Poison Eve

Poison Eve
Chapter-56



"Seseorang---siapa saja, cepat hentikan dia!" Lady Die memekik dengan gusar. "Dia hilang kendali!"


Angin kencang berhembus dan membadai di sekeliling Evelyn. Tubuhnya melemas dan kepalanya jatuh tertunduk. Kakinya terangkat dari lantai dan mulai melayang.


Sulur-sulur tanaman dari punggungnya melecut-lecut di sisi wajah dan sekujur tubuhnya seperti rambut yang memburai di dalam air, lalu secara perlahan sulur tanaman itu mulai berubah menjadi kepala ular.


"Peri pelindung mutasi," desis Nyx Cornus seraya mencengkeram lengan baju Xenephon.


Pria itu membeku menatap Evelyn dengan ngeri.


"Xen!" Nyx Cornus mengguncang lengan pria itu. "Lakukan sesuatu!"


Xenephon mengerjap dan tergagap. Lalu melangkah ke tengah ruangan dan memasang kuda-kuda. Ia menyatukan kedua pergelangan tangannya di depan dada dengan ujung jemari berlawanan arah, kemudian berkomat-kamit membacakan mantra-mantra kuno khas Master Spiritual aliran sihir.


Evelyn tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum, matanya menyala dan mengeluarkan lidah-lidah api. Tubuhnya menyala biru.


Nyx Cornus dan Lady Die membekap mulutnya bersamaan.


Para pria tersentak dengan mata terbelalak.


Lingkaran cahaya berwarna merah darah bercorak simbol-simbol astrologi berkeredap di bawah kaki Xenephon yang kemudian melayang naik ke pinggangnya diikuti empat lingkaran cahaya berwarna hitam, ungu, kuning dan putih.


Evelyn mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan telapak tangan menghadap ke atas sementara jemarinya membentuk cakar, dan seketika lingkaran cahaya berwarna ungu muncul di bawah lingkaran cahaya merah darah dan hitam, menyusul lingkaran cahaya warna putih di bawah lingkaran cahaya berwarna kuning.


Seisi ruangan kembali memekik dengan gumaman ngeri.


"Dia meniru semua cakra Master Claus!" gumam beberapa guardian.


Pusaran angin berembus semakin kencang hingga menimbulkan suara bergemuruh dan berkeretak yang membuat semua orang di luar membeku dan menoleh ke arah aula guardian.


"Apa yang terjadi?" suasana di seluruh akademi mendadak gaduh.


Murid-murid menghambur menuju halaman aula guardian dan sebelum mereka mengetahui apa yang terjadi, aula itu tiba-tiba meledak dan para petinggi dan semua guardian terpental ke segala arah.


Pekik-jerit ketakutan menggelegar di seluruh akademi, kemudian membahana hingga keluar area akademi.


Ledakan cahaya berbentuk lingkaran itu berpendar hingga beberapa mil disertai hempasan angin dan menarik perhatian seisi kota.


"Apa yang terjadi?" orang banyak mulai bertanya-tanya.


"Dari mana asal ledakan itu?"


Para petinggi akademi dan semua guardian terjerembab di sudut-sudut pekarangan akademi di tempat yang berjauhan dan berseberang-seberangan.


Beberapa murid yang sampai di pekarangan aula guardian ketika ledakan terjadi, terserak bergelimpangan di tanah terhempas ledakan tadi.


Para murid lainnya menjerit panik melihat kemunculan monster aneh seperti Medusa dalam legenda melayang keluar dari tengah-tengah ledakan. Bedanya sejumlah kepala ular yang berkeriap di sekeliling tubuh itu bukan rambutnya, tapi muncul dari punggungnya seperti kaki laba-laba.


"Makhluk apa dia sebenarnya?" para murid wanita memekik ketakutan.


Electra tergagap-gagap seraya menunjuk wajah makhluk itu.


Xena dan Altair mengikuti arah telunjuknya dengan tersentak.


Cleon mengikuti arah pandang mereka dan terperangah. "Eve?" desisnya dengan suara tercekat.


"Itu Evelyn Katz!" beberapa anak lainnya memekik sambil menunjuk ke arah monster mirip Medusa yang melayang di atas bangunan akademi itu.


"Aku tidak percaya ini!" Xena menjerit hampir menangis. "Itu tidak mungkin dia, kan? Bagaimana mungkin dia teman kita?"


Altair mencengkeram kedua bahu gadis itu dan mengguncangnya perlahan, mencoba menenangkannya.


Xena menyusupkan wajahnya di dada Altair dan meledak menangis.


Electra mendekat ke arah mereka dan bergabung memeluk Xena. Dia memang Evelyn, katanya dalam hati. Lalu menangis bersama Xena.


"XEEEEEEN!"


Terdengar jeritan Nyx Cornus di antara gemuruh angin dan kepulan debu yang berpusar di sekeliling tubuh Evelyn.


Electra menyentakkan kepalanya ke sana kemari dengan tatapan mencari-cari.


Xena menarik wajahnya dari dada Altair dan mengusap air matanya, lalu ikut mencari.


Kepulan asap debu membumbung seperti badai pasir akibat energi raksasa yang dikeluarkan oleh Evelyn.


Lalu mereka melihat Nyx Cornus membungkuk di sudut pekarangan, membantu Xenephon menghela bangkit tubuhnya.


Electra dan ketiga temannya menghambur ke arah mereka.


Xenephon mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan mereka untuk berhenti dan menjauh. Lalu memasang kuda-kuda dan menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya membentuk jurus-jurus penyatuan energi.


"Menyingkir dari sini, Anak-anak!" Nyx Cornus memperingatkan, lalu memasang kuda-kuda yang sama seperti Xenephon.


Detik berikutnya, kedua guardian itu sudah memunculkan cakra spiritual dan peri pelindung mereka.


Electra dan ketiga temannya membeku di tempat mereka, memandang kedua guardian itu dengan tatapan cemas.


"Sepertinya betul-betul gawat?" desis Electra.


Di sisi lain pekarangan di sekeliling akademi, semua petinggi dan guardian lainnya juga melakukan hal yang sama, bersiap mengepung Evelyn dan meringkusnya.


Para murid memekik dan berpencaran ke sana kemari dengan kalang kabut.


Beberapa membeku di sudut pekarangan akademi berimpitan dengan teman-temannya sambil mendongak menatap Evelyn dengan ketakutan.


Detik berikutnya, ledakan cahaya berpendar dari berbagai arah, kemudian melesat ke titik yang sama.


Evelyn mengembangkan telapak tangan kirinya dan seketika bola cahaya berwarna merah darah keluar dari telapak tangannya yang secara spontan menghisap habis seluruh energi cahaya yang dilontarkan pada dirinya.


Para petinggi dan guardian spontan terhuyung dan terpuruk di tempatnya masing-masing. Tidak terkecuali Xenephon dan Nyx Cornus.


Semua mata terbelalak semakin lebar disertai erangan tertahan.


"Peri pelindung ganda!" Arsen Heart menyadari.


"Tunggu dulu!" pekik Lady Die. "Itu…"


"Bola Kristal Aries!" Nyx Cornus terkesiap.


"Oh, s h i t !" gumam Xenephon terengah-engah.


Bola Kristal Aries adalah peri pelindung Xenephon.


"Dia bahkan meniru peri pelindungku untuk kultivasi peri pelindung ganda!" gerutu Xenephon.


"Buat formasi penyatuan energi!" perintah wakil akademi.


Lima orang petinggi akademi mengambil posisi dan memasang kuda-kuda, mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindungnya masing-masing, kemudian menggabungkan kekuatan mereka.


Beberapa guardian juga melakukan hal yang sama. Lady Die, Arsen Heart dan Salazar Lotz.


Di sudut lain pekarangan, Nyx Cornus dan Xenephon juga melakukan penyatuan energi dan menggabungkan kekuatan mereka.


Lalu secara serentak ledakan cahaya berbentuk kubah menerjang dari empat sudut ke arah Evelyn.


Evelyn menautkan kedua tangannya di depan dada, lalu dalam sekejap cahaya berwarna biru berkeredap dari telapak tangannya yang saling beradu, dan ketika ia menarik kedua telapak tangannya, merenggangkan jarak antara telapak tangan yang satu dengan telapak tangan yang lainnya, sesuatu melesat keluar dari dadanya dan menyeruak di antara kedua telapak tangannya, kemudian menerjang ke arah lima petinggi seraya mengayunkan telapak tangannya, melontarkan energi cahaya berbentuk kubah ke arah mereka.


"Migi Vox!" pekik Nyx Cornus.


BLAAAAARRRR!


Benturan energi cahaya meledak hingga mengempaskan beberapa anak dan sejumlah guardian.


Kelima petinggi yang melakukan penyatuan terpental dari tempatnya masing-masing.


"Apa dia benar-benar Migi Vox?" Lady Die terkesiap.


"Aku yakin aku tak salah lihat!" timpal Salazar.


"Kalau begitu… pemilik akademi sudah kembali?" gumam Arsen Heart tak yakin.


Lalu mereka mengedar pandang, mencari-cari sosok Nazareth di antara kepulan debu yang semakin tebal.


"Aku mengerti!" gumam Nyx Cornus.


"Peri pelindung penjaga jiwa!" Xenephon menimpali.


"Tunggu dulu!" desis Nyx Cornus. "Kalau peri pelindung penjaga jiwa adalah Migi Vox, berarti penjaga jiwanya…"


"Oh, siapa lagi?" sergah Xenephon seraya memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.