Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Untuk Twins



"Dok, jantungnya berhenti berdetak"


Ucapan itu, membuat perasaan bahagia yang Reyhan rasakan runtuh seketika. Semua orang kompak menatap kearah layar monitor yang menampilkan satu garis lurus.


"Siapkan alat penekan jantung!!"


Ingin sekali Reyhan menampar dirinya sendiri dan berkata bahwa ini semua adalah mimpi. Namun ini adalah sebuah kenyataan. Semua peristiwa yang terjadi di depan matanya itu nyata, dan seorang perempuan yang terbaring lemah itu juga nyata.


"Tuhan aku mohon, jangan ambil dia"


Jika bisa, ingin sekali ia datang langsung ke Tuhan. Menemuinya dan memintanya untuk tidak mengambil orang-orang yang dia sayangi. Namun hal itu hanya 'andai'. Dan ia yakin, itu sangat mustahil untuk dilakukan.


"Aku mohon, demi Twins"


*****************


Sedangkan di alam bawah sadar seseorang. Seorang perempuan anggun berbalutkan dress panjang berwarna putih berjalan seorang diri di sebuah lorong gelap. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Ia seolah kebingungan mencari jalan keluar.


"Kenzia...."


Sebuah panggilan dari ujung lorong sana menarik perhatian Kenzi. Seorang pria berdiri tegak di depan sebuah pintu yang bersinar cerah. Ia mengulurkan tangannya, seakan mengajak Kenzi untuk ikut serta.


"Kak Bintang" ucap Kenzi dengan lirih.


Bintang tersenyum teduh. Wajahnya terlihat lebih tenang daripada saat terakhir kali Kenzi melihatnya.


"Kakak masih hidup?" tanya Kenzi


Pria itu tak menjawab selain hanya senyuman yang menghiasi wajahnya. Tangannya masih dengan posisi yang sama, tak berubah sama sekali.


"Ayo...!!" hanya ucapan itu yang keluar dari bibir Bintang yang membuat dahi Kenzi mengerut bingung.


"Kemana?" tanya Kenzi lagi


"Pulang. Pulang ke tempat yang sebenarnya"


Kata-kata itu, memberikan getaran tersendiri bagi Kenzi. Hatinya menolak, namun langkah kakinya kian mendekat ke tempat Bintang berdiri.


"Kamu inget kan omongan aku dulu?. Aku akan setia nunggu kamu disini. Dan sekarang penantian aku udah selesai, kita akan sama-sama" langkah Kenzi kian dekat. Bahkan ia hampir sampai ke tempat tujuannya.


"Mama...." panggilan itu, membuat langkah Kenzi berhenti seketika. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, mencari sumber suara di tengah lorong gelap yang tak terlihat.


"Mama....." panggilan yang sama namun dari suara yang berbeda, membuat batin Kenzi kian terkoyak.


"Mama....."


Kenzi berbalik badan saat syara itu terdengar dari belakangnya. Dari kejauhan, nampak dua anak kecil laki-laki berjalan kearahnya sambil bergandengan tangan. Hati Kenzi terasa tenang saat melihat wajah dua anak itu, seakan mengingatkannya pada suatu hal.


"Mama..." panggilan itu kembali terucap, membuat air mata Kenzi terjatuh tanpa permisi. Perempuan itu buru-buru menyekanya.


"Mama mau ninggalin kami?" salah satu dari mereka berucap dengan raut wajah sedih. Kepala Kenzi mengangguk beberapa kali dengan mata yang melirik kearah Bintang yang masih setia berdiri di ujung sana.


"Jangan pelgi" anak yang satunya lagi ikut berucap, menatap ke mata Kenzi dengan tatapan mengiba. Satu hal yang bisa Kenzi lihat dari mata dua anak itu, mata mereka sama persis seperti dirinya.


"Ayo pulang. Papa ada dicana" dua anak itu meraih kedua tangan Kenzi, mengajaknya untuk berjalan ke ujung lorong yang berseberangan dengan milik Bintang.


Dua anak itu tersenyum manis. Menatap Kenzi dengan mata indah yang mereka miliki.


"Kami adalah masa depan"


************


"Detak jantungnya kembali normal" seorang perawat memberi instruksi, membuat semua orang bernafas lega. Terutama Reyhan. Pria itu menelungkupkan wajahnya diantara kedua lutut yang ia tekuk. Ia menangis disana. Mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah mau bermurah hati memberi kesempatan untuk dirinya dan keluarganya bahagia.


"Terimakasih Tuhan, terima kasih"


****************


Mata Reyhan mengamati dua bayi yang sedang terlelap di inkubator. Kulitnya masih sangat merah dan keriput. Lahir lebih cepat dari perhitungan membuat mereka harus di rawat di inkubator sampai dokter memperbolehkan mereka untuk keluar.


"Mereka ganteng-ganteng ya. Bener-bener perpaduan antara lo sama Kenzi"


Reyhan hanya tersenyum kecil menimpali ucapan kakak iparnya. Pandangannya masih tertuju pada dua bayi di depan sana, alasan kedua di masih mampu berdiri tegak di situasi seperti ini.


"Siapa nama mereka?" tanya Devano


"Rahasia. Gue cuma mau Kenzi yang nyebutin nama mereka pertama kali"


**************


Hari keempat pascaoperasi, Reyhan yang saat itu sedang mandi di apartemen miliknya yang terletak di sebelah gedung rumah sakit spontan berlari kencang saat mendengar bahwa Kenzi sudah sadarkan diri.


Berbekalkan celana kolor selutut dan kaos oblong berwarna hitam yang memamerkan bulu-bulu kakinya, Ia berlari menyusuri trotoar hanya beralaskan sandal jepit swallow. Rambut acak-acakan dengan sedikit sabun yang tersisa di belakang telinganya membuat ia sudah mirip si murah senyum.


Ia memasuki area rumah sakit dengan tergesa-gesa, bahkan saat sendalnya tertinggal sebelah di koridor rumah sakit pun ia tidak peduli.


Saat masuk lift, semua orang menatap aneh kearahnya. Bagaimana tidak, ia datang ke rumah sakit pake celana kolor warna pink sama kaos warna item plus sendalnya cuma sebelah. Fashion baru mas?!


Reyhan keluar dari lift dan bergegas masuk ke ruang rawat Kenzi. Sebelum masuk, ia membuang sebelah sandal swallow yang masih ia kenakan ke tempat sampah.


Semua keluarga yang ada di luar kamar menatap berbeda kearahnya hingga membuat Reyhan bingung sendiri.


"Kenapa sih?" tanyanya pada semua orang.


"Kamu liat aja sendiri" Raisa mewakili menjawab. Dari raut wajah yang ibunya berikan, Ia yakin ada hal tidak mengenakkan yang terjadi.


Tak mau bingung sendiri. Ia memilih masuk ke dalam kamar. Dengan langkah perlahan, Ia mendekat kearah Kenzi yang sedang duduk di atas ranjang dengan posisi membelakangi pintu.


"Sayang....."


Ada perasaan haru, bahagia, dan lega saat ia melihat perempuan yang begitu ia cintai sedang duduk dihadapannya setelah berhari-hari terbaring lemah.


Kenzi menengok kearah Reyhan. Ia menatap intens kearah pria itu agak lama, seakan sedang memikirkan sesuatu.. Entah apa yang ia pikirkan.


"Kamu siapa?!"


...Huaaaa, kagak jadi mewek gara-gara sendal swallow😩...


...Jan lupa like coment gaesss...