
Hari berganti dengan hari, semuanya sudah sedikit berubah. Entah rasa atau sikap. Ada yang nampak tak sama.
Kenzi dan Reyhan berjalan sambil bergandengan tangan menuju kantin. Banyaknya siswa yang lewat sama sekali tak mengganggu pasangan ini.
"Yang lain kemana sih?" monolog Kenzi dengan kepala yang menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sahabat-sahabatnya.
"Masih di perpustakaan kali" sahut Reyhan. Kenzi hanya mengendikan bahunya acuh.
"KEN....!" seseorang berteriak memanggil nama Kenzi dari belakang. Reyhan sudah bisa menebak siapa pemilik suara ini. Ingin rasanya ia segera menggeret Kenzi untuk pergi. Namun terlambat, gadis itu bahkan sudah berbalik badan untuk menatap si pemilik suara.
"Kenapa Le?" tanya Kenzi pada Leon.
"Lo nggak mau liat anak-anak balapan?, tempatnya diluar gerbang sekolah sana. Yuk liatt!" ajak Leon sambil menarik sebelah tangan Kenzi yang tak di genggam Reyhan.
"Ehh tunggu dulu!!. Emang nggak dimarahin guru?, kok mereka bisa balapan diluar sih?!" Kenzi menarik kembali tangannya yang digenggam Leon. Sedangkan Reyhan masih terus menggenggam tangan kanan Kenzi sambil mendengarkan pembicaraan mereka dengan perasaan kesal.
"Lo lupa?!. Guru-guru kan lagi rapat mbing!!, lagian mereka kalo lagi rapat ruang guru kan selalu di mode kedap suara. Jadi nggak kedengeran. Udah ayokk, keburu selesai entar!!" Leon kembali menarik tangan Kenzi namun tertahan oleh Reyhan.
"Yang, kita kan mau ke kantin" ucap Reyhan sambil menahan sebelah tangan Kenzi.
"Duh gimana ya..Bentar kok Rey, sebentarrrr aja. Nanti aku susul. Ya?!" sahut Kenzi dengan nada rendah.
"Ayo, Ken!!" Leon semakin menarik tangan Kenzi. dan kini Reyhan tak menahan. Perlahan, pegangan tangannya pada Kenzi terlepas seiring gadis itu kian menjauh.
Reyhan menghela nafas panjang. Selalu seperti ini. ia selalu ditinggal dan diacuhkan. Dan itu terjadi karena satu orang, LEON.
Reyhan melanjutkan langkahnya ke kantin dengan langkah gontai. Ia duduk di salah satu kursi yang ada disana. Selera makannya hilang seketika karena melihat wajah sialan Leon. Reyhan merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari sana. Menstalking akun-akun IG milik idolanya. Tiba-tiba, Reyhan merasakan tempat duduk disampingnya bergerak. Senyum tipis tersungging di bibir pemuda itu.
"Kamu nggak jadi per....-" Reyhan tak jadi meneruskan ucapannya saat ia menoleh dan ternyata bukan Kenzi yang datang.
"Eh, Sell. Sorry, gue kira lo Kenzi" ucap Reyhan dengan canggung.
"Gapapa kok, gue mah udah biasa kalo lo salah nyebut nama. Btw, emang Kenzi kemana?" jawab Sella sekaligus bertanya. ia meletakkan kedua telapak tangannya diatas meja dan menatap lekak-lekat kearah Reyhan.
"Biasa....lagi pergi sama Leon" jawab Reyhan dengan malas. Sella manggut-manggut mengerti.
"Berhubung lo lagi sendirian, boleh dong kalo gue duduk disini" Ucap Sella sambil menaik turunkan alisnya. Reyhan terkekeh kecil.
"Ya boleh lah, ini kan bukan tempat punya bapak gue" jawab Reyhan
"Oh ya, gue mau pesen makanan nih. Lo nitip nggak?" tanya Sella sembari bangkit dari duduknya.
"Nggak deh" jawab Reyhan disertai gelengan. Sella mengangguk mengerti. ia kemudian berjalan menuju stand penjual makanan dan memesan makanan disana. Setelah selesai, ia kembali ke meja yang ia tempati bersama Reyhan sambil membawa semangkok bakso dan segelas es jeruk di tangannya.
"Lo beneran nggak makan?" tanya Sella sambil menyuapkan potongan bakso itu ke mulutnya.
"Nggak. Gue nggak nafsu" jawab Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Lo ada masalah ya sama Kenzi?" tanya Sella lagi tanpa menghentikan aktifitas mengunyahnya. Reyhan menghela nafas panjang. Diletakkan ponselnya dimeja dengan punggung yang ia sandarkan di sandaran kursi.
"Nggak" jawab Reyhan seadanya. Sella tertawa kecil, ia meraih minuman yang ia beli tadi lalu meminumnya.
"Lo nggak usah boong deh. Dari muka lo aja udah keliatan kalo lo sama dia lagi ada masalah" sahut Sella.
"Kalo dibilang masalah sih bukan. Cuma gue nggak suka aja kalo dia terus terusan deket sama Leon. Sekiranya kayak gue nggak dianggep banget gitu loh!!" jawab Reyhan dengab nada kesal.
"Kenapa lo nggak coba ngomong ke Kenzi?. Ya lo ngomong gitu kalo lo nggak suka liat dia deket sama Leon" ujar Sella.
"Gue nggak mau dianggep terlalu ngekang dia" sahut Reyhan dengan nada malas. Sella tertawa mendengar jawaban Reyhan.
"Lo nggak mau dianggep posesif tapi lo cemburu kalo dia deket sama cowok lain?!. Mau lo apa sih Rey?!" ucap Sella sambil tertawa. Reyhan mencebik kesal.
"Tau akhh. Pusing gue mikirin ini" tukas Reyhan dan Sella kembali tertawa.
"Ya ya ya, gue doain semoga kedepannya lo nggak pusing-pusing lagi" jawab Sella yang tak direspon oleh Reyhan. Pemuda itu sudah melanjutkan kegiatannya menjadi seorang stalker.
********
Waktu pulang telah tiba. Seluruh siswa SMA Dharma Bangsa berhamburan keluar kelas untuk pulang menuju rumah masing-masing. Reyhan, Kenzi, dan Leon berjalan beriringan menuju parkiran. Reyhan berdiri di tengah mereka berdua. Buat jadi penghalang katanya:/
"Gila.....tadi balapannya keren banget sumpah" oceh Kenzi dengan antusiasnya.
"Apalagi tadi tuh musuhnya SMA Bakti. Beuhhh, makin panas!!!!" timpal Leon.
"Tapi gue tadi nggak nyangka loh kalo si Bram dkk bisa menang. Gue pikir mereka cuma bisa nampolin bola basket doang!" ucap Kenzi lagi. Kini mereka sudah berbelok memasuki area parkir. Leon langsung menoleh kearah Reyhan yang juga sedang menatapnya. ia melayangkan senyuman sinis kepada kekasih sahabatnya yang dibalas oleh wajah tripleks khas Reyhan Alexander.
"Pemain basket juga bisa balapan kali!!" sahut Reyhan tiba-tiba. Kenzi langsung ikut menoleh kearah Reyhan. ia bisa melihat kalau pemuda itu sedang memasang raut wajah tak suka. Reyhan bahkan tak mau menatapnya.
"Iya ya. Pemain basket bahkan hebat banget kalo lagi balapan" ucap Kenzi sambil tertawa hambar dan hal itu tak direspon oleh Reyhan. Pemuda itu langsung nyelonong begitu saja meninggalkan Kenzi dan Leon dibelakang.
"Gue salah ngomong ya?" tanya Kenzi pada Leon.
"Tau!!" jawab Leon sambil mengendikan kedua bahunya acuh. Kenzi berdecak kesal.
"Kalo ditanyain pasti jawabannya begitu. Emang dasar Lele PEA!!" gerutu Kenzi dalam hati
"Ken buruan!!" seru Reyhan yang sudah berada di dalam mobilnya.
Kenzi terkesiap bukan main.
"Le, gue duluan ya. Bye!!!" ucapnya sembari berlari menuju Reyhan.
"Oiii kiss lo lupa!!!" teriak Leo dengan kencang.
"Kiss sana sama tiang!!" sahut Kenzi dari kejauhan yang masih bisa di dengar oleh Leon. Pemuda itu terkekeh mendengar jawaban Kenzi. Mata elangnya masih mengikuti arah gerak Kenzi yang semakin menjauh seiring dengan mobil Reyhan yang mulai melaju.
Di dalam mobil Reyhan, hanya keheningan yang tercipta. Baik Reyhan maupun Kenzi tak ada yang berniat membuka suara. Kenzi melirik kearah Reyhan. Pemuda itu memasang wajah datar dan dingin, tak seperti biasanya.
"Rey...!" panggil Kenzi. Tak ada jawaban.
"Kamu kenapa sih?" tanya Kenzi yang sudah tak tahan dengan kecanggungan. Lagi-lagi tak ada jawaban. Kenzi mendesah frustasi.
"Kamu ngomong dong!!!, jangan di...-
"Tanya sama diri kamu sendiri!!" potong Reyhan dengan nada dingin. Kenzi langsung bungkam. Tak biasanya Reyhan bersikap seperti ini padanya.
Kembali hening, tak ada pembicaraan. Melihat sikap Reyhan seperti ini membuat Kenzi tak berani berbicara lebih dulu. ia lebih memilih melihat langit mendung di luar sana.
Tiba-tiba mobil terasa agak oleng. Dengan cepat Reyhan menghentikan laju mobil untuk menghindari kecelakaan. ia kemudian turun dari mobil untuk mengecek apa yang terjadi. Kenzi mengintip dari kaca jendela. Karena penasaran, akhirnya ia ikut turun juga meskipun ia tak mengerti apapun tentang mesin dan sejenisnya.
"Kenapa mobilnya?" Kenzi memberanikan diri untuk bertanya. Reyhan yang sedang berjongkok disamping ban belakang lsngsung mendongak menatap Kenzi.
"Ban-nya kena paku" jawab Reyhan seadanya. Kenzi mengangguk mengerti.
"Kamu nggak bawa ban serep?" tanya Kenzi yang dijawab gelengan kepala oleh Reyhan.
Guntur mulai bersautan pertanda jika hujan akan segera turun. Reyhan merogoh ponselnya untuk menghubungi supir namun tidak bisa. ia berdecak kesal karena itu.
Tinn....tinnn
Suara klackson motor menarik perhatian Reyhan dan Kenzi. Dua orang itu menengok kearah sumber suara. Leon menghentikan motornya disamping mereka, ia lalu membuka helm-nya.
"Mobil lo kenapa?" tanya Leon pada Reyhan.
"Ban belakangnya kena paku" jawab Reyhan seadanya.
"Nggak bawa ban serep?" tanya Leon lagi.
"Kalo gue bawa, daritadi ban-nya udah gue ganti kali!!" tukas Reyhan dengan kesal.
"Yee, kan gue cuma nanya. Santai aja kali jawabnya, kayak orang mau lahiran aja lo!!" bela Leon. ia kemudian menengadahkan kepalanya ke langit yang sudah gelap.
"Ken, pulang bareng gue aja yuk!!. Udah sore banget nih, mau hujan juga. Kasian elo kalo kelamaan nunggu disini" ajak Leon. Reyhan melihat kearah Kenzi yang sedang kebingungan. ia membenarkan ucapan Leon. Hari sudah sangat sore ditambah lagi akan hujan. Kalau Kenzi masih menunggu disini, selain beresiko sakit, ia juga bisa terkena semburan Devano karena telat memulangkan Kenzi.
"Kamu pulang duluan bareng Leon aja. Entar keburu hujan" ucap Reyhan.
"Terus kamu gimana?" tanya Kenzi dengan nada khawatir
"Aku nanti bisa pulang pake taksi online kalo nggak ya nungguin supir. Udah, kamu pulang duluan aja ya" jawab Reyhan
"Kamu beneran gapapa?" tanya Kenzi memastikan. Reyhan mengangguk sebagai jawaban. Kenzi akhirnya menurut. ia berjalan kearah Leon dan naik ke boncengan pemuda itu.
"Kamu hati-hati ya. Nanti kalo ada apa-apa kabarin aku!" ucap Kenzi sebelum pergi.
"Iya. Le, gue titip Kenzi. Anterin ke rumahnya, jangan sampek lecet!!" ucap Reyhan.
"Gampang!!" jawab Leon dengan santainya. Motor mulai berjalan, Kenzi melambaikan tangannya pada Reyhan yang hanya dibalas anggukan oleh pemuda itu.
Reyhan kembali bersandar di kap mobilnya. ia sudah menghubungi bengkel namun montirnya sejak tadi belum datang. Suara petir semakin bergemuruh seiring dengan rintikan air hujan mulai berjatuhan.
Sebuah mobil BMW putih berhenti disamping Reyhan. Kaca mobil dibuka dan menampilkan wajah si pengemudi.
"Rey, kok lo disini?!" tanya Sella dengan suara agak keras.
"Ban gue kempes" jawab Reyhan.
"Masuk!!, gue anter pulang" ucap Sella
"Nggak usah, entar gue ngerepotin lo" tolak Reyhan.
"Enggak!!. Buruan masuk, keburu deres hujannya" seru Sella. Menurut, Reyhan mengambil tas, jaket, dan kunci mobilnya. ia lalu masuk ke dalam mobil gadis itu.
"Thanks ya udah nebengin gue" ucap Reyhan sambil tersenyum. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang.
"Santai aja. Btw, bukannya tadi lo pulang bareng Kenzi ya?!" ucap Sella dengan pandangan yang masih fokus menyetir.
"Iya, tapi tadi akhirnya dia pulang bareng Leon" jawab Reyhan dengan nada malas.
"Ninggalin lo gitu?!" ucap Sella dengan ekspresi terkejut.
"Ya gitu deh, lagian tadi gue juga nyuruh dia. Kan gue nggak enak sama keluarganya kalo gue telat mulangin Kenzi." jelas Reyhan. Sella mengangguk mengerti. Tangan kiri Sella sejak tadi memegangi tangan kanannya entah karena apa.
"Lo kenapa sih?" tanya Reyhan penasaran.
"Luka di lengan gue tiba-tiba nyeri, nggak tau kenapa"jawab Sella sambil meringis.
"Lo berhentiin mobilnya, biar gue yang nyetir!!" perintah Reyhan
"Tapi...."
"Nggak ada tapi-tapian, buruan berhenti!!" seru Reyhan dan Sella langsung menghentikan laju mobilnya.
"Lo tunggu sini!!" ucapnya sebelum turun. Reyhan turun dari mobil bertebeng dengan jaket yang ia jabarkan diatas kepala. ia berlari menuju kursi kemudi lalu membuka pintu itu. Ia memayungi Sella untuk keluar dan beralih duduk di kursi sampingnya. Setelah memastikan Sella sudah duduk tenang, Reyhan melajukan mobil tersebut untuk pulang ke rumahnya.
Di halte tak jauh dari tempat Reyhan berhenti, Kenzi melihat itu semua. ia sedang berteduh dengan Leon dan tak sengaja melihat kejadian itu.
"Apa ini alesan kenapa kamu nyuruh aku pulang bareng Leon, Rey?" batin Kenzi sambil mengepalkan kedua tangannya dibalik jaket yang Leon berikan.