Poison Eve

Poison Eve
Chapter-66



"Kau membawa belati ke mana-mana?" tanya Xena ketika langkah mereka sudah semakin jauh ke dalam hutan.


"Hanya saat pergi ke hutan," jawab Electra. "Pihak akademi tidak mengizinkan kita membawa senjata ke dalam asrama. Lady Corn menyimpannya untukku!"


"Kau sangat beruntung memiliki guardian seperti Lady Corn," gumam Xena dengan raut wajah muram.


"Menurutku Lady Die juga tidak buruk!" sela Altair.


Semua mata serentak menoleh pada Altair.


"Selain mulutnya, Lady Die memiliki reputasi yang baik di akademi," tutur Altair. "Kalau tidak, Lord Vox sudah menghalaunya dari asrama sebelum Wakil Akademi."


"Alasan Wakil Akademi ditangkap pihak Ordo Angelos saja masih terasa tak masuk akal bagiku," gumam Evelyn dengan raut wajah menyesal. "Maksudku, dia melakukannya demi kebaikan akademi. Kenapa sampai harus diserahkan ke pihak Ordo?"


Cleon tersenyum tipis menanggapi Evelyn. "Kalau aku tak salah dengar, Wakil Akademi bukan ditangkap karena kasusmu!" Ia memberitahu.


Keempat temannya serentak menoleh dan terperangah. Penasaran.


"Hanya rumor!" sergah Cleon cepat-cepat.


"Apa karena dia menghujat Lord Vox?" tanya Evelyn dengan dahi berkerut-kerut.


Cleon melirik Evelyn seraya terkekeh tipis. "Lord Vox adalah orang yang paling tidak peduli pada reputasi," katanya. "Kalau tidak, Lady Die akan jadi orang pertama yang diserahkan ke Ordo Angelos!"


Benar juga! pikir Evelyn. Lalu menoleh pada Cleon dan menatapnya dengan mata terpicing, mencoba mencari jawaban.


Tapi Cleon kemudian hanya mendesah dan menggeleng tipis seakan coba mengenyahkan apa yang ada di dalam kepalanya.


Mencoba meredakan sengatan rasa ingin tahunya yang kuat, Evelyn menatap mata Cleon dengan sorot penasaran, tapi kemudian mengurungkan niatnya untuk mengorek jawaban dari pemuda itu. Bisa saja informasi itu menempatkan Cleon dalam bahaya, pikirnya.


Sisa perjalanan itu berakhir dalam kebisuan panjang hingga Altair memandu mereka untuk berhenti.


"Pohon ini lumayan besar dan tinggi," kata Altair sambil menepuk-nepuk salah satu batang pohon kering. "Kukira cukup untuk kita berlima."


"Hmh!" Keempat temannya mengangguk antusias. Lalu mulai menebang pohon itu secara bergiliran.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah berhasil menebang pohon itu dan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian. Masing-masing mereka membelah sendiri bagian mereka dan mengikatnya. Lalu bergegas pulang dengan masing-masing membawa satu ikat kayu bakar siap pakai di punggung mereka.


Perjalanan pulang menjadi tak lebih mudah karena beban bawaan mereka.


Tak sampai setengah jalan, langkah Xena dan Electra sudah mulai melambat, sementara Altair dan Evelyn sudah berada jauh di depan. Cleon bahkan tertinggal jauh di belakang mereka.


Altair dan Evelyn menoleh pada mereka dengan prihatin, lalu berhenti dan saling bertukar pandang.


"Altair…" Evelyn berbisik lirih seraya mengalihkan perhatiannya pada teman-teman mereka. "Kita satu tim, kan?"


"Sure," jawab Altair balas berbisik, tatapannya tak lepas dari teman-teman mereka.


"Kita adalah satu kesatuan," lanjut Evelyn masih dalam bisikan lirih. "Tanpa kekuatan cahaya… kita mungkin mampu bertahan. Tapi mereka belum tentu. Xena hanya tipe pengintai. Sementara Cleon… meski tipe kekuatan dan pertahanan, bagaimanapun dia hanya seorang tuan muda, tidak biasa bekerja kasar. Dan Electra… meskipun cukup tangguh di arena, beban adalah kelemahannya!"


"So… apa tepatnya yang ingin kau katakan?" Altair bertanya terus terang. Lalu menoleh pada Evelyn.


"Kurasa… misi latihan ini, mungkin saja tujuan sebenarnya adalah menguji kerja sama kita," gumam Evelyn tak yakin.


"Kerja sama…" Altair balas menggumam, mengulang kata-kata Evelyn. "Hmmm… masuk akal!"


"Eve…" Xena memanggil dengan terengah-engah. "Kenapa kau begitu kuat? Aku baru berjalan sebentar saja rasanya sudah sekarat!"


"Aku baru mengangkat kayunya saja sudah tak sanggup," timpal Cleon di belakang mereka.


Evelyn berbalik dan tersenyum. "Aku terlahir dengan bakat karunia cahaya penuh," kata Evelyn. "Jadi sedikit lebih kuat!"


"Kekuatan penuh?" Xena dan Electra memekik bersamaan.


Cleon mengerjap dan terkesiap, mempertanyakan hal yang sama.


Evelyn mengulum senyumnya.


"Bagaimana kalau kita curang saja?" usul Xena putus asa. "Kita gunakan kekuatan cahaya sampai di puncak bukit. Saat turun, mungkin bebannya tidak terlalu berat!"


"Kau yakin Lord Vox tidak mengawasi kita secara diam-diam?" tukas Electra sambil melirik Xena. Sebelah alisnya rampingnya terangkat tinggi.


"Saat jalanan menurun, tidak menjamin beban akan terasa lebih ringan!" Altair menimpali.


Xena langsung melemas. "Misi ini terlalu sulit!" gerungnya sambil terhuyung-huyung.


"Sudahlah!" kata Altair sambil menghampiri Cleon dan menurunkan tali dari bahunya. "Berikan sebagian kayumu padaku!" katanya.


Cleon spontan mendongak menatap Altair dengan isyarat bertanya, sementara ia masih membungkuk menekuk perutnya.


Xena dan Electra mengerjap menatap Altair dengan mata dan mulut membulat.


Evelyn menghampiri Xena dan Electra. "Punya kalian juga!" katanya. "Berikan sebagian kayu bakar kalian padaku!"


"Tidak!" Xena dan Electra menolak serempak.


"Meski tak boleh menggunakan kekuatan cahaya, tapi sebagai tim, asalkan semua orang berhasil membawa pulang kayu bakar, misinya selesai, kan?" kata Evelyn.


"Tapi—" Xena dan Electra memprotes bersamaan.


"Tidak perlu memprotes!" kelakar Evelyn memotong perkataan kedua temannya, menirukan gaya bicara Nazareth saat menghardik Nyx Cornus. Lalu menarik paksa tali yang tersampir di bahu Xena dan Electra dan menurunkan kayu bakar dari punggung keduanya.


Kedua gadis itu tergagap dan bertukar pandang dengan ekspresi ragu.


Evelyn dan Altair membungkuk untuk membongkar ikatan kayu teman-teman mereka.


"Bagi rata denganku!" instruksi Altair pada Evelyn.


"Wait—" Cleon mencoba mencegah mereka.


"Jangan khawatir!" potong Altair cepat-cepat. "Aku sudah biasa melakukannya, ingat?"


"Dan aku terlahir dengan karunia cahaya penuh!" timpal Evelyn.


"Tapi—" Cleon masih terlihat ragu.


"Kita bahkan belum mencapai puncak, sementara langkah kita sudah melambat!" sergah Evelyn memotong perkataan Cleon. "Kalau terlalu lama, dikhawatirkan kita tak bisa sampai sebelum makan siang."


Cleon mendesah dan menyerah, lalu membungkuk untuk mengikat kembali sisa kayu bakarnya.


Xena dan Electra terpaksa mengikutinya.


Sejurus kemudian, mereka sudah beranjak dan melanjutkan perjalanan pulang.


Mencapai puncak bukit, langkah Altair mulai melambat dan terengah-engah.


Evelyn juga sudah terengah-engah, tapi langkahnya masih terlihat gesit. Ia melirik Altair dengan khawatir. Tentu saja dia sudah terbiasa melakukan ini, katanya dalam hati. Tapi tanpa kekuatan cahaya… Evelyn menggeleng tak yakin.


Ketika jalanan mulai menurun, Altair mulai terhuyung dan nyaris jatuh tersungkur.


"Are you okay?" Evelyn dan Cleon spontan menangkap bahunya dan menahannya.


"It's ok!" sergah Altair terengah-engah.


"Altair!" Xena menggumam khawatir seraya menghampirinya. "Kau membantu membawa banyak kayu dari kami," katanya dalam gaya merajuknya yang khas. "Tak bisa terus seperti ini!"


Altair mengangkat sebelah tangannya untuk menyela Xena. "Aku masih sanggup," katanya semakin lemah.


"Sudahlah!" Cleon merenggut tali dari bahu Altair dan menurunkan kayu bakar dari punggungnya. "Kembalikan punyaku!" desaknya. "Aku sudah pulih banyak!"


"Punyaku juga!" kata Electra.


Altair menjatuhkan dirinya di rumput untuk memulihkan napasnya, sementara Cleon dan Electra berjongkok di sisinya untuk membongkar ikatan kayu bakarnya.


"Punyamu juga!" Cleon mendongak ke arah Evelyn.


"Tidak perlu!" sergah Evelyn. "Aku masih sanggup melakukannya. "Aku akan mengatakannya kalau aku sudah tak sanggup. Kita lakukan dengan bergantian!"


Cleon mendesah dan menggeleng-geleng. "Baiklah," katanya dengan terpaksa.


Di sisa perjalanan itu, mereka membagi beban secara bergiliran dan membagi rata jumlah kayu bakar setelah semakin dekat ke estat Nazareth, sehingga mereka sampai dengan masing-masing beban yang sama.


Lalu terpuruk bersama di pekarangan belakang estat Nazareth.


Itu, baru namanya kerja sama tim yang solid!


Terpuruk bersama.