Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Masih Devano



"Si Devan tadi kemana coba?!" desis Andra dengan kepala celingak-celinguk mencari keberadaan teman bangsattnya yang tiba-tiba menghilang di area mall.


"Tau tuh, lagi beli pempers kali!!, biar nggak ngompol kalo nanti tante kun-nya nongol" celetuk Juan dengan kesal. Niatnya ingin nonton film horror yang lagi nge-trend, eh malah mereka sekarang harus menjelma menjadi tim SAR dadakan untuk mencari keberadaan Devano.


******


Sedangkan di sisi lain, seorang pemuda tampan sedang mengamati gadis yang sedang memilih-milih bunga di sebuah toko. Gadis itu mengambil sebuket bunga mawar merah lalu menyerahkan bunga itu kepada penjaga toko untuk melakukan transaksi.


Drrttt.....drrttt


Bunyi ponsel dari sakunya mengalihkan atensinya dari sana. ia merogoh saku tersebut, putaran bola mata jengah tertampil di mata elangnya saat melihat siapa yang menelfon.


"Apaan!!" tukas Devano dengan nada kesal saat panggilan sudah terhubung.


"WOY....LO DIMANA ANJIM?!, GUE SAMA YANG LAIN PADA NYARIIN LO!!, LO DIMANA SEKARANG!!" Devano menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakan Azka yang kencangnya melebihi bacotan emak komplek.


"Siapa suruh kalian nyariin gue!!" jawab Devano dengan entengnya. ia bisa mendengar suara cacian di sebrang telfon sana yang sepertinya tak hanya diucapkan oleh satu orang.


"Lahh, si bangst begonya kumat!!. Elo tiba-tiba ngilang kek jin tomang terus dengan santainya lo bilang 'siapa suruh kalian nyariin gue', sehat nggak ngana!!" desis Azka


"Gue sehat kok, nggak usah khawatir!" sahut Devano tanpa dosa. Azka mendengus kesal di sebrang sana namun Devano tak peduli. Fokusnya sedang tertuju pada sosok gadis cantik di toko bunga, Zevia.


Saat Devano tadi hendak mengambil ponsel yang tertinggal di mobil, tak sengaja matanya menangkap sosok Via yang sedang memasuki toko bunga yang kebetulan letaknya bersebrangan dengan mall tempat Devano dan teman-temannya nongkrong. Dan entah mendapat bisikan dari mana sehingga ia membuntuti gadis itu sampai sekarang.


"BURUAN BALIK SEKA....--


"Entar dulu ngocehnya, gue mau ngekorin bidadari pembawa bunga dulu. BYE!!" ucapan Azka terhenti tatkala Devano dengan cepat memotong ucapannya saat ia melihat Via berjalan keluar dari toko tersebut. Devano mematikan telfon sepihak. Berbekalkan topi yang ia kenakan, ia menyamar menjadi seorang detektif abal-abal:/


Via berjalan tak terlalu jauh dari toko itu. ia kemudian menyeberang jalan raya. Yang mengganjal di hati Devano adalah ketika melihat gadis itu berbelok arah dan masuk ke sebuah rumah sakit besar. Lebih tepatnya, rumah sakit milik keluarga Aleskey. ALS Medika Hospital.


"Dia sakit?" gumam Devano bingung. ia berdiri masih mematung di depan pintu masuk rumah sakit.


"Nggak bakal tau kalo nggak di liat" gumamnya lagi. ia kemudian ikut memasuki rumah sakit itu dan mengikuti kemana pun Via melangkah. Sampai akhirnya gadis itu berhenti di depan ruang rawat nomer 213 di lantai 2. Via masih belum bergeming dari depan pintu dan Devano pun segera mencari tempat persenbunyian untuk berjaga-jaga jika gadis itu tiba-tiba berbalik badan.


Devano sedikit mengintip dari balik tembok, dan ternyata Via sudah masuk ke dalam ruangan. Dengan berjalan mengendap-endap, ia mendekat ke ruangan itu.


"Gue kok kayak kucing mau nyolong ikan asin sih" gumam Devano yang membodohkan dirinya sendiri.


Beruntung pintu ruangan sedikit terbuka sehingga ia bisa melihat apa saja yang ada di dalam.


Via meletakkan buket bunga di samping seorang pemuda berpostur tinggi yang sedang terbaring dengan alat penunjang hidup yang melekat di tubuhnya. Via menggeser tempat duduk lalu mendudukan dirinya disana.


"Hay kak, gue dateng nih. Lo apa kabar?!" Via berucap pada pemuda itu yang pastinya tak ada respon apapun. Via menghela nafas berat. ia meraih tangan kakaknya dan menggenggam lembut jemari pemuda itu.


"7 bulan kak, lo tidur disini. 7 bulan lamanya ayah, gue, sama ibu dilanda kecemasan karena kondisi lo. Lo cepet bangun ya kak, biar kita bisa bareng-bareng lagi. Kita jalan bareng, nongkrong bareng, terus nanti kita ketawa bareng pas orang-orang ngira kita pacaran." Via tersenyum getir mengingat kebersamaannya dengan sang kakak dulu. Bima Ariesta, sosok pemuda yang begitu dikagumi Via selain ayahnya. Kakak yang selalu menjaganya sejak kecil dan kini kakak itu sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Via menatap lekat ke wajah Bima. Tak ada yang berubah, semua nampak sama seperti 7 bulan yang lalu. Perban yang membungkus kepala kakaknya pun sudah dilepas seiring dengan luka itu yang mulai mengering. Devano berdiri di dekat pintu, ia bisa melihat rona kesedihan begitu terpancar dari wajah gadis itu.


Tangan Via mengelus pipi Bima dengan perlahan seiring air mata gadis itu yang mulai menetes.


"Kalo lo bangun, nanti gue kenalin ke pacar gue deh. Tapi nggak tau pacar yang mana" ucap Via disertai kekehan.


"Nanti lo buruan cari pacar ya kak, biar gue punya kakak cewek" tambahnya lagi. ia kemudian melihat jam yang terpasang di dinding, sudah menunjukkan pukul 14.00. Perut Via sudah berteriak minta diisi.


"Kak, gue keluar bentar ya. Mau cari makan. Nanti gue balik lagi, oke?!" pamit Via seraya beranjak dari duduknya. Devano langsung terlonjak kaget. Dengan gelagapan ia langsung berlari untuk bersembunyi di balik tembok. ia tak mau dicap sebagai penguntit, padahal aslinya iya.


Via keluar dari ruangan kakaknya. Ia kemudian berjalan keluar dari rumah sakit dan Devano dengan setia mengekor di belakangnya.


Pikiran Via kosong setelah keluar dari ruangan kakaknya. Ia adalah saksi bagaimana selama ini keluarganya berjuang untuk kesembuhan Bima. Bagaimana ayahnya bahkan rela pergi ke luar pulau untuk mencari rupiah demi membiayai pengobatan putra tercinta. Ibunya yang dulu hanya seorang penjahit biasa sekarang mulai merintis butik kecil-kecilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dan Via, ia harus menekan otaknya untuk terus belajar dan berusaha agar dirinya bisa terus mendapat beasiswa agar ia tak semakin menambah beban keluarga.


Pikiran yang kacau membuat Via tak menyadari situasi. Matanya langsung terbelalak saat melihat dirinya berada di tengah jalan, belum lagi dari sisi kanan sebuah truk yang sedang melaju kencang kearahnya. Via berteriak kencang sambil menutup wajahnya menggunakan tangan kanan. Ia pasrah, kejadian yang sangat cepat membuatnya tak bisa mengelak.


"Ibu, maafin Via". Saat Via sudah pasrah dan berserah diri, sebuah tangan kekar menarik tangannya untuk menyingkir ke pinggiran.


"Lo Beggo ya!!!" hardik orang itu dengan kesal. Perlahan, Via membuka matanya. Ia mengamati sekeliling, ia kemudian menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan keras.


"Aww" keluh Via saat merasakan pipinya panas karena tamparannya sendiri.


Pletakkk


Devano menyentil kening Via hinga membuat gadis itu meringis.


"Sakit anjing!!!" maki Via dengan kesal sambil mengelus kening dan pipinya yang panas plus nyilu.


"Lo kalo mau bunuh diri, jangan di depan gue!!. Gue kan nggak rela kalo liat cewek cantik mati konyol!" sarkas Devano dengan bodohnya. Di situasi seperti ini masih aja bawa-bawa cantik, dasar mandang fisik!!


"Dih, siapa juga yang mau bunuh diri?!, gue masih waras kali!" ketus Via sambil memutar bola matanya jengah.


"Terus tadi itu apa?!. Bengong sambil nyebrang, lo pikir itu jalan punya nenek moyang lo?!" hardik Devano dengan nada kesal dan tangan yang menunjuk ke tengah jalan tempat Via hampir tertabrak tadi. Via mengikuti arah tunjuk Devano. Ia menghela nafas panjang kemudian menunduk. Hatinya mendesir saat mengingat apa yang membuatnya melamun hingga hampir tertabrak tadi.


Melihat gadis itu diam membuat Devano tak tega melanjutkan aksi mengomelnya. Ia kemudian ikut duduk di trotoar tepat di samping Via. Ia bisa mrlihat dengan jelas wajah murung yang terpatri di wajah gadis itu.


"Gue tadi liat lo keluar dari rumah sakit, lo sakit?" Devano bertanya tentang apa yang sudah ia ketahui. Goblokk memang, tapi ya sudah lah. Inilah yang dinamakan berbasa basi yang sudah terlanjur basi:v


"Gue tadi abis jenguk abang gue" . Yessss, Devano bersorak dalam hati. Ia tak menyangka jika pertanyaannya akan dijawab. Jujur pula.


"Abang lo emangnya kenapa?" jiwa kepo Devano meronta-ronta. Antara care dan ingin tau. Mulutnya tak bisa di rem untuk tidak bertanya.


"Dulu gue sama keluarga gue emang tinggal disini. Tapi ayah gue tiba-tiba ngajak kita pindah ke Kota B karena ada pekerjaan. Akhirnya gue sekeluarga pindah kesana. Dan suatu hari, kakak gue pergi kesini buat nemuin temen se-gengnya. Tapi di perjalanan dia di tabrak mobil, motornya hancur dan dia luka parah. Dan karna kejadian itu pula gue sekelurga kembali ke kota ini buat menjalani pengobatan untuk kakak gue. Kata dokter, tulang tengkorak kakak gue retak dan salah satu pembuluh darahnya ada yang pecah sampek buat dia koma hingga sekarang." jelas Via panjang lebar. Dia benar-benar butuh tempat untuk bercerita hingga tak sadar bahwa ia telah bercerita kepada Devano.


"Kalo boleh tau, temen kakak lo siapa?, kali aja gue kenal" tanya Devano lagi.


"Namanya Ke, keke, Ken, Keni, atau... akhh tau lah, gue lupa namanya" jawab Via dengan frustasi karena tak kunjung mengingat nama teman Bima.


"Emm, btw sorry ya. Gue malah curhat ke lo" ucap Via dengan canggung.


Devano tersenyum manis.


"Santai aja. Gue doain semoga kakak lo bisa cepet sembuh" sahut Devano.


"Biar gue bisa kenalan sama kakak ipar, xixixi" batin Devano


"Thanks doanya" ucap Via dengan tulus.


**Devano Edward Aleskey



Zevia Clarissa



**