Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Ancaman



Reyhan berdiri di depan pintu mansion Kenzi. ia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memencet bel mansion megah itu.


Tak begitu lama, pintu dibuka oleh seorang asisten rumah tangga. Orang itu tersenyum saat melihat Reyhan yang datang. ia sudah hafal betul dengan pemuda ini karena Reyhan sering berkunjung kemari.


"Eh Mas Reyhan....mari masuk mas!!. Non Kenzi ada di ruang tengah" ucap pelayan itu dengan ramah.


"Terimakasih ya Bi" sahut Reyhan sopan. ia melangkah masuk ke dalam mansion setelah di persilahkan masuk.


"Pagi Om, tante, Bang!!" sapa Reyhan pada seluruh anggota keluarga Kenzi yang berada di ruang tengah.


"Pagi, Rey. Mau jemput Kenzi ya?" ucap Allia sekaligus bertanya.


"Iya Tante. Kenzi nya ada?" tanya Reyhan saat dirinya tidak menemukan keberadaan Kenzi diantara keluarganya.


"Ada, dia lagi ambil tas di kamarnya. Bentar lagi juga turun" jawab Allia sambil tersenyum. Reyhan mengangguk mengerti. Dan benar saja, tak begitu lama Kenzi turun sambil membawa tas punggung hadiah dari sang Mommy. ia tersenyum manis saat mendapati Reyhan sudah datang dan menunggunya dibawah.


"Hay!!" sapa Kenzi saat dirinya sudah berdiri dihadapan Reyhan.


"Ganjen banget jadi cewek!" cibir Devano tanpa mengalihkan atensinya dari ponsel yang ia bawa.


"Sirik ae lo bambangg!!" tukas Kenzi sambil menatap malas kearah kakak nya.


"Udah!!. Pagi-pagi udah berantem aja, nggak malu sama Reyhan?. Sana buruan berangkat, keburu telat nanti!" seru William.


"Yes, dad" jawab Kenzi dengan malas.


"Rey, titip Kenzi ya!" ucap Allia lembut. Reyhan mengangguk sambil tersenyum.


"Iya tante" jawab Reyhan.


"Kalo gitu Ken pamit ya mom, dad, bang" pamit Kenzi seraya menyalami mereka satu persatu diikuti oleh Reyhan.


"Hati-hati dijalan!" pesan William pada Kenzi.


"Bilang hati-hatinya sama Reyhan, kan dia yang nyetir" jawab Kenzi santai yang membuat William mendengus malas.


"Tu hijo Allia. Ni madre, ni hijo. Igualmente molesto!" ucap William menggunakan bahasa Spanyol yang merupakan bahasa nasional negara asalnya, Mexico.


{"dasar anaknya Allia. Nggak ibu, nggak anak...sama-sama menyebalkan!".}


"Sé de lo que está hablando, señor!" Allia menyahuti menggunakan bahasa yang sama sambil menatap tajam kearah suaminya.


{"Aku tau apa yang kamu katakan, Tuan!"}


Devano meletakkan ponselnya diatas meja. ia beralih menatap kedua orang tuanya yang memperdebatkan hal yang tidak penting.


"Por qué estás discutiendo?!" tukas Devano dengan tatapan malasnya.


{"Kenapa kalian malah berdebat?!"}


Kedua orang tuanya langsung diam. Mereka sama-sama membuang muka kearah lain. Sikap mereka saat ini sudah seperti ABG yang baru pacaran. Hal itu membuat Devano dan Kenzi geleng-geleng kepala. Sedangkan Reyhan, pemuda itu menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal karena ia tidak mengerti sama sekali apa yang mereka katakan.


"Mejor nos vamos ahora que ver la pelea. Vamos, querido!" Kenzi berucap sambil menatap Reyhan. Memberi isyarat bahwa ia sedang berbicara pada pemuda itu.


{"Lebih baik kita pergi sekarang daripada melihat perdebatan mereka. Ayo, sayang!"}


"Hah?" ucap Reyhan dengan wajah bodohnya. ia benar-benar tidak mengerti apa yang Kenzi ucapkan. Kenzi menahan tawanya saat melihat wajah Reyhan yang nampak kebingungan. Tanpa banyak bicara, Kenzi mengait lengan Reyhan lalu mengajak pemuda itu untuk masuk mobil dan menuju ke sekolah.


"Aku tadi bener-bener nggak ngerti kalian ngomong apa" ucap Reyhan dengan mata yang masih fokus pada depan. Kenzi terkekeh dibuatnya.


"Bukan hal yang penting kok. Belajar bahasa Spanyol sana!. Biar nggak bingung pas aku sama keluargaku ngomong bahasa itu" ucap Kenzi. Reyhan mengendikan bahunya acuh.


"Oh ya, Ken. Nanti habis pulang sekolah, aku ada latihan basket sama anak-anak. Kamu nungguin bentar gapapa kan?" tanya Reyhan. ia menoleh sebentar lalu kembali fokus menyetir.


"Iya, gapapa kok" jawab Kenzi disertai anggukan.


Mobil Reyhan kini sudah terparkir rapi di parkiran mobil SMA Dharma Bangsa. Reyhan dan Kenzi turun dari mobil dengan bersamaan. Reyhan menggandeng tangan Kenzi lalu mereka berdua berjalan beriringan untuk memasuki kelas.


Reyhan membuka pintu bertepatan dengan pintu yang dibuka dari dalam. Lalu keluarlah Sella dari dalam kelas. Sella sedikit terkejut melihat Kenzi dan Reyhan yang berdiri di depan pintu. Namun ia berusaha menutupinya.


"Eh kalian, ngagetin aja. Baru dateng ya?" ucap Sella berbasa-basi dengan senyum dibibirnya.


"Mata lo nggak liat gue sama Reyhan masih bawa tas?. Kalo mau nanya, pikir dulu pake otak!. Pertanyaan yang benar-benar nggaj penting!" ketus Kenzi dengan tatapan tak suka pada Sella. Sella hanya diam mendengar ucapan Kenzi, sedangkan Reyhan menatap Kenzi dengan tatapan bingung karena tak biasanya Kenzi bersikap ketus kepada Sella.


"Minggir lo!, ngehalangin jalan aja!" Kenzi menyerobot masuk sambil menggandeng tangan Reyhan. ia menggeser tubuh Sella kesamling dengan kasar hingga bahu kanan gadis itu terbentur ringan ke gawang pintu.


"Kok lo bersikap gitu banget sih ke Sella?" Tasya mulai memancing pembicaraan dengan basa-basi yang sudah terlanjur basi.


Kenzi menghela nafas panjang. ia melipatkan kedua tangannya di atas meja lalu menelungkupkan kepalanya disana.


"Kalo lo ada masalah, cerita ke gue Ken!. Kali aja gue bisa bantu" ucap Tasya sembari memegang pundak Kenzi. Kenzi mengangkat kepalanya untuk menatap Tasya.


"Dia suka sama Reyhan. Awalnya gue masih positive thingking ke dia, tapi setelah kerja kelompok waktu itu, gue tau kalo dia emang nyimpen perasaan ke Reyhan. Dan gue nggak akan biarin satu orang pun ngambil sesuatu yang udah jadi milik gue, termasuk dia" ucap Kenzi. Tasya tersenyum kecil.


"Gue tau. Gue juga ngerasa kalo dia emang suka sama Reyhan. Kelihatan dari cara dia mandang Reyhan waktu itu. Gue harap, kehadiran dia nggak akan mempengaruhi hubungan kalian. Kalo lo butuh bantuan, lo bisa minta tolong ke gue!. Terus kalo lo butuh temen curhat, dengan senang hati gue mau jadi pendengar yang baik buat lo" ucap Tasya.


"Thanks ya Tas" ucap Kenzi tulus. Tasya mengangguk dengan senyuman.


"Btw Renata sama Andien mana?" tanya Kenzi.


"Lagi ke kantin, biasa si Renata harus isi bensin dulu"jawab Tasya sambil terkekeh. Kenzi ikut tertawa dibuatnya.


*******


Kenzi duduk di pinggir lapangan sambil meletakkan kaki kanan diatas kaki kirinya. Senyum terbit di sudut bibirnya saat Reyhan berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Matanya tak berkedip sama sekali saat melihat Reyhan dengan lihainya men-dribel bola. Keringat yang membasahi tubuhnya membuat tubuhnya begitu tercetak di kaos basket yang ia gunakan. Rambutnya yang ikut basah karena terkena keringat membuat dirinya terlihat sangat cool.


"Astaga...emaknya dulu ngidam apaan sih gusti?, kok dia sampek ganteng banget kayak gitu" gumam Kenzi sambil senyum-senyum sendiri melihat Reyhan. Reyhan berhenti di tengah lapangan untuk mengatur nafas sebentar. ia menatap Kenzi yang juga sedang menatapnya. Reyhan mengarahkan jari telunjuk dan tengah ke bibir lalu mengarahkannya ke kenzi dari kejauhan. Sontak hal itu membuat Kenzi tersenyum lebar dan membuat beberapa siswi yang ada disana histeris.Ya,emang Kenzi tidak sendiri. Masih ada siswa dan siswi yang juga ikut menonton latihan basket. Siswi lebih dominan menonton karena mereka ingin melihat aksi memukai tim basket sekolahnya yang sedang latihan. Lebih tepatnya untuk melihat para tim basket yang rata-rata berparas tampan dan cool. Terutama Reyhan. Namun tak ada yang berani menggoda Reyhan karena takut dengan Kenzi.


Kenzi beranjak dari duduknya lalu pergi ke kantin berniat untuk membelikan Reyhan minum. Bertepatan dengan itu, latihan Reyhan telah usai. Reyhan duduk di pinggir lapangan sambil menjulurkan kakinya. ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Kenzi. Namun gadis itu tidak terlihat batang hidungnya. Reyhan kemudian menunduk untuk mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.


Seseorang menyodorkan sebotol minuman dingin ke Reyhan. Reyhan tersenyum dengan kepala yang masih menunduk. ia tau siapa orangnya.


"Makasih sayang" ucap Reyhan sembari mendongakkan kepalanya untuk menatap orang itu. Betapa terkejutnya Reyhan saat ia mengetahui bahwa orang itu adalah Sella.


"Eh sorry, gue kita lo Kenzi" ucap Reyhan.


"Iya, gapapa kok" jawab Sella.


"Oh ya, nih buat lo" Sella kembali menyodorkan minuman di tangannya. Reyhan masih menatap minuman itu dalam diam. Sebenarnya ia sangat malas meladeni Sella, namun rasa hausnya mengalahkan segalanya. Tangan Reyhan terulur hendak mengambil minuman itu.


"Sayang....aku bawa minuman buat kamu!" Kenzi tiba-tiba datang dan langsung menyodorkan minumannya ke Reyhan. Reyhan yang tadi hendak mengambil minuman Sella kembali menarik tangannya dan beralih mengambil minuman Kenzi.


"Thanks baby" ucap Reyhan sambil tersenyum manis. Kenzi mengangguk. ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya lalu mengelap wajah Reyhan yang berkeringat menggunakan sapu tangan itu.


"Capek ya?" tanya Kenzi tanpa menghentikan aktifitasnya.


"Banget" jawab Reyhan sambil tersenyum. ia sangat suka mendapat perhatian seperti ini dari Kenzi.


Sella menatap botol minuman di tangannya yang diacuhkan begitu saja oleh Reyhan. ia mendehem sebentar.


"Kalo gitu gue ke toilet dulu ya Ken, Rey" ucap Sella dengan memaksakan senyumnya.


"Terserah!" tukas Kenzi tanpa menatap Sella. Sella langsung pergi ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, ia membasuh wajahnya dengan air berkali-kali. ia lalu menatap pantulan dirinya di cermin. ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Berniat keluar, Sella membalikan tubuhnya. ia meraih gagang pintu untuk membuka pintu tersebut. Bertepatan dengan itu, seseorang membuka pintu dari luar hingga membuat Sella sedikit mundur. Orang itu masuk ke dalam kamar mandi lalu menguncinya.


"Kenzi" ucap Sella sambil menatap Kenzi yang berada dihadapannya.


Kenzi berjalan mendekat, dan Sella berjalan mundur. ia terus mundur hingga punggungnya terpepet wastafel.


"Lo mau ngapain?" tanya Sella gelisah. Kenzi menyunggingkan senyum devil di sudut bibirnya.


"Kenapa...?, lo takut?" sinis Kenzi. ia semakin mendekat hingga berdiri tepat di depan Sella. Sella menundukkan kepala nya, Kenzi meraih dagu gadis itu agar mendongak menatapnya.


"Awalnya gue nganggep lo sebagai temen. Tapi ternyata, lo malah meminta gue untuk menjadikan lo sebagai musuh secara tidak langsung" ucap Kenzi sambil sedikit memberi tekanan di dagu gadis itu.


"Maksud lo?" sahut Sella.


"Gausah pura-pura b*go!!. Atau lo emang beneran b*go ya?!" sinis Kenzi. Sella hanya diam.


"Gue tau lo suka sama Reyhan, dan gue peringatin ke lo, jangan pernah deketin dia mulai dari sekarang, sampek seterusnya!!. Gue harap lo sedikit punya urat malu dan kesadaran buat berhenti cari perhatian ke dia!!."


"Awalnya gue masih berfikir positif ke lo, tapi ternyata dengan nggak tau malu-nya lo malah deketin cowok gue!!. Cihh, lo berurusan dengan orang yang salah girl!!." tekan Kenzi. ia mencengkram bahu Sella dengan sorot mata tajam penuh amarah yang ia tujukan kepada gadis itu. Tingginya yang melebihi Sella membuatnya lebih mudah melakukannya. Sella merasakan sakit, namun ia tak mengeluarkan suara.


Kenzi semakin memepetkan tubuh Sella ke dinding hingga gadis itu tak bisa bergerak. Cengkramannya pun bertambah kuat namun Sella masih tak megeluarkan suara sedikitpun.


"Ini peringatan yang pertama dan terakhir dari gue. Kalo lo masih nekat, jangan salahin gue kalo lo terima akibatnya!!" tegas Kenzi. ia melepaskan cengkramannya.


"Gue harap lo bisa sedikit pinter untuk memahami apa yang gue omongin, Rosella!!" ucap Kenzi seraya menepuk pipi kiri Sella dengan agak keras. ia kemudian berbalik badan untuk membuka pintu lalu pergi meninggalkan Sella yang masih mematung di tempat. Sella menapat kepergian Kenzi dalam diam dengan sorot mata penuh arti yang ia tujukan kepada gadis itu.