
Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa sudah 3 bulan Kenzi dan teman-temannya duduk di bangku kelas 11. Hubungan Reyhan dan Kenzi semakin dekat. Begitu juga dengan keenam sahabatnya yang lain. Mereka semua bahkan sudah berpacaran sekarang.
Saat ini, Kenzi, Renata, Tasya, dan Andien sedang berada di kantin untuk memberi makan cacing-cacing di perut mereka yang sedari tadi demo.
"Vicky kemana sih, katanya disuruh nunggu. Ini kok lama banget datengnya" cebik Renata kesal.
"Sabar napa, masih otw kali" sahut Andien. Sedangkan Renata hanya memutar bola matanya malas.
Kenzi tiba-tiba berdiri dari duduknya seraya berkata.
"Gue mau ke toilet dulu bentar, biasa....panggilan alam" ucap Kenzi sambil menyengir.
"Jangan lama-lama" peringat Tasya. Kenzi mengacungkan jempolnya lalu segera pergi ke tempat tujuannya, toilet.
Kenzi berjalan sambil bersenandung ria. Banyak siswa laki-laki yang menyapanya namun hanya dibalas lirikan malas oleh Kenzi. Saat tiba di toilet, ia segera membuang hajat yang sedari tadi di tahannya.
Setelah selesai, ia membasuh tangan sambil bercermin di cermin wastafel.
"Cantik banget sih gue, pantes aja banyak yang suka. Reyhan aja sampek tergila-gila" gumam Kenzi sambil terkekeh geli. Jiwa narsisnya sedang mode on sekarang.
Saat ia keluar dari toilet, tangannya ditarik oleh seseorang dengan sangat kuat. ia hendak berteriak namun mulutnya dibekap menggunakan tangan orang itu. Suasana di sekitar toilet sangat sepi sehingga tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut.
Orang itu menggeret Kenzi. dengan gerakan mundur. Hingga mereka sampai di belakang sekolah. Kenzi merasakan jika orang itu sedang membuka sebuah pintu. Dan ia tau ini tempat apa, gudang sekolah.
Kenzi didorong masuk ke dalam gudang dan orang itu mengunci pintu gudang tersebut. Kenzi menatap punggung orang yang membawanya dengan tatapan sulit diartikan. Orang itu masih memunggunginya hingga beberapa saat. Dan akhirnya ia berbalik badan.
Kenzi yakin bahwa dia adalah siswa sekolah ini jika dilihat dari seragam yang ia kenakan. Namun Kenzi tidak dapat mengenalinya karena dia memakai masker.
"Siapa lo?!, ngapain lo bawa gue kesini?!" tanya Kenzi dengan nada bicara tidak bersahabat.
Orang itu tidak menjawab Kenzi. ia lebih memilih membuka maskernya agar gadis itu bisa melihat sendiri.
"Kak Bintang?!" pekik Kenzi seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
*****
"Hay sayang...." ucap Vicky pada Renata. Dirinya baru saja memasuki kantin diikuti Reyhan, Reza, dan Ariel dibelakangnya.
"Darimana aja sih?!, lama banget datengnya" desis Renata sambil cemberut.
"Hehee maaf ya, tadi aku lagi ada urusan sebentar" ucap Vicky disertai cengiran.
"Dia tadi godain adek kelas loh Ren" timpal Reza mengompori. Vicky langsung memelototi Reza yang dibalas senyum mengejek oleh pemuda itu.
"Ohh udah berani ya kamu sekarang!" tukas Renata sambil menggulung lengan seragamnya. Vicky langsung menelan ludahnya kasar.
"Nggak, si Reza tuh yang tukang kibul" kilah Vicky. Rasanya ia benar-benar ingin pingsan saat melihat mimik wajah Renata yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Tanpa mau memperdulikan perdepatan dua sejoli itu, Reyhan beralih menatap ke Andien.
"Kenzi mana?" tanyanya.
"Tadi dia pamit ke toilet, tapi sampek sekarang belum balik. Entah dia kemana" jawab Andien yang dibalas anggukan oleh Reyhan. ia kemudian terdiam.
******
Kenzi dan Bintang hanya saling tatap dalam diam. Keheningan tercipta di ruangan ini saat dua manusia berbeda jenis itu tak ada yang berniat membuka suara. Hingga beberapa menit, Kenzi menundukkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.
"Apa maksud lo ngelakuin ini semua kak?" tanya Kenzi dengan tatapan nyalang menatap Bintang.
"Kenapa lo harus giniin gue, Ken?" tanya balik Bintang. Kenzi hanya diam menunggu pemuda itu meneruskan ucapannya.
"Kenapa lo harus milih dia daripada gue?, kenapa?!." racau Bintang dengan emosi menggebu-gebu. Kenzi hanya diam.
"Apa lo tau, sebesar apa cinta yang gue punya ke lo Ken?, apa lo tau, sesakit apa hati gue saat liat lo terus deket sama dia?!"
"Gue sakit ken, sakit sesakit sakitnya. Gue nggak pernah jatuh cinta sama cewek manapun. Dan cuma lo, cewek yang bisa buat gue merasa apa artinya cinta. Dan hanya lo, cewek yang bisa membuat gue merasakan cinta dan sakit diwaktu yang sama. Cinta tapi tak bisa memiliki, hah" Bintang berbicara sambil memukul-mukul dadanya. Berusaha untuk menghilangkan sedikit rasa sakit di hatinya akibat cinta bertepuk sebelah tangan.
"Tapi apa nggak bisa lo sedikit bersimpati sama gue?. Nggak bisa kah lo memberi sedikit ruang di hati lo buat gue? Apa nggak bisa lo...-
"Cukup!!" Kenzi memotong ucapan Bintang. Ditatapnya pemuda itu dengan lekat.
Bintang menunduk, tangannya terkepal kuat dibawah sana. Rasanya ia tidak bisa berfikir jernih sekarang. Ia kemudian mendongak menatap Kenzi. Kenzi bisa melihat sorot kemarahan yang tercetak di kedua bola mata pemuda itu.
"Gue nggak akan lepasin lo. Gue nggak mau cewek lain, yang gue mau itu lo. Cuma lo, Kenzia" tekan Bintang dengan raut wajah sulit untuk diartikan. ia maju mendekat kearah Kenzi. Semakin ia mendekat, semakin Kenzi mundur. Namun hal itu tak berselang lama saat punggung Kenzi sudah terpepet tembok.
"Berhenti disitu, jangan mendekat!!" seru Kenzi lantang.
"Kamu takut, sayang?" ucap Bintang sambil menyeringai. ia semakin mendekat. Kedua tangannya ia tumpukan di tembok sehingga mengunci pergerakan Kenzi.
"Kalo gue nggak bisa dapetin lo dengan cara baik-baik, jangan salahin gue kalo gue dapetin lo dengan cara yang lain" ucap Bintang. ia mendekatkan bibirnya ke bibir Kenzi hendak mencium gadis itu.
Bughh
Sebelum itu terjadi, Kenzi lebih dulu menendang perut Bintang menggunakan lututnya hingga membuat pemuda itu tersungkur ke lantai. Kenzi langsung menjauh dari Bintang.
"Lo brengsekk, bangst!!" umpat Kenzi dengan begitu keras. Dadanya naik turun menahan emosi yang siap diledakan. Bintang bangun dari duduknya. ia berjalan cepat dan langsung mencekal tangan Kenzi.
"Lo nggak bisa lepas dari gue!" tekannya sambil mencengkram kuat pergelangan tangan gadis itu.
"Lepasin gue, bangst" teriak Kenzi. ia mendorong tubuh Bintang dengan sangat keras hingga membuat punggung pemuda itu terbentur meja.
"Lo gila, lo bener-bener gila!!" marah Kenzi. ia mengusap keringat di dahinya dengan kasar. Sedangkan Bintang masih terduduk di lantai karena nyeri di punggungnya.
"Lo udah menganggu ketenangan hidup gue, Tuan Bintang Mahardika. Jadi jangan salahin gue, kalo lo mendapat akibat dari perbuatan bejat lo ini. Selamat tinggal" tekan Kenzi dengan serius.
ia kemudian berbalik badan. Ditatapnya pintu itu dengan seksama.
Bruakk
Satu tendangan dari Kenzi mampu membuat pintu itu terbuka lebar. ia kemudian meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar-lebar dan perasaan dongkol. Bintang masih diam mematung di tempat. ia masih speechless dengan apa yang dilakukan oleh Kenzi barusan. Matanya menatap nanar ke pintu yang sudah rusak sebelah itu.
"Untung gue tadi nggak dibantai" gumam Bintang.
****
Kenzi memasuki area kantin. Disana ia melihat teman-temannya sedang duduk berjajar. Mereka semua sedang tertawa, kecuali Reyhan. Pemuda itu hanya diam sambil terus menatap pintu masuk kantin. Betapa leganya dia saat melihat kekasihnya sedang berjalan kearah meja yang ia duduki.
"Ken, kamu darimana aja sih?" Reyhan berdiri sambil bertanya kepada Kenzi saat gadis itu sudah berdiri disamping mejanya.
Kenzi tak menjawab, ia langsung memeluk Reyhan dan menangis disana. Memang tangisannya tidaj menimbulkan suara, tapi Reyhan dapat merasakan bahwa dadanya basah dan dia yakin bahwa gadis ini sedang menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Reyhan lembut sambil mengelus punggung Kenzi. Kenzi hanya menjawab dengan gelengan kepala. Seluruh teman Kenzi juga sama khawatirnya dengan Reyhan. Tapi mereka tidak berani mengeluarkan suara.
"Duduk dulu ya" tawar Reyhan, Kenzi mengangguk. ia mengikuti Reyhan untuk duduk tanpa melepaskan pelukannya. ia bahkan menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu. Reyhan hanya pasrah saat menghadapi sikap manja Kenzi yang seperti ini. Bahkan ia sudah sangat terbiasa saat Kenzi terkadang bersikap seperti anaj balita.
Setelah berpuluh-puluh menit, Kenzi akhirnya melepaskan pelukannya. Reyhan langsung menghapus sisa-sisa air mata di pipi Kenzi menggunakan ibu jarinya.
"Laper" ucap Kenzi dengan suara parau.
"Mau makan apa, princess?" tanya Reyhan dengan senyuman.
"Bakso 3 mangkok" jawab Kenzi yang membuat semua orang melotot tak percaya. Mulut Tasya bahkan menganga lebar saat mendengar penuturan Kenzi.
"Lo habis kesurupan Ken?" tanya Andien dengan ekspresi tak percaya. Kenzi langsung mendengus malas.
"Apasn sih, siapa juga yang kesurupan" ketusnya pada Andien.
"Sayang...pesenin" manja Kenzi pada Reyhan.
"Iya, tunggu bentar oke?!" ucap Reyhan seraya mengelus kepala Kenzi dengan sayang. ia kemudian bangkit menuju lapak penjual bakso pesanan sang tuan putri.
Tak lama, Reyhan kembali sambil membawa tiga mangkok bakso dan satu gelas es teh dalam baki lalu meletakkannya di depan Kenzi.
"Thank you, baby" ucap Kenzi girang. ia langsung memakan makanan itu dengan lahap. Teman-temannya melotot seketika saat melihat makan Kenzi yang seperti orang tidak makan satu tahun.
"Lo laper, apa doyan ken?" cibir Renata.
"Gue lagi kesel, udah deh lo diem aja. Lo mau gue suapin sambel?" jawab Kenzi acuh yang langsung mendapat cibiran oleh Renata dalam hati.