
"Aku mengaku kalah!" desis Voz Panter tidak berdaya.
"Heh!" Migi Vox mendengus dan menyeringai.
"Ah—pertandingan sudah berakhir!" Pemandu acara mengumumkan dengan tergagap-gagap. Masih tak yakin dengan apa yang dilihatnya. "Poison Eve memenangkan pertarungan!"
Para penonton melompat dan bertepuk tangan. Aula kembali menggelegar oleh sorakan gegap-gempita.
Evelyn melirik Nazareth di ruang guardian.
Nazareth mengangguk dan tersenyum samar.
Di samping pria itu---entah sejak kapan berada di sana, Xenephon mengepalkan tangannya di depan dada sambil mengangguk pada Evelyn.
"Huh! Hanya rumput liar!" seorang gadis berwajah bulat dengan tubuh tinggi berisi mendengus di sisi railing lantai dua. "Benar-benar konyol!"
Gadis itu mengenakan dress terbuka berwarna merah marun berlapis korset ketat berwarna hitam mengkilat yang dipadu dengan rok pendek putih sepangkal paha. Rambutnya yang ikal gelombang berwarna merah cerah diikat kencang ke belakang menyerupai ekor kuda. Matanya yang hijau berkilat-kilat penuh cemooh.
"Namanya Poison Eve," seorang pria berusia tiga puluh tahun yang berdiri di samping gadis itu menanggapinya.
Gadis itu menoleh dan menatap pria itu dengan dahi berkerut-kerut.
"Kekuatannya sudah bisa dipastikan adalah racun," lanjut pria itu. "Dia baru mengeluarkan teknik kedua. Tidak menutup kemungkinan teknik ketiganya adalah racun. Biasanya serangan Master Spiritual tipe pengendali sangat lemah, tapi kekuatan kendali sangat kuat. Di bawah level enam puluh, satu Master Pengendali terbaik bisa mengendalikan lawan dengan perbedaan sepuluh level."
Gadis berambut merah itu langsung terdiam.
"Sebagai Master Spiritual penyerang depan, Master Spiritual tipe pengendali adalah kelemahan Voz Panther. Dan kau… sebagai penyerang samping, saat kau berhadapan dengan Master Spiritual tipe pengendali, cara terbaik adalah jangan pernah memberinya kesempatan untuk mengendalikanmu," pria itu memperingatkan. "Jika kau berada dalam situasi yang sama seperti Voz tadi, kau harus menjauhkan diri dari jerat pengendali."
"Baik, Master!" Gadis itu membungkuk pada guardiannya.
Itu adalah calon penantang di ronde berikutnya.
Hell Catie---Kucing Neraka. Usia, dua puluh satu tahun. Peri pelindung, kucing neraka. Master Spiritual tipe penyerang samping. Level spiritual, dua puluh lima.
.
.
.
"Tak disangka pertarunganmu hari ini begitu mudah," komentar Xenephon setelah mereka berada di kamar. "Langsung dapat nilai tanpa melakukan apa pun."
"Tak disangka kau bisa begitu tenang setelah berada di arena," timpal Nazareth, memuji Evelyn.
"Metode pelatihanmu memang terlihat sepele," Evelyn balas memuji. "Tapi dampaknya luar biasa, bahkan untuk membangun ketenangan."
Nazareth tersenyum lembut. Migi Vox menyeringai di pangkuannya.
"Dengar, Eve!" Xenephon membungkuk di tempat duduknya, mencondongkan tubuhnya ke arah Evelyn di seberang meja. "Karena kau butuh privasi untuk berlatih, Paman Vox akan pindah ke kamarku mulai sekarang."
Evelyn mengerutkan keningnya. "Kamarmu?"
"Aku sudah menyewa kamar lain tak jauh dari sini," kata Xenephon. "Tiga pintu dari kamar ini!"
"Masih ada kamar kosong?" Evelyn menaikkan sebelah alisnya.
"Heh?" Migi Vox menelengkan kepalanya sambil menyeringai.
Nazareth dan Xenephon terkekeh menanggapinya.
"Siasat busuk pemilik penginapan!" komentar Xenephon. "Jadi aku balas menyiasatinya dengan datang belakangan."
Evelyn balas terkekeh.
Migi Vox ikut terkekeh tanpa suara, menirukan ekspresi Evelyn.
"Ingat," pesan Nazareth sebelum beranjak dari sofa. "Lawanmu berikutnya level dua puluh tiga, peri pelindungnya adalah badak. Kau harus pikirkan cara lain sebelum mengeluarkan teknik ketiga."
"Hmh!" Evelyn mengangguk singkat.
Migi Vox menirukannya.
Nazareth dan Xenephon beranjak dari tempat mereka dan bergegas keluar kamar.
Setelah kedua pria itu pergi, Evelyn mengunci pintu kamarnya untuk memulai latihan.
Pertama-tama ia duduk bersila di lantai, tapi kemudian teringat teknik penting keselarasan ketiga jantungnya. Lalu ia berdiri seperti yang ia lakukan setiap pagi di bawah tiang bendera. Sebelah kaki tertaut di tumit kaki lainnya, kedua tangannya terlipat di belakang tubuhnya.
Tampaknya pose itu akan menjadi pose favoritnya di setiap pertarungan.
Tidak buruk! pikirnya, terutama mengingat dampak besar bagi ketenangannya.
Ia tak yakin berapa lama ia bermeditasi dalam posisi seperti itu, tapi ketika pintu kamarnya diketuk dari luar, ia tahu saatnya pertarungan kedua.
Ia menghela napas dalam-dalam dan menahannya di dasar perutnya, menghimpun seluruh tenaga dalamnya dan menyimpannya. Lalu bergegas membuka pintu.
"Jangan lupa topengmu, Poison Eve!" Xenephon mengingatkan.
Evelyn segera berbalik dan menghambur kembali ke dalam kamar, lalu kembali lagi, lengkap dengan topeng satin setengah wajah dan kostum ivy-nya yang membuat penampilannya terlihat seperti peri hutan.
Setelah mengunci kamarnya, Evelyn menjejeri kedua pria itu menuju arena.
"Lawanmu adalah Master tipe kekuatan dan pertahanan," Nazareth memberitahu. "Usahakan untuk tidak menyerangnya secara langsung!"
Evelyn mengangguk mengerti.
Migi Vox tiba-tiba menoleh dan mengerutkan keningnya seakan sedang mencoba menyimak sesuatu, lalu melirik ke belakang melalui sudut matanya.
Evelyn mengikuti arah pandangnya dengan waspada.
Nazareth merenggut wajah Migi Vox dan memalingkannya kembali ke depan.
Evelyn mengerjap dan menelan ludah, lalu membuka mulutnya dan tergagap. Tak jadi mengatakan sesuatu. Ia melirik guardiannya dengan tatapan ingin tahu. Tapi lalu tertunduk begitu menyadari Xenephon sedang memperhatikannya.
Evelyn menoleh sekali lagi ke tempat Migi Vox mencuri pandang.
Tidak ada yang mencurigakan!
Hanya ada sekumpulan wanita bangsawan berpakaian glamor yang sedang berbondong-bondong menuju aula pertarungan sambil berbincang-bincang dan cekikikan. Berdua dan berkelompok.
Beberapa di antaranya menutup wajah mereka dengan kipas untuk menutupi tawa genit mereka, sementara mata mereka mengerling ke sana kemari memperhatikan pria-pria berpakaian tak kalah glamor di sekeliling mereka.
Di ujung koridor mereka akhirnya berpisah. Evelyn berbelok ke kiri dan turun menuju arena, sementara Nazareth dan Xenephon berbelok ke kanan dan naik ke tempat khusus yang disediakan untuk para guardian.
"Selanjutnya, kita akan menyaksikan babak kesembilan pertarungan satu lawan satu!" Pemandu acara mulai mengumumkan setelah Evelyn mencapai pintu masuk arena.
Para penonton bertepuk tangan, kemudian bersiul-siul dan mengentak-entakkan kaki.
"Eve!"
"Eve!"
Rupanya Evelyn sudah mendapat banyak pendukung!
"Mari kita sambut Nona Mungil Poison Eve!" seru pemandu acara bersemangat.
Evelyn muncul dan berhenti dengan pose favoritnya.
"Siapa yang berani mencela si rumput liar sekarang?" kelakar si pemandu acara.
Nazareth bertukar seringai dengan Xenephon.
Migi Vox menyeringai semakin lebar.
"Aku punya firasat…" Xenephon bergumam, lebih terdengar untuk dirinya sendiri. "Suatu saat Poison Eve akan menjadi Master Spiritual termasyhur di seluruh negeri…"
Nazareth mengerutkan keningnya.
Migi Vox menoleh pada Xenephon dengan seringai menjengkelkan.
"Master tipe pengendali level tiga belas dengan cakra ratusan tahun!" sambut si pemandu acara menggebu-gebu, diikuti tepuk tangan meriah para penonton. "Melawan tipe kekuatan pertahanan level dua puluh tiga."
Tepuk tangan para penonton terdengar semakin meriah.
"Tipe pengendali melawan tipe pertahanan," ulang si pemandu acara. "Akankah mereka saling menunggu serangan hingga fajar menyingsing?'
Gelak tawa para penonton menggelar menanggapi kelakar si pemandu acara.
"Kita langsung panggil saja, Mo Rhino!"
Aula bergemuruh seiring munculnya si Badak Mo.
Sesuai dengan namanya, tubuh Mo Rhino benar-benar terlihat seperti badak, bulat, kekar, keras dan cokelat.
Pria itu mengayun-ayunkan jari tengah dan telunjuknya dari pelipis ke arah para penonton dengan penuh percaya diri.
Evelyn menelengkan kepalanya sedikit dan menyeringai pada pria itu dengan ekspresi menggoda bergaya khas kartun anime. Sesuai dugaannya, Mo Rhino sejenis mata keranjang yang gemar bergaya tengil begitu seorang gadis menunjukkan tanda-tanda ketertarikan.
Pria gendut berambut pendek model spike itu memandangi Evelyn dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas, sambil berkacak pinggang dan menyeringai. Ia tersenyum nakal ketika tatapannya jatuh tepat dia bagian belahan dada Evelyn yang terbuka.