Poison Eve

Poison Eve
Chapter-112



"Kau tak harus begini, Earth!" Kaisar meraup kedua pundak Nazareth dan menegakkan tubuhnya. "Tidak ada orang lain yang melihat kita."


"Kau ayahku," tukas Nazareth. "Sudah sepantasnya mendapatkan hormatku!"


Kaisar mengerjap dan tertegun menatap Nazareth, bersikap seolah-olah perkataan putranya itu suatu keajaiban. Lalu mengerling ke arah Evelyn. Gadis Katz inikah yang mengubahmu? pikirnya.


Evelyn tertunduk semakin dalam.


Nazareth bertukar pandang dengan pamannya dengan intensitas tatapan yang saling menghujam.


Kaisar mendekat pada Evelyn dan menyentuh pundak gadis itu dengan lembut. "Nona Katz, kalau tidak keberatan, maukah kau bergabung denganku untuk makan siang bersama?"


"Tentu saja tidak, Yang Mulia!" jawab Evelyn dengan sopan dan tetap membungkuk. "Ini adalah kehormatan. Tapi bagaimanapun saya hanya pelajar, keputusan tetap berada di tangan Lord Vox."


"Bagaimana, Earth?" Kaisar beralih pada Nazareth.


"Dengan segala hormat, Ayah! Evelyn harus mempersiapkan diri untuk pertarungan berikutnya. Dia harus berlatih," tolak Nazareth dengan halus.


Keras kepala! dengus Kush Thunder dalam hatinya.


"Baiklah," kata Kaisar sambil mengayunkan sebelah tangannya dan mengulurkannya pada Evelyn seperti sikap orang mengundang untuk berdansa. "Paling tidak berikan tua renta ini kehormatan untuk menggandeng wanita cantik ini," pintanya.


Nazareth mengangkat bahunya sedikit dengan sikap tak berdaya.


"Sure, My Lord!" sambut Evelyn, sambil menggamit lengan Kaisar. Lalu berjalan mendahului semua orang, menyusuri koridor panjang menuju ruangan khusus keluarga kaisar.


Orion Jace mengangguk singkat pada Nazareth sambil menjejeri langkah pemuda itu. Kush Thunder berjalan di belakang mereka sambil menyembunyikan senyum liciknya.


"Kalau tidak salah…" Kaisar menepuk-nepuk lembut punggung tangan Evelyn yang menggamit lengannya. "Tadi kau menggunakan teknik kekuatan inti peri pelindung leluhur, apa aku benar?"


"Benar, Yang Mulia," jawab Evelyn sambil tersenyum dan melirik ke belakang. "Salah satu dari sepuluh teori kekuatan inti peri pelindung yang terkenal itu."


Cleon Jace melirik Nazareth melalui sudut matanya dan tersenyum samar.


"Kalau begitu… bukankah itu artinya kau keturunan dari Saint Apollo?" tanya Kaisar lagi.


"Benar, Yang Mulia," jawab Evelyn sambil tersenyum muram.


Kaisar mengerjap dan tercenung dalam waktu yang lama. Mencapai pintu masuk sebuah ruangan yang khusus disediakan untuk keluarga kaisar, ia menghentikan langkahnya dan menurunkan tangan Evelyn. Kemudian meraup kedua bahu gadis itu, menghadapkan Evelyn ke arahnya. "Jadi kau memang putri Rodrigo?"


Evelyn langsung terdiam.


Nazareth membeku di belakangnya dengan raut wajah kencang.


Kaisar tersenyum tipis dan mengusap-usap bahu Evelyn. "Terima kasih sudah bersedia menemani tua renta ini sampai ke sini," katanya dipenuhi makna. Ia menurunkan kedua tangannya dari bahu gadis itu dan mengeluarkan pelat khusus orang kaisar, kemudian memberikannya pada Evelyn. "Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk datang menemuiku," pesannya.


Evelyn membungkuk dengan sikap hormat kaum bangsawan, "Ini terlalu banyak, Yang Mulia!"


"Tidak lebih banyak dari jasa ayahmu untuk kekaisaran," tukas Kaisar.


Evelyn menelan ludah dengan susah payah, hampir menangis karena terharu. Kenangan tentang ayahnya selalu berhasil menyayat hatinya.


Tiba-tiba seulas senyuman miring tersungging di sudut bibir Kush Thunder.


"Jangan terlalu sungkan padaku, Nak!" Kaisar berpesan sekali lagi, sambil mengusap puncak kepala Evelyn sebelum akhirnya berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruangan khusus untuk beristirahat keluarga kaisar.


Orion Jace mengangguk pada Nazareth sekali lagi, kemudian melangkah ke dalam mengekori Kaisar bersama Kush Thunder yang terus-menerus menyunggingkan senyuman samar.


Sekembalinya ke akademi, Evelyn langsung menghilang ke ruang dimensi untuk menyempurnakan keterampilan rahasianya, sementara teman-temannya bermeditasi di tempat persembunyian mereka masing-masing.


Nazareth tercenung dalam perpustakaan pribadinya, menatap tumpukan kertas kosong tanpa semangat. Migi Vox duduk bersila di atas meja di hadapannya, bersedekap dengan raut wajah bosan.


Dua pengawal bayangan berseragam ninja misterius, melayang turun dari kegelapan entah dari mana, kemudian mendarat ringan tanpa suara di beranda perpustakaan Nazareth.


Nazareth menjentikkan jarinya dan seketika pintu geser perpustakaan itu terkuak membuka.


Kedua pengawal itu berlutut di tengah ruangan dengan hormat tentara.


"Saint Claus ingin menemui Anda," salah satu pengawal melaporkan dalam bahasa cahaya yang hanya bisa didengar oleh Nazareth.


Saint Claus adalah Mikhail Claus. Setiap Master Spiritual yang sudah melewati level cahaya di Ordo Angelos akan dipanggil Saint---orang suci.


Nazareth melemparkan pelat khusus Ordo Angelos pada pengawalnya, "Suruh dia menemuiku di Balai Keterampilan," titah Nazareth dalam bahasa cahaya yang sama.


Pelat itu merupakan kunci dimensi yang bisa membawa seseorang masuk ke Balai Keterampilan Militer yang sekarang menjadi ruangan Evelyn. Dan pelat itu hanya ada dua.


Sementara itu, di dalam sana, Evelyn sudah melewati tiga puluh tingkat keterampilan yang tidak diduganya ternyata lumayan mudah. Mungkin karena levelnya sudah melewati empat puluh. Bisa jadi karena daya tangkap dan daya ingatnya di atas rata-rata.


Latihan itu hanya sebagai syarat penyempurnaan karena Evelyn tidak mempelajarinya secara bertahap. Dan gadis itu hanya perlu mengingatnya tahap demi tahap.


Ketika ia mencoba mengaktifkan lukisan keempat puluh lima, ia terkejut mendapati lukisan itu tidak menyala berwarna emas. Tapi berwarna biru. Dan sosok yang keluar dari lukisan bukan ksatria berbaju zirah yang biasa terlihat seperti patung emas, tapi pria paruh baya dengan mantel armor putih bercorak perak berjubah hitam.


Pria itu melayang keluar dari dalam lukisan, kemudian mendarat ringan di depan Evelyn sambil tersenyum. Kedua tangannya bersilangan di belakang tubuhnya.


Evelyn menelan ludah dan tergagap, lalu beringsut menjauhinya. Ini keterampilan apa? pikirnya bingung.


Pria paruh baya itu memutar jemarinya di sisi wajahnya dalam gerakan elegan, sementara tangan lainnya masih terlipat di belakang tubuhnya. Ia menyentil udara kosong dan seketika sebuah energi berbentuk kelereng berwarna biru melesat ke arah Evelyn.


Evelyn mengelak dengan melentingkan tubuhnya ke belakang dalam posisi kayang.


Pria itu menyentil bola energi lagi dalam jumlah lebih banyak.


Evelyn memantul-mantul di udara untuk menghindari serangan itu dalam gerakan salto.


Pria paruh baya itu tersenyum tipis. Melontarkan lebih banyak manna lagi untuk menyerang titik paling mematikan di tubuh Evelyn.


Evelyn menyilangkan kedua tangannya di depan wajah dengan jemari membentuk cakar, kemudian melompat sambil mengayunkan kedua cakarnya ke dua arah berlawanan di sisi tubuhnya.


Semburat cahaya berwarna emas berbentuk silang berpendar di depan wajahnya dan menyentakkan semua manna yang dilontarkan padanya.


Itu adalah keterampilan rahasia aliansi militer yang baru dipelajarinya. Salah satu keterampilan dasar tingkat pejuang level sebelas di undakan paling bawah.


Tapi karena level kekuatan Evelyn sudah melewati empat puluh, jangkauan energinya mencapai empat kali lipat dari yang diperagakan oleh sosok ilusi ksatria dalam lukisan.


Pria paruh baya itu tiba-tiba bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.


Evelyn mendarat dengan punggung sedikit membungkuk dalam sikap kuda-kuda, menatap pria paruh baya itu dengan dahi berkerut-kerut.