau mengeluarkan suara. Ia tahu Evelyn mengira dirinya Migi Vox. Jadi ia mencoba untuk mengerjainya sedikit. Mencumbuinya dengan sentuhan-sentuhan panas, menciuminya di sana-sini.
"Vox!" Evelyn menjerit-jerit. "Lepaskan aku!"
Ternyata benar dia mengira aku Vox! pikir Nazareth. Lalu akhirnya mulai tak tahan untuk tertawa.
Evelyn terperanjat dan menyentakkan kepalanya ke samping dan menoleh ke belakang. "Earth?!" desisnya terkejut.
"Jadi…" Nazareth menarik wajahnya menjauh dari bahu Evelyn, kemudian menatap ke dalam mata gadis itu. "Vox biasa begini?" ia bertanya di antara tawanya.
"Oh---please, don't ask!" sembur Evelyn bernada ketus, lalu melompat dari pangkuan Nazareth. "Sejak awal dia memang sudah mesum, kan?"
Nazareth terkekeh dan menyandarkan punggungnya lagi. Lalu menopang pipinya dengan kepalan tangan dengan siku tangan bertumpu di lengan kursi.
"Kenapa kau di sini?" tanya Evelyn.
"Apa hanya Vox yang boleh ke sini?" gumam Nazareth pura-pura marah.
"Di mana Vox?" Evelyn menoleh dengan mata terpicing.
"Sudah kukirim ke Black Hole!" jawab Nazareth sambil beranjak dari tempat duduknya.
Evelyn menatap wajah Nazareth dengan alis bertautan.
"Sudah pagi," kata Nazareth sambil merangkul bahu Evelyn. "Kita harus keluar!"
Evelyn terlihat ragu. Masih penasaran mengenai keberadaan Migi Vox.
Tapi Nazareth sudah menariknya keluar dari Balai Keterampilan.
Teman-temannya baru saja keluar dari pondok pemandian obat ketika ia mendarat di pekarangan pondok.
Guardian mereka mengawal di belakangnya.
Altair menoleh pada Xena sembari menyeringai.
"Kenapa kau menyeringai?" tanya Xena dengan tatapan curiga.
Altair menelengkan sedikit kepalanya ke arah Xena, "Sudah siap buat adegan menarik selama sebulan?" godanya sambil tersenyum nakal.
"Sudah bosan hidup, ya?" gerutu Xena sambil mengacungkan tinjunya pada Altair.
Cleon dan Electra tergelak menanggapinya.
Guardian mereka menyeruak melewati keempatnya, kemudian bergabung dengan Nazareth, dan bergegas ke arah dapur.
Cleon dan Electra menghambur ke arah Evelyn, sementara Xena dan Altair mulai saling baku hantam di belakang mereka.
"Perlihatkan pada kami cakra keenammu!" pinta Electra bersemangat.
"Oke!" Evelyn menanggapinya tak kalah bersemangat. Lalu mengeluarkan cakra spiritualnya.
"Whoa—" Cleon dan Electra berseru takjub.
Xena dan Altair berhenti saling baku-hantam, lalu menghambur ke arah mereka.
"Apa tekniknya?" tanya Altair penasaran.
"Tak banyak perbedaan," gumam Evelyn dengan muram.
"Maksudmu… tidak ada tambahan atribut atau keterampilan baru?" Xena bertanya tak yakin.
Evelyn mengangguk sedih.
"Aneh sekali," gumam Electra dengan dahi berkerut-kerut.
"Dari mana kau mendapatkan cakramu?" Cleon bertanya dengan serius.
"Kakekku," jawab Evelyn dengan ekspresi kecewa. Tidak mengira kakeknya begitu payah!
"Kalau tak salah, kakekmu…" Cleon mengusap dagunya, dahinya berkerut-kerut, mencoba mengingat-ingat.
"Orion Katz!" timpal Evelyn.
"Benar, Orion!" ulang Cleon sedikit kikuk. Mendadak gugup teringat pada ayahnya. "Terkenal sebagai Si Tangan Besi."
"Si Tangan Besi?" Evelyn dan ketiga lainnya memekik bersamaan.