Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Akibat



Reyhan tengah bersiap di dalam kamarnya. Senyum terus mengembang diwajah tampan pemuda itu. Apalagi sebentar lagi ia akan bertemu dengan pujaan hatinya, Kenzia.


Sesuai dengan janjinya kemarin, hari ini ia akan pergi bersama Kenzi kesebuah tempat. Setelah merasa penampilannya sudah pas, ia segera turun untuk makan bersama keluarganya.


"Pagi Mah, Pah" sapa Reyhan pada orang tuanya.


"Pagi sayang, sini duduk kita sarapan" ucap Raisa lembut seraya menarik kursi sebelahnya untuk sang putra tercinta.


Reyhan bergeming. ia berjalan ke kursi di samping Raisa. Mamanya dengan sigap meletakkan sehelai roti yang sudah diolesi selai keatas piring Reyhan.


"Kamu mau kemana, Rey?" tanya Raymond disela-sela makan mereka.


"Mau keluar sebentar Pah" jawab Reyhan sedikit canggung. ia memang tidak terlalu dekat dengan papahnya, itu semua karena papanya terlalu sering keluar kota sehingga sangat jarang berinteraksi dengan Reyhan.


Raymond menyudahi proses makannya. ia beranjak dari duduk seraya berkata.


"Papa berangkat kerja dulu ya" pamit Raymond sambil tersenyum. Raymond sebenarnya bukan seorang ayah yang jahat. ia hanya terkadang bersifat dingin dan tegas jika sudah menyangkut hal yang penting apalagi menyikapi sebuah permasalahan.


"Papa hati-hati ya" Raisa menyalami tangan suaminya bergantian dengan Reyhan.


"Iya, kamu baik-baik di rumah" ucap Raymond kemudian melenggang pergi meninggalkan mansion menggunakan mobilnya.


"Rey" panggil Raisa dengan suara lembut.


"Iya, ma?" Reyhan menghentikan aksi mengunyahnya dan beralih menatap Raisa penuh tanya.


"Kamu punya pacar?" tanya Raisa to the point. Reyhan membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Raisa.


"I i iya ma" jawab Reyhan gugup.Raisa tersenyum, ia mengelus kepala putranya dengan sayang.


"Kalo kamu punya pacar, jaga dia. Jangan sampai kamu melukai hatinya, sayangi dia dengan tulus tanpa memandang fisik ataupun materi. Dia perempuan Rey, kalo kamu nyakitin dia, itu sama aja kamu nyakitin mama. Karena dia sama mama sama-sama perempuan. Mama mendukung kamu asalkan yang kamu lakukan masih di jalan yang benar. Kamu paham kan sayang?" ucap Raisa. Reyhan tersenyum sambil mengangguk. Mamanya memang orang yang paling pengertian terhadapnya selama ini.


"Iya, ma" jawab Reyhan.


*****


Reyhan menghela nafas panjang sebelum akhirnya memencet bell rumah kekasihnya.


Tinggg


Pintu terbuka menampakkan sosok gadis dengan senyum manisnya. Seorang gadis yang teramat berarti bagi Reyhan.


"Selamat pagi, My Queen" ucap Reyhan sambil tersenyum manis.


"Selamat pagi juga, pengawal" sahut Kenzi dengan senyum jahilnya.


"Ya tuhan, punya pacar kejam banget deh" ucap Reyhan mendramatisir sambil memegang dada kirinya.


"Lebay deh" cebik Kenzi


"Lebay lebay gini kamu sayang kan..." jawab Reyhan sambil mencoel-coel pipi Kenzi.


"Nggak. Aku sayangnya sama anaknya Pak Raymond" jawab Kenzi.


"Aku juga nggak sayang kamu. Aku sayangnya sama Anak Pak William" ucap Reyhan tak mau kalah.


"Siapa?, Bang Devano?" ucap Kenzi sambil terkekeh geli.


"Ya nggak lah. Ya kali aku sama Bang Devan" tukas Reyhan sambil bergidik ngeri. Membayangkan saja sudah membuatnya geleng-geleng kepala.


"Udah ah, kapan berangkatnya kalo kita ngomong mulu" seru Kenzi.


"Nggak pamitan sama orangtua kamu dulu?, entar aku malah dikira penculik" ucap Reyhan.


45 menit berlalu. Kini mobil Reyhan berhenti di sebuah bangunan yang tak bisa dibilang bagus. Pohon-pohon yang menjulang tinggi memunculkan kesan seram saat orang melihat tempat itu.


Reyhan dan Kenzi melangkah dengan berwibawa. Sudah banyak anggota geng mereka yang hadir di tempat itu. Baik dari Red Rose, maupun Dark Dragon.


"Dimana dia?" tanya Kenzi datar tanpa ekspresi.


"Di sudah didalam lady" jawab salah satu anggota Red Rose.


Reyhan dan Kenzi meneruskan langkahnya menuju sebuah ruangan kecil


Letaknya agak jauh di belakang.


Reyhan membukakan pintu untuk Kenzi. Saat pintu terbuka, nampak Hanzo dan Andi sedang berdiri berhadapan dengan seorang pemuda yang digantung dengan kondisi kepala dibawah.


"Selamat pagi menjelang siang, lady"ucap Hanzo sambil menyeringai.


Mendengar kata 'Lady' membuat mata pria yang tadinya tertutup menjadi terbuka sempurna. Tubuhnya langsung bergetar saat melihat kehadiran sosok yang sangat ia takuti saat ini, Kenzia.


Kenzi menatap tajam seseorang yang sedang digantung itu. Seringaian iblis kembali terpatri du wajah cantik gadis 17 tahun ini. Perlahan, ia mendekat kearah pemuda itu. Semakin Kenzi mendekat, semakin membuat jantung pemuda itu berpacu dengan cepat.


"Bagaimana rasanya?, apakah menyenangkan, Alex?" tanya Kenzi dengan senyum devilnya.


"Tolong, lepaskan saya" ucap Alex terbata-bata.


"Apa?!, lepas?. Hahaaa biarkan nyawa lo lepas dulu, setelah itu baru raga lo gue lepasin" jawab Kenzi. ia berjalan ke samping untuk mengambil sesuatu.


"Lo inget kan, sama apa yang gue omongin ke lo waktu itu?. Jangan pernah berkhianat kalo nggak, lo akan tanggung sendiri akibatnya. Dan dengan bodohnya, lo malah berkhianat sama gue. Ck ck ck sebenarnya gue heran deh sama emak lo, dulu ngidamnya apaan coba sampek keluar anak yang t*lolnya minta ampun kayak lo" ucap Kenzi santai sambil mengasah pisau.


Alex meneguk ludahnya berulang kali. Tubuhnya bahkan sudah berkeringat dingin sekarang. Sedangkan Reyhan, Hanzo, dan Andi hanya diam menonton tanpa berniat membantu apalagi melerai. Bagi mereka, saat-saat Kenzi memberi sedikit hukuman bagi seseorang adalah hal yang seru untuk dipertontonkan.


"Lo tau kan, apa akibatnya jika berurusan sama seorang Kenzia?" ucap Kenzi sambil menggores kulit lengan Alex dengan pisau yang baru saja dia asah. Alex hanya meringis tanpa menjawab pertanyaan Kenzi.


"Harusnya lo tau dong, lo kan pinter. Nyuri data rahasia geng Red Rose aja bisa, masak mikir dikit tentang gue nggak bisa?" tanya Kenzi dengan semakin memperdalam sayatannya hingga membuat Alex mengerang kesakitan.


"Please lepasin gue" mohon Alex dengan bibir bergetar. Kenzi tersenyum miring. Kini pisaunya beralih pada punggung Alex yang tak terbalut kain. Entah dibuang kemana kaos pemuda itu oleh Hanzo dan Andi. Kenzi mulai membuat gambar abstrak dipunggung pemuda itu hingga membuatnya semakin kesakitan.


"Seharusnya lo berfikir seribu kali sebelum memilih untuk berurusan sama gue. Dulu gue udah ngasih lo kesempatan, tapi lo malah memanfaatkan kesempatan yang gue kasih untuk menusuk geng gue dari belakang. Cih, gue nggak sebodoh itu boy. Bahkan kalaupun geng gue nggak berhasil dapetin lo, dalam hitungan menit gue bisa tau dimana dan apa yang lo perbuat selama lo disini"


"Dan lo tau kan, setiap perbuatan pasti akan ada balesannya. Dan sekarang, adalah waktu lo untuk menerima balasan dari gue" ucap Kenzi sambil menyeringai. Tangannya berhenti membuat pola abstrak di punggung Alex.


"Tolong lepasin gue, adek gue masih butuh gue di rumah sakit" ucap Alex memelas.


Kenzi tertawa sumbang dengan tangan bersendekap dada.


"Adek?, jangan lo pikir gue nggak tau. Dia itu bukan adek lo, dia hanya keponakan dari bapak lo dan dia selalu lo buat alesan untuk bisa lari dari masalah. Lagian, dia juga dirawat di rumah sakit keluarga gue. Jadi kalaupun lo mati, dia nggak akan kesusahan hanya karena nggak ada biaya buat berobat." jawab Kenzi. Alex terperangah saat mendengar bahwa Kenzi mengetahui rahasia yang selama ini ia simpan. Gadis itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh.


Kenzi mengambil cambuknya dan mulai mencambuk pemuda itu hingga darahnya menetes.


"Hanzo" panggil Kenzi. Hanzo datang sambil membawa satu wadah berisi air garam dan meyerahkannya ke Kenzi.


"Selamat menikmati hadiah kecil dari gue, Alex" ucap Kenzi. ia lalu menyiramkan air garam itu ke luka Alex hingga membuatnya mengerang kesakitan.


Kenzi tersenyum miring saat mendengar teriakan Alex. Teriakannya bagaikan alunan lagu yang begitu merdu di telinga Kenzi. Puas bermain dengan Alex, Kenzi mengajak orang-orang itu untuk keluar meninggalkan Alex yang sedang menikmati rasa sakitnya.


"Kenapa lo nggak bunuh dia?" tanya Hanzo saat mereka berempat sudah duduk berjajar di sebuah kursi.


"Gue nggak mau di cap sebagai pembunuh, gue cuma mau nyiksa dia. Kalo dia capek, nanti juga mati mati sendiri. Kalo dia nggak mati, biar Reyhan yang matiin. Ya kan sayang..." ucap Kenzi.


"Apapun untukmu" jawab Reyhan.


"Mulai gilanya" batin Hanzo dan Andi kesal.