Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Kamu Dimana?



Kairen dan Raizel berlari lebih dulu mendahului kedua orang tua mereka. Perasaan senang menyelimuti hati dua bocah itu saat mereka akan mengunjungi kakek dan nenek mereka yang sudah lama tak dikunjungi.


"Kita tunggu disini dulu!!" seru Kenzi pada kedua anaknya. Mereka berempat menunggu di depan pintu gerbang, menunggu sang supir menyiapkan mobil sembari menikmati suasana sekitar rumah.


"Pagi Pak, Bu!!" seorang pria yang seumuran dengan Reyhan mendekat kearah mereka, membuat Kenzi menatap waspada kearahnya. Sontak perempuan itu menarik Kairen dan Raizel untuk mendekat, seakan takut ada bahaya.


"Pagi..." sahut Reyhan dengan wajah bingung, merasa tak mengenal siapa orang di depannya.


Pria itu tersenyum simpul sembari mengusap lengan.


"Saya Bagas, penghuni baru rumah depan" ucapnya dengan ramah.


Kenzi dan Reyhan sama-sama ber-oh ria sembari mengangguk beberapa kali. Tetangga baru toh, pantes nggak pernah liat.


"Wahh, tetangga baru ternyata. Saya Reyhan, ini istri saya Kenzia. Dan ini anak kami, Kairen dan Raizel"sahut Reyhan tak kalah ramah. Insting bahayanya perlahan menghilang sedikit demi sedikit.


"Ganteng ya anaknya" puji Bagas yang dibalas senyuman oleh Reyhan maupun Kenzi.


"Kai, Rai, ayo salim sama Om!" seru Kenzi pada kedua anaknya.


Kairen dan Raizel mendekat kearah Bagas, menyalami tangan pria itu secara bergantian.


"Anak pinter!!"


"Disini sendiri Pak?" tanya Reyhan


"Saya sama istri dan anak saya, mereka ada di dalem. Istri saya namanya Cindy, dan anak saya Kimyora" jelas Bagas panjang lebar.


Sebuah suara klakson mobil dari arah belakang menghentikan perbincangan mereka, supir Reyhan pelakunya. Pria paruh baya itu keluar dari mobil, berjalan dengan tergesa-gesa kemudian membungkuk hormat kepada sang majikan.


"Maaf Pak, mobilnya sudah siap" ucap Supir itu dengan sopan dan diangguki oleh Reyhan sebagai jawaban.


"Maaf Pak, saya ada keperluan lain. Semoga kita bisa ketemu lain waktu" pamit Reyhan diiringi senyuman.


Bagas mengangguk beberapa kali.


"Besok saya kenalin sama anak saya, dia cantik"


"Saya tunggu" sahut Reyhan sambil terkekeh kecil.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil. Kaca jendela terbuka, menampakkan Kairen dan Raizel yang sedang melambaikan tangannya kearah Bagas.


"Dadah Om" ucap mereka secara bersamaan. Senyum mengembang sempurna di wajah keduanya, membuat siapapun yang melihat ikut tersenyum.


************


"Oma....." Kairen dan Raizel berlari kearah Allia yang sudah menunggu mereka di ambang pintu.


Perempuan itu tersenyum bahagia di tengah wajahnya yang mulai keriput saat melihat cucu-cucunya berlarian dengan gembira.


"Anak ganteng...." Allia berjongkok sembari merentangkan kedua tangannya, memeluk sang cucu dengan erat dan penuh kasih sayang.


Dari kejauhan, nampak Kenzi dan Reyhan berjalan kearah mereka sambil bergandengan tangan. Nampak sangat mesra seperti orang mau nyebrang jalan.


"Mommy" Kenzi menyalami sang Ibu, bergantian dengan Reyhan.


"Dasar anak nggak punya adab. Udah punya laki jadi lupa ama emaknya!!" desis Allia dengan nada dongkol. Membuat Reyhan yang namanya dibawa-bawa ikutan nggak enak lambung.


"Aku inget lah Mom, buktinya aku kesini sekarang!!" sahut Kenzi tak mau kalah. Entahlah, emaknya ini suka banget adu otot lidah.


"Inget palamu!!. Coba itung, udah berapa purnama kamu nggak kesini?!" jurus nyerocos no jutsu milik Allia semakin menjadi-jadi. Mulutnya kambali terbuka, siap memberikan khotbah di siang bolong kepada sang anak yang otaknya bolong.


"Punya laki emaknya dilupain. Nggak inget dulu siapa yang nenenin kamu sampek dakian?!"


"Ihh, Mommy mah ngomongin itu mulu. Yaiyalah Mommy yang nenenin, ya kali Daddy. Yang ada bukan keluar susu malah keluar air comberan" cebik Kenzi dengan kesal. Lama nggak pulang, pulang-pulang malah denger ocehan kanjeng mami yang membuat dia pengen pulang. Nasib, nasib.


Kairen dan Raizel menatap kearah Ibu dan neneknya dengan tatapan bingung. Kenapa mereka berantem?. Mungkin itu pertanyaan yang bersarang di otak polos sepolos kapas segelan milik dua anak itu.


"Lai" bisik Kairen di telinga Raizel hingga membuat anak itu menoleh.


"Apa?" tanya Raizel dengan nada berbisik juga.


"Ayo!!"


Tanpa diketahui siapapun, Kairen dan Raizel menjauh dari orang tua dan neneknya. Mereka menuju kearah taman depan mansion. Memang tidak terlalu jauh, tapi tempat itu tidak terjangkau oleh pandangan seseorang dari mansion keluarga Kenzi.


"Itu ada bola!!" tunjuk Kairen pada sebuah bola berwarna orange yang tergeletak di samping kursi taman.


Mereka mengambil bola itu. Membawanya ke tanah yang lumayan luas dan memainkannya disana.


"Yang kalah nanti tidul di bawah!!" sebuah perjanjian Raizel ucapkan diiringi senyum jenaka di bibirnya, sama persis seperti yang dimiliki Kenzi.


"Oke"


Kairen menendang bola kearah Raizel dan berhasil ditahan oleh anak itu dengan sempurna.


Mereka bermain tendang-tendangan bola agak lama, hingga Raizel tanpa sengaja menendang bola agak keras hingga membuatnya terlempar jauh.


"Yahh, Lai sih!!. Ilang kan bolanya" keluh Kairen diiringi dengusan kesal. "Buluan cali!!"


"Temenin" rengek Raizel. Dia takut pergi sendiri, apalagi tidak ada orang yang dia kenal disini.


"Nggak mau. Kamu pelgi cendili, aku tunggu dicini" tolak Kairen dengan segera. Raizel terus merengek namun Kairen tetap acuh. Ia malah berjalan kearah kursi taman dan mendudukkan dirinya disana.


Raizel mendengus kesal. Mau tak mau, suka tak suka dia harus pergi sendiri. Berbekalkan keberanian sekuat besi jemuran, anak itu melangkahkan kaki kecilnya menyusuri area taman untuk menemukan bola tadi.


Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiti dengan mata yang memindai ke setiap penjuru. Hingga tatapan mata indah itu tertuju pada sebuah bola yang tersangkut di pohon yang berdahan rendah.


Raizel menghampiri pohon itu, berniat untuk mengambil bola. Tapi ekspetasi ternyata tidak sejalan dengan realita. Kaki kecipnya tidak sampai jika harus meraih bola itu. Ia melompat-lompat layaknya kanguru, namun hal itu tetap sia-sia dan tidak membuahkan hasil.


"Mau tante bantu?" sebuah pertanyaan dari seorang perempuan dari arah belakang membuat Raizel menoleh.


************


"Sering-sering nengokin orang tua. Entar Mommy sama Daddy bikin anak baru lagi mewek!!" Allia tak ada puas-puasnya mengolok-ngolok sang putri, hingga membuat Kenzi berulang kali mendengus kesal.


"Iya, iya nanti Ken sering-sering kesini. Kalo perlu sehari lima kali biar Mommy gedek liat muka Ken" sahut Kenzi dengan nada dongkol. Sedangkan Reyhan hanya menyimak, mencoba memahami kalau mertuanya memang spesial. Hingga pandangannya beralih ke bawah, mata pria itu membulat sempurna saat melihat tak ada dua buntutnya disana.


"Yang, Kai sama Rai mana?!"


Sontak semua orang menatap kearah pandang Reyhan, dan benar saja, dua bocah itu tidak ada.


"Kamu gimana sih, kok bisa nggak tau kalo Kai sama Rai pergi!!" seru Kenzi dengan nada khawatir. Pikiran buruk mulai bersemayam dalam otaknya, apalagi setelah mendengar bahwa orang itu lepas. Perasaannya semakin tak karuan.


Suasana berubah panik kareba menghilangnya dua anak kecil itu. Kenzi, Reyhan dan yang lain berpencar ke penjuru mansion, berharap menemukan Kairen dan Raizel. Hingga seorang security datang dan berkata bahwa Kairen dan Raizel tadi pergi ke taman depan, Kenzi segera berlari ke taman itu diikuti Reyhan dan Allia di belakangnya.


"KAI, KAIREN..., RAIZEL!!!"


Mereka menyusuri area taman dengan tergesa-gesa. Raut wajah cemas tergambar jelas di wajah semuanya, terutama Kenzi. Dia ibu mereka, dia lah yang paling tertekan dalam situasi seperti ini.


"MAMA!!!" sebuah panggilan membuat rasa gusar di hati Kenzi sedikit mereda. Tatapannya langsung tertuju pada sosok anak kecil yang tengah duduk seorang diri di sebuah kursi taman.


Kenzi berlari kearah Kairen, memeluk anak itu dan menciuminya berulang kali.


"Kamu ngapain disini?!. Kenapa nggak bilang Mama atau Papa dulu kalo mau pergi?" Ia langsung mencecar Kairen dengan pertanyaan, membuat anak itu kebingungan harus menjaeab yang mana.


"Tadi Kai sama Lai main bola dicini" sahut Kairen sambio menunduk. Entahlah, mungkin dia merasa bersalah atau takut menatap wajah ibunya yang tengah memasang wajah tak suka.


"Sekarang Rai nya mana sayang?" tanya Reyhan dengan hati-hati.


Kairen mendongak, menatap sang ayah dengan seksama kemudian menjawab.


"Tadi Lai ambil bola, tapi campek cekarang belom balik"


Ucapan itu, menjadi tamparan sendiri bagi Kenzi maupun Reyhan. Wajah mereka berubah pias, bayangan masa lalu kembali menghantam keduanya. Perasaan takut itu muncul, apalagi Raizel itu masih kecil. Belum mengerti apapun tentang dunia yang dulu mereka lalui.


"Dimana Raizel!!"


...Siapa yang ngetekin Raizelll, buruan balikin emaknya nyariin tuhhh😰...