
Suasana berubah menjadi hening setelah kejadian tadi. Kenzi dan Reyhan duduk berseberangan, tanpa kata tanpa bicara. Kenzi terus menatap kearah lain untuk menghindari kontak mata dengan Reyhan. Kondisi seperti ini sangat membuatnya tidak nyaman.
"Jika tidak ada kepentingan lagi, saya pamit undur diri Tuan Reyhan" ucap Kenzi dengan bahasa formal yang membuat Reyhan merasa jengkel. Gadis itu bangkit dari duduk sambil membenahi baju kerjanya yang sedikit berantakan.
"Maaf" satu kata itu lolos begitu saja dari bibir Reyhan. Ditatapnya punggung seorang gadis yang sedang berdiri membelakanginya dengan tatapan teduh. Kenzi diam mematung setelah mendengar ucapan itu.
"Maaf untuk?" tanya Kenzi tanpa membalikkan badannya.
"Maaf untuk semuanya. Maaf untuk kejadian itu, maaf untuk segala luka yang udah aku goresin di hati kamu, dan maaf untuk kebodohan aku" ucap Reyhan dengan nada rendah. Kenzi menggenggam jemarinya kuat-kuat sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Berusaha sekuat tenaga agar air mata itu tak menetes di depan Reyhan, ia tak mau terlihat lemah.
"Lupain aja" sahut Kenzi dengan suara berat.
"Gimana aku bisa lupain itu kalo kamu sendiri bahkan belum bisa untuk melupakan semuanya" tukas Reyhan dengan segera.
Kenzi memberanikan diri untuk membalikkan badannya. Matanya menatap mata Reyhan dengan intens. Wajah gadis itu nampak biasa saja, ia memang sangat pandai dalam berakting.
"Lupain semuanya. Lupain semua tentang kita, lupain kisah kita di masa lalu, dan lupain bahwa kita pernah saling mengenal!!!" seru Kenzi dengan lantang. Dadanya naik turun menahan sesak, wajah dan matanya mulai memerah karena menahan isak tangis.
Reyhan menggelengkan kepalanya tak percaya. Mata pemuda itu ikut berair. Delapan tahun ia menutup diri hanya untuk gadis di depannya. Apa ini balasan yang ia dapat?
"Aku nggak mungkin bisa ngelakuin itu. Karena aku masih mencintai kamu, Ken. Masih sama seperti delapan tahun yang lalu sebelum kamu pergi, rasa itu masih sama tanpa ada yang berubah!!" sahut Reyhan dengan suara berat.
"Buang rasa cinta kamu, aku nggak butuh!!!" seru Kenzi sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Bibirnya menolak namun hatinya menerima. Tapi rasa sakit itu terlanjur membekas dan mungkin akan sulit untuk diobati. Ia tak mau jatuh ke lubang yang sama, ia tak mau kembali merasa sakit hati, apalagi dengan orang yang sama.
"Aku yakin perasaan kamu ke aku juga masih sama" ucap Reyhan dengan penuh keyakinan. Tingkah laku gadis itu sudah cukup menjadi petunjuk bahwa hati dan pikirannya sedang tidak singkron. Dan ia yakin bahwa Kenzi-nya masih orang yang sama, tanpa ada yang berbeda.
"Rasa itu udah hilang!!. Hilang dan mati seiring dengan berjalannya waktu. Aku bukan Kenzi yang dulu. Aku Kenzi dengan fisik yang sama tapi hati yang berbeda. Udah nggak ada lagi kamu, kita, atau cinta itu di masa lalu. Semuanya udah hilang!!. Dan aku harap, hubungan kita cukup hanya untuk hubungan bisnis!!!!" Kenzi segera berbalik badan setelah mengucapkan itu, ia melangkah menjauh dari sana meninggalkan Reyhan yang masih terus menatapnya.
"AKU YAKIN PERASAAN KAMU MASIH SAMA KEN!!!. DAN AKU NGGAK AKAN BERHENTI SEBELUM KAMU MAU NERIMA AKU LAGI, DAN KITA KEMBALI BERSAMA!!!" teriak Reyhan dengan lantang namun tak mendapat Respon dari Kenzi. Gadis itu terus berjalan meskipun ia mendengar apa yang Reyhan ucapkan.
Berusaha menahan tangis dan menekan hatinya untuk tak memberontak. Kenzi menunduk hingga rambutnya yang tergerai jatuh menutupi wajah. Ia tak sanggup menahannya dan air mata itu mengalir membasahi pipi. Membohongi diri sendiri memang sakit, tapi akan lebih sakit lagi jika ia kembali di bohongi oleh cinta.
Kenzi tetap berusaha untuk terlihat tegar. Ia mengusap air matanya sendiri. Dengan langkah penuh wibawa, Kenzi berjalan keluar gedung untuk mengambil mobil dan pergi sejenak dari perusahaan. Ia butuh menenangkan pikirannya yang terasa kacau.
"KEN...." sebuah panggilan itu sukses membuat Kenzi menengok. Renata dkk berdiri di samping mobil masing-masing. Sepertinya mereka memang sengaja menunggu kehadirannya. Kenzi menarik nafas panjang, percuma juga ia menghindar, semuanya sudah tau identitasnya. Ia kemudian berjalan menghampiri mereka.
"Cafe Gloria sekarang!!" ucap Kenzi to the point. Setelah mengucapkan itu, ia berjalan kearah mobilnya dan melajukan mobil terlebih dahulu meninggalkan mereka semua.
"Sekarang gue yakin kalo dia emang Kenzi" ucap Andien srcara tiba-tiba.
Gloria Cafe
Tujuh makhluk ciptaan tuhan itu kini sudah duduk berjajar di salah satu meja. Enam diantaranya kompak menatap tajam kearah gadis yang dengan santainya malah meminum jus yang sudah ia pesan.
"Jadi selama ini lo ternyata masih hidup?!!" tanya Vicky memulai pembicaraan. Kenzi menelan jus yang ada di mulutnya.
"Seperti yang lo liat, gue sehat wal'afiat tiada kurang suatu apapun" jawab Kenzi dengan wajah tanpa dosa.
Pletakkkk
Satu sentilan dari Renata mendarat mulus di jidat Kenzi hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Sakit anjengg!!!" desis Kenzi seraya mengelus jidatnya yang terasa panas.
"Ya lo beggo banget sih!!!. Kita semua udah jantungan waktu denger kalo lo meninggal di kecelakaan pesawat itu, tapi ternyata lo masih sehat wal'afiat dan lo nggak ngabarin kita sama sekali?!!!. Lo sehat nggak sih Ken?, lo nganggep kita temen nggak sih?!!. Apalagi Reyhan, dia sampek hampir gila gara-gara kabar kematian lo. Lo nggak ngerasa bersalah akan hal itu?!!" ucap Renata dengan kesal.
"Sorry" hanya itu yang bisa diucapkan oleh Kenzi. Ia tau ini salah, tapi disini ia juga terluka. Ia juga ikut merasakan sakit.
"Gue ngelakuin semua ini karena....-
"Karena lo pengen menghindari Reyhan" potong Ariel dengan cepat.
"Gue pergi untuk menghindari semuanya" ucap Kenzi sambil tersenyum tipis. Mereka semua kompak menghela nafas panjang.
"Terus waktu itu bukannya lo jadi salah satu penumpang di pesawat itu ya?. Tim SAR bahkan mengidentifikasi bahwa lo adalah salah satu korban, tapi kenapa......
"Gue nggak naik pesawat itu" Kenzi memotong ucapan Reza hingga membuat mereka semua diam menyimak.
"Waktu gue mau take-off, tiket gue ternyata ketinggalan di rumah. Jadi mau nggak mau gue harus nunggu penerbangan selanjutnya, dan gue nggak jadi naik pesawat yang jatuh itu. Maaf karena gue nggak ngabarin kalian, gue cuma nggak mau Reyhan tau keberadaan gue. Gue cuma butuh waktu untuk sendiri dan nenangin fikiran serta hati gue" lanjut Kenzi panjang lebar. Mereka semua mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan Kenzi.
"Reyhan masih nungguin lo, Ken" ucap Tasya yang langsung membuat raut wajah Kenzi berubah. Suasana menjadi canggung setelah ucapan itu terlontar, dan hal itu sukses membuat Tasya merasa tak enak hati.
"Sorry, gue nggak bermaksud" ucap Tasya merasa bersalah.
Kenzi menarik nafas panjang lalu menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Sans aja. Gue masih nggak mau kembali mengenal cinta. Luka itu masih ada, dan rasa sakit itu masih terasa. Gue cuma nggak mau terlalu jatuh cuma hanya cinta atau sekedar suka. Biar semuanya berjalan seperti takdir, gue nggak mau terlalu berharap lebih" sahut Kenzi dengan senyuman.