
Kenzi memegang dada kirinya dengan nafas yang masih memburu. Berulangkali gadis itu memukul dadanya sendiri yang terasa sakit dan sesak. Pertemuan itu, membuat getaran yang sudah lama berusaha untuk ia pendam kembali bergejolak.
"Ini salah....perasaan ini salah!!. Seharusnya rasa ini pergi....pergi menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Aku menjauh untuk menghindari rasa sakit. Tapi bertemu sama kamu justru semakin membuat getaran itu kembali terasa. Aku benci ini, aku benci hatiku yang nggak bisa melupakan semua kenangan tentang kita disaat kamu bahkan udah memilih orang lain" batin Kenzi menjerit dalam hatinya. Gadis itu menangis tanpa suara, mencengkram jaketnya kuat-kuat sambil menunduk menyembunyikan wajahnya di paha.
"Non nggak papa?" tanya Pak supir dengan cemas. Namun Kenzi tak menjawab, hanya terdengar suara isak tangis dari belakang dan hal itu cukup untuk menunjukkan bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
45 menit mobil itu berjalan ditemani keheningan. Dengan mata yang masih sembab Kenzi menatap ke luar jendela. Menerawang jauh ke masa lalu saat ia dan Reyhan masih berbahagia di kota ini. Kenangan itu kembali terlintas, peristiwa demi peristiwa indah kembali terangkai dalam benaknya. Rasa rindu itu muncul secara tiba-tiba. Dalam hati ia merindukan Reyhannya. Reyhannya?, cihh Kenzi tertawa dalam hati saat memikirkan hal itu.
Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah yang begitu ia rindukan. Kenzi menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Ia tersenyum secerah mungkin untuk menutupi hatinya yang rapuh. Supir itu membukakan pintu untuk Kenzi. Pelukan dan ciuman hangat langsung ia dapatkan dari Allia setelah ia turun dari mobil dengan sempurna. Seluruh keluarganya sudah menanti di depan mansion sejak tadi.
Bergantian dengan Allia, William dan Devano memeluk Kenzi tak kalah erat, seakan tak ingin gadis itu pergi lagi dari hidup mereka.
"Ken kangen kalian semua" ucap Kenzi dengan senyum manisnya. Matanya sudah berkaca-kaca dengan bulir air mata yang bahkan sudah mengalir namun buru-buru ia seka.
"Jangan pergi lagi ya sayang" pinta Allia dengan wajah sendunya namun hanya dibalas senyuman oleh Kenzi.
***********
Reyhan kembali duduk di cafe itu setelah kejadian tadi. Kejadian yang seakan membuat separuh nyawanya kembali. Berulang kali pemuda itu memukul pipinya sendiri untuk memastikan bahwa semua ini bukan mimpi.
"Dia Kenzi. Kenzi masih hidup, dan dia kembali. Kenzi, my Kenzi" gumam Reyhan dengan wajah yang tak bisa dideskripsikan.
"Bro, sorry kita baru dateng!!!" seruan seseorang membuyarkan lamunan Reyhan. Ia menengokan kepalanya kesamping. Terlihat wajah-wajah Reza, Vicky, Ariel, Renata, Tasya, dan Andien sedang menatapnya dengan wajah penuh cengiran.
"Sans aja" sahut Reyhan singkat. Ia kembali menyandarkan punggungnya dengan mata yang menatap lurus ke depan. Reza, Renata dkk menghela nafas panjang. Mereka semua duduk di kursi yang satu meja dengan Reyhan.
"Lama ya kita nggak nongkrong bareng, gimana kerjaan lo?" ucap Ariel memulai pembicaraan.
"Lo kapan cari pacar Rey?, nggak bosen jomblo terus?" tanya Reza yang langsung mendapat pelototan dari mereka semua. Jantung Reza berdetak tak karuan setelah ia menyadari bahwa sudah salah melontarkan pertanyaan.
"Buat apa gue cari pacar?!!. Gue udah punya pacar, dan Kenzi adalah pacar gue, sampek kapanpun!!!" ucap Reyhan dengan penuh penekanan di setiap ucapannya.
Reza mengusap wajahnya kasar. Ia menatap tajam kearah Reyhan dengan kedua tangan ia lipat diatas meja.
"Lo mau sampek kapan kayak gini Rey?!!!. Udah delapan tahun dan lo masih menutup diri rapat-rapat tentang semua kenyataan ini!!!. Gue tau lo kehilangan, kita semua juga kehilangan. Tapi nggak sepatutnya lo kayak gini!!!. Gue yakin, Kenzi diatas sana pasti juga kecewa liat lo yang sekarang!!" ucap Reza dengan gamblang. Suasana berubah menjadi panas dan canggung. Semua hanya saling tatap tanpa ada yang mau memotong pembicaraan.
"Kenzi masih hidup!!!. Dia belum mati!!" bentak Reyhan sambil menatap tajam kearah Reza.
"Lo sadar dong Rey!!!. Kenzi udah mati!!!, Kenzi udah mati saat kecelakaan pesawat itu kalo lo lupa!!!" Reza berteriak tak kalah keras hingga membuat para pengunjung menengok kearahnya.
"KENZI BELUM MATI, GUE TADI KETEMU SAMA DIA!!! JAGA OMONGAN LO!!!" Reyhan berdiri dari duduknya sambil menarik kerah baju Reza hingga memksa pria itu berdiri. Semua teman-temannya ikut berdiri dan melerai pegangan Reyhan hingga terlepas.
"Kalian apa-apaan sih!!!, ini tempat umum anjengg!!. Sadar dong sadar!!!" seru Vicky dengan emosi sambil berdiri diantara keduanya.
Reyhan mengusap wajahnya kasar seraya memalingkan wajahnya kearah lain.
"Jangan sampek gue denger lagi kalo kalian bilang Kenzi udah mati!!!. Kenzi masih hidup!!!" tegas Reyhan dengan lantang. Ia kemudian berbalik badan dan meninggalkan mereka semua yang tengah menatap kearahnya.
"Gue nggak nyangka karena kepergian Kenzi Reyhan bisa segila itu" ucap Andien secara tiba-tiba.
"Kenzi itu cinta pertamanya Reyhan. Dan baru kali ini gue liat dia sedalam itu mencinta perempuan" sahut Vicky dengan lirih.
Bersambung......