
"Kenapa Lord Vox tertawa?" Xena mengerutkan keningnya.
Migi Vox mengerjap menatap Nazareth dengan ekspresi penasaran seorang anak kecil.
Seisi ruangan menatap Nazareth dengan raut wajah tegang.
Bagaimana tidak?
Itu adalah pertama kalinya pemilik akademi itu tertawa begitu lepas!
Apakah itu pertanda bagus?
"Kau bilang cakramu didapat dari ayahmu?" tanya Nazareth di antara sisa-sisa tawanya.
Evelyn mengerutkan keningnya.
Wajah semua orang juga berkerut-kerut kebingungan.
Nazareth berhenti tertawa. "Itu teknik tulang cakramu, Eve!" ia memberitahu. "Cakra Apollo!"
Evelyn semakin tergagap. Cakra Apollo?
"Lalu di mana bagian lucunya?" tanya Lady Die tak mengerti. Kenapa orang genius selalu cenderung sinting? pikirnya.
"Aku hanya tak tahan melihat wajah bodohnya!" seloroh Nazareth.
"Apa?" Evelyn memelototinya.
Seisi ruangan berdesis menahan tawa.
Evelyn mengedar pandang dengan intensitas tatapan yang bisa membakar pondok.
"Forget it!" tukas Nazareth kembali serius. "Ceritakan bagaimana kau melakukannya?"
"Tidak akan!" sergah Evelyn bernada kesal.
Seisi ruangan meledak tertawa.
Nazareth hanya mengulum senyumnya. Melontarkan tatapan geli. "Baiklah," katanya pada semua orang. "Kita lanjutkan pembahasan tadi!"
"Pembahasan apa?" Lady Die menginterupsi.
Nazareth mengerling ke arah Salazar dan Arsen Heart. "Pembahasan soal tulang cakra," jawabnya pada Lady Die. "Tulang cakra yang mereka dapat merupakan tulang cakra tangan sebelah kanan. Hanya cocok untuk Cleon!"
Seisi ruangan mengerling ke arah Cleon.
Pemuda itu mengerjap dan terkesiap. Tidak mengira akan menerima kehormatan itu. Lalu ia mengedar pandang.
Seisi ruangan mengangguk menyemangatinya dengan antusias.
"Masih ada waktu tiga hari sebelum kalian menghadapi babak pertarungan selanjutnya," kata Arsen Heart, lalu berpaling ke arah Cleon. "Kau bisa menyerap tulang cakra itu."
Cleon tersenyum dan membungkuk pada Nazareth, "Thanks, My Lord!" ungkapnya dengan tulus.
"Tidak perlu berterima kasih padaku," tukas Nazareth. "Itu hasil kerja keras kalian!"
Migi Vox mendongak di tengah meja, kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Cleon.
Cleon mengerjap dan mengerutkan keningnya dengan raut wajah kesal.
"Selanjutnya pertarungan antar tim untuk memperebutkan satu kuota yang tersisa," tutur Nazareth. "Babak ini akan menguras banyak energi. Jadi, manfaatkan waktu kalian selama tiga hari ini untuk berlatih dan meningkatkan level. Karena jika kalian lolos, kalian akan dikirim ke Balai Cahaya bersama tim peringkat atas dan tiga tim jalur juara."
Evelyn dan teman-temannya saling bertukar pandang dengan mata terbelalak.
Migi Vox terperangah dengan wajah semringah.
"Untuk bisa memasuki Balai Cahaya, kalian harus melewati gerbang perbatasan kota," jelas Nazareth. "Dan untuk bisa melewati gerbang perbatasan Kota Cahaya, dibutuhkan sedikitnya level guardian."
"Level guardian?" Kelima remaja itu memekik bersamaan.
Level guardian adalah level lima puluh sampai lima puluh sembilan.
"Tapi kami tak mungkin melewati level lima puluh dalam tiga hari!" protes Xena dengan raut wajah muram.
"Melewati gerbang perbatasan Kota Cahaya juga termasuk ke dalam babak penentuan," Arsen Heart menimpali. "Kalian yang tidak bisa masuk ke Kota Cahaya dianggap gugur di babak ini."
Evelyn dan teman-temannya mengerang.
"Maka dia akan bertarung sendirian!" jawab Arsen Heart, juga sambil mengerling ke arah Evelyn. "Pertarungan di Balai Cahaya adalah pertarungan satu lawan satu," ia menambahkan. "Namun tetap mewakili tim dan negara."
Kelima remaja itu mengerjap bersamaan.
Seusai makan malam, kelima remaja itu terpisah mengikuti guardian mereka masing-masing.
Lalu menghilang bersamaan.
Dalam tiga hari ini, mereka semua akan berlatih secara eksklusif dalam ruang dimensi di bawah bimbingan langsung masing-masing guardian.
Nazareth membawa Evelyn ke Balai Keterampilan dengan Migi Vox yang kembali menjadi pria dewasa.
Evelyn masih cemberut ketika mereka sampai di sana, sementara Migi Vox memilih menyisi ke meja kopi di sudut ruangan untuk membaca buku.
"Tak perlu emosi," goda Nazareth. "Lagi pula aku suka wajahmu yang bodoh!"
Evelyn semakin cemberut.
Nazareth terkekeh sambil merangkul pinggang Evelyn dari belakang.
Migi Vox melirik mereka dari sudut ruangan. "Abaikan dia, dan ceritakan padaku bagaimana kau bisa menyerap cakra Apollo tanpa mengetahui kalau itu cakra Apollo!" katanya dalam bahasa cahaya.
Evelyn menyentakkan kepalanya ke samping dan terperangah. "Kau bisa bicara?"
"Bukan aku, tapi kau!" sergah Migi Vox. "Kau bisa bicara denganku sekarang!"
"Bahasa cahaya!" gumam Evelyn dengan takjub. Lalu melepaskan dirinya dari rengkuhan Nazareth dan menghambur ke arah Migi Vox.
Nazareth mengerang dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang bosan. "Beraninya kalian mengabaikanku!" gerutunya. Dengan terpaksa bergabung dengan mereka.
Evelyn menarik bangku di seberang meja, kemudian duduk menghadap ke arah Migi Vox dengan ekspresi senang dan penasaran seorang anak kecil, menatap boneka itu dengan ketertarikan baru.
"Jangan memelototiku seperti itu!" sembur Migi Vox. "Aku bukan makanan!"
"Tapi kalian selalu membuatku lapar," jawab Evelyn menirukan gaya bicara Nazareth.
Nazareth terkekeh sambil menarik bangku lainnya dan duduk berhimpun di sekeliling meja.
"Kau memanfaatkan manna Xenephon lagi, ya kan?" Migi Vox merunduk di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Evelyn. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Dari mana kau tahu?" tanya Evelyn tak bisa menutupi perasaan takjubnya.
"Aku menguping pembicaraan kalian," jawab Migi Vox sambil menyeringai.
"How dare you!" sembur Evelyn sambil melotot ke arah Migi Vox.
Boneka itu menelengkan kepalanya sedikit dan tersenyum miring. "Nyx menyarankanmu untuk menemukan ingatan yang paling menyenangkan," katanya. "Dan kau tanpa sadar malah membangkitkan cakra Apollo. Apakah mengetahui dirimu mewarisi tulang cakra kepalanya sangat menyenangkan?"
"No, no, no!" sergah Evelyn cepat-cepat. "Tidak seperti itu. Aku sebenarnya mengenang ayahku. Tapi setiap kenangan mengenai ayahku selalu membuatku sedih. Jadi ketika aku sampai di alam bawah sadar, aku tak bisa menemukan ayahku."
Nazareth dan Migi Vox bertukar pandang.
Evelyn tertunduk muram. "Aku menemukanmu," bisiknya sambil mengerling pada Nazareth.
"Kau menyerap cakraku lagi?" Nazareth memicingkan matanya.
"Tidak juga!" Evelyn menggeleng-geleng. "Kau datang memberikan lencana itu."
"Ingatan itu…" gumam Nazareth dengan dahi berkerut-kerut.
"Kau bilang itu cakra ayahku," Evelyn menambahkan dengan muram.
"Kau menyerap lencana ayahmu?" Migi Vox menaikkan sebelah alisnya.
"Hmh!" Evelyn mengangguk sendu.
"Aku mengerti," sela Nazareth. "Kau masih ingat bentuk lencana itu?"
Evelyn mengerjap dan mengangkat wajahnya, menoleh pada Nazareth. "Mahkota peri!" ia menyadari.
Lencana perwira itu sebenarnya berbentuk logo kekaisaran, bentuknya seperti sepasang sayap terkembang yang saling bertautan. Namun jika dilihat secara terpisah, masing-masing sayap itu bentuknya sama persis dengan mahkota peri yang tumbuh di belakang telinga Evelyn.
"Tenyata hanya begitu," gumam Migi Vox dengan ekspresi kecewa seorang anak kecil, kemudian melemaskan punggungnya ke sandaran bangku.