
"Ikut aku!" ajak Nazareth pada Evelyn seusai makan malam sementara yang lain kembali ke penginapan.
Sama seperti di Arena Debut, penginapan, dan restoran hingga kedai minuman di sana menjadi satu dengan arena dan balai pemerintahan dalam satu gedung.
Nazareth menuntun Evelyn menyusuri koridor panjang menuju balkon belakang di lantai dua, kemudian menyeberangi jembatan yang menghubungkan area pusat pemerintahan dengan menara, lalu meniti tangga menuju puncak menara, di mana ia bertemu dengan adiknya tadi siang.
Ruang tangga menuju puncak menara itu tidak terlalu besar, hanya berisi tangga yang meliuk-liuk sampai ke puncak.
Para ksatria penjaga hanya terdapat di pintu masuk dan di pintu keluar di puncak menara.
Patung emas penghulu malaikat yang sedang menghunus pedang dengan sayap terkembang, bertengger di puncak menara itu dalam ukuran besar, terlihat seperti melayang beberapa kaki dari permukaan lantai. Jubah dan rambutnya seperti melecut-lecut jika dilihat sambil berjalan.
"Mikhael!" Evelyn menggumam takjub. Ia mendongak menatap patung itu dengan mata berbinar-binar, menampakkan ekspresi senang dan penasaran seorang anak kecil.
"Aku membawamu ke sini bukan untuk memperkenalkanmu dengan Mikhael," dengus Nazareth bernada kesal.
Bahkan patung malaikat membuatnya cemburu!
"Tak perlu diperkenalkan lagi," tukas Evelyn. Tatapannya tidak bisa berpaling dari patung raksasa itu.
"Kalau begitu kau berkencan saja dengan Mikhael!" sembur Nazareth dengan cemberut.
Migi Vox mendongak di pangkuannya, menatap wajahnya dengan ekspresi bingung. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
Evelyn terkekeh dan memalingkan wajahnya dari patung itu, kemudian bergegas ke tepi balkon.
Para penjaga berzirah emas berjaga di beberapa titik, membeku seperti patung pasukan tentara langit di sekeliling Mikhael.
Nazareth berdiri di depan pagar balkon sambil memandang lepas ke pekarangan Balai Budaya.
Evelyn bergabung di sampingnya dan kembali terpukau.
Pada malam hari, Kota Cahaya itu terlihat jauh lebih menakjubkan dibanding Hutan Berburu Peri Monster.
Segalanya tampak berkilau dan bercahaya, dengan aneka warna.
Serbuk cahaya berwarna-warni bertebaran di mana-mana seperti hujan salju. Begitu juga dengan bola-bola cahaya yang juga berwarna-warni. Yang besar terlihat seperti lampion terbang, yang kecil terlihat seperti dandelion.
Makhluk-makhluk terbang berseliweran di sekeliling mereka, sebagian para ksatria yang sedang berpatroli, sebagian peri monster bersayap, dan sebagian lagi penduduk kota yang hanya lewat.
Pemandangan di bawah mereka terlihat seperti kebun permata.
Nazareth dan Migi Vox melirik Evelyn dengan gerakan seragam.
Evelyn balas meliriknya. "Apa?" sembur Evelyn pura-pura marah. "Apa kau juga cemburu pada pemandangan."
Nazareth mendesis menahan tawa. "Tentu saja aku cemburu," katanya. "Apa perlu aku menjadi peri monster baru kau akan memandangku?"
"Coba saja!" tantang Evelyn sambil terkekeh.
Nazareth balas terkekeh sambil menarik gadis itu ke dalam dekapannya dengan sebelah tangannya.
Migi Vox mendengus dan menyikut dadanya.
Nazareth melonggarkan jarak sedikit untuk memberi ruang bagi Migi Vox.
Boneka itu bersedekap dengan tampang cemberut.
"Aku ingin berjalan-jalan," kata Evelyn setengah merajuk.
"Baiklah!" tanggap Nazareth bersemangat. Ia melepaskan rangkulannya sebentar, kemudian mengangkat Migi Vox dan memindahkannya ke pagar balkon. Lalu membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah boneka itu. "Dengar, Vox," katanya. "Kau kembalilah ke Balai Cahaya. Papa ingin berkencan!"
Migi Vox mendengus lagi, memalingkan wajahnya sambil cemberut. Kedua tangannya masih terlipat di depan dada.
Evelyn terkekeh geli melihat tingkah boneka itu.
Kedua penjaga itu serentak berlutut dengan hormat tentara.
Migi Vox melompat berdiri di pagar beranda, kedua tangannya masih bersedekap, kemudian melengkungkan telunjuknya ke arah Evelyn, mengisyaratkan gadis itu untuk mendekat.
Evelyn membungkuk ke arah Migi Vox. Boneka itu mengecup sudut bibirnya.
Evelyn terbelalak.
Sekarang boneka itu mengedipkan sebelah matanya dan menyeringai.
Nazareth memutar-mutar bola matanya dengan ekspresi muak.
Evelyn mendesis menahan tawa.
Migi Vox menjulurkan lidahnya pada Nazareth, kemudian menurunkan tangannya dan berbalik, melipat kedua tangannya di belakang, kemudian melesat meninggalkan menara itu diikuti kedua penjaga tadi.
Nazareth melingkarkan tangannya di pinggang Evelyn, menarik kedua kaki gadis itu ke punggung kakinya, "Saatnya bertamasya," katanya. "Sebaiknya kau berpegangan!" ia menambahkan sambil tersenyum nakal.
Evelyn mengalungkan kedua tangannya di leher Nazareth sambil mengulum senyumnya.
Sejurus kemudian, pria itu sudah membawanya terbang melesat ke langit malam.
Lalu berhenti di awang-awang, berdiri melayang dengan hanya bertumpu pada kedua kaki Nazareth.
"Whoaaaaa…" Evelyn mengedar pandang dengan mata dan mulut membulat. Terpukau oleh pemandangan dari atas sana.
Nazareth tersenyum lembut, menatap wajah kekasihnya dengan hati berbunga-bunga. "Kau ingin bertemu manusia peri?" ia menawarkan.
Evelyn spontan mendongak menatap wajahnya dengan wajah semringah. "Mereka benar-benar ada?"
"Of course," jawab Nazareth tanpa bisa menutupi perasaan harunya, ketika tersadar hingga timbul kegelisahan bahwa ia hampir tak pernah melihat gadisnya segembira itu. Aku tak pernah membahagiakanmu selama ini, katanya dalam hati. "Tapi sebaiknya kau menciumku dulu. Rayu aku sedikit!" godanya.
Evelyn tersenyum geli. Kau yang seperti ini benar-benar menggemaskan, batinnya.
"Atau aku akan membawamu tetap mengambang di awang-awang sepanjang malam!" Nazareth menambahkan.
Evelyn tiba-tiba mengetatkan rangkulannya dan menyusupkan wajahnya di dada Nazareth. "Asal tetap denganmu aku sama sekali tak keberatan," bisiknya sambil terkekeh.
Senyum Nazareth menghangat, ia mengusap punggung Evelyn dengan satu tangan, kemudian menyusupkan wajahnya di puncak kepala gadis itu. Sangat sederhana, pikirnya. Tapi membuatku merasa dicintai begitu besar.
Nazareth memutar tubuhnya dan melesat kembali menembus udara malam. Kemudian mendarat di sebuah desa kecil di pinggiran kota.
Desa itu merapat pada dinding yang terjal di lembah. Rumah-rumahnya terbuat dari pohon oak besar yang menjadi satu dengan pohon tersebut. Bisa dibilang pohon berbentuk rumah dengan daun-daunnya sebagai atap.
Rumah-rumah itu memiliki lekuk-lekuk yang lembut dan kontur yang tidak teratur seperti istana akar dengan cabang-cabang pohon yang dipuntir ke sana-kemari sebagaimana mahakarya para seniman bonsai.
Menjadikan tempat itu terlihat seperti ruang pameran seni pahat surealis bertema fantasi.
Sebuah sungai mengalir di sepanjang dasar lembah, melewati ladang-ladang yang telah diolah, pohon-pohon buah, barisan pohon poplar dan dandelion yang bercahaya.
Orang-orang di sana berkeliaran seperti kupu-kupu, beterbangan ke sana kemari meninggalkan jejak serbuk cahaya berwarna-warni seperti kupu-kupu monarch di Hutan Berburu Peri Monster.
Di sini kupu-kupu monarch semacam itu bisa ditemukan di mana saja dalam jumlah yang lebih banyak dengan warna yang lebih beragam dalam berbagai ukuran.
Anak-anak tersentak dan berhamburan ke arah Nazareth dengan gembira.
Orang tua mereka terkesiap, kemudian melesat mengikuti anak-anaknya tak kalah gembira. Lalu mendarat di sekeliling Nazareth dan membungkuk. "My Lord!"
Seorang gadis menyeruak ke tengah-tengah kerumunan kemudian membungkuk tepat di depan Nazareth dengan terengah-engah. Lalu mengangkat wajahnya dan tergagap menatap Evelyn.
Evelyn mengerjap dan menelan ludah. Lalu mengerling ke arah Nazareth.