Poison Eve

Poison Eve
Chapter-31



"Selamat datang di Arena Debut Kota Gerimis!" suara pemandu acara menggema lewat pengeras suara.


Aula meledak oleh sorak-sorai, tepuk tangan, dan siulan-siulan.


Di tengah-tengah lantai batu yang keras dan gelap, dipasang panggung rendah yang dikelilingi tempat berdiri atau duduk bagi penonton.


Evelyn berjalan menuruni tangga menuju pintu masuk arena, sementara Nazareth mendaki undakan menyusuri bangku-bangku menuju tempat khusus para guardian di puncak deretan bangku penonton.


"Pertarungan satu lawan satu antara pendatang baru melawan juara tujuh kali berturut-turut," pemandu acara mengumumkan. "Voz Panther!"


Tepuk tangan spektakuler menggelegar ketika seorang pria berusia sekitar dua puluh tahun melangkah ke tengah arena.


Kulit cokelat terbakar matahari, rambut lurus sebahu model shaggy berwarna hitam mengkilat dengan tinggi badan sekitar seratus delapan puluh, langsing dan padat.


Pria itu mengenakan mantel armornya yang hitam bercorak perak berkilau dengan penuh kebanggaan, memperlihatkan dengan jelas bahwa yang dipakainya bukan sekadar kostum untuk debut.


Pria itu bahkan membawakan diri sebagai seorang militer---tubuh tegak, dada membusung, bahu lurus, dan dagu terangkat.


Kepercayaan diri yang dimilikinya saat ia berjalan dengan gerakan berwibawa dan penuh kewaspadaan, seolah menegaskan bahwa ia telah memenangkan pertarungan lebih dari tujuh kali.


"Sungguh ancaman bagi si pendatang baru," komentar pemandu acara sembari berdecak. "Jika si pendatang baru bisa mengalahkannya, maka ia akan memenangkan juara delapan kali. Bisa jadi ketika ia muncul lagi di arena debut ia sudah masuk ke semi final!"


Tepuk tangan kembali membahana.


"Ah—tapi apakah si pendatang baru bahkan bisa bertahan selama semenit? Voz Panther sudah mencapai level dua puluh satu, sementara si penantang baru level tiga belas. Akan seperti apa pertarungan mereka?" celoteh pemandu acara.


"Huuuu…!" Para penonton bersorak dengan nada mengejek.


"Baiklah! Kita langsung panggilkan saja, Si Pendatang Baru…" si pemandu acara berhenti bicara secara dramatis.


Dan…


BLAAAAAAARRRR!


Pintu geser di sudut lain arena terbuka, dan muncullah Evelyn dengan mini dress hijau bernuansa ivy berdaun tiga---sepintas terlihat seperti anyaman daun ivy yang bertumpuk-tumpuk dari bagian dada sampai paha yang dipadu dengan korset satin ketat model gothic berwarna hitam mengkilat. Stoking hitam transparan di atas sepatu armor selutut berwarna---apa lagi kalau bukan---hitam mengkilat. Tak lupa topeng satin setengah wajah berhias ivy berdaun tiga di bagian pelipis, dengan rambut cokelat diikat kencang di puncak kepala, membuat penampilannya terlihat mungil dan bukannya misterius.


"Poison Eve!" pemandu acara memperkenalkan.


Para penonton serentak terperangah, memberikan pandangan antara bingung dan kaget. Beberapa sebenarnya terpesona.


Evelyn berdiri dengan satu kaki, sementara kaki satunya tertaut di tumit kaki lainnya, kedua tangannya bersilangan di belakang tubuhnya.


Voz Panther mengerjap menatap gadis itu dengan tak yakin.


"Nona! Postur tubuhmu bagus!" para penonton pria mulai berteriak usil. "Apa tak sayang kalau dicabik harimau?"


Voz Panther mengalihkan perhatiannya ke bagian dada Evelyn yang terbuka yang terkesan seolah hanya ditutup tumpukan daun.


"Kenapa menutupi wajah? Apa wajahmu tidak sebagus postur tubuhmu?" cemooh Voz Panther.


"Sembunyi-sembunyi belagak misterius!" gerutu penonton wanita bernada sinis.


"Pose macam apa itu?" komentar wanita lainnya tak kalah sinis. Lalu wanita lainnya terbahak-bahak.


"Little Girl! Kau benar-benar cari mati!" teriak penonton lainnya.


Evelyn menelengkan kepalanya sedikit dan tersenyum miring ke arah Voz Panther, membuat pemuda di seberang arena itu semakin terperangah.


"Aku tak ingin melukaimu, Nona Manis!" ungkap Voz Panther dengan tatapan berkilat-kilat dan seringai nakal.


Evelyn tersenyum lagi.


"Mulai!" Pemandu acara menginstruksikan.


Evelyn masih bertahan dengan posenya sementara Voz Panther sudah bersiap memasang kuda-kuda.


Saat mengeluarkan tenaga, bukan dimulai dari gerakan. Ketiga jantunglah titik mulanya. Evelyn mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya.


"Metode pelatihanku memang terlihat sepele, tapi jika kau ingin mengerahkan seluruh tenagamu, ketiga jantung harus berkerja sejalan."


Kata-kata Nazareth terngiang dalam benaknya.


Jantung mengeluarkan tenaga, pinggang sebagai sumbunya!


Evelyn tetap bergeming.


Para penonton terlihat bingung.


Migi Vox menyeringai di pangkuan Nazareth.


"Berani meremehkanku?" geram Voz Panther mulai tak sabar, lalu menerjang ke arah Evelyn.


Evelyn membungkuk sedikit dan menjulurkan sebelah tangannya untuk kemudian mendaratkan telapak tangannya tepat di perut pemuda itu.


SLASH!


Ledakan cahaya putih berpendar dari telapak tangan Evelyn.


Voz Panther terpental ke belakang tapi tak sampai jatuh. Ia mendarat dengan tubuh tertekuk dan sedikit terhuyung.


"Sekarang siapa yang meremehkan?" sindir Evelyn di antara senyum manisnya.


Para penonton mulai bereaksi dengan antusias.


Mata rubah Nazareth berkilat penuh semangat meski wajahnya tetap datar.


"Baiklah!" Voz Panther menggeram dan mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan jemari tangan membentuk cakar. "Mulai sekarang aku tak akan segan-segan lagi," dengusnya dengan nada intimidasi. Lantai di bawah kakinya mulai berpendar mengeluarkan cahaya kuning berbentuk cakram.


Evelyn mengayunkan sebelah tangannya dengan gerakan seolah sedang menari, lalu cahaya yang sama muncul di bawah kakinya.


Pemandu acara dan para penonton menahan napas.


"Cakra mereka setara!" pekik seseorang. "Apa benar gadis itu baru mencapai level tiga belas?"


Lalu secara perlahan lingkaran cahaya di lantai pada masing-masing kaki para petarung di tengah arena itu mulai mengendap naik setinggi pinggang, dan muncullah peri pelindung mereka dalam bentuk gambar cahaya seperti hologram.


Seekor macan kumbang hitam mengaum di atas kepala Voz Panther, sementara tunas ivy mengambang di permukaan telapak tangan Evelyn sebesar kecambah.


Sebagian besar penonton tergelak mengejek peri pelindung Evelyn.


"Ternyata cuma peri pelindung tanaman," komentar pemandu acara.


"Tanaman melawan Raja Hutan, yang benar saja?" cemooh para wanita.


Voz Panther menggeram dan menerjang ke arah Evelyn seraya mengayunkan cakar Panther-nya.


Evelyn melontarkan tunas ivy-nya ke lantai dan seketika tanaman itu memanjang dan merambat dalam kecepatan luar biasa dan menjerat pergelangan kaki Voz Panther.


Para penonton memekik tertahan.


Voz Panther terhenyak dan terperosok ke bawah, tenggelam ke dalam semak ivy hingga jatuh berlutut, dan dalam seketika seluruh tubuhnya langsung terlilit. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan tenaga dalamnya ke pangkal lengan, lalu meledakkan sulur tanaman itu dalam sekali hentak.


Nazareth mengerjap dan terperangah dengan ekspresi cemas. Tapi lalu mendesah pendek begitu menyadari siasat Evelyn.


Evelyn sama sekali tidak berniat untuk langsung memenangkan pertarungan dengan sulur tanaman rambat, tujuannya hanya membatasi Voz Panther dengan jerat tanaman dan menggunakan kesempatan itu untuk melakukan teknik kedua.


Pedoman para Master Spiritual tipe pengendali adalah mengendalikan lawan dari awal pertarungan hingga akhir.


Hanya sulur tanaman rambat, pikir Voz Panther. Bisa berbuat apa padaku?


Namun bersamaan dengan itu, pecahan sulur tanaman itu berputar-putar di sekeliling Voz Panther dalam bentuk kabut yang melingkar dengan cepat yang dalam waktu singkat berubah bentuk menjadi tubuh ular putih seukuran lengan orang dewasa.


Para penonton kembali memekik.


Sebelum Voz Panther dapat bereaksi, sebelum para penonton menyadari apa yang terjadi, ekor ular putih itu sudah melecut dan menyergap pinggang Voz Panther, lalu melilit tubuhnya dalam sekejap.


Voz Panther menghentakkan sikut tangannya, mencoba melepaskan diri dari lilitan sulur yang tidak diduganya ternyata sekeras batu gunung.


Apa ini? pikir Voz Panther terkejut. Bagaimana bisa poison ivy…


Hening!


Para penonton ternganga tanpa berkedip.