Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Twins?



Pagi yang cerah mengawali aktifitas dua manusia yang sedang berbahagia. Dengan tangan yang setia mengelus perut Kenzi yang mulai membesar, Reyhan menuntun perempuan itu untuk masuk ke dalam ruangan Dokter Vena, Dokter kandungan yang di khususkan untuk memantau kondisi Kenzi.


Usia kandungan perempuan itu sudah memasuki 20 minggu. Dan hari ini, mereka akan melakukan USG untuk melihat kondisi dan jenis kelamin si bayi.


Reyhan yang sudah antusias sejak kemarin langsung memundurkan semua jadwal meeting agar satu hari ini ia bisa free menikmati waktunya bersama keluarga. Rona kebahagiaan terlihat jelas di wajah keduanya. Apalagi ini anak pertama mereka, pasti kehadirannya begitu memberi warna tersendiri bagi Reyhan dan Kenzi.


Setelah bertukar beberapa cakap dengan sang dokter, Kenzi dituntun untuk berbaring di brankar samping monitor dengan Reyhan yang setia menemani di sampingnya. Dokter Vena mengoleskan sebuah gel pada perut Kenzi dan memutar-mutar transduser di perut perempuan itu untuk menemukan visual si bayi.


Dari layar monitor, terlihat dengan jelas ada dua bongkahan yang tengah bersemayam di tempat gelap itu. Mata Reyhan dan Kenzi terus terpaku kesana, seakan tidak percaya jika malaikat kecil mereka benar-benar tumbuh dan berkembang.


"Mereka kembar, Pak, Bu" ucapan Dokter Vena berhasil membuat mata Reyhan dan Kenzi hendak melompat dari tempatnya. Reyhan bahkan mencubit tangannya sendiri, merasa tidak yakin jika ini nyata.


"Kembar?!!!" pekik Reyhan dan Kenzi bersamaan.


"Iya. Coba lihat ini" Dokter itu menunjuk ke layar monitor yang masih menyala.


"Ada dua embrio yang tumbuh, itu berarti calon bayinya kembar. Tanda-tandanya hamil kembar memang tidak banyak yang mengetahui, tapi lewat USG, itu bisa terlihat"


Senyuman haru tidak dapat ditahan oleh pasangan itu. Dengan mata yang berkaca-kaca, Kenzi menggenggam erat tangan Reyhan, berusaha menyalurkan sebuah perasaan yang ia rasakan.


"Jenis kelaminnya apa dok?" tanya Reyhan dengan suara bergetar. Antara senang, haru, dan tidak percaya. Semua bercampur menjadi satu, membuat ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Dokter itu kembali memutar trandusernya di atas perut Kenzi, mencari celah untuk menemukan letak area kelamin si bayi. Hingga beberapa menit, bibir dokter itu melengkung membentuk sebuah senyuman saat ia menemukan sebuah petunjuk.


"Semuanya laki-laki Pak" jawab Dokter Vena diiringi senyuman.


Senyuman bahagia tercetak jelas di wajah Reyhan dan Kenzi. Dua Jagoan kecil berupa Reyhan junior akan hadir, menjadi pelita dan menambah warna indah di kehidupan mereka.


"Kalian mau dengar detak jantungnya?" pertanyaan dokter itu langsung diangguki oleh keduanya.


Dokter itu menggunakan alat yang lain, fetal doppler. Sebuah alat yang memanfaatkan teknologi ultrasound, cara kerjanya yaitu dengan memantulkan gelombang suara untuk menggambarkan detak jantung janin.


Dari sebuah layar, menggambarkan sebuah grafis yang naik turun seiring dengan suara detak jantung bayi. Reyhan dan Kenzi mendengarnya, mendengar dengan jelas suara itu. Anak mereka, malaikat kecil yang sekarang sedang masa karantina di dalam rahim.


Mata Kenzi memanas, air matanya jatuh tanpa isyarat saat mendengar detak jantung bayinya untuk pertama kali. Ada sebuah perasaan tidak percaya dalam hati perempuan itu saat melihat bahwa ternyata tuhan benar-benar menitipkan sebuah anugerah pada keluarganya dan Reyhan secepat ini.


Di kehidupannya dulu yang jauh dari kata baik, Tuhan mempercayakan dirinya dan Reyhan untuk menjaga dua nyawa sekaligus. Menjaga mereka, membesarkan mereka, mendidik dan juga menyayangi mereka dengan setulus hati.


"Anak kita" ucap Kenzi dengan suara bergetar. Reyhan mengangguk disertai senyuman. Hatinya menghangat, sebuah penghuni baru akan segera hadir.



Hallo uncle dan aunty onlen..... tunggu aku dateng yaaa:>


***********


"Kembar!!" ucap Reyhan dan Kenzi bersamaan diiringi senyum bahagianya.


"Yessssss!!!!" semua orang yang sedang berkumpul di ruang tengah mansion Keluarga Aleskey bersorak senang. Justin dan Leon ber-tos ria saat mendengar bahwa calon ponakannya ternyata dua.


"Ponakan gue donggg" ucap Justin seraya membusungkan dadanya bangga.


"Ponakan gue!!" desis Leon sambil memukul kepala belakang pria itu.


Justin mencebik kesal dengan tangan yang mengelus kepala belakangnya. Jika bukan saudara, ia pasti sudah menceburkan Leon ke kandang kadal. Eh, buaya maksudnya.


"Daripada jadi ponakan elo, bisa-bisa dia elu ajarin jadi buaya cap kutil badak!!!" sahut Leon sambil berkacak pinggang. Menunjuk Justin dengan wajah asoy-asoy buangsattt.


"Gue malah nggak rela kalo anak gue punya om kayak kalian!!!" si bumil yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Berucap satu kalimat tapi nusuknya sampek ulu hati, nyerinya berasa sampek selangkangann.


"Yeee, sok iye lu markonah!!. Gue sumpahin anak lo nanti sifatnya kek gue" desis Justin dengan wajah songongnya.


"Terus satunya persis kek gue" Leon ikut menimpali. Membuat Kenzi merinding sampai ubun-ubun. Ribuan kali ia nyebut dalam hati, nyebut nama lakinya.


"Amit-amit jabang bayik!!!!" tukas Kenzi seraya mengelus perutnya berulang kali. Membayangkan saja otaknya nggak Welcome, apalagi kalau benar-benar kejadian. Anaknya yang satu gesrek kayak Leon, dan yang satu lagi jadi playboy kadaluarsa kayak Justin. Iwww, bisa-bisa ia resign jadi ibu di tengah jalan.


"Mom, tiupin ubun-ubun aku cepetan!!" Kenzi berjalan mendekat kearah Allia. Ia membungkukkan badannya dan menodongkan kepalanya kepada sang ibu.


"Mau ngapain?!" tanya Allia dengan wajah bingung. Putrinya ini, terkadang benar-benar ajaib.


"Supaya omongan dua curut itu nggak kejadian. Ayo Mom cepetan!!!"


Meski dengan raut wajah bingung, Allia tetap melakukan apa yang putrinya minta. Dengan mulut komat-kamit membaca doa, Allia meniup ubun-ubun Kenzi hingga rambut perempuan itu sedikit berterbangan.


Kenzi tersenyum senang setelah mendapat jompa-jampi dari sang ibu. Ia kemudian berdiri tegak, menatap kearah Leon dan Justin dengan wajah mengejek.


"Sumpah lo ga manjur lagi wleee. Emak gue penawarnya!!!" ledek Kenzi sambil menjulurkan lidahnya yang membuat Leon dan Justin mendesis kesal.


"Gendengnya kumat" bisik Leon pada Justin


"Hooh, lagi hamil bukannya makin waras malah makin setres" sahut pria itu sambil geleng-geleng kepala.


***************


Dapur sudah dipenuhi oleh asap dari masakan yang Reyhan buat. Berbekalkan pisau dapur dan kawan-kawan, pria itu mulai membuat pesanan sang nyonya, martabak telor.


Di tangan pria itu sudah ada sebuah telur yang siap untuk dipecah, namun ucapan Kenzi membuat aktivitasnya berhenti di tengah jalan.


"Yang, Villa di Singapore jadi kan?"


Pyarrrrrr


Telur yang seharusnya menjadi hidangan kini mendarat dengan mengenaskan di lantai. Tubuh Reyhan mendadak lemas setelah mendengar ucapan istrinya.Bagaimana tidak, Villa yang dimaksud oleh Kenzi adalah Villa termahal yang ada di negara itu. Harganya hampir menyentuh setengah triliun, membuat dengkul siapapun lemas di tempat.


"Yang, telur kamu....." ucap Kenzi dengan mata yang menatap kearah telur pecah di lantai.


"Masih utuh kok.Masih ada dua. Mau kamu itu-in?" ucap Reyhan tanpa sadar.


"Hah?!" tanya Kenzi dengan wajah terkejut campur bingung.


"Hah?!" bukannya menjawab, pria itu malah mengikuti ucapan istrinya dengan nada dan ekspresi yang sama.


"Kamu tadi ngomong apa?!" tanya Kenzi lagi dengan nada kesal.


"Emang aku ngomong apa?!" tanya balik Reyhan seraya memasang wajah polos-polos buangsattt.


"Pengen ku sleding tapi laki sendiri!!" geram perempuan itu dalam hati