Poison Eve

Poison Eve
Chapter-149



"Untuk kalian yang tereliminasi, kami menyediakan tenda di depan gerbang dan kaca sihir di puncak gerbang!" salah satu pemandu acara memberitahu. "Dan tentunya masih dalam pengawalan ketat para tentara masing-masing negara!"


Anggota tim peringkat atas Shangri-La yang tereliminasi itu berbalik dan berjalan keluar gerbang dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya.


Para guardiannya berhimpun untuk menyemangati pemuda itu.


Evelyn mengerling ke arah Nazareth dengan gelisah. Akankah kami semua lolos?


Nazareth tersenyum samar dan mengedipkan sebelah matanya memberikan semangat.


Evelyn mendesah pelan dan kembali menatap gerbang.


Giliran tim peringkat atas Neraida sekarang yang maju, Tim Satu Akademi Kekaisaran.


Dan kecuali Catlyn Thunder, para anggota tim itu terlihat cemas.


Mereka juga berhasil melewati pintu gerbang tanpa hambatan yang berarti. Tapi ketika mereka mencapai tiga ratus meter dari Balai Budaya, tiga orang terpelanting.


Catlyn Thunder mengepalkan tangannya dengan gemetar.


Salah satu dari pemandu acara tiba-tiba menghilang di pintu gerbang, lalu dalam sekejap sudah berpindah tempat. Pria itu tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Catlyn dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya. "Hanya tersisa dua orang," katanya. "Apakah kau ingin mengaku kalah?"


Catlyn menggertakkan giginya, mengetatkan kepalan tangannya. Lalu mendongakkan hidungnya dengan ekspresi dingin, "Tidak!" tegasnya.


Para penonton di pekarangan Balai Budaya dan para pendukung di luar gerbang bertepuk tangan menyemangatinya.


"Tim berikutnya!" pemandu acara melanjutkan.


Evelyn dan teman-temannya bersiap-siap. Lalu melangkah satu per satu melewati pintu gerbang.


Semuanya berjalan lancar!


Tidak satu pun dari mereka tereliminasi.


Pekarangan Balai Budaya Kota Cahaya menggelegar oleh tepuk tangan meriah.


Setelah para peserta digiring memasuki Balai Budaya, para guardian menyusul di belakang mereka, sementara para tentara dari kedua negara tetap berjaga di luar gerbang perbatasan kota.


"Selamat datang di Balai Budaya Kota Cahaya!" Pemandu acara di aula Balai Budaya berganti orang.


Kedua pemandu acara merangkap wasit di arena pertarungan itu lebih energik dari wasit-wasit sebelumnya.


"Babak berikutnya adalah pertarungan tim satu lawan satu. Untuk tim yang tereliminasi sebagian, jika lolos ke babak berikutnya, babak pertarungan tim akan disesuaikan dengan jumlah anggota yang tersisa. Jadi tetap semangat dan… FIGHT!"


Aula meledak oleh tepuk tangan dan sorakan semangat.


Evelyn melirik Catlyn di seberang balkon dengan prihatin.


Gadis itu membeku dengan hidung mendongak arogan, namun sirat kegelisahan terlihat jelas pada wajahnya.


Aula itu terbuka untuk umum dan dihadiri penduduk Kota Cahaya yang tidak seberapa mengingat di tempat itu hanya dihuni para Master Spiritual dengan level kekuatan di atas lima puluh. Tapi lebih dari cukup untuk membuat aula gegap-gempita.


Tempat persiapan tim atau tempat khusus para guardian di lantai dua juga dirancang seperti di arena pertarungan terbuka di kota-kota kecil.


Beberapa pengunjung yang tidak kebagian tempat di dalam aula terpaksa harus menonton di pekarangan melalui kaca sihir yang dipasang di dinding luar bagian atas bangunan di serambi.


Salah satu pemandu acara mulai menjelaskan sejumlah peraturan. "Pertarungan akan dilakukan dengan diundi. Dan untuk tim yang lolos, akan melawan tiga tim jalur juara!"


Deretan layar di dinding atas aula mulai berkeredap. Tiga layar paling atas masih terlihat buram. Tiga di bawahnya mulai menyala.


"Mari kita perkenalkan terlebih dulu tiga Tim Jalur Juara!" kata salah satu pemandu acara penuh semangat. "Yang pertama Tim Jalur Juara Kekaisaran Shangri-La!"


Lima wajah mendominasi layar pertama di baris kedua dari atas, lengkap dengan data identitas dan kekuatan.


"Yang kedua Tim Jalur Juara Kekaisaran Neraida!"


Lima wajah lainnya muncul di layar kedua di baris kedua dari atas.


"Mereka—" Evelyn memekik dan tergagap-gagap.


Tim Jalur Juara Kekaisaran Neraida itu adalah lima dari tujuh Master Penggali Bakat.


"Tak perlu heran," tukas Nazareth. "Mereka semua adalah tuan muda bangsawan kelas dua Neraida."


"Tapi…" Evelyn menggantung kalimatnya dengan terbata-bata, suaranya tercekat di tenggorokan.


"Mereka baru mencapai level tiga puluh saat kau mengikuti ajang penggalian bakat," kata Nazareth, memotong perkataan Evelyn. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan!"


"Aku hanya tidak mengira kalau mereka masih pelajar," gumam Evelyn akhirnya bisa bicara lancar, tapi hampir tak terdengar.


"Sudah pasti aliran sihir!" Cleon mengambil alih jawaban.


"Oh, s h i t !" Xena langsung mengerang. "Aku benci penyihir."


"Dan yang terakhir…" pemandu acara berseru bersamaan. "Tim Jalur Juara Balai Cahaya!"


Aula menggelegar lebih spektakuler.


"Apa kau butuh saputangan sekarang?" goda Altair pada Xena.


Tim Jalur Juara Balai Cahaya juga aliran sihir.


"Kenapa rasanya wajah ketua tim Balai Cahaya itu sedikit familier?" gumam Evelyn dengan dahi berkerut-kerut.


"Dia mirip…" Cleon juga mengerutkan keningnya.


"Master Claus!" Xena dan Electra berseru bersamaan.


"Apa dia adik Master Claus?" tanya Evelyn pada Nazareth.


"Lebih tepatnya adik sepupu," jawab Nazareth.


"Mirip sekali!" komentar Xena dengan ekspresi polos.


"Jangan bilang kalau mereka juga berasal dari Akademi Sihir Saint Claus!" timpal Evelyn.


"Sayangnya ya!" tukas Nyx Cornus.


Pantas saja Saint Claus tidak terlalu keberatan saat mengalah di babak penyisihan! pikir Evelyn. Jangan-jangan peri pelindungnya juga bola kristal, batin Evelyn.


Dan sayangnya, lagi-lagi, ya!


"Sekarang saatnya menyambut momen yang istimewa!" pemandu acara mengumumkan. "Mari kita sambut dengan segala hormat… Ketua Ordo Angelos!"


Aula kembali meledak oleh tepuk tangan spektakuler.


Evelyn mengerjap dan terkesiap.


Tiga layar teratas mulai berkeredap, wajah Nazareth muncul di layar tengah dengan segala kebesarannya. Jubah kebesaran, tongkat emas raja, mahkota peri berbentuk sayap di kedua telinga, ikat kepala dari emas dengan permata biru di dahinya.


"Bagaimana bisa Anda berada di sana, sementara Anda juga di sini?" Xena melengak tanpa berkedip.


Tiga lainnya juga tidak berkedip, begitu pun para guardian mereka.


Catlyn Thunder membeku. Guardiannya membeku di sampingnya. Ia mengerling ke arah Nazareth dan menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana bisa? pikirnya.


Nazareth hanya tersenyum samar tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar.


Aku mengerti! pikir Evelyn.


Itu Migi Vox!


Pantas saja dia menghilang setelah babak kedua penentuan.


"Wakil Ketua Ordo Angelos!" pemandu acara menambahkan. "Dan Penasihat Agung Dunia Master Spiritual!"


Wajah Xenephon dan Mikhail Claus muncul di kiri-kanan Migi Vox.


"Penasihat Agung Dunia Master Spiritual?" Evelyn kembali menggumam takjub.


Lalu ketiga pria di layar itu muncul di tempat kehormatan di balkon lantai dua.


Wajah Nyx Cornus terlihat berseri-seri.


Seisi aula menjerit histeris seperti fans gila yang bertemu idola mereka.


Evelyn masih tergagap dengan mata dan mulut membulat.


Migi Vox melangkah mendekati pagar balkon, wajahnya terlihat dingin sekaligus mempesona. Menebarkan aura seorang raja yang sangat sadis namun menggiurkan. Ia mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai, dan seketika semua orang rebah ke lantai hingga tersungkur kecuali Nazareth.


Nazareth membungkuk dengan hormat tentara, pura-pura patuh.


"Setelah beberapa hari kompetisi, enam tim terbaik akhirnya terpilih!" Migi Vox membuka sambutan.


Evelyn kembali melengak. Dia bisa bicara? pikirnya terkejut.