
Reyhan menekuk mukanya sambil melirilk malas kearah Kenzi yang tengah menonton MV terbaru EXO di layar laptopnya. Karena tidak bisa membelikan sushi yang ori dari Jepang, seharian penuh ia tidak diperbolehkan keluar rumah oleh Kenzi sebagai gantinya. Bahkan untuk bekerja pun ia tidak boleh.
"Kamu nggak bosen apa liat itu terus?!. Apa gunanya sih liatin mereka, joget-joget nggak jelas kayak biduan pasar malem!!" cibir Reyhan dengan nada jengkel.
"Biarin aja kenapa sih?!. Kali aja anak aku bisa mirip Sehun kalo aku terus-terusan liat dia. Kan lucu, mukanya gemoy-gemoy ajib" sahut Kenzi tanpa merubah pandangannya sedikitpun dari layar laptop.
"Ya pasti mirip aku lah!!. Itu kan yang bikin aku, usaha aku tiap malem sampek keringetan dari ujung kaki sampek ujung kepala!!. Ya kali mirip si bihun, dih nggak cocok!!." cerocos Reyhan dengan nada jengkel. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari bersendekap dada, menatap kearah depan dengan tatapan jengkel.
"Kamu daripada nyerocos panjang lebar kayak Mama Dedeh belum sarapan, mending kamu keluar deh. Cariin aku rujak buah, aku lagi pengen" jiwa ibu hamil mulai berulah yang pastinya akan membuat siapapun yang ada di sekitarnya pusing tujuh keliling delapan tanjakan sembilan turunan, seperti Reyhan contohnya.
Ada perasaan ngeri saat Kenzi sudah mengatakan kata 'pengen' karena pasti yang ia minta adalah hal yang warbyasahh.
"Rujak buah yang di depan komplek kan?" tanya Reyhan dengan hati-hati.
"Bukan yang itu!!" dan seperti dugaannya, sang istri pasti meminta hal yang lain dari yang lain. Kan sama-sama rujak buah, apa bedanya coba?!. Ingin sekali Reyhan bersorak demikian, namun hal itu tak ia lakukan. Karena percuma saja, sang istri selalu menang dengan senjata ampuh yang selalu ia katakan.
"Emang kamu mau si twins keluarnya ileran?!. Kan nggak lucu, anak kita udah gantengnya nauzubillah tapi tiap hari bikin ibukota banjir. Ngeces terosss!!" itulah senjata ampuh seorang Kenzia yang selalu berhasil membuat Reyhan mati kutu. Sehingga mau tak mau, susah nggak susah, bisa nggak bisa ya harus bisa!!.
"Aku mau rujak buah yang di depan SMA kita dulu itu loh. Pasti enak banget dehh, kamu beliin ya?!" pinta Kenzi seraya memasang wajah malaikatnya.
"Beli yang di depan komplek aja kenapa sih?!. Kan sama aja Yang" keluhan itu akhirnya Reyhan ucapkan, berharap jika sang nyonya mau diajak kerja sama.
"Kan twins maunya rujak buah yang di depan SMA, nggak mau yang di depan komplek!!!" sahut Kenzi dengan nada kesal.
Reyhan menghela nafas berat, tak ada pilihan lain selain menurut. Ia beranjak dari sofa, melangkah gontai menuju pintu utama dengan raut wajah di tekuk.
"Anak sendiri suka banget ngerjain bapaknya" cebik Reyhan pelan namun masih bisa didengar oleh perempuan di sofa belakang sana.
"Ngedumel mulu!!. Ikhlas nggak sih beliin anak?!!" seru Kenzi sambil bersendekap dada, menatap sengit kearah suaminya yang berdiri di sebrang sana.
"Ikhlas!!!" ketus Reyhan saat menutup pintu mansion hingga membuat Kenzi geleng-geleng kepala.
"Nggak usah dengerin bapakmu ya nak, dia emang gitu. Kadang-kadang otaknya kepleset jadi di dengkul" gumam perempuan itu sambil mengelus perutnya sendiri.
*************
"Cobaan jadi bapak gini amat yak?!" cebik Reyhan seorang diri dalam mobil. Di tengah teriknya matahari, mobilnya membelah padatnya jalanan kota menuju ke tempat SMA nya dulu untuk membelikan rujak buah pesanan sang nyonya.
"Semoga aja pedagangnya masih hidup" itulah doa tang diucapkan Reyhan dalam hati. Kan nggak lucu kalo pedanganya udah mati, masak dia harus beli di kuburannya?!.
"Alhamdulillah, Si twins dicinta rujak pun tiba, pedagangnya belum koid" soraknya senang saat melihat ada gerobak rujak buah depan pagar SMA, sama persis seperti saat ia sekolah dulu. Semuanya tak berubah sedikitpun.
Setelah memarkirkan mobilnya tepi jalan, Reyhan keluar dari mobil tersebut dengan topi hitam yang menutupi kepala.
"Pak, rujak buah satu ya" pesannya pada pria paruhbaya yang berprofesi sebagai penjual.
"Buahnya mau yang mana mas?" tanya pria itu dengan ramah.
Pikiran Reyhan bingung, otaknya ngelag di saat yang tidak tepat. Tak mau mengambil resiko, Ia merogoh ponselnya dan melalulan panggilan dengan Kenzi.
"Rujaknya udah dapet?!" tanya perempuan itu tanpa basa-basi saat panggilan sudah terhubung.
"Ini baru mau pesen. Buahnya mau apa aja?" jawabnya sekaligus bertanya.
"Mau buah mangga aja, tapi yang setengah mateng. Jangan yang manis, yang agak asem tapi jangan keaseman. Cabenya kalo nggak pedes empat, kalo nggak terlalu pedes tiga, tapi kalo pedes banget dua aja. Aku nggak mau wadahnya di mika plastik, maunya di tempat makan tupperware warna biru terus ada gambarnya galaksi bima sakti, twins nggak suka kalo nggak higienis. Oh ya, penjualnya harus pake baju ijo ya Yang, aku nggak mau kalo dia nggak pake baju ijo, apalagi baju warna item. Kayak orang mau ngelayat aja!!"
Sontak saja Reyhan menolehkan kepalanya kearah si penjual, dan entah kebetulan atau kebuntungan, si abang pakenya baju warna item.
"Pak, punya baju warna ijo nggak?"
"Punya mas, tapi di rumah. Istrinya ngidam ya?" jawab pria itu sekaligus bertanya.
"Iya, dia maunya yang dagang pake baju warna ijo terus wadahnya harus tupperware warna biru gambar galaksi. Pusing saya nurutinnya" keluh Reyhan seraya mengusap wajahnya frustasi.
"Saya pake warna ijo kok mas"
Seakan mendapat hidayah, Reyhan menatap pedagang itu dengan wajah sumringah.
"Beneran?, mana?!"
"Semp*k saya"
****************
Reyhan meneteng kotak tupperware warna biru gambar galaksi bima sakti yang berisi rujak buah seperti pesanan sang nyonya. Dari depan pintu, terdengar ada sorak-sorai orang dari dalam mansion, menandakan jika banyak orang yang datang.
"Ada tamu?" gumam Reyhan dalam hati.
Pintu utama ia dorong perlahan hingga menampakkan delapan orang yang sudah sangat familiar bagi dirinya. Ia berjalan masuk, menghampiri Kenzi dan duduk di samping perempuan itu sembari meletakkan kotak tupperware diatas meja.
"Sesuai permintaan Nyonya" ucap Reyhan yang dibalas senyuman senang oleh perempuan itu.
"Makasih Papa" sahut Kenzi dengan suara yang menirukan suara anak kecil.
Reyhan tersenyum kecil, tangannya terulur mengelus perut buncit Kenzi dengan lembut.
"Baik-baik disana ya baby boy, kita ketemu tiga bulan lagi"
"Lo beli rujak dimana Rey?!. Gila bener wadahnya tupperware, nggak bangkrut tuh yang dagang?!" tanya Vicky
"Beli rujak premium di depan SMA kita. Wajarlah, baby sultan nggak mau jajan sembarangan" sahut Reyhan dengan tampang tengil minta ditabok.
"Baby sultan wadahnya minta tupperware" ledek Andien
"Nggak sekalian wadahnya dari emas?!" timpal Reza yang langsung dihadiahi pelototan tajam oleh Reyhan.
"Nih curut satu mulutnya lower amat dah!!. Dia nggak tau aja kalo bini gue ngidamnya kayak orang ngajak tidur di kolong jembatan. Lah ini malah ngajarin hal yang nggak bener" cebik Reyhan dalam hati.
"Boleh juga saran lo. Enak kali ya kalo makan bubur ayam mangkoknya dari emas?!" ucap Kenzi ditengah kegiatan makannya.
"Terus kalo Reyhan nggak nurutin boikot aja Ken. Tulisin di depan celana dalem kamu, 'Dilarang masuk!!' " kemudian mereka tertawa bersama setelah mendengar ucapan Tasya, kecuali Reyhan. Berulang kali pria itu nyebut dalam hati, berharap si hidayah datang untuk yang kedua kalinya.
"Serasa pengen gorok orang gue kalo kayak gini!!"
********************
...**Hay semua...... kangen nggak sama aku:>...
...Maaf banget ya aku baru up, beberapa hari ini aku ada MOS online sampek sore, jadi ga sempet buat naskah....
...Makasih banget buat kalian yang udah dengan setia nunggu dan masih berkenan ngasih like, coment, dan rate. Aku bener-bener berterima kasih**....
...Happy reading semua, up lagi insyaallah besok ya, tapi aku nggak bisa janji. Jangan lupa tinggalkan jejakk😉...