
"Paa, ayo Paa.... ayo kita nyari kecebong di sungai" Kairen merengek sembari bergelendotan di lengan Reyhan. Sudah sejak kemarin, anak itu terus saja merengek minta kecebong yang ada di sungai depan rumah Pak RT. Sejak kemarin juga Reyhan dibuat bingung tujuh keliling untuk memberi alasan kepada putra pertamanya. Percayalah, sekuat apapun Reyhan, dia paling tidak bisa menolak permintaan Kenzi dan kedua putranya.
"Yang lain aja ya?. Kamu minta apa aja Papa turutin dehh, asal jangan kecebong" bujuk Reyhan dengan wajah memelas. Ayolah Kai, kamu gak peka banget sih kalo Papa geli sama cebong.
"Nggak mau, Kai maunya kecebong!!" Kairen mendengus kesal sembari bersendekap dada. Anak itu benar-benar keras kepala.
"Beli robot aja gimana?. Kita beli sekarang, sama Rai juga" Reyhan masih berusaha membujuk. Tak pernah terbayang bagaimana ia menahan malu saat ada orang yang melihatnya nyemplung kali demi cebong.
"Papa mah nggak asik!!" cebik Kairen dengan kesal. Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan kearah pintu sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai.
"Kai kenapa Pah?" Raizel yang baru turun dari lantai dua bertanya demikian. Sembari membawa robot kesayangannya, anak itu duduk di sofa samping sang ayah.
"Kamu nih, kebiasaan deh. Panggil Kakak!!" tegur Reyhan. Ia memang membiasakan Raizel untuk memanggil Kairen dengan sebutan kakak, namun anak itu selalu melanggar.
"Yaelah Pah, cuma tuaan dia 15 menit juga. Upin ipin aja nggak panggil adek abang" jawab Raizel memberi pembelaan. Reyhan hanya bisa geleng-geleng kepala. Nih anak satu, ngeles mulu kek bajay.
"Loh, Kai mana Yang?" Kenzi datang sembari membawakan kopi dan dua gelas susu untuk Kai dan Rai. Ia meletakkan nampan di meja, dan Raizel langsung menyambar gelas susunya.
"Biasa, ngambek minta cebong. Dia juga aneh sih, minta yang estetik dikit kek. Masak minta cebong" sahut Reyhan dengan nada frustasi. Gini amat punya anak.
"Mungkin Kai pengen buka ternak cebong Pah"
****************
"Papa mah nggak asik. Masak aku minta kecebong nggak diambilin"
"Emang kamu mau buat apa kecebongnya?" tanya Kimy penasaran.
Mereka kini tengah duduk diayunan samping rumah Kimy. Ayunan yang terletak di bawah pohon mangga, sangat teduh dan nyaman untuk bermain.
"Buat disimpen di kamar mandi. Kata Kak Satya biar nggak ada setannya" sahut Kairen
"Emangnya setan takut ya sama kecebong?" kening gadis itu mengerut bingung. Kepalanya ia miringkan menatap Kairen, hingga membuat rambut indahnya jatuh terurai ke samping.
"Kata Kak Satya gitu. Soalnya wajah kecebong lebih jelek dari setan"
Kimy tertawa kecil. Pipi chubby nya mengembang sempurna hingga wajahnya terlihat begitu cantik.
"Kamu lucu deh" ucap Kimy tanpa menghentikan tawanya.
"Kamu juga lucu" sahut Kairen
"Kok aku?"
"Iya, kamu lucu. Soalnya nggak ada yang lucu tapi kamu ketawa"
Savage......
"Kai mah gitu ihh" cebik Kimy sembari mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kamu tadi katanya mau ngomong sesuatu, mau ngomong apa?" tanya Kairen merubah suasana. Kimy menoleh kearahnya, raut wajah gadis itu mendadak berubah.
"Besok aku pindah"
"K-kenapa?" tanya Kairen dengan nafas tercekat di tenggorokan. Entahlah, dia merasa sedih saat mendengar Kimy akan pergi.
"Papa pindah tugas ke luar kota, aku sama Mama harus ikut" jawab Kimy sambil menunduk. Ia juga sedih, ia juga merasa tidak suka. Setelah berkali-kali pindah, baru kali ini dia benar-benar menyukai tempat dan suasana di sekitar tempat tinggalnya. Mengenal banyak teman yang baik, dan juga mengenal Kai dan Rai.
"Kamu ninggalin aku dong?" Kairen menunduk sedih. Sahabatnya akan pergi, sahabat yang menurutnya spesial.
"Aku cuma pindah. Suatu saat kita pasti ketemu lagi"
"Janji ya?" Kairen menyodorkan jari kelingkingnya, dan Kimy menyambut uluran itu. Ia ikut mengulurkan jari kelingkingnya, lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Kai.
"Janji"
Sebuah perjanjian tak tertulis yang dibuat oleh dua orang anak yang akan berpisah. Tidak ada yang tau, apakah janji itu bisa terpenuhi atau tidak. Janji untuk bertemu, belum tentu bisa ditebus dengan sebuah pertemuan.
*************
Kimy berdiri di teras rumah sembari menggendong boneka tedy bear di tangannya. Matanya menatap sang ayah yang tengah memasuk- masukan koper dengan tatapan tak minat. Jika boleh memilih, ia tidak ingin pindah dari rumah ini.
"Kimy!!" panggilan itu membuat gadis cantik bernama Kimy menoleh. Terlihat dengan jelas, Kairen berdiri di pintu gerbang sembari menatap kearahnya.
Gadis itu tersenyum kecil, senyuman pertama yang ia tunjukkan hari ini. Kairen berlari mendekat dengan langkah terburu-buru, seakan takut jika ia tak sempat bertemu dengannya.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Kimy bingung.
"Kamu hari ini pergi. Aku pengen liat kamu" Kairen menunjukkan sebuah gelang sepasang yang ia bawa. Gelang dengan lambang bulan dan bintang sebagai gantungannya.
"Ini buat kamu"
Kai memakai gelang berlambang bintang, sedangkan gelang yang berlambang bulan ia serahkan kepada Kimy, dan gadis itu menerimanya.
"Pake terus ya. Sampek kita ketemu lagi nanti"
Kimy mengangguk mengerti. Ia memakai gelang itu. Gelang yang masih nampak kebesaran di tangannya. Tapi dia berjanji, dia akan terus memakai gelang itu kemanapun dia pergi.
Kairen menatap Kimy yang melambaikan tangan kearahnya dari jendela mobil dengan tatapan nanar. Gadis itu pergi, pergi entah kemana. Kairen sendiri juga tidak tau, kenapa dia bersedih.
"Nggak usah sedih. Yuk, Papa temenin nyari kecebong!!" Reyhan merangkul bahu Kairen. Dia lebih baik membuang harga dirinya sendiri daripada melihat sang putra lemes kayak kertas basah.
"Papa serius?!" dan benar saja, wajah anak itu langsung bersinar kayak habis kena cahaya ilahi.
"Serius donggg" sahut Reyhan tak kalah semangat. Gapapa lah malu dikit.
"Rai ikuttt" Raizel berlari dari arah gerbang saat mendengar bahwa ayah dan kakaknya akan berburu kecebong. Kapan lagi coba, kapan lagi liat seorang Reyhan nyemplung kali.
"Ayo....!!!"
...Kangen nggak sama author cute?!. Kangen lah masak enggak. Ya kan? iya kan?. ...
...Bye, bye Kimy, see you kapan-kapann....
...**Jan lupa tinggalkan jejak ya gaess, love you all**:)...