
"Tunggu sebentar!" gumam Xenephon sambil mengerutkan dahi, seperti coba mengingat-ingat siapa gerangan pria tua bernama Bedros Damon itu. "Kalau tidak salah… Anda adalah Penyihir Hati Iblis yang terkenal itu?"
Evelyn dan teman-temannya saling bertukar pandang. Guardian mereka tidak bereaksi seolah mendadak jadi batu.
"Penyihir apa?" Xena berbisik pada Evelyn, tapi matanya tak lepas memandang penyihir itu.
Pria tua itu mengerutkan keningnya. "Apa aku mengenalmu?" ia bertanya pada Xenephon.
Xenephon melangkah mendekat dengan gerakan elegan. "Aku Xenephon Claus," ia memperkenalkan diri sambil membungkuk sekilas pada Bedros Damon.
"Tenyata wakil ketua Ordo Angelos!" gumam pria tua itu. "Pantas saja!"
Lady Die terhenyak mendengar perkataan pria tua itu. Ia menoleh pada Xenephon dengan mata dan mulut membulat. Wakil ketua? pikirnya terkejut. Kalau dia wakil ketua… lalu siapa Nazareth Vox?
Evelyn dan teman-temannya juga mengerjap dan terkesiap.
Arsen Heart dan Salazar Lotz melirik sekilas ke arah Lady Die melalui sudut matanya, lalu mengerling ke arah Xenephon.
"Tadinya aku sempat heran kenapa ada Master Spiritual Suci semuda ini," kata Bedros Damon. "Bagaimana bisa orang sepenting Anda mengenal orang macam kami?"
"Aku tidak sehebat itu," tukas Xenephon dengan sopan. "Lagi pula Senior sangat terkenal. Tentu saja semua orang mengenalmu."
Evelyn dan ketiga temannya mengawasi Xenephon dan pria tua itu bergantian. Bola mata mereka bergerak-gerak ke sana kemari seperti sedang menyaksikan pertarungan.
Lalu tiba-tiba Electra berpindah tempat ke sisi guardiannya dengan kekuatan teleportasi.
Evelyn dan Xena serentak terperangah.
"Lady, siapa pria tua ini?" bisik Electra pada Nyx Cornus. "Kenapa Master Claus begitu sungkan padanya?"
"Penyihir Hati Iblis adalah penyihir paling terkenal di dunia master spiritual," jawab Nyx Cornus balas berbisik. "Selain itu, dia punya kembaran yang sama kuat, namanya Kefas Damon. Jika digabungkan, kekuatan mereka tak terkalahkan. Teknik penyatuan peri pelindung mereka sangat hebat. Bahkan lebih hebat dari Master Dunia Peri."
"Hebat sekali!" pekik Electra sedikit terlalu bersemangat hingga membuat penyihir tua itu mengerling padanya. Electra spontan menelan ludah dan memalingkan wajahnya cepat-cepat.
"Muridku ini, putra gubernur!" Bedros Damon memberitahu. "Dia baru mencapai level tiga puluh. Dia sangat membutuhkan cakra spiritual ini."
Electra menatap penyihir itu dengan raut wajah muram, kemudian kembali berbisik pada Nyx Cornus. "Lady, apakah cakra Cleon akan hangus begitu saja?"
"Belum tentu," bisik Nyx Cornus menenangkan Electra. "Tanpa saudara kembarnya, Bedros bukan tandingan Master Claus. Meskipun cakra spiritualnya lebih banyak, usia cakra Master Claus tidak ada yang pendek."
Berbeda dengan cara berpikir Nyx Cornus, Xenephon justru berpikir bahwa jika Bedros ada di sini, maka Kefas berada di dekat sini. Penyihir tua ini sangat waspada, katanya dalam hati. Jika menyerang tiba-tiba hingga membuatnya kabur, tidak diragukan Kefas akan segera mengejar kemari. Nyawa anak-anak akan terancam, terutama karena Earth juga sedang menjaga Altair. Aku tak boleh membiarkannya menunda waktu lagi.
Bedros Damon mengawasi Xenephon dengan waspada.
Xenephon mendesah pendek dan memaksakan senyum. "Baiklah," katanya. "Senior bilang, muridmu membutuhkan cakra spiritual ini. Sebagai junior, seharusnya aku mengalah. Tapi—"
"Tapi apa?" sang putra gubernur menyela tak sabar. "Kami lebih dulu menemukan goliath ini!" sergahnya arogan. "Jika bukan karena kami telah melukainya, apa mereka bisa menangkapnya?" cemoohnya seraya menunjuk Evelyn dan teman-temannya.
Evelyn mengetatkan rahangnya bersiap untuk menyemburkan kata-kata pedas, tapi Xenephon kemudian mengerling padanya dan mengedipkan sebelah matanya, mengisyaratkan pada gadis itu bahwa semuanya dalam kendali.
Jadi kendalikan dirimu, Rubah Kecil! tatapan Xenephon memperingatkannya.
Memangnya kenapa kalau putra gubernur? pikir Xenephon tak peduli. Di belakang sana ada putra mahkota!
Xenephon tetap bergeming.
"Tampaknya…" Bedros Damon mengambil alih pembicaraan sambil merentangkan sebelah tangannya di depan muridnya, mencoba menahan pemuda itu. "Kau tidak berniat memberikan goliath itu pada muridku?"
"Itu tak benar," sanggah Xenephon tanpa ekspresi. "Semua peri monster di sini tidak ada pemiliknya kecuali kekaisaran. Kenapa bicara begitu? Kalian memang lebih dulu menemukannya. Tapi merekalah yang menangkapnya. Kau bilang cakra ini cocok untuk muridmu, tapi ini juga cocok untuk muridku."
"Maksudmu di antara mereka juga ada yang level tiga puluh?" Bedros bertanya tak yakin.
"Mereka semua sudah melewati level tiga puluh!" jawab Xenephon.
Putra gubernur itu spontan tersentak.
Penyihir tua itu memicingkan matanya. Anak-anak ini kelihatannya lebih muda dua sampai tiga tahun dari muridku, katanya dalam hati. Bagaimana bisa mereka semua sudah melewati level tiga puluh?
"So…" Xenephon menyela tak sabar, sebelah alisnya terangkat tinggi. "Kalau sudah tak ada hal lain, kami pergi dulu!" Xenephon mengerling ke arah Evelyn dan teman-temannya dengan isyarat "lanjutkan saja!"
Tapi Bedros Damon kemudian menyela, "Wait!" sergahnya tak puas. "Begini saja," katanya menawarkan kesepakatan. "Mari kita ikuti Aturan Dunia Master Spiritual!"
"Kalau begitu mohon Senior jelaskan!" sanggah Xenephon tetap datar.
"Biarkan muridmu berduel dengan muridku!" tantang Bedros. "Yang kalah harus mengalah!"
"Sepertinya tidak bisa!" tukas Xenephon.
"Apa?" Bedros bertanya setengah menggeram. Sepasang alisnya bertautan karena jengkel. "Wakil Ketua… aku sudah mengalah. Jangan karena kau wakil ketua Ordo Angelos maka kau merendahkanku!"
"Tidak, tidak! Tentu saja tidak," sergah Xenephon tetap elegan. "Hanya saja, muridku sedang cidera akibat pertarungannya dengan goliath tadi. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk memutuskan siapa yang lebih berhak? Dalam setiap kompetisi beladiri spiritual, jumlah serangan dihitung poin. Kenapa tidak bandingkan saja berapa banyak muridmu menyerang, dan berapa banyak muridku menyerang? Yang paling banyak menyerang, dialah pemenangnya!"
"It's not fair!" bantah penyihir itu. "Kami hanya berdua sementara kalian sembilan orang. Bagaimana kami tahu muridmu yang layak mendapatkan cakra itu menyerang berapa banyak?"
Xenephon mendesah lagi.
"It's ok, Sir!" Cleon menginterupsi. Sebagai laki-laki, tak ada kata menyerah, tekadnya dalam hati.
"Wait!" sela Evelyn sambil merenggut bahu Cleon, kemudian menoleh pada Xenephon. "Master Claus! Biar aku saja yang menggantikannya!"
Semua orang spontan mengerling pada Evelyn.
Xenephon mengerling ke belakang melewati bahunya, Earth Thunder akan membunuhku kalau terjadi sesuatu pada Evelyn, pikirnya khawatir. Tapi jika terus ditunda, lalu tiba-tiba Kefas datang… Aaaargh!
"Baiklah!" kata Xenephon akhirnya. Lalu menoleh ke arah Bedros. "Bagaimana, Senior?"
"Berapa levelmu?" tanya Bedros.
"Tiga puluh lima," jawab Evelyn.
"What the---" Penyihir itu terperangah, begitu juga dengan muridnya.
"Peri pelindungku poison ivy," kata Evelyn. "Takkan merugikan kalian."
"Hah!" putra gubernur itu tergelak dengan ekspresi mencemooh, "Peri pelindung tak berguna," dengusnya seraya mengayunkan peri pelindung tongkatnya. Lalu menerjang ke depan guardiannya. "Baiklah!" tantangnya dengan arogan. "Hanya tanaman liar, bisa berbuat apa padaku?"