
Kematian Bintang membawa dampak yang besar bagi kehidupan seorang Kenzia. Rasa bersalah terus melingkupi hati gadis itu hingga membuatnya menyiksa dirinya sendiri. Satu minggu telah berlalu, dan sejak itu pula Kenzi tidak mau makan, minum, bahkan Ia tidak mau berbicara dengan orang lain. Kondisinya yang kian kurus dan mengkhawatirkan membuat keluarganya terpaksa membawa Kenzi ke rumah sakit. Namun hal tersebut ternyata percuma, Kenzi tetap mengurung diri dan tidak mau makan minum. Beruntung ada asupan dari infus sehingga kesehatannya masih tetap terkontrol.
Seperti sekarang ini, semua keluarga Aleskey duduk di kursi tunggu depan ruang rawat dengan perasaan gelisah. Pasalnya, tak ada satupun dari mereka yang bisa masuk. Setiap ada orang yang masuk, Kenzi selalu berteriak dan mengusir mereka untuk keluar. Sehingga mau tak mau mereka menunggu di luar dan hanya bisa melihat gadis itu dari kaca penghubung.
"Om, Tante, Bang, maaf Reyhan baru dateng" Reyhan tiba-tiba datang masih dengan mengenakan setelan kantornya. Ia baru saja menyelesaikan meeting di luar kota dan bergegas datang kemari setelah mendengar kabar bahwa Kenzi drop hingga masuk rumah sakit.
"Tidak apa-apa Rey. Kami ngerti, kamu pasti sibuk. Terimakasih sudah datang" sahut William dengan ramah.
"Kamu coba masuk ya, udah dari seminggu yang lalu Kenzi kayak gini. Tante harap kamu bisa bujuk dia buat makan, meskipun cuma sedikit" ucap Allia sambil tersenyum yang dibalas anggukan oleh Reyhan.
"Iya, Tan. Reyhan bakal coba bujuk Kenzi" sahut Reyhan. Mereka semua tersenyum, sedangkan Devano hanya terdiam. Sepertinya ia belun memaafkan pemuda ini sepenuhnya.
Reyhan berjalan mendekat kearah pintu kamar. Dengan hati-hati, Ia membuka pintu itu agar tidak menimbulkan suara. Reyhan kemudian masuk ke dalam ruangan dan menutup kembali pintu tersebut. Terlihat tubuh Kenzi tengah duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakangi pintu.
Kenzi menatap kosong keluar jendela. Bayangan wajah Bintang yang meninggal di depannya terus terputar dalam benak gadis itu seperti dejavu. Rasa bersalah terus melingkupi hatinya hingga rasanya ia sangat sulit untuk bernafas lega. Tangis pilu yang keluar dari mulut Keluarga Mahardika saat prosesi pemakaman Bintang masih terekam jelas di otaknya hingga membuat rasa bersalah itu semakin membesar.
"Pergi dari sini!!!, gue nggak mau diganggu!!!" seru Kenzi dengan kencang tanpa membalikkan badannya.
Reyhan terus berjalan mendekat hingga berdiri di belakang Kenzi. Ia belum mengeluarkan suara, masih menunggu apa yang akan gadis itu lakukan selanjutnya.
"GUE BILANG PERGI!!!. GUE NGGAK MAU KETEMU SAMA SIAPA PUN!!" teriak Kenzi lagi, masih dengan posisi yang sama.
"Yakin nggak mau ketemu aku?" tanya Reyhan dengan lembut.
Kenzi tertegun cukup lama. Dengan cepat, Ia memutar kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Dan benar saja, sosok seseorang yang begitu ia nantikan tengah berdiri sambil tersenyum manis. Kenzi segera berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Reyhan erat, menumpahkan segala kesedihan yang ia pendam selama ini.
"Kenapa baru dateng?!" tanya Kenzi dengan suara parau tanpa melepas pelukannya. Reyhan mengelus rambut Kenzi dengan pelan dan memberikan kecupan ringan di pucuk kepala gadis itu.
"Maaf ya, aku ada urusan bisnis di luar kota dan nggak bisa di tinggal. Maaf karena aku nggak ada disaat kamu butuh suport" Ucap Reyhan dengan mata teduhnya. Ia memegang dagu Kenzi dan sedikit menariknya keatas agar gadis itu mendongak. Ibu jarinya menghapus jejak air mata yang masih ada di pipi Kenzi dengan lembut. Tatapannya menelisik ke setiap sudut wajah gadis itu. Tubuhnya kurus, pipinya tirus dengan mata bengkak dan lingkar hitam dibawah matanya. Menandakan jika gadis itu tidak makan dan tidur dengan pola yang benar.
"Kamu makan ya..." Ucap Reyhan yang dibalas gelengan oleh gadis itu.
"Sedikittt aja" tawar Reyhan lagi, dan Kenzi kembali menggeleng.
Reyhan membuang nafas berat, Ia menarik tangan Kenzi mengajaknya untuk kembali ke ranjang. Kenzi menurut dan terus mengekor dibelakang Reyhan tanpa membantah. Ia kemudian berbaring di ranjang didampingi Reyhan yang duduk disampingnya.
Mata Reyhan melirik kearah mangkok bubur yang berada diatas nakas, masih utuh belum tersentuh sama sekali. Ia kemudian mengambil mangkuk itu dan menyendoknya sedikit.
"Kamu makan yaa, dikitt aja" ucap Reyhan seraya menyuapkan sesendok bubur ke mulut Kenzi namun gadis itu menolaknya.
"Nggak mau" jawab Kenzi disertai gelengan.
"Ayolah Ken... Kalo kamu sakit nanti gimana?, kamu nggak kasian sama keluarga kamu yang nunggu di luar?, kamu nggak kasian sama aku?" Bujuk Reyhan yang masih belum menyerah.
Kenzi menunduk untuk menyembunyikan matanya yang mulai berair. Rambut panjangnya yang tergerai jatuh hingga menutupi wajah. Reyhan mendesah berat. Ia kembali meletakkan bubur itu diatas nakas. Tangannya menyikap rambut Kenzi yang menutupi wajah lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
"Nangis kalo kamu pengen nangis, tapi habis itu udah, jangan berlarut-larut" ucap Reyhan seraya mengelus pipi kiri gadis itu dengan lembut.
"Kak Bintang meninggal gara-gara aku" cicit Kenzi di tengah-tengah isakannya.
"Ini bukan salah kamu Ken, ini udah takdir" Reyhan mendekat lalu memeluk Gadis itu erat, membiarkan ia menangis di dadanya meski baju yang ia kenakan harus basah.
"Kak Bintang meninggal gara-gara ngelindungin aku, anak panah itu buat aku, harusnya aku yang kena bukan dia. Ini semua salah aku" racau Kenzi di dada Reyhan.
"Terus kalo kamu nyalahin diri kamu sendiri, apa Bintang bisa balik lagi?!" pertanyaan itu sukses membuat Kenzi mendongak. Ia menatap lekat kearah mata tajam Reyhan, meminta penjelasan tentang apa yang barusan ia dengar.
"Bintang ngelakuin itu karena dia sayang sama kamu. Dia rela berkorban demi kamu. Dan seharusnya, kamu nggak menyia-nyiakan pengorbanan dia dengan nyiksa diri sendiri kayak gini. Kamu inget kan apa pesen terakhir Bintang?!, dia pengen kamu selalu bahagia. Jadi, kamu harus ngehargain pengorbanan dia dengan terus berjuang di dunia ini. Buat Bintang bahagia dengan melihat senyuman dan kesuksesan kamu. Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut apalagi sampek nyiksa diri kayak gini. Kamu paham kan maksud aku?!" ucap Reyhan panjang lebar dengan senyum manisnya.
Kenzi mengangguk lesu. Memang benar, apa yang dia lakukan tidak akan merubah keadaan. Yang ada hanya sebuah masalah baru yang bisa saja muncul di kemudian hari.
"Dead Cobra. Gue akan hancurin lo dengan tangan gue sendiri. Tunggu pembalasan gue!!" batin Kenzi dengan licik.
**********
Ruangan luas itu terasa hening dan mencekam meskipun terdapat banyak orang yang ada disana. Mereka yang didominasi oleh kaum lelaki itu menunduk takut saat melihat tatapan gadis yang tengah berdiri dihadapan mereka.
"Bener-bener nggak berguna!!" desis gadis itu dengan amarah.
Semua tak berani menjawab atau bahkan hanya untuk membalas tatapan gadis itu. Mereka hanya menunduk, seakan lantai lebih menarik daripada seseorang dihadapannya.
"Saya sudah muak mendengar laporan kalau kalian selalu gagal, gagal, dan gagal!!!. Bunuh satu cewek sialan aja kalian nggak bisa, dasar nggak berguna!!!" bentaknya lagi, kali ini dengan nada lebih keras.
"Maaf Nona El, tapi setiap kami memulai rencana, selalu ada orang yang melindunginya dan membuat rencana kami selalu gagal" bela salah satu anggota dengan suara bergetar takut. Gadis itu tersenyum sinis dengan sorot mata tajam yang melekat di mata indahnya.
Dorrr
Anggota itu langsung terkapar di lantai saat sebuah peluru melayang tepat di kepalanya. Anggota yang lain terkejut namun tak berani bergerak apalagi mengeluarkan suara. Nyawa mereka bisa langsung melayang di tangan iblis perempuan itu jika mereka melakukan kesalahan sedikit saja.
"Saya tidak menerima bantahan, ataupun pembelaan sampah yang kalian ucapkan!!!" seru gadis itu dengan lantang.
"Kegagalan kalian terjadi karena kebodohan kalian sendiri!!!. Kalian nggak becus memprediksi keadaan sampai-sampai rencana itu selalu gagal!!!"
"Cihh, bahkan sampai sekarang saya masih heran. Kenapa mereka bisa-bisanya mengirim anggota bodoh seperti kalian untuk menjadi anak buah saya!!!" cibirnya dengan sinis.
Ia membuang nafas kasar sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku jaketnya.
"Kali ini kalian selamat!!!. Tapi kalo saya denger kalian gagal lagi, jangan harap kalian mendapat pengampunan!!!" seru gadis itu
"Baik Nona" jawab mereka serempak
Gadis itu kemudian berbalik badan dan berjalan kearah jendela. Menatap hiruk-pikuknya pusat kota dari jendela ruangan itu. Senyuman iblis terpatri di sudut bibirnya saat sebuah nama seseorang terbesit dibenaknya.
"Gue nggak akan biarin lo hidup tenang"